Headlines News :

Terbaru

Indonesia Lahan Potensial Mengembangkan Credit Union

Written By rokhmond onasis on Monday, November 17, 2014 | 6:14 PM

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah ACCU Forum, kata Wakil Presiden ACCU Romanus Woga (Rommy) dari Indonesia yang juga Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), disepakati pada September 2013 di Katmandu, Nepal. “Waktu itu ada beberapa negara yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah, namun akhirnya disepakati CUCO (Credit Union Central ) of Indonesia menjadi tuan rumah untuk ACCU Forum 2014,” jelas Rommy yang untuk kedua kalinya terpilih menjadi Wakil Presiden ACCU.

Dia mengaku, sebagai Ketua Umum Inkopdit, sekaligus sebagai Wakil Presiden Credit Union se Asia, mempunyai beban tanggung jawab untuk menjadi tuan rumah forum dunia yang baik, dan memberi kepuasan kepada tamu yang berdatangan dari 25 negara di dunia dengan jumlah peserta terdiri dari : Australia, 10 , Bangladesh, 40 , Cambodia, 2 , Canada, 7, China 1, Hongkong, 7, India, 2, Indonesia, 117, Korea, 10, Kenya/Afrika, 3, Laos, 4, Mauritius, 2, Malaysia, 20, Mongolia, 27, Nepal, 79, Philipina, 130, Rusia, 1, Singapura 22, Sri Lanka, 9, Taiwan, 5, Timor Leste, 9, Thailand, 50, Amerika Serikat, 1, Vietnam, 10, Myanmar 1, Staf dari ACCU Bangkok dan CUCO Indonesia dan dari Puskopdit Bali, 13. Total peserta seluruhnya berjumlah : 580 orang.

Walaupun Indonesia sebagai tuan rumah, tapi jumlah peserta paling banyak adalah dari negara tetangga, Phillipina, 130 orang. Indonesia jatahnya 150 orang, namun karena terlambat mendaftar, diisi dari negara lain. Yang terlambat mendaftar termasuk Puskopdit Flores Mandiri Ende, Puskopdit BK3D Sumatera Utara, Puskopdit Maluku, Puskopdit BK3D Timor, dll. Sedangkan Puskopdit Swadaya Utama mengutus peserta sebanyak 37 orang dari 10 kopdit primair, juga utusan pengurus dan pengawas serta manajemen dari Puskopdit.

Kegiatan tersebut dipusatkan di “Sanur Paradise Plaza Hotel, Bali“. Ada tiga bagian kegiatan yaitu: Workshop dari tanggal 14 – 17 September, disambung Open Forum, dari tanggal 17 – 20 September, dan pada 21 September Rapat Anggota Tahunan (RAT) ACCU. Untuk RAT ACCU, pesertanya terbatas yaitu Presiden dan CEO utusan dari negara-negara anggota ACCU, tiap negara hanya dibatasi 2 peserta. Open Forum, dibuka oleh Deputy Kelembagaan Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia, Drs.Setyo Haryanto. Para pembicara ahli Credit Union dunia, menambah wawasan dan pendalaman pengetahuan tentang pengelolaan credit union bagi para peserta. Mereka adalah: Mark Worthington dari Australia, Brian Bennet dari Amerika, Sylvain Barate dari Kanada, Paul Luchtenburg, Robby Tulus, Ranjith Hetiarachchi, dll.

Di sela kegiatannya yang sangat padat, Majalah UKM mendapat kesempatan wawancara dengan Prersident Association of Asian Confederation of Credit Union (ACCU) Simon A. Pereira, dari Bangladesh. “Tujuan kita sama, membantu sesama, menolong diri sendiri guna mencapai kesejahteraan melalui credit union. Karena itu perlu saling menguatkan, saling menolong dan bergotong royong untuk berkembang bersama,” pesannya.

Menurut Simon, Indonesia lahan yang sangat potensial untuk mengembangkan credit union. Jumlah penduduknya yang sangat besar, 250 juta orang. Karena Indonesia termasuk Negara-negara berkembang, masih banyak pendudukanya yang harus disejahterakan. “Sama seperti Bangladesh, kami masih harus kerja keras untuk mencapai sejahtera. Walau ada Grameen Bank, lembaga pemberdayaan berbasis keuangan khusus untuk mengentaskan kemiskinan, credit nunion tidak merasa tersaingi. Kami sama-sama ingin menuju sejahtera,” urai Simon yang dalam pemilihan pengurus baru dikalahkan oleh Dr Chalermpo Dulsamphant dari Thailand.

Dalam kebersamaan tidak cukup dengan slogan solidaritas saja, tetapi sungguh-sungguh saling peduli, dan mencari solusi terbaik bagi credit union yang masih mengalami perkembangan lambat. Harapannya, begitu credit union dibangun ingin cepat berkembang dan maju seperti dalam perencanaan. “Signs of growth – tanda-tanda pertumbuhan credit union di Indonesia masih relatif tinggi. Karena itu kepercayaan anggota harus terus ditingkatkan. Mereka percaya setelah melihat tata kelola,” jelasnya

Untuk mewujudkan credit union yang berkelanjutan, dengan cara meningkatkan kapasitas dan kapabelitas pengelolaan, terutama meningkatkan pemahaman dan keterampilan mengelola credit union sejalan dengan pertumbuhan aset dan keanggotaan credit union yang telah memiliki tata kelola. Ada standar tata kelola yang disebut good cooperative governance. Untuk mencapai tata kelola yang baik tidak mudah. Jika sejak awal sudah memulai dengan standar tata kelola yang baik, akan jauh lebih baik, karena akan semakin mematangkan kita untuk siap ke situasi besar. Kita harus sepakat bahwa credit union yang kita kembangkan harus tetap sehat, tetap berkembang secara berkelanjutan.

Credit union harus menjadi lembaga yang dipercaya oleh para anggotanya. Bahkan dihargai dan dikagumi oleh pesaing. Orang akan kagum pada credit union karena konsistensi dalam menjalankan prinsip dan nilai-nilai credit union yang terwujud dalam produk dan pelayanan kepada anggota. ACCU telah merumuskan 5 faktor kunci menuju credit union yang berkelanjutan. Ke-5 faktor tersebut harus dijalankan secara komprehensip, terintegrasi dan memperhatikan kekuatan keuangan. Indikatornya Pearls, dimana ada 13 indikator yang harus terus dikontrol, dimonitor sebagai standar keberhasilan.

Pertama efisiensi operasional. Bagaimana akan terjadi kekuatan keuangan kalau tidak ada efisiensi operasional. Efisiensi operasional ini tercermin dari keefektifan arus kerja, proses penyampaian pelayanan kepada anggota. Kedua, kepuasan anggota harus terus menjadi perhatian. Jangan sampai yang disebut kepuasan bermakna salah. Ketiga bagaimana posisi credit union bersaing di tengah masyarakat. Keempat, terciptanya kepuasan pengelola atau pegawai. Ada pertanyaan, kenapa ACCU hanya memunculkan kepuasan pegawai, tidak ada kepuasan pengurus pengawas. Karena dalam tata kelola credit union yang langsung berinteraksi dengan anggota adalah pengelola. Kelima, kunci menuju credit union berkelanjutan.

Untuk bisa melihat lembaga itu berumur panjang atau tidak, ada beberapa hal, antara lain; lembaga tersebut peka terhadap perubahan lingkungan atau tidak. Kondisi lingkungan bisnis sekarang sudah berubah. Maka credit union juga harus mengubah beberapa hal yang dijalankan credit union. Ada faktor kosesif, kesatuan yang utuh, memiliki indentitas yang kuat. Kalau tidak dipertegas dari dirinya, credit union rentan untuk menjadi tidak kohesif, tidak memiliki indentitas jelas, karena suka terpancing-pancing persaingan.

Lembaga yang bisa berumur panjang biasanya yang toleran, tidak terlalu ketat dalam beberapa hal. Juga menghindari terlalu banyak kontrol yang terpusat. Ada beberapa yang berlaku khusus, misalnya, tentang kredit mikro. Karena kondisi masyarakat masih sangat membutuhkan bantuan dan memang menjadi sasaran credit union prioritas pinjamannya adalah mikro.

Credit union seperti misi utamanya, perlu memberdayakan sumber-sumber internal, dan tidak harus menunggu ahli semua.Yang sudah mengalami pembelajaran bersama credit union praktekan. Kita juga harus semaksimal mungkin meminimalisir resiko. Ada kebebasan untuk melakukan apa saja yang dapat dilakukan untuk pengembangan credit union tanpa harus meyakinkan pihak ketiga sebagai penyandang dana. Selama credit union berpegang teguh mengandalkan swadaya, selama memaksimalkan potensi anggota untuk menghimpun dana, credit union tetap terhormat, tetap dipercayai anggota.

Credit union harus dibangun – dikembangkan dan diukur dari kesuksesannya dalam mengelola 4 perspektif, yaitu perspektif keuangan, keanggotaan, pelanggan, dan proses bisnis internal. Forum pertemuan memiliki fungsi strategis dalam upaya melakukan konsolidasi gerakkan untuk menyatukan langkah pengembangan bersama. Semangat kebersamaan yang dibangun, yaitu membangun semangat yang satu dan sama. Sebagaimana tubuh, anggota tubuh kita banyak, namun satu tubuh. Apa yang dirasakan oleh salah satu anggota, dirasakan oleh seluruh tubuh.

Keragaman merupakan modal besar bagi kita untuk melakukan lebih banyak inovasi baru. Semangat berbagi harus menjadi inti untuk mewujudkan gerakkan satu tersebut. Strategi yang diterapkan di satu credit union dapat pula coba diterapkan di credit union lainnya. Credit union harus saling bekerjasama – bersaudara -bersahabat. Saling menguatkan, saling menolong untuk berkembang bersama, membicarakan strategi bersama, untuk tujuan bersama, yaitu semua credit union sehat dan kuat – save and soundness. (mar).

Sumber berita: http://majalahukm.com/indonesia-lahan-potensial-mengembangkan-credit-union/

Sumber foto: http://assets.kompasiana.com/statics/files/1406349547298231050.jpg

AMAN Selenggarakan Seminar Peran Seni dan Pendidikan

Written By rokhmond onasis on Saturday, November 1, 2014 | 4:06 PM

Jarum jam masih menunjukkan 9 pagi. Kamis, 23 Oktober 2014 di salah satu ruang pertemuan di Hotel Aquarius Palangka Raya telah di penuhi sejumlah peserta yang mengikuti kegiatan ‘Seminar Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan di Kalimantan Tengah’. Begitulah isi spanduk yang terpampang di depan ruangan. Sebagai pembukaan sanggar Tari Sanggar Tari Balanga Tingang, ikut menampilkan tarian Masyarakat Adat Dayak usai dipanggil pembawa acara.

AMAN Kalteng bekerja sama dengan Institute Ungu, Jakarta melakukan seminar ini dalam 1 rangkaian kegiatan pementasan teater Subversif (23-24/10). Dalam penjelasannya Faiza Mardzoeki, selaku direktur mengatakan bahwa keinginannya untuk berbagi, bagaimana para pelajar dan mahasiswa ini merespon masalah-masalah penting seperti masalah lingkungan dengan cara seni. “Saya pikir mungkin kesenian tidak akan langsung bisa merubah sesuatu tapi saya pikir kesenian bisa menjadi teman bisa menjadi pendekatan yang cukup berarti untuk memperbincangkan mendiskusikan isu-isu penting,” kata perempuan penulis naskah ini teater ini.

Berkaitan dengan permasalahan masyarakat adat, dalam sambutannya Simpun Sampurna sebagai Ketua BPHW AMAN Kalteng mengatakan, Masyarakat Adat berada dan terlibat langsung dampak pada lingkungan. Salah satu contoh yang terlihat dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah, jika tidak dibayar maka orang tidak mau memadamkannya. Maka dari itu kearifan lokal dan inisiatif-inisiatif lokal sangat diperlukan dalam aktivitas menjaga lingkungan saat ini, namun saat ini praktek seperti ini yang  telah mulai berkurang, dibandingkan pada masa lalu.

“Apa yang terjadi di Kalimantan Tengah sangat mempengaruhi terhadap dunia bukan hanya di Kalimantan Tengah saja. Jadi harapan saya dari kegiatan ini bisa lahir kesadaran semua pihak arti pentingnya menjaga lingkungan,” harap Dadut panggilan sehari-harinya.

Karena kegiatan ini didukung oleh kedutaan Norwegia di Indonesia, Duta besarnya turut hadir menyampaikan sambutan. Stig Traavik, bercerita bahwa, bangsa Norway mempunyai pemahaman yang sama dengan konsep pohon kehidupan yang ada di Kalimantan. Juga dalam hal Budaya peduli lingkungan Bangsa Norway  hampir sama dengan Bangsa Dayak di Indonesia yang berkisah tentang Livelihood yang menceritakan tentang pohon kehidupan.

“Saya sangat bangga sekali karena Indonesia telah menampilkan karya seniman kami Hendrik Ibsen yang sangat terkenal. Teater malam nanti menggambarkan bagaimana budaya sisi modern dan sisi tradisional sangat berbenturan dan bagaimana cita-cita yang ingin kita dengar dan yang tidak ingin kita dengar dan siapa yang berpengaruh dan bertanggung jawab atas lingkungan serta siapa yang menerima dampak buruk langsung atas kerusakan lingkungan. Kesadaran dalam hal ini ketika anda mempunyai hak namun tidak bisa mengungkapkannya,” kata Traavik.

Ia melanjutkan bahwa, kondisi di sini beruntung  karena mempunyai pemerintah daerah sangat mendukung. Ini merupakan contoh yang baik sebagai upaya mendukung keadilan lingkungan. Traavik juga mengingatkan bahwa potensi kerjasama dari pihak yang peduli lingkungan dan pihak yang peduli kerjasama seperti Universitas Muhammadiyah Palangka Raya  yang memberikan tempat untuk pementasan.

Secara singkat, sebelum membuka acara secara resmi, Syahrin Daulay sebagai asisten II setda provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan sambutan. Selaku pemerintah provinsi menyambut baik untuk kegiatan ini karena diharapakan menghasilkan kesadaran dalam pentingnya menjaga lingkungan.

Sebelum masuk pada materi seminar, Dinda Kanya Dewi membacakan Puisi hasil karya Pelajar Palangkaraya. Puisi ini menggambarkan kondisi lingkungan di Kalimantan Tengah.

Pada panel pertama yang dipandu Yohanes Taka sebagai moderator, Simpun Sampurna dipercaya sebagai pembicara pertama. Ia membawakan materi Penyebab Konflik di Kalimantan Tengah, antara Perusahaan Perkebunan, Pertambangan dengan Masyarakat Adat yang Berdampak Terhadap Alam dan  Lingkungan.

Secara singkat, Dadut menggambarkan permasalahan yang terjadi dalam tata ruang, tumpang tindih antara kekuasaan pemerintah dengan kekuasaan adat. Kerusakan lingkungan dan sebagainya itu bersumber dari masalah Tata Ruang. Harapannya kedepan harus adanya pelibatan Masyarakat Adat dalam Penyusunan Tata Ruang sehingga mengecilkan konflik dan dapat menjadi solusi.

Pemateri kedua adalah Mastuati dari Lembaga Dayak Panarung (LDP). Aktivis perempuan ini mengajak peserta melihat dampak Industri ekstraktif tambang dan perkebunan di Kalimantan Tengah bagi perempuan dan masyarakat adat.

Mastuati mengingatkan dengan pertanyaan kritis. Apa yang kita lakukan agar perempuan dan masyarakat adat semakin kuat?. Beberapa hal dapat di lakukan dengan upaya advokasi, edukasi, kampanye mengenai Hak Azasi Perempuan dan Hak Azasi Manusia serta pengorganisasian agar perempuan dan masyarakat adat dapat bekerja secara kolektif.

Berikutnya, sebagai pemateri ketiga pada panel pertama adalah Marko Mahin sebagai Rektor Universitas Kristen Palangka Raya. Ia memaparkan Seni Budaya dan Pendidikan Pemerdekaan.
Marko menegaskan, peran seni budaya sebagai media pendidikan kritis, sehingga masyarakat bisa menggambarkan apa yang dipikirkan, menceritakan apa yang telah digambarkan dan mementaskan peristiwa hidup dan harapan hidup yang dialami tersebut, sehingga seni budaya bukan lagi hanya sekedar hiburan atau pertunjukan, bukan lagi alat penindasan dan media membangun kesadaran palsu baru atau menjadi alat penjinakkan kaum penindas tapi merupakan bagian dari proses menemukan transformasi baik dalam diri sendiri maupun dalam komunitas.

Hal penting lainnya pria yang masih sebagai pendeta aktif ini mengatakan seni budaya bisa menjadi tempat membangun kesadaran kritis tentang ketidakadilan dan penindasan, tempat membangun sikap kritis, percaya diri, semangat juang dan pemahaman atas apa yang membuat mereka tetap miskin, tergantung dan tertindas. Jadi masyarakat tidak hanya berfikir bagaimana dunia tetapi juga mampu berfikir bagaimana mengubah dunia.

Pada panel kedua  yang dipandu Faiza Mardzoeki sebagai moderator, Abdi Rahmat sebagai direktur Teropong diberi kesempatan pertama menyampaikan paparanya yang berjudul Memaknai Isu Kesenian, Lingkungan dan Pendidikan (Sebuah Refleksi).

Abdi mengatakan, kesenian sebagai ideologi lingkungan bukan merupakan sesuatu yang didorong-dorong, tapi merupakan sesuatu yang keluar sebagai keniscayaan bahwa lingkungan merupakan ideologi dari kesenian sehingga menempatkannya menjadi sesuatu yang memiliki posisi strategis. Kesenian harus dipulihkan maknanya sebagai sesuatu yang mengandung nilai, bukan hanya sebatas pada keterampilan, kepopuleran, dan tidak hanya skill. Jadi “Bagaimana Mengembalikan Makna Kesenian Merupakan Cara Ampuh Mempengaruhi Perbaikan Lingkungan?”.

Dari sisi akademisi berikutnya, Bismart Ferry Ibie sebagai  tenaga pengajar fakultas kehutanan universitas Palangka Raya mencoba melihat bagaimana pendidikan, lingkungan, media menjadi seni dan budaya.

Secara kritis, pria berkacamata ini mengatakan bahwa permasalahannya kita sering salah ketika mendidik. Ketika kita tidak bisa mengoptimalkan atau menggambarkan objek sesuatu yang kita ajarkan. Seni dalam pelajaran adalah ketika kita bisa mendeskripsikan suatu objek kedalam suatu gambar matematis. Guru dan Dosen sering membuat sesuatu yang gampang menjadi sulit agar kelihatan intelek oleh mahasiswanya, tapi seharusnya ini dibalik supaya yang sulit menjadi mudah.

Untuk memperkaya pemahaman peserta, panitia juga mengajak Matius Hosang dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah. Ia membawakan paparan berjudul
Peran Pemerintah Dalam Mendorong Dunia Seni Dan Pendidikan Untuk Perubahan Positif Partisipasi Masyarakat Dan Keadaan Lingkungan Di Kalimantan Tengah.

Acara yang berakhir pada pukul 1.30  siang ini diwarnai pertanyaan peserta antara lain dari Mardiana Deren, PEREMPUAN AMAN Barito Timur, Novi Angraiyati, Mahasiswa Universitas Kristen Palangkaraya, Andri Masijia, Produser Film Maker/ Lembaga ICC, Agus dari GMNI Palangkaraya, peserta dari Staff Pengajar di Universitas Kristen Palangkaraya dan Pemerhati dan Pelindung Satwa Kalimantan Tengah.

Sumber foto: Dokumen AMAN Kalteng dan http://www.institutungu.org

TOT Fasilitator CU Betang Asi 2014

Written By rokhmond onasis on Sunday, October 26, 2014 | 7:14 AM


“Anda dapat memiliki ide-ide brilian, tapi bila ide-ide itu tidak dapat anda kemukakan, hal itu tidak berarti apa-apa”. Tulisan dominan berwarna kuning ini memaksa penulis untuk berpikir sejenak dan mendalami maknanya, sesaat masuk ruang pertemuan.

Kalimat ini terpasang di bagian depan aula pertemuan lantai-3 kantor pusat Kopdit CU Betang Asi. Di bagian atasnya jelas tertulis kegiatan yang sedang dilakukan yaitu, Pelatihan Training Of Trainers (TOT) Fasilitator Credit Union Betang Asi Tahun 2014; Palangka Raya 22-24 Oktober 2014.

Ada 29 orang yang berasal dari Tumbang Hakau, Tumbang Manggu, Samba Danum, Sepang Kota, Hurung Bunut, Tumbang Sepan, Tuwung, Telok, Marikit, Petuk Liti, Kuala Kurun, Desa Mekar Jaya Pulang Pisau, Mantangai dan Palangka Raya. Kesemuanya berasal dari TP/ TPK Kopdit CU Betang Asi.

Sebagai fasilitator pelatihan di percayakan kepada Gregorius Doni Senun, Sekretaris pengurus, juga berpengalaman dalam memfasilitasi pendidikan CU. Goris, panggilan sehari-harinya ditemani Bambang Mantikei dan Yohanes Changking.

Selama proses 3 hari cukup banyak pengalaman dan pengetahuan yang diterima peserta terkait proses memfasilitasi pendidikan CU. Salah seorang peserta yang berasal dari Palangka Raya menceritakan pengalaman yang didapatkan. Peserta mendapatkan bagaimana cara memfasilitasi anggota. “Terkait TOT yang baru dengan kebijakan CU Betang Asi saya melihat banyak perubahan-perubahan metode penyampaian pendidikan dari yang dulu dengan yang sekarang, ada update kegiatan dan materi,” kata Tevitius.

Pria yang akrab dipanggil Tius ini melanjutkan, keterampilan yang dipelajari dalam TOT, mereka diberikan pengarahan dan masing-masing peserta mempraktekkan materi di depan kelas, dengan sebelumnya fasilitator memberikan coaching dulu. “Saya kebetulan mendapatkan materi dasar-dasar hukum Kopdit CU Betang Asi dan terkait kekurangan yang perlu diperbaiki sebaiknya peserta diarahkan fasilitator bagaimana cara menyampaikan, baru bisa dipraktekkan, terkait materi yang dibawakan,” jelas pria yang aktif di Lembaga Dayak Panarung, lembaga mitra CU ini.

Di tempat yang sama, saat penulis menanyakan ke peserta dari Petuk Liti, Pulang Pisau. Sri Susiyanti yang berasal dari TP Batuah Marajaki, menceritakan pengetahuan yang bertambah adalah di bidang fasilitator untuk menyampaikan ke masyarakat yang mau masuk ke CU Betang Asi. “Saya mendapatkan pengetahuan materi-materi yang akan disampaikan dengan maksimal kepada anggota yang baru sehingga dapat mengerti. Anggota yang mengerti dapat mengembangkan CU yang baik,” jelas Sri.

Namun di balik pengetahuan yang didapatkan, perempuan yang berprofesi bidan ini mengungkapkan kekurangan yang ditemui dalam pelatihan yaitu terbatasnya waktu menyampaikan pada praktek yang dilakukan.

Dari pantauan penulis di hari ke-3 menjelang penutupan, Yohanes Changking, mengatakan proses training selama 3 hari ini akan dilanjutkan dalam praktek menjadi co fasilitator. Ia berharap peserta TOT dapat mengambil peran dan buku panduan fasilitator dapat dipelajari kembali dan dikuatkan dalam praktek.

Dari sisi fasilitator, Goris berharap peserta yang mengikuti pelatihan dapat menjadi fasilitator dan dapat mengembangkan CU di wilayahnya masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya jadwal pendidikan yang di buat tidak dadakan setidaknya 1 minggu sebelumnya sudah dijadwalkan.

Harapan senada yang diungkapkan Tius dan Sri, bahwa calon-calon fasilitator dapat diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan sehingga yang dipelajari tidak hilang dan dapat dipraktekkan. Tidak kalah pentingnya ada pelatihan lanjutan untuk memantapkan materi-materi yang didapatkan.

Adapun peserta yang mengikuti pelatihan selama 3 hari adalah, Ida Nurani, Elka, Hansen, Frans P. Kalasa, Erlinae, Saliane, Sri Susiyanti, Susance, Ambun, Silviadiana, Apriyady L. Djaga, Rio Genesizkhel, Firento, Begin, Haga, Hendranto, Supratmanto, Andri, Misraim Neolaka, Tevitius, Heron Yovandhi, Erikson, Napinus Ayan, Adittya W. Yosep, Milo Karni, Agusianto, Thomas Fajar, Lili Veronika dan Pdt. Asplyn Golvin.

Selamat menjalankan pelatihan sesungguhnya pada peserta pendidikan CU di TP/ TPK masing-masing. Bagi alumni pelatihan TOT, pengetahuan dan keterampilan Anda ditunggu untuk diterapkan sehingga ide-ide itu dapat anda kemukakan!

Sumber foto: Dokumen Rokhmond Onasis.

Pelatihan Cash Flow Pra BP

Written By rokhmond onasis on Monday, October 13, 2014 | 1:55 AM

Bertempat di aula lantai-3 kantor pusat Kopdit CU Betang Asi, Pelatihan Cash Flow Pra Bussines Plan (BP) di pusatkan. Kegiatan yang difasilitasi oleh Antonius Anyu melibatkan semua peserta yang berasal dari manajer, kepala divisi, kepala bagian dan koordinator TP/ TPK se-CU Betang Asi.

Keterampilan dalam penyusunan cashflow diperdalam, mengacu pada standar manajemen akutansi. Dari ke 27 peserta yang mengikuti kegiatan selama 3 hari (10-12/10) tidak semuanya ikut secara penuh.

Semua peserta di wajibkan membawa laptop yang berisi cashflow dari masing-masing tempatnya bertugas. Semenjak pagi pukul 8 pagi hingga sore pukul 5 sore, semua peserta terlibat aktif mengisi tabel dan angka pada excel, sebagai gambaran perjalanan CU ke depan. Bahkan dari pantauan penulis kegiatan dilanjutkan hingga pukul 9 malam.

Dari penjelasan kepada penulis, Anyu sebagai fasilitator mengungkapkan jika ia diminta bantuan memfasilitasi di CU Betang Asi, dia akan datang. Ia menegaskan bahwa sebagai anggota dan mempunyai pinjaman dan simpanan di CU, ia mempunyai beban moral untuk datang.

Pria yang juga dipercaya sebagai bendahara BKCU Kalimantan, Pontianak menjelaskan seringkali dalam  pelatihan yang ia fasilitasi menemukan titik-titik lemah pada sumber daya manusia yang mengikuti pelatihan.

“Saya bukan auditor, tapi jika kebetulan membaca data saya harus beritahukan bahwa jika menemukan hal aneh akan saya tegur. Bedanya jika saya auditor saya akan komentar jauh-jauh hari dan bukan pada saat pelatihan,” jelas pria beranak dua ini.

Sebagai salah satu pengurus BKCUK, ia menilai cukup banyak pelatihan yang di fasilitasi oleh BKCUK untuk meningkatkan kapasitas auditor di CU. Anyu juga melihat ada tantangan yang dihadapi gerakan CU yaitu orang yang mengaudit belum punya standar tinggi.

Lebih dalam ia menjelaskan bahwa belum diterapkan standar audit untuk kapasitas manusianya. “Kalau standar format pelaporan audit ada di sediakan jaringan CU, tapi standar orang yang melakukan pekerjaan itu tidak ada, sementara CU semakin besar, tapi belum tentu kapasitas yang melakukan itu setingkat dengan besar lembaga CU,”jelasnya.

Hal lainnya menurut Anyu belum tersedianya pendidikan formal untuk peningkatan kapasitas dari CU, sistem pengkaderan yang belum ada. Salah satu solusi yaitu menggunakan jasa dari luar seperti akuntan publik. Seharusnya punya CU dengan standar pekerja yang bagaimana. “CU harus meningkatkan kualitas pekerja sehingga CU menjadi besar, ini mengacu juga pada pimpinan. Kalau pimpinannya stagnan, nyata kader di bawahnya mengikuti standar di atasnya,” tegas Anyu.

Sebagai catatan, peserta yang mengikut pelatihan adalah Yohanes Changking, Shiawan Etora, Elka, Erwin Harefa, Ezra Mardoni Lewi, Yuliani, Ellia Sujiyono, Yepta Diharja, Martha Sarimasayu, Syvester Suanda, Sri Wulan, Ensi Veronika, Yeyen Susanti, Merry Normawaty, Harti Rayani, Wardalely, Estie, Vetra Kasih, David Dibiciang, Herie U. Daud, Arpiano Udasco, Donny, Yosi Monalisa, Longgor, Junaidi, Memeiliana, Valentinus Jeghau, dan Yahya.

Pilih T. Manan “Masuk CU Tidak Ada yang Sesat”

Written By rokhmond onasis on Tuesday, October 7, 2014 | 6:06 AM

Rambutnya belum sempat disisir rapi. Hanya berkaos coklat bergaris dan berkerah ia menemui penulis. Alis matanya tebal. Ada sejumput janggut menghiasi dagu pria yang biasa dipanggil Bapa Ayi ini. Arloji hitam terlihat di pergelangan tangan kirinya. Celana pendek biru selutut di pakainya saat duduk di hadapan penulis pada (4/10) lalu.

Rumah panggung berdinding kayu ini dihiasi kalender CU di bagian depan dan bagian tengah. Sejumlah foto dan hiasan dinding juga terpasang rapi di rumah yang memang bersebelahan dengan rumah pimpinan administrasi kampung Tumbang Anoi.

Sebelumnya saat penulis mencoba berbincang dengan pria ini masih tertidur. “Bapak masih tidur karena kelelahan,” ungkap anaknya. Pria bernama lengkap Pilih T. Manan ini dipercaya menjadi kolektor Kopdit CU Betang Asi Tumbang Anoi sejak tahun 2012. Bertepatan dengan Pumpung Hai dan Napak Tilas Tumbang Anoi 120 tahun lalu ia terlibat mendukung kegiatan bersejarah yang mencatat pertemuan orang Dayak se-Kalimantan pada tahun 1894 dulu.

“Awalnya saya senang ikut pelatihan dengan Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) dan juga CU. Saya diajak masuk CU oleh Yudis dari YTS kemudian Pak Yepta mendatangi saya dan pada tahun 2012. Saya dipercaya sebagai kolektor oleh orang kampung ketika ada pertemuan di Tewah,” ungkap pria berusia 37 tahun ini mengawali cerita.

Lebih dari 100 orang yang dilayani oleh Pilih. Wilayah pelayanannya mencakup kecamatan Damang Batu dan Kahayan Hulu Utara (Kahut). Di Tumbang Anoi sendiri ada 73 anggota CU Betang Asi, Karetau Sarian 44 orang dan Tumbang Mahuroi ada 30 orang.

Saat ditanya pengalaman menarik menjadi kolektor, Pilih mengungkapkan ia bisa mengelola uang (baca pinjam uang). Mengawali masuk CU dengan kapitalisasi akhirnya ia lanjutkan dengan membeli sepeda motor dan pinjam tunai untuk mengembangkan usahanya. Tentu saja setelah pengembalian pinjaman ia lakukan dengan tepat waktu.

Sisi buruk juga sempat ia ceritakan kepada penulis. “Di Tumbang Anoi ada kolektor sebelum saya yang juga dipilih oleh orang kampung, namun karena ada masalah maka saya ditunjuk untuk menggantikan. Awalnya saya dibenci oleh orang kampung dan saya mengatasinya dengan berdiam saja dan secara berlahan-lahan anggota percaya,” ungkapnya dengan nada semangat.

Pilih tetap berupaya menyampaikan motivasi CU. Ia selalu memperlihatkan bahwa pengalamannya ketika melakukan pengembalian pinjaman. “Saya katakan bahwa uang kita terjamin di CU, tidak hilang. Jika kita ada uang 1 juta kita bisa pinjam 1 juta, kita bayar lunas, uang kita yang ada sebelumnya tetap utuh bahkan bertambah,” jelasnya.

Tidak mudah percaya menerima informasi yang tidak jelas, ia melakukan konsultasi dengan petugas CU yang ada di Tempat Pelayanan Khusus (TPK) Tewah, karena sempat terjadi isu ada bunga simpanan lembaga lain yang lebih besar. Terkait acara Napak Tilas, Pilih bercerita keramaian di Tumbang Anoi saat ini mengalahkan ketika pesta Tiwah. Bedanya, jika Tiwah banyak orang menonton ketika binatang akan di bunuh, sedangkan sekarang pusat keramaian ada di Betang Damang Batu.

Ia berharap sebagai kolektor tetap mencoba memotivasi dan melanjutkan tugas agar anggota semakin mengerti, bagi yang berminat dapat masuk dan masyarakat Tumbang Anoi banyak masuk CU. “Menurut saya yang masuk CU tidak ada yang sesat, kecuali dia sendiri yang menyesatkan diri,” tutupnya kepada penulis.

Sumber foto dan berita: Rokhmond Onasis

HUT-4 TPK Kapuas, Rayakan Kantor Baru

Written By rokhmond onasis on Wednesday, October 1, 2014 | 9:35 AM

Suasana jalan Seroja, Kuala Kapuas lebih semarak di salah satu rumah bernomor 5. Umbul-umbul CU, sejumah tenda besar terpasang pada bagian depan rumah bercat putih ini. Terpasang standing banner dengan tulisan ‘Selamat dan Sukses Atas Peresmian Kantor Baru CU Betang Asi TPK Kuala Kapuas’.

Seuntai tali berhiaskan kembang berupa warna dipasang di depan pintu masuk kaca setebal 5 mm.  Dua perempuan penerima tamu sibuk membantu undangan yang hadir untuk mengisi buku tamu. Selain diberikan jadwal acara, tamu juga beruntung diberikan kalender meja CU Betang Asi.

Nampak hadir rombongan pengurus Kopdit CU Betang Asi, Ambu Naptamis, Bambang Mantikei, Karna Sophia, Athis dan Pitur L. Sanen sudah menempati tempat duduk yang telah disediakan panitia. T.T Suling dari unsur penasehat juga tampak hadir. Sedangkan dari manajemen hadir Ethos H.L beserta rombongan.

Kenyamanan anggota dan undangan yang hadir tetap diperhatikan oleh panitia dengan menyediakan kursi yang cukup dan kipas angin yang terpasang di sudut lokasi yang strategis untuk mengurangi hawa panas di kota yang berjulukan kota AIR.

Tepat pukul 8.22 WIB acara dimulai dengan pengantar yang disampaikan oleh Harti Rayani selaku koordinator TPK Kapuas. Ia menyampaikan, acara ini merupakan gabungan dari peresmian kantor baru dan HUT ke-4 TPK Kapuas. Usai pengantar oleh Raya, acara dilanjutkan dengan ibadah sekaligus pemberkatan kantor baru yang dipimpin oleh Pendeta Fransiska, Esterlin, L.Tobing dan Pastor Damianus.

Di tengah ibadah, penasehat CU Betang Asi, T.T Suling diberi kehormatan untuk membuka pintu kantor secara resmi, dengan terlebih dahulu menggunting pita yang terletak di pintu masuk. Pastor Damianus melakukan ritual memberkati seluruh ruang kantor dengan air yang telah diberkati.  Sebagai lambang perwujudan cinta kasih Tuhan selain lingkungan kantor yang diberkati. Pastor juga memberkati miniatur salib yang akan dipasang di gedung kantor nantinya.

Setelah ibadah selesai, acara di lanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne CU dan mendengarkan laporan dan sambutan. Sebagai koordinator TPK Kapuas, Harti Rayani melaporkan TPK Kuala Kapuas operasional pada 26 September 2010 lalu dengan jumlah anggota 195 orang. Sering perjalanan waktu anggota berjumlah 1.869 orang per 31 Agustus 2014.  Berturut-turut kemudian sambutan disampaikan oleh GM, Ethos H.L, dari kepala dinas koperasi, usaha kecil dan menengah kabupaten Kapuas, Teras D. Suhin serta ketua Pengurus Ambu Naptamis.

Bapak Kadis menyampaikan bahwa atas nama pemerintah kabupaten Kapuas, sangat mendukung untuk pengembangan CU Betang Asi TPK Kuala Kapuas sehingga dapat lebih maju dan berkembang dengan pesat, sehingga menjadi lembaga pemberdayaan.

Sebagai ketua pengurus, Ambu Naptamis, dalam sambutannya menegaskan bahwa acara ini merupakan hasil kerja ‘bareng’ yang memiliki 2 makna yaitu ‘house’ sebagai sarana yang menjalankan misi CU sebagai ‘home’. Gedung megah bukan sebagai tujuan dari CU, tapi menciptakan ‘home’ untuk anggota sehingga bisa menjadi sejahtera dengan tetap berlandaskan cinta kasih.

Peresmian kantor di tandai dengan penandatanganan prasasti. Acara HUT ke-4 ditandai meniup lilin ulang tahun serta pemotongan kue ulang tahun. Acara juga diwarnai pemberian cindera mata oleh panitia dan pengundian doorprize serta ditutup dengan makan siang bersama.

Sumber Tulisan: disarikan dari dokumentasi video panitia.
Sumber Foto: Dokumentasi CU Betang Asi.

Gathering Staff TP KP

Written By rokhmond onasis on Monday, September 15, 2014 | 8:46 AM

Tidak kurang dari 40 orang ikut dalam acara Gathering Staff TP Kantor Pusat Kopdit CU Betang Asi yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 September 2014 lalu. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mempererat hubungan antar staf yang berada di kantor pusat Palangka Raya.

Sejak pukul 6.30 pagi, rombongan sudah berkumpul di jalan Tjilik Riwut, depan kantor pusat. Menggunakan 3 mini bus rombongan berangkat menuju lokasi pemancingan ikan Anugerah, Tangkiling yang terletak 34 km dari pusat kota Palangka Raya dengan jarak tempuh 30 menit.

Setibanya pada di lokasi pemancingan yang berhalaman luas ini, peserta rehat sejenak, tidak lebih dari 10 menit untuk meletakkan barang-barang pribadi. Kesempatan ini juga digunakan fasilitator untuk menyiapkan arena permainan dalam mengisi acara gathering.

Di halaman berpasir, tali rapia, bola plastik, hula hup dan alat pengeras suara disiapkan untuk meramaikan kegiatan ini. Ada 5 permainan yang dipandu oleh Rokhmond Onasis untuk menggali nilai-nilai kerjasama, empati antar anggota kelompok.

Dari 5 kelompok, kesemuanya dibagi secara acak untuk ikut bermain pada mengangkat bola dengan tali, hulahup berjalan, giring bola dengan tali, jam raksasa dan asah otak.  Sebagai catatan evaluasi permainan yang dilakukan oleh fasilitator tertulis bahwa menuju kemajuan Kopdit CU Betang Asi staf harus lebih kreatif, inovatif, cepat, tegas, fokus, berkomunikasi dengan baik,  menghargai pendapat, bersabar, menjadi pendengar yang baik, memperkuat kerjasama dan mampu memotivasi anggota.

Keterampilan berikutnya, harus mampu melakukan perencanaan, mengambil sikap atas situasi, melaksanakan instruksi dengan benar, disiplin dalam segala hal, membagi waktu dan menganalisa masalah.

Sedangkan pelajaran yang didapatkan dari permainan, harus memerlukan kerjasama tim, kebersamaan, konsentrasi, saling mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, tepat waktu, disiplin diri, tanggap dengan situasi yang terjadi di CU, jujur dan cepat mencari solusi untuk menyelesaikan masalah, kesemuanya demi kemajuan CU Betang Asi.

Sayang tidak semua staf dapat hadir dalam kegiatan ini, ada beberapa staf yang ijin karena sakit, mengambil cuti dan halangan lain. Walaupun hingga acara berakhir pada siang harinya perasaan peserta yang dituliskan dalam evaluasi dipenuhi rasa senang, gembira, penasaran, puas, tertantang dan seru dalam menjalani setiap permainan yang dilakukan.

Sebagai penutup peserta diajak oleh fasilitator menuliskan kata positif dan motivasi kepada semua yang ikut terlibat dalam kegiatan secara estafet pada sebuah kertas yang berbentuk love, sehingga menjadi kenang-kenangan tersendiri bagi mereka. Para pemenang lomba mendapatkan door prize yang di dukung oleh KPD Kalteng.

Sumber foto: Dokumen CU Betang Asi.

CU, Solusi dari Kemiskinan

Written By rokhmond onasis on Sunday, August 24, 2014 | 6:00 AM

Sebanyak 35 orang peserta dari 7 Credit Union yang tergabung dalam jaringan BKCU Kalimantan mengikuti Pelatihan Pendalaman Nilai-Nilai Credit Union di Balai Diklat PU Wilayah IV Surabaya.

Fasilitator pelatihan ini adalah Marselus Sunardi, ketua BKCU Kalimantan. Pelatihan ini memiliki arti penting dan harus dipahami secara komprehensif tidak hanya bagi Pengurus, Pengawas dan Manajemen sebagai pengelola tetapi juga oleh anggota Credit Union itu sendiri. Karena gagasan Credit Union itu didasari oleh rasa saling membantu, swakelola, solidaritas, sukses berkelanjutan, subsidiaritas dan prinsip identitas.

Tujuan dari pelatihan peserta dapat memahami pengertian dan sejarah CU, perbedaan CU dengan lembaga lainnya, misi gerakan CU. Tidak kalah pentingnya, peserta dapat melakukan internalisasi nilai-nilai dan prinsip CU, serta mendalami transformasi sosial melalui CU.

Selama 3 hari mulai tanggal 18-20 Agustus 2014  peserta pelatihan menerima 7 sesi diantaranya CU  sebuah pilihan; CU solusi yang memandirikan; Misi CU; Pondasi, Prinsip dan Nilai-Nilai CU.  Supaya berjalan efektif, peserta dibagi dalam 6 kelompok selama pelatihan berlangsung. Nama kelompok di ambil berdasarkan pondasi utama CU yaitu Sikap, Visioner, Kejujuran, Keberanian, Pengorbanan, dan Integritas.

Setiap peserta diminta untuk menggambar dalam kertas kosong, apa itu CU?. Menariknya peserta ada yang menggambar CU sebagai  tiga lingkaran yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan, kemudian ada yang menggambar CU itu bagaikan semut yang berbaris didinding menuju tempat makanan, ada pula yang menggambar CU itu bagaikan kendaraan baik mobil ataupun perahu naga yang membawa anggotanya menuju tujuan keuangan (financial goal).

Dari semua gambar yang ada ternyata mempunyai makna tersendiri mengenai CU. CU itu adalah sebuah pilihan bagi anggotanya. CU bukan lembaga keuangan yang mirip BANK, BPR, Asuransi, NGO, BMT dan lain-lain. CU juga tidak identik dengan koperasi simpan pinjam. Perlu di ingat, CU menganggap lembaga lainnya bukan pesaing, bukan tandingan juga bukan musuh.

Ketika orang telah bergabung   menjadi anggota CU maka ia memilih untuk peduli dengan orang lain, karena apa ?, karena CU adalah soal kepedulian, CU adalah soal aliran sistem ekonomi, CU bicara soal cara pandang, soal cara  kerja, keterpanggilan, CU soal keberpihakan, CU soal paradigm dan ideologi.

Bicara target, tentu CU untuk kalangan menengah ke bawah dan terpinggirkan, kaum perempuan dan kaum muda serta masyarakat yang berada dalam kelompok usaha-usaha kecil dan menengah. Karenanya, dengan ber-CU maka kita siap mandiri dan berdikari dalam hidup.

Sejarah juga telah membuktikan bahwa CU solusi membangun kemandirian. Hal ini diungkapkan oleh Raiffeisen selaku tokoh CU di dunia. Raiffeisen menekankan pentingnya 3S: Self-Help (menolong diri sendiri), Self-Governance(mengelola diri sendiri) dan Self-Responsibility (bertanggungjawab terhadap diri sendiri). 

Untuk hidup lebih baik dan bermartabat, mari bergabung bersama CU.

Sumber Tulisan dan Foto: Rita Sarlawa; peserta pelatihan; anggota badan pengawas Kodit CU Betang Asi.

***

 

KPD Kalteng lakukan Family Day

Written By rokhmond onasis on Thursday, August 21, 2014 | 12:38 AM

“A happy life start from a harmonious family (Awal kehidupan yang harmonis dimulai dari keluarga yang bahagia)”

Kalimat di atas bisa jadi acuan mengapa kegiatan pada Minggu, 17 Agustus lalu dilakukan. Berawal dari rutinitas yang hampir menyita waktu keluarga dalam melayani anggotanya, para pegiat KPD Kalteng melakukan acara yang melibatkan seluruh anggota keluarga mereka.

Bersamaan dengan peringatan HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 pelaksanaan family day di lakukan di aula pertemuan berlokasi di kolam pemancingan Anugerah yang terletak 35 km dari kota Palangka Raya.

Tidak puas hanya dilakukan di indoor, para pegiat KPD juga melakukan kegiatan di outdoor berupa lari karung, lomba memasukan paku dalam botol dan kegiatan yang memerlukan kekuatan team work dalam permainan jam raksasa dan lingkaran tali berjalan.

Di ikuti tidak kurang dari 75 peserta yang berasal dari KPD Swalayan Tilung dan KPD Swalayan Rajawali. Kegiatan family day ini diwarnai pemberian hadiah bagi para pemenang lomba. Dari pagi hingga sore hari semua peserta dipuaskan dan bagi yang suka memancing, tempat ini menjadi lokasi yang cocok, karena tersedia 3 kolam pemancingan dengan fasilitas yang memadai untuk melepaskan stress.

Selamat HUT kemerdekaan RI ke-69 dan selamat untuk KPD, tetap melayani dengan setulus hati. Hanya KPD!

Sumber foto: Dokumen KPD Kalteng

TOT Fasilitator Pendas CU EPI

“Pelatihan kali ini sangat menyenangkan, membuat saya lebih mengerti  bagaimana menjadi fasilitator yang lebih baik, materi yang diberikan bisa saya pahami, fasilitator tidak membuat suasana kaku sehingga menjadi lebih rileks, semoga kita dapat bertemu di pelatihan-pelatihan selanjutnya”

“Setelah mengikuti pelatihan saya merasa lebih percaya diri dan pengetahuan saya tentang CU EPI bertambah, saya berpesan semoga kegiatan ini rutin dilakukan”

“Sangat senang karena sudah mengikuti pelatihan ini, karena dalam pelatihan ini saya dapat pengalaman masalah CU dan bisa lebih baik lagi menyebarluaskan CU di desa dan masyarakat nantinya”

“Saya memiliki keberanian dalam menyampaikan materi atau menjadi fasilitator, mendapatkan masukan yang lebih baik, game-gamenya juga asyik, dan membangkitkan diri untuk tetap semangat berjuang”

Itulah ungkapan yang ditulis oleh 4 dari 31 peserta yang mengikuti pelatihan TOT fasilitator pendidikan dasar kopdit CU Eka Pambelum Itah (CU EPI), yang dilaksanakan pada 15-16 Agustus lalu di Sampit.

Pelatihan di pusatkan aula pertemuan hotel Permata Indah, lantai-3. Fasilitator pelatihan Rokhmond Onasis sebagai salah satu pendiri sekaligus anggota CU EPI bernomor anggota 1.01.1.000099. Sebagai fasilitator ia memandu pelatihan secara dinamis, materi-materi pelatihan yang terkait sikap, prinsip, metode dan keterampilan menjadi fasilitator diberikan. Selain teori, simulasi saat menjadi fasilitator diperankan peserta secara bergantian. Pembelajaran dari hasil simulasi dibahas bersama dan menjadi catatan penting bersama.

Terkait peserta pelatihan, disayangkan dari 31 peserta pelatihan yang hadir 100 persen dalam setiap sesi hanya 25 orang saja. Peserta berasal dari pengurus, pengawas, kolektor dan staf yang terdiri dari koordinator TP/ TPK, kepala bagian maupun staf pendidikan/ pelatihan di CU EPI.

Pelatihan yang dilakukan selama 2 hari di buka secara resmi oleh J.Suparman Ismael, ketua pengurus CU EPI, sedangkan pada penutupan di lakukan oleh Nono Magat sebagai Manajer. Keduanya berharap hasil dari pelatihan dapat di terapkan saat berhadapan dengan masyarakat.

Adapun ke-25 peserta yang hadir 2 hari penuh adalah, Yuname Ida,Deta Ayu Lestari, Luh Putu Y. Dewi, Megawati, Jhon Prastandi Putra, Suhadi, Doseno, Candra R. Dewi, Timan Ruhan, Ariana Maria M.A, M.Sunardy, Ayu Y.F, Apri Meka Yudas, Jainudin, M.Arsad, Nyangkai, Mikron, Budang, Bambang Susilo, Sudy E. Nahan, Tamiang, Pating, Subari dan Marta.

Semoga semangat Hatantiring Mambesei, Manggatang Pambelum tetap berada di hati pegiat CU EPI sehingga masyarakat Kotim, Seruyan semakin percaya dan dapat menolong diri sendiri, sekaligus menolong orang lain di Kopdit CU EPI yang berdiri pada 23 Juni 2006.

Sumber foto: Rokhmond Onasis.
***
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa