Headlines News :

Terbaru

Milodi, SH: “Yang Dikatakan Harus Merupakan Bagian Dari Yang Dilakukan”

Written By rokhmond onasis on Saturday, June 27, 2015 | 12:38 AM

Tiga puluh tiga menit berlalu begitu saja. Waktu terasa sangat cepat saat penulis melakukan diskusi 4 mata dengan pria dari 1 anak ini. Dari isu tantangan, strategi, lingkungan hidup, prinsip dan harapannya bagi gerakan CU.

Jumat siang, 26 Juni 2015, Milodi, SH nama pria yang  bersedia menemui penulis di ruang kerjanya. Kantor Kopdit CU Sumber Rejeki yang terletak di jalan K.R. Soesilo RT.33 Ampah Kota,Barito Timur terlihat megah saat penulis masuk dan menuju lantai dua. Tempat pria kelahiran Sanggu, 25 Januari 1972 ini sudah menunggu.

Suami dari Rama Rejekini ini dipercaya kembali sebagai GM Kopdit CU Sumber Rejeki periode 2015-2017. Ia menegaskan bahwa upaya memperbaiki ini dimulai dari diri sendiri dan memberi teladan yang baik. Ia berprinsip yang di katakan harus merupakan bagian dari yang dilakukan. Berikut petikan diskusinya:

Sejak kapan anda menjabat sebagai GM?

Sejak tahun 2013-2015, kemudian terpilih kembali 2015-2017. Pemilihan dilakukan oleh pengurus  dengan menggunakan prosedur yang benar dan system yang sudah berlaku di CU dengan mempertimbangkan kemampuan dari seseorang dan dituangkan dalam Surat Keputusan Pengurus. Masa 3 tahun dapat diperpanjang jika berprestasi dan dianggap mumpuni.

Tantangan terbesar yang dihadapi CUSR sekarang?

Tantangan terbesar adalah bagaimana memperbaiki sikap, perilaku internal yang tidak ideal di dalam praktek ber-CU sesuai dengan harapan CU sejati. Perjuangan terberat yang harus dilakukan adalah bagaimana menata ulang. Menata kembali awalnya  dan menata yang sedikit bias dari rel yang utama.  Setelah saya membaca, mengamati tulisan orang-orang dan pembelajaran di mana-mana bagaimana CU dikelola. CU SR ada bagian tertentu yang mesti di kembalikan ke rel tepat.

Strategi anda untuk mengembalikan ke rel tepat?

Terus terang, pekerjaan itu tidak mudah, karena selalu berdekatan dengan budaya, kebiasaan-kebiasaan lama. Melakukan perubahan itu memerlukan proses tidak serta merta selesai. Karena, bagaimanapun juga persoalan kita memerlukan konsentrasi, keseriusan dan keteladanan dari siapapun didalamnya.

Untuk mengembalikan kepada posisi yang benar  dan mendekati ideal merupakan perjuangan yang berat. Karena, banyak pengaruh dari sekeliling, seperti budaya, tindakan, perilaku yang “agak terlena” dalam situasi. Bahasa sekarang yang dipakai adalah zona nyaman terusik ketika ada upaya untuk memperbaiki sesuatu, adanya perubahan.

Zona nyaman saya selama ini sebagai GM, tentu fasilitas yang melekat di diri sudah ada. Orang sering katakan tidak ada GM kalau tidak ada mobil. Padahal, saya pakai motor dan saya belum punya mobil.

Ada beberapa rekanan yang lewat (kantor) dan berkata, GM-nya tidak ada padahal saya di dalam  Ketika berkomunikasi dengan saya ia kaget  beberapa minggu yang lalu saya katakan saya sudah di kantor. Ia bertanya, kenapa anda sebagai pimpinan kok tidak punya mobil. Saya katakan itu tentu kebutuhan, namun “belum saatnya” karena saya sadar bahwa sederhana itu tidak harus melarat.

Mengelola CU sebagai lembaga keuangan,  pendidikan dan pemberdayaan, tidak boleh bagi saya orang melupakan keserderhanaan, namun jangan sampai melarat, sampai mati kelaparan. Upaya memperbaiki ini dimulai dari diri sendiri dan memberi teladan yang baik.

Yang saya katakan harus merupakan bagian dari yang saya lakukan. Agak aneh jika saya mengatakan silahkan anda ke lapangan untuk tagih ini. Tapi, saya sendiri ongkang-ongkang kaki, gehek-gehek, main itu, main ini. Tapi, kawan pontang-panting di lapangan. Gaji di terima di awal atau di akhir bulan. Itu tidak benar bagi saya.

Tentu kita sepakat bahwa, dimana-mana tempat keteladanan penting. Ini ditopang oleh profesionalisme, keterampilan dan tidak mengesampingkan nilai-nilai serta prinsip CU yang sudah dari awal begitu adanya.

Bicara tentang perubahan, target waktu anda kapan?

Untuk CU Sumber Rejeki, memang ada pengalaman buruk dan ini memang tidak mudah. Saya katakan kepada kawan-kawan, jangan saling menghakimi tapi kita cari solusi. Kalau menghakimi mudah, si-A salah si-B salah tapi solusi yang ditawarkan apa?.

Bicara soal target, CU Sumber Rejeki waktu RAT BKCUK di Surabaya saya ditantang bersama CU-CU lain. CU Sumber Rejeki di access pada tahun 2017. Menurut teman-teman internal itu masuk akal. Siap atau tidaknya saya di akhir cerita nanti minimal punya target itu harus dilakukan. Soal dapat perunggu, dapat kayu dan lain-lain itu belakangan.

Selain komitmen BKCU terhadap CU primer tentu CU primer harus berjuang habis-habisan dan mest diperbaiki dari sisi atas dan bawah. Target-target internal tentu dengan memperbaiki dan mempersiapkan tata kelola. Betul, setelah kami melakukan Organization Development (OD) memberi warna tentang bagaimana berupaya untuk keluar dari masalah  kita.

Langkah kongkrit yang anda lakukan hingga 2017?

Tentu, sekali lagi mengemas tampilan. Access Branding itu kan banyak  aspek, yang paling sederhana misalnya soal desain kantor. Belakangan desain kantor CU Sumber Rejeki  ketika membangun baru sudah tidak bergaya klasik dan sempit seperti ini. Sekarang sudah mulai diperlebar dan disesuaikan
.
Itu salah satu upaya, yang lainnya setelah OD dilakukan, terlihat tempat pelayanan mana yang betul-betul konsisten. Untuk sampai konsisten ini betul-betul dicari cara dan pendekatan yang tepat. Target bulanan, tahunan, 3 tahun sampai kepada access tadi terus diperbaharui, dikembangkan  dan diperbaiki berkerjasama dengan pengurus.

Terkait wilayah pengembangan CU SR yang berhadapan dengan pertambangan dan perkebunan. Apa upaya dari CU SR untuk memberikan penyadaran ke anggotanya untuk menjaga sumber-sumber penghasilannya?

Sejak didirikan lembaga ini, kita tahu sejarah pendiriannya diinisiasi oleh sebuah lembaga yang konsentrasi dengan sumber daya alam dan pemanfaatannya dengan benar. Dari awal kita konsentrasi benar salah satu yang sudah CU SR lakukan adalah mengumpulkan dana lingkungan yang jumlanya Rp 2.000,- per anggota per tahun. Itu  sudah dikumpulkan sejak puluhan tahun lalu saya lupa tanggal  dimulai. Upaya itu  dimulai  karena kita sadar betul kita akan berhadapan dengan dunia yang cepat juga rusaknya.

Upaya lain kita juga bekerja sama dengan kelembagaan yang se-visi dengan kita bagaimana menyelamatkan alam dan lingkungan. Sampai hari ini teman-teman di Sumber Rejeki berupaya meningkatkan kualitas hasil sadapan karet. Beberapa waktu lalu, Sumber Rejeki mengirimkan orang ke Toraja, Palangka Raya dan tempat lain belajar di lapangan.

Kini sudah terbentuk beberapa kelompok di salah satu tempat pelayanan sebagai percontohan. Semoga dari upaya peningkatan mutu karet ini juga membantu anggota kita dalam hal ber-CU-nya, mengangsur dan menabung dengan baik. Karena penghasilan baik dan membangun kerjasama  sesuai dengan yang diharapkan.

Sisi lain juga, sebagai perlindungan terhadap eksploitasi  sawit dan tambang. Kita tidak bergerak langsung mengkampanyekan itu di lapangan untuk bergerak bersama-sama di lapangan. Bersama lembaga non pemerintah kita mendukung gagasan pembangunan berkesinambungan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan dan benar sampai dengan hari ini belum pernah “mendanai”. Kecuali pada konggres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan saresehan dengan lembaga-lembaga terkait dengan dana yang juga terbatas.

Itu sebagai wujud komunikasi antar kita dan bukti mendukung pembangunan berkelanjutan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan belum ada aturan yang jelas untuk penggunaan dana lingkungan. Yang jelas spiritnya itu untuk mendukung gerakan pembangunan berkelanjutan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan.

Dulu saya ingat ketika gagasan ini dimulai ada kawan menanyakan bagaimana pengaturannya bagaimana bentuk dukungannya. Saya katakan, nanti akan kita pikirkan setahu saya banyak lembaga di Kalteng, regional bahkan nasional  untuk membantu kita dan mendukung. Minimal, mengkampanyekan. Sesungguhnya Sumber Rejeki dari awal didirikan sangat sadar jika sumber pendapatan anggota rusak maka dengan sendirinya CU juga.

Terobosan anda lakukan selama menjadi GM?

Yang paling kentara adalah upaya di sisi internal lembaga ini harus diperbaiki. Ini termasuk komunikasi dengan PUSKOPDIT, juga membangun komunikasi dengan pemerintah dalam hal melengkapi legalitas lembaga. Membangun komunikasi juga di lakukan dengan CU di 1 kawasan.

Terobosan yang lain, CU SR 2 tahun ke depan tidak ekspansi, lebih ke penguatan internal untuk lembaga ini betul-betul kuat. Fokus perjuangan agak sedikit di tarik ke dalam. Ke luar dilakukan sambil melihat kepentingannya apa. Lebih kepada di tahan di dalam. Membangun komitmen bersama memang berat. Di sisi lain, juga terus meningkatkan kapasitas pengurus dan manajemen untuk bisa menghadapi tantangan zaman yang begitu deras.

Apa yang anda lakukan saat menghadapi penyalahgunaan wewenang staf CU sehingga citra CU  SR yang terpuruk?

Itu hal yang sangat luar biasa dan saya ketika masuk berlaku standar untuk si-A melakukan apa dan si-B melakukan apa. Ketika situasi itu ada yang tidak ideal, sehingga ini mengawali cerita mengapa saya jadi tahu.

Saya mengatakan, ini pasti ada masalah. Saya bertanya ke orang yang paling bertanggung jawab, apakah tidak mengetahui hal tersebut bahwa ada sesuatu di sini. Saya kira bukan karena  tidak mampu. Jika disebut lalai juga saya tidak punya bukti. Ini akhirnya mengalir saja dan pada tahun 2011 hingga pada Juli atau Agustus saat saya masuk ketika ditelusuri betul-betul tidak ideal.

Ini menjadi pintu masuk. Salah satu upaya dilakukan. Saya mengatakan cosmos alam  terganggu untuk kondisi ini. Secara adat istiadat, peradaban. Betul jika bisa mengembalikan apa yang dicuri, tapi perasaan anggota rusak dan terganggu.

CU lain terganggu. Melihat tulisan di Koran. TP BPP merupakan bagian dari CU Betang Asi. Saya langsung angkat telpon Pak Ethos dan Pak Ambu, memohon maaf, bahwa pemberitaan ini keliru. Saya saat itu berada di tempat lain, dan mengatakan tolong sampaikan ke koran bahwa ini berita yang keliru.

Arus untuk ya dan tidak memang ada melewati proses pengadilan. Saya katakan, bagaimanapun resikonya kita harus sampai ke pengadilan. Jika tidak, rush pasti terjadi, orang tidak percaya, citra CU Sumber Rejeki hancur lebur dan kita dianggap melindungi penjahat.

Lalu, upaya ke pengadilan dilakukan. Walaupun hasilnya tidak memuaskan. Namun saya bersama anggota mufakat, bahwa apapun hasilnya ini kita bisa menerima hasil putusan pengadilan kita terima dikatakan tidak becus, kalah. Kita menerima resiko dari putusan pengadilan. Bagi saya pribadi, keputusan itu tidak maksimal. Kesakitan hati tidak senilai dengan itu.

Mata panah memang ditujukan kepada saya, mengapa zaman anda rusak?. Saya secara simple mengatakan semestinya kita juga berterima kasih bahwa saat saya menjabat justru bisa membongkar sesuatu yang sudah dilakukan sejak lama.

Saya tidak menghakimi teman-teman terdahulu. Tidak juga mengatakan lalai, karena saya tidak punya bukti. Namun secara lurus kami mengatakan  ada sesuatu yang lepas dari kontrol dari pengendalian.

Jika menggali ke belakang sedikit. Apakah tidak terpikir waktu itu kita menggunakan hukum adat?

Saya mengungkapkan itu dalam rapat bersama anggota. Jika  di denda adat itu akan lebih menentramkan cosmos. Tapi sebagian besar peserta rapat dan hasil konsultasi juga dengan ahli hukum tidak sependapat jika menggunakan hukum adat.  Diputuskan menggunakan hukum (positif).

Sesaat setelah terjadi proses gonjang ganjing yang luar biasa. Kita pelan-pelan meyakinkan anggota. Sempat terjadi rush 4-5 M.  dikatakan CU tidak aman. Ini berpengaruh di internal maupun di eksternal.

Upaya lain, kami menjelaskan ke anggota duduk persoalan yang sebenarnya. Dengan tidak mengkambing hitamkan program, pengawas maupun teman-teman. Ternyata anggota mengerti dan yang menarik kembali menyimpan. Yang menyimpan minimal kembali setelah mendengar penjelasan.

Di sudut lain, pelaku sudah di penjara. Kami dinilai serius. Namun yang menjadi beban, tidak mungkin hanya melakukan seorang diri. Ini menjadi beban saya untuk membuktikan. Kalau memang yang lain terbukti silahkan. Jangan sungkan menimpali kasus ini pada 1 orang saja.

Saya berprinsip jabatan tidak bisa melindungi kejahatan. Kalaupun saya terlibat, mari kita usut dan silahkan dipenjarakan. Proses di pengadilan kita hormati.  Saya juga berbagi pengalaman dengan teman-teman CU lain terkait kasus yang terjadi.

Upaya lain, hampir setiap bulan teman-teman manajemen di pantau datanya untuk menjaga kepercayaan anggota. Melihat secara dekat praktek yang terjadi, meminta bagian TI untuk mengontrol itu secara ketat.

Sekarang Tempat Pelayanan BPP itu yang terbesar dari CU Sumber Rejeki. Secara asset, anggota dan yang lainnya baik. Karena anggota melihat kami melakukan kerja yang serius. Diterpa masalah dan sekarang bisa recovery dengan baik.

Harapan anda bagi gerakan CU di Kalteng?

Mari kita berlomba dengan sehat, baik dan benar. Sesama CU saling menghargai.  Membangun komunikasi di Kaltim, Kalsel. Jangan pernah meninggalkan kita berjuang bersama. Jika salah satunya besar yang lainnya juga berandil dan berjuang menjadi besar dengan cara yang elegan. Dan yang penting kita saling mengingatkan dan 1 jaringan. Bisa saja kerja sama di bidang audit, monitoring dan supervisor. Mari kita bangun media sebagai alat kontrol bagi kita agar CU berlomba secara sehat.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis

***

TPK Timpah, Lakukan Pertemuan Kolektor

Seribu tiga ratus lima puluh tujuh orang yang harus di layani manajemen TPK Timpah, Kapuas per Mei 2015. Di pimpin oleh Aeroporto, S.Pd sebagai pelaksana tugas TPK melakukan inisiatif untuk membangun komunikasi yang baik dengan kolektor sehingga seribu lebih anggota ini menjadi semakin berdaya.

Kamis siang, 25 Juni 2015 pertemuan kolektor dan aktivis kopdit CU Betang Asi TPK Timpah terselenggara di jalan Tajahan Huang No. 100, RT. 02, kantor TPK Timpah. Pertemuan ini juga diisi dengan evaluasi program kerja tahun buku 2015. Dihadiri oleh 7 kolektor dari wilayah pelayanan yang telah ditetapkan.

Kampung Aruk, Lungkuh Layang, Danau Pantau, Tumbang Randang, Batapah, Lawang Kamah, Petak Puti, Tumbang Muroi, Muroi Raya/ Pantar dan Timpah Kota menjadi sebaran anggota CU di TPK ini.

Terungkap dari pertemuan ini bahwa tidak tercapainya jumlah minimal peserta pen-CU menyebabkan belum terlaksananya pendidikan dimaksud di kampung Batapah, Tumbang Randang, Danau Pantau dan Aruk.

Hal lainnya, permintaan pendidikan penyegaran, pendidikan lanjutan (baca Financial Literacy) masih ada di beberapa tempat. Pelayanan yang lebih cepat dan tepat mesti dilakukan bagi kolektor yang jarak tempuhnya ke TPK Timpah cukup jauh dan menggunakan transpotasi kelotok dan sepeda motor.

Beberapa masukan di sampaikan juga oleh manajemen yang hadir dalam pertemuan. Beberapa adalah pengisian slip oleh kolektor/ anggota harap di perhatikan lebih rapi dan cermat. Anggota yang memiliki simpanan besar tapi belum meminjam, di dorong untuk melakukan pinjaman sekaligus mengikuti pendidikan Financial  Literacy.  Penagihan kredit lalai ke anggota tetap diminta kerjasama aktif antara kolektor dan manajemen. Pertumbuhan anggota lebih didorong dengan melakukan pendidikan CU dan Financial Literacy.

Akhir dari pertemuan ini menyepakati 3 langkah kerja yang akan dilakukan. Pertama, pendikan FL akan dilakukan di Timpah pada tanggal 22-23 Juli mendatang, masing-masing kolektor diminta untuk mengajak 5 anggota penabung besar dapat mengikuti pelatihan ini.

Kedua, untuk mempermudah undangan dan publikasi masing-masing kolektor akan di buatkan spanduk informasi terkait pendidikan yang akan dilakukan berisi waktu dan tempat pelatihan. Mengatasi kekurangan peserta pendidikan dalam 1 kampung akan di gabungkan ke kampung terdekat.  Ketiga, pendataan anggota yang sudah mengikuti pendidikan CU di TPK Timpah segera dilakukan untuk membantu bagian pendidikan.

Adapun kolektor yang hadir adalah Yatel dari Danau Pantau, Sadie F. Mahin dari Tumbang Muroi, Hernalisa G dari Tumbang Randang, Ali I. Jamit dari Lungkuh Layang, Simon dari Batapah, Baner I. Daniel dari Aruk, Harta Tatang dari Lawang Kamah. Sedangkan manajamen dan aktivis yang hadir adalah Sinta, Senda, Yupersi, Sipendi, Globasta, Aeroporto, Leani dan Rokhmond Onasis.

Sumber Foto dan Berita: Rokhmond Onasis

Koperasi Sebagai Alternatif Tata Kelola Agraria

Written By rokhmond onasis on Monday, June 22, 2015 | 11:23 PM

PERSOALAN agraria di Indonesia selalu menghadirkan sekelumit problem yang seakan tidak pernah usai. Konflik terus terjadi di sana-sini, semakin melebar, semakin luas, baik yang bersifat horizontal ataupun vertikal. Kekerasan struktural maupun kultural menjadi sesuatu yang tidak bisa lepas dalam setiap konflik agraria. Setidaknya dari catatan Walhi, pada tahun 2014 telah terjadi 472 konflik agraria dengan luas wilayah mencapai 2.860.977,07 hektare yang melibatkan 105.887 kepala keluarga (KK). Jumlah konflik tersebut meningkat sebanyak 103 konflik (27,9 persen) jika dibandingkan dengan jumlah konflik di tahun 2013 (369 konflik) (Antaranews, 2015). Bahkan Walhi memprediksikan tahun 2015 ini konflik agraria akan semakin bertambah.

Yang jelas, hal ini adalah pekerjaan rumah bersama. Walaupun negara kita kini memiliki nomenklatur kementerian agraria, kita tidak bisa sepenuhnya menyerahkan masalah ini kepada negara, karena justru tidak jarang negara tampil menjadi ‘biang keladi’ dalam prahara agraria di Indonesia. Problem yang tak kunjung usai tersebut masih membuka celah bagi kita untuk senantiasa berupaya memberikan kontribusi konkret dalam menawarkan problem solving.

Tanah merupakan faktor penting bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Tanah adalah tempat tinggal dan sumber ekonomi bagi manusia. Namun, saying, rekaman realitas mencerminkan ironi. Tanah di Indonesia dihiasi hiruk pikuk ragam masalah. Salah satu permasalahan mendasar agraria di Indonesia adalah timpangnya konsentrasi kepemilikan tanah. Sebagai ilustrasi di kehutanan, terdapat 531 izin hak pengusahaan hutan (HPH) dan hutan tanaman industri (HTI). Luasnya mencapai 35,8 juta hektar, hanya dikuasai puluhan konglomerat nasional dan asing. Sementara ada 57 izin pengelolaan hutan oleh masyarakat dengan luas cuma 0,25 juta hektar. Artinya, hanya 0,19 persen masyarakat pedesaan mendapatkan akses secara legal atas kawasan hutan (Sirait dalam Arsyad: 2012). Alhasil kemiskinan menjadi wajah buruk Indonesia. Ketimpangan tersebut tak lain karena didorong ambisi kapitalisme yang hendak mengumpulkan pundi-pundi keuntungan bagi para borjuis besar. Sistem ini menghendaki ‘jalan tol’ guna mengakselerasi pertumbuhan kapital. Oleh karenanya segala cara dilakukan untuk memenuhi tujuan-tujuannya. Bahasa halus dari berbagai agenda akumulasi kapital ini lebih dikenal dengan kata: pembangunan.

Kendati dominasi serangan kapital semakin gencar, namun semangat perlawanan itu masih ada dan berlipat ganda. Lihatlah bentuk perjuangan menentang pembangunan tambang dan pabrik-pabrik perusak lingkungan yang semakin militan di beberapa daerah. Ada para petani Kulon Progo yang berkolektif membangun tata kelola pertanian subsiten, warga Urut Sewu yang tanpa henti menjaga tanah mereka dari hadangan militer, Ibu-ibu di Rembang dengan pekikan takbir perlawanan tanpa henti terus melawan alat-alat besar. Dengan kata lain, rakyat pun memiliki kesadaran progresif terhadap apa yang dihadapinya.

Mengenai konflik agraria, sudah banyak ahli agraria menjelaskan secara terang akar masalahnya sekaligus rumusan-rumusan solusi. Begitu juga, tidak sedikit para aktivis agraria telah memproduksi pengetahuan tentang cara-cara perlawanan. Oleh karenanya, pada kesempatan ini, penulis tidak menyoroti hal tersebut. Adapun di sini penulis memilih untuk menguraikan hal ihwal kemungkinan alternatif lain tata kelola agraria, yang mana sumber semangat diambil dari falsafah demokrasi ekonomi, yaitu koperasi sebagai alternatif tata kelola agraria.

Koperasi Agraria di Indonesia

D.N Aidit (1963) pernah menjelaskan tentang esensi koperasi dalam bidang pertanian. Baginya koperasi bukanlah senjata utama satu-satunya untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Pada pokoknya kekuasaan tetap harus bisa direbut, melikuidasi kekuasaan dari para kapitalis monopoli imperialis, dan mengembalikan fungsi kekuasaan tersebut kepada rakyat. Dengan kata lain, perjuangan yang harus dilangsungkan adalah perjuangan ekonomi politik, dan koperasi bisa menjadi salah satu instrumennya. Poin ini yang membedakan dengan pemikiran Moh Hatta yang fokus pada gagasan koperasi sebagai jawaban sistem ekonomi yang mensejahterakan, yang dengan sendirinya transformasi sosial akan tercipta walau tanpa perlu didahului perjuangan politik.

Koperasi yang berkait dengan bidang agraria di Indonesia memiliki sejarah minor. Seperti yang diulas Aidit, banyak saat masa Orde Lama koperasi lahir adalah koperasi-koperasi palsu yang menjalankan praktek kapitalisme dengan wajah koperasi. Koperasi tersebut tidak dimiliki oleh rakyat yang meng-anggota melainkan para borjuis yang punya harta berlebih. Pada masa Orde Baru, kondisinya semakin parah. Kehadiran Koperasi Unit Desa (KUD) malah membunuh koperasi dari dalam lewat pendekatan top down yang tak berakar kepentingan dan kebutuhan publik. KUD jadi ‘koperasi tembak’, sekedar proyek negara minus keterlibatan anggota, akhirnya dengan sendirinya mereka mandul dan menjadi fakir fasilitas negara. Kondisi tersebut memperlemah modal sosial karena KUD dalam praktiknya banyak dimainkan oleh para elit desa yang menjadi pengurusnya. Akhirnya mimpi KUD sebagai penopang swasembada pangan luluh lantah. Imbasnya kini citra koperasi, yang konon sokoguru ekonomi Indonesia itu, menjadi negatif. Padahal koperasi sebenanya memiliki kekuatan tersendiri dalam menandingi sistem ekonomi yang kapitalistik. Ia memiliki kekuatan yang adaptif dan sifat lentur terhadap serangan gelombang ekonomi yang ada. Tak heran Dawan Raharjo sempat menyinggung koperasi sebagai sistem ekonomi yang futuristik.

Beberapa Pertimbangan

Menghadirkan diskursus koperasi sebagai tata kelola agraria di Indonesia perlu diikuti oleh kontruksi alasan-alasan yang logis. Dalam tulisan ini, saya akan berusaha menjelaskan tentang jawab dari tanya ‘mengapa koperasi?’ untuk agraria.

Pertama koperasi adalah people power. Sebagai people based association, maka titik tekan yang memiliki peran penting berjalannya organisasi koperasi adalah manusia, bukan kapital seperti yang berjalan dalam korporasi. Oleh karenanya, nuansa perjuangan koperasi sejati adalah proses bottom-up rakyat yang mengorganisir diri menjadi anggota koperasi. Dengan demikian, koperasi secara evolutif bisa berjejaring dan bekerjasama antar koperasi yang berpotensi bertransformasi menjadi kekuatan yang bisa menjadi countervailing dari kapitalisme. Dengan kekuatan adapatif dan sifat lenturnya, koperasi memiliki kemampuan gerilya ekonomi dan menusuk langsung jantung kapitalisme (Faedlulloh, 2014). Relevansi koperasi sebagai people power pun disinggung Aidit yang menerangkan, “Koperasi mempunyai unsur mempersatukan, yaitu mempersatukan rakyat yang lemah ekonominya. Dengan persatuan dan kerjasama rakyat pekerja dapat berusaha mengurangi penghisapan tuan tanah, lintah darat, tukang idjon, tengkulak, dan kapitalis-kapitalis atas diri mereka.” Adapun people power dalam koperasi ini bisa mewujud melalui perjuangan politik ataupun taktik seperti negoisasi harga yang adil yang dilakukan kekuatan kolektif anggota koperasi produksi, pembagian resiko dalam jaringan kerja, ataupun bertukar informasi, pengetahuan dan keterampilan

Implikasi dari people power ini maka akses terhadap modal pun semakin besar. Inilah alasan kedua. Para anggota bisa mengoptimalkan modal bersama-sama untuk investasi membangun usaha, baik berupa tanggungan dana, agunan bersama dalam skema koperasi kredit atau yang lainnya. Semakin banyak anggota, efisiensi kolektif semakin menguat, modal pun semakin besar. Tapi yang perlu ditekankan dalam koperasi keberadaan modal hanyalah sebagai pembantu bukan penentu. Kemudian akses modal lain yang bisa diaplikasikan misal berupa saling meminjam atau share alat-alat produksi, ini adalah antitesis dari kepemilikan individu alat-alat produksi.

Ketiga, koperasi bisa meningkatkan skala ekonomi. Kerjasama antara para anggota memungkinkan para petani kecil untuk bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan oleh pertanian skala lebih besar. Misal dengan membangun gudang bersama yang dilakukan atas kerjasama antara koperasi untuk melakukan pembelian alat bantu produksi atau barang-barang dengan jumlah besar agar lebih efisien daripada dengan membeli dengan cara sendiri-sendiri. Kerjasama ini bisa meningkatkan volume produksi untuk membuka ‘pasar’ baru yang ditujukan guna memberikan kemanfaatan hasil produksi kepada rakyat yang lebih luas. Secara ekonomis, hal ini berarti dapat menambah penghasilan atau pendapatan terutama bagi para anggotanya.

Keempat, koperasi pun berperan penting dalam menjaga kualitas hidup. Karena usaha tidak untuk mengeruk profit semata, maka berbagai aktivitas dalam koperasi mempertimbangankan sisi humanis dan juga ekologis. Dengan saling berbagi tanggung jawab dari mulai proses produksi, penjualan, sampai mempertahankan sumber daya bersama, maka beban kerja lebih ringan, sehingga aturan jam kerja bisa diatur sedemikian rupa agar para petani atau para anggota tetap bisa bertemu dengan quality time bersama keluarga atau melakukan berbagai hobinya. Sedangkan alasan kelima adalah berkenaan dengan keberlanjutan (sustainability). Sesuai dengan prinsip ketujuh yaitu peduli terhadap komunitas, maka koperasi secara inheren bekerja dalam konteks pengembangan masyarakat yang berkelanjutan melalui kebijakan yang disetujui oleh para anggota.

Ikhtiar Memutus Rantai

Hari ini kapitalisme bekerja kian semakin luwes dan sistemik, semakin sulit untuk memutus rantai produksi-distribusi. Berkenaan dengan ini banyak para petani kecil, bahkan koperasi itu sendiri yang terjebak dalam rantai global kapitalisme, yang membuat ujung-ujungnya masuk dalam lingkaran sirkulasi kapitalisme. Pangan yang kita makan sehari-hari tidak tiba-tiba saja datang di hadapan kita, ada rantai panjang yang akhirnya menghadirkan berbagai jenis pangan tersebut untuk siap dikonsumsi. Dalam rantai industri pangan, biasanya hasil produksi para petani kemudian dikumpulkan untuk diproses mulai dari penyimpanan, pembersihan sampai pada pengepakan. Pada fase inilah sistem industri sudah mulai bekerja. Perusahaan-perusahaan besar hanya memiliki kapasitas pemberian value added pada hasil produksi, sedangkan para petani tidak pernah terlibat di sini, dan memang tidak mungkin dilibatkan. Selanjutnya rantai diteruskan lewat proses distribusi, dan lagi-lagi, hanya perusahaan besar yang bisa berperan di sini sampai akhirnya hasil-hasil produksi yang telah diolah tersebut masuk ke toko-toko ritel, restaurant-restaurant, dan kepada para konsumen untuk dikonsumsi.

Hubungan rantai produksi ini sangat kompleks, apalagi dalam situasi kontemporer rantai tersebut semakin meluas dengan skala global. Tapi perlu diingat, serendah-rendahnya iman dalam melihat kondisi yang tidak adil adalah melakukan perubahan melalui tangan kita. Perubahan tersebut bisa dimulai dengan ikhitiar membangun koperasi multi-stakeholders sebagai tata kelola agraria. Koperasi model ini dikelola oleh perwakilan dari beberapa kelompok stakeholder, dari mulai para petani yang menjadi produsen, pekerja, distributor, para voluntir, community supporters sampai konsumen dengan berbasiskan solidaritas. Model ini membuka ruang partisipasi dialog bagi para anggota untuk membicarakan agenda-agenda bersama, tema-tema seperti pemilihan pengurus dan badan pengawas yang representatif, pengangkatan manajemen, sampai sharing hasil usaha yang adil di antara kelompok yang berbeda – yang juga mewakili kebutuhan yang berbeda pula. Keragaman tersebut terintegrasi dalam single organization. Rantai-rantai yang sebelumnya terpisah satu sama lain, yang tak jarang menjauhkan para petani dengan para konsumen, dalam proyek koperasi multi-stakeholder ini bisa dijembatani. Skema rantai produsen-distributor-konsumen dalam single organization sebagai berikut:

Sebagaimana yang diterangkan Swasono (2000), basic-instinct dari gerakan koperasi adalah menolong diri sendiri (self-help) dan kerjasama (co-operation). Kita bekerjasama untuk merangkum kekuatan-kekuatan ekonomi menjadi suatu kekuatan sinergi yang dahsyat, berdasar kebersamaan (mutuality) dan kekeluargaan (brotherhood), baik dalam dimensi mikro, makro, lokal, regional maupun mondial. Maka gerakan koperasi multistakeholder sebagai alternatif tata kelola agraria ini pun mesti mulai dijangkarkan pada kerjasama pada dimensi-dimensi tersebut. Bila saat ini gerakan solidaritas lintas entitas sudah mulai terajut, maka ke depan gerakan-gerakan tersebut perlu didiversifikasi menjadi gerakan solidaritas ekonomi.

Eksplanasi di muka merupakan awalan sebagai gambaran umum tentang lingkaran setan rantai kapitalisme terputus itu ternyata mungkin. Yang jelas, tradisi gerakan kemandirian ekonomi ini sudah saatnya perlu dimulai, agar, seperti yang disitir Aidit, pengalaman-pengalaman (berkoperasi) ini kelak akan berguna bagi gerakan koperasi yang lebih tinggi (sosialisme).

***

Sumber: http://indoprogress.com/2015/06/koperasi-sebagai-alternatif-tata-kelola-agraria/

Pelatihan Pendampingan Kelompok Binaan

Written By rokhmond onasis on Saturday, June 6, 2015 | 6:34 AM

Bertempat di Wisma Unio Palangka Raya pelatihan Pendampingan Kelompok Binaan dipusatkan. Aula yang terletak di kompleks kantor Keuskupan Palangka Raya ini berada di km.5,5 jalan Tjilik Riwut dari pusat kota Palangka Raya.

Sejumlah peserta dari CU yang berada di wilayah Kalteng berkumpul untuk belajar bersama. Namun, disayangkan CU Eka Pambelum Itah, Sampit tidak mengirimkan utusan. Pelatihan yang difasilitasi oleh Ambu Naptamis dan Marchony ini mengajak peserta untuk merumuskan bersama tantangan, strategi dan rencana tidak lanjut untuk pendampingan kelompok binaan.

Selama 3 hari (4-6 Juni 2015) pelatihan yang di gagas oleh PUSKOPDIT Badan Koperasi Credit Union Kalimantan (BKCUK), Pontianak ini mengirim Dominikus  Dakota dan Sumbogo untuk memastikan pelatihan berjalan dengan baik. Sebagai panitia lokal, kepala District Office (DO) Herculanus Irwandi membantu dalam proses saat di kelas dan di lapangan.

Menurut Ambu, yang juga mantan anggota pengurus BKCUK ini, ada 4 tujuan dari akhir pelatihan. Pertama, peserta sharing/ berbagi. Kedua, peserta saling mendalami spirit, metode dan bentuk dari pendampingan kelompok binaan. Ketiga, merumuskan arah/ strategi usaha pemberdayaan. Keempat, mendorong CU primer dapat membentuk kelompok usaha.

Ambu mengharapkan peserta mendapatkan pembelajaran, mendalami spirit, merumuskan strategi kegiatan di lingkungan CU primer dan akhirnya CU primer termotivasi untuk membentuk kelompok usaha/ pendampingan.

Pelatihan dipandu menjadi 2 bagian. Belajar di kelas dan melihat secara langsung di lapangan pada kelompok yang telah berjalan baik di bidang pengolahan hasil karet. Kampung Gohong dan sekitarnya di kabupaten Pulang Pisau dipilih menjadi hari pertama sebagai tempat kunjungan. Di kampung ini telah terbentuk kelompok tani yang berbasis pada pengolahan dan penjualan Bahan Olah Karet (BOKAR).

Sedangkan di hari ketiga, pabrik karet Borneo Makmur Lestari yang terletak di km. 47 Tjilik Riwut menjadi tempat kunjungan untuk melihat secara langsung kualitas BOKAR dengan standar pabrik. Tentu saja, hasil dari kunjungan lapangan selama sisa ½ hari pada hari ketiga akan di kupas di dalam kelas dan menghasilkan rekomendasi dan rencana tindak lanjut bagi masing-masing CU.

Salah seorang peserta yang sempat penulis tanyakan terkait hasil pelatihan. Perempuan yang dipercaya sebagai manajer TP Maju Bersama, Ugang Sayu, Barito Timur mengungkapkan pendampingan kelompok baru saja dimulai dan setelah pelatihan ini usaha karet di daerahnya dapat membaik. “Saya berencana setelah pertemuan ini akan membentuk kelompok usaha dan akan menemukan jalan keluar untuk menjalankan pembinaan kelompok dampingan,” kata Eniwati perempuan Dayak Maanyan, dari CU Sumber Rejeki.

Adapun peserta mengikuti pelatihan ini sebagai berikut. Dari CU Sumber Rejeki, Ampah, Oktavianus Ladjar-deputi bidang pemberdayaan; Bangbang Herawan-aktivis; Patakulana-anggota pengawas; Ason-staf kredit; Morten-manajer TP; Poltak Gultom-manajer TP; Isra Ul Huda-Manajer TP; D.D Fernandes-sekretaris pengurus; Muliantono-wakil ketua pengurus.

Dari CU Betang Asi, Palangka Raya, Isu Peri S- aktivis; Junaidi-manajer TP; Eprison-aktivis; Damianus Kartiman-aktivis; Milo Karni-staf; Gasie-aktivis; Thomas Fajar-aktivis; Herry Agus-aktivis; Yepta Diharja- manajer TP; Mari Riwayanto Setiawan-aktivis; Yohanes Changking-manajer Diklat/ Litbang; Silvester Suanda-staf; Yulius Langkah A.D, S.Th-anggota pengurus.

Dari CU Remaung Kecubung, Pangkalan Bun, Elmina Yati-aktivis; Denes-aktivis; Budi Wardoyo-kepala TSP; Didi-kepala TSP; Ficencio Amaral-kepala TP;  Sugeng Subagiya-kabag Diklat; Mateus Sanyata-kepala TP; Mitun Purba-staf keuangan; Yuda Sastra Toguh-staf Diklat;

Sedangkan dari Kalimantan Timur ada CU Sempekat Ningkah Olo: Antima Suci-Pokti; Hasrani Arie Ponno-kabag Diklat; Syahran-wakil ketua pengurus; juga dari CU Daya Lestari: Alexander Usah-anggota pengurus; Paskalis Gah Tekwan-anggota pengurus; Simon Jaan-anggota pengurus; Aloysius Kuweng Ledok-bendahara pengurus. Penanggung jawab kegiatan dari BKCUK,  Herkulanus Irwandi; Sumbogo dan Dominikus Dakota.

Keterangan foto: Utusan dari CU Betang Asi saat perkenalan peserta.

Sumber foto: Rokhmond Onasis.

Pelatihan Pengelolaan Keuangan Petani Sengon

Written By rokhmond onasis on Sunday, May 24, 2015 | 6:19 AM

Tumbang Talaken – Yayasan Borneo Institute mengadakan pelatihan Pengelolaan Keuangan untuk petani Sengon. Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 20 – 21 Mei 2015 bertempat di rumah Muliadi di Tumbang Talaken, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas.

Pelatihan dihadiri petani sengon dampingan Borneo Institute yang juga anggota CU Betang Asi. Peserta berasal dari perwakilan kampung Rabambang dan Tehang berjumlah 10 orang. Ada 3 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.

Sebagai narasumber dan fasilitator pelatihan ditangani langsung Marchony, SE dan di bantu oleh Tevitius, SE dari lembaga Dayak Panarung (LDP). Keduanya berpengalaman dalam pelatihan dan pendampingan kelompok petani.

Dalam pelatihan selama 2 hari ini banyak hal yang disampaikan dan di diskusikan bersama petani sengon tentang pengalaman pengelolaan keuangan. Pelatihan ini memberikan keterampilan dasar tentang penghasilan, pengeluaran, anggaran, tabungan dan pinjaman bagi keluarga.

Pelatihan pengelolaan keuangan ditujukan untuk perempuan dan lelaki, meskipun tujuan utama untuk perempuan. Seringkali perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga. Pelatihan bertujuan mempromosikan perilaku positif untuk lebih banyak menabung, pengeluaran yang lebih bijaksana dan meminjam dengan alasan yang tepat.

Dengan mengikuti mengikuti pendekatan pendidikan orang dewasa para peserta akan turut mengambil bagian dalam diskusi kelompok, berbagi pengalaman baik positif maupun pengalaman negatif mereka, dan mengali pelajaran baru bersama melalui berbagai permainan peran dan studi kasus.

Diharapkan dengan mempelajari, mengatur keuangan keluarga dengan baik dan melalui metode sederhana dapat membantu keluarga, sehingga dapat meraih tujuan finansial masa depan yang lebih baik untuk keluarga dan anak-anak.

Sumber berita dan foto: Marchony (Lembaga Dayak Panarung).

Sejarah CU dunia, Indonesia hingga Kalimantan

Written By rokhmond onasis on Wednesday, May 20, 2015 | 6:08 AM

“Sejarah adalah aset yang berharga. Membuang sejarah itu bagaikan membuang hasil-hasil penelitian berharga yang telah diteliti dimasa lalu, dan mencoba meneliti dari awal tanpa refrensi masa lalu.”

“Orang orang hebat tidak akan mempelajari sejarah jika sejarah tidak penting. Dan orang-orang hebat akan “hidup” di masa dimasa sekarang dan masa depan, karena mereka tahu kehidupan itu ada dimasa depan.”

Itulah dua kalimat bijak yang  dikutip dari http://www.bijakkata.com. Bicara sejarah tentu kita tidak bisa melupakannya begitu saja. Demikian pula untuk sejarah credit union. Berikut di sajikan artikel dari http://puskopditbkcukalimantan.org.  Artikel ini mengingatkan kita perjalanan sejarah CU di dunia, Indonesia hingga ke Kalimantan.

Sejarah Credit Union Di Dunia

Pada abad 19, tahun 1846-1847, masyarakat Jerman ditimpa musibah kelaparan dan musim dingin yang hebat. Akibat cuaca buruk tersebut, banyak penduduk yang kelaparan. Penyakitpun menyerang mereka. Akhirnya kehidupan menjadi sangat kacau. Para petani yang menggantungkan hidup pada kemurahan alam tak berdaya. Henry Wolff seorang pejabat local setempat menggambarkan kondisi para petani saat itu sebagai “Dunia Tak Berpengharapan”. Miskin tak berdaya dan pertanian berantakan. Masyarakat tidak memiliki uang untuk membeli mesin pertanian, pupuk, bibit atau membangun peternakan untuk meningkatkan pendapatan.

Pada saat itu petani adalah korban yang sangat menderita. Para petani meminjam uang dari lintah darat dengan bunga yang sangat tinggi. Disamping itu mereka meminta jaminan atas lahan pertanian mereka. Apabila mereka gagal membayar pada saat jatuh tempo maka tanah pertanian dan harta benda lain yang mereka gadai langsung disita. Bahkan sering terjadi harta benda para petani juga menjadi incaran para lintah darat. Kehidupan para petani pada waktu itu ibarat  “gali lobang tutup lobang, tutup hutang lama, cari hutang baru.”

Usaha ini ternyata tidak membuahkan hasil dan tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kaum miskin. Derma atau bantuan cuma-cuma tidak dapat memecahkan masalah kemiskinan namun menambah beban karena jumlah warga miskin menjadi terus bertambah karena mudahnya mendapat bantuan.

Tahun 1849 saat Friedrich Wilhelm Raiffeisen menjadi walikota ia mendirikan Perkumpulan Masyarakat Flamersfeld untuk membantu para petani miskin yang terdiri dari 60 orang kaya. “Kaum miskin harus segera ditolong” begitu katanya. Maka Raiffeisen mengundang kaum kaya agar mengumpulkan uang untuk menolong kaum miskin. Kaum kaya menanggapi secara positif seruan sang walikota supaya kaum miskin mendapat sumbangan, tapi  penggunaan uang oleh kaum miskin tidak terkontrol, bahkan tidak sedikit yang cepat-cepat memboroskan uangnya agar menerima derma lagi. Akibatnya para dermawan tidak berminat membantu kaum miskin lagi

Friedrich Wilhelm Raiffeisen, pada waktu itu juga mendirikan Brotveiren, suatu kelompok yang membagi-bagikan roti kepada kaum miskin. Kemudian ia mendirikan pabrik roti yang menjual roti kepada orang yang tidak mampu dengan harga murah. Ia juga mendirikan perkumpulan yang bertugas meminjamkan uang dan membeli bibit kentang kepada petani. Tetapi hal itu ternyata juga tidak menyelesaikan masalah kemiskinan secara permanen. Hari ini diberi, besok sudah habis, begitu seterusnya.

Friedrich Wilhelm Raiffeisen pindah ke Heddersdoff dan menjabat lagi sebagai walikota. Ia juga mendirikan perkumpulan Heddesdorfer Welfare Organization suatu organisasi yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Kemudian organisasi ini dikenal cukup luas dimasyarakat. Walaupun pengorganisasiannya berhasil tetapi kemudian muncul berbagai kendala. Para penanam modal dari kaum kaya mulai luntur semangatnya, karena keuntungan organisasi tersebut tidak mereka rasakan.

Raiffeisen terus memperbaiki dan menyempurnakan gagasan terutama mengenai prinsip dan metode pengorganisasian masyarakat. Akhirnya ia mengganti pendekatan dari pendekatan derma dan belas kasihan dengan PRINSIP MENOLONG DIRI SENDIRI (self help). Ternyata pendekatan ini sukses.

Tahun 1864 Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan sebuah organisasi baru berama “Heddesdorfer Credit Union” dimana kebanyakan anggotanya adalah para petani. Untuk menjadi anggotanya seseorang harus berwatak baik, rajin, dan jujur. Untuk mengetahuinya, para tetangga harus memberikan rekomendasi. Kegiatannya mirip arisan, mengumpulkan sejumlah uang lalu meminjamkannya kepada anggota yang memerlukan. Manajemen Heddesdorfer Credit Union dijalankan secara demokratis dengan cara: Setiap anggota berpartisipasi dalam rapat anggota; Satu anggota satu suara; Para anggota memilih pengurus dan membuat pola kebijakan bersama; Dipilih suatu badan yang disebut dengan pengawas. Pengawas bertugas mengawasi kegiatan Credit Union dan membuat laporan pengawasan kepada rapat anggota. Raiffeisen menekankan pada kerja secara sukarela kepada Pengurus dan Pengawas, yang boleh menerima imbalan hanyalah kasir purnawaktu yang menjalankan operasional

Berdasarkan pengalaman di atas, sang wali kota akhirnya memiliki kesimpulan: Sumbangan tidak menolong diri kaum miskin, tetapi sebaliknya merendahkan martabat manusia yang menerimanya; Kemiskinan disebabkan oleh cara berpikir yang keliru; Kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri; Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka; Pinjaman harus digunakan untuk tujuan produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan peminjam adalah watak peminjam.

Singkatnya Heddesdorfer Credit Union yang dibangun Raiffeisen, Petani dan Kaum buruh berkembang pesat di Jerman. Credit Union Sampai wafatnya Reiffeisen tahun 1988, terdapat 425 Credit Union di Jerman.

Keberhasilan Heddesdorfer Credit Union atas 3 prinsip utama dalam menjalankan organisasi akhirnya menjadi prinsip dasar Credt Union: Azas Swadaya, modal dari simpanan hanya diperoleh dari anggotanya; Azas Setiakawan/ solidaritas, Pinjaman hanya diberikan kepada anggotanya; Azaz Pendidikan/ penyadaran, membangun watak adalah yang utama, hanya yang berwatak baik yang diberikan pinjaman.

CU berkembang ke seluruh dunia, Seorang wartawan Alphonse Desjardin pada awal abad ke-20 membawa CU ke Canada. Seorang saudagar kaya Edward Fillene membawa CU ke Amerika Serikat.Mary Gabriella Mulherim membawa ke Asia khususnya Korea. Pada tahun 1934, dibuat Undang-Undang tentang Credit Union pada masa pemerintahan Presiden F. D. Rosevelt. Kemudian gabungan Credit Union di Amerika Serikat (Credit Union National Association) membentuk Biro Pengembangan CU sedunia, yang diresmikan menjadi World Council of Credit Unions (WOCCU) pada 1971. Kantor pusatnya di Madison, Wiscounsin Amerika Serikat.

Struktur Jaringan Credit Union

WOCCU : World Council of Credit union; ACCOSCA : The Afrika Cooperative and Credit Association; AFCUL : The Australian Federation of Credit Union Limited; CUNA : The Credit Union National Association (USA); ACCU : The Asian Confederation of Credit Union (Bangkok); CCS : The Canadian Cooperative Credit Society; CCCU : The Caribbean Confederation of Credit Union; COLAC : The Confederation Latino Americana de Cooperative de Alhoro; INKOPDIT : Induk Koperasi Kredit; BKCU : Badan Kooordinasi Credit Union; BK3D : Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah; CU : Credit Union; Anggota : Masyarakat anggota Credit Union.

Federasi Credit Union ASIA

Bangladesh, CCULB-The Cooperative Credit Union League of Bangladesh; Hongkong, CULHK-Credit Union League of Hong Kong;  Indonesia , CUCO- Credit Union Counseling Office (namun dalam perjalanan waktu berganti nama menjadi BK3I-Badan kordinasi Koperasi Kredit Indonesia lalu berganti lagi dengan nama INKOPDIT-Induk koperasi kredit) dengan alamat website masih menggunakan CUCO, www.cucoindo.org)

Jepang , JCU - Japan Credit Unions; Korea, NACUFOK - National Credit Union Federation of Korea; Malaysia, WCCS - Workers Credit Co-operative Society Ltd. Malaysia; Nepal, NEFSCUN - Nepal Federation of Savings and Credit Cooperatives Union; Papua New Guinea , FESALOS - Federation of Savings & Loan Societies PNG; Philippines; NATCCO - National Confederation of Cooperatives; PFCCO - Philippine Federation of Credit Cooperatives; Republic of China Taiwan, CULROC - Credit Union League of the Republic of China Taiwan; Sri Lanka , SANASA - Federation of Thrift & Credit Cooperative Societies Sri Lanka; Thailand; CULT - Credit Union League of Thailand; FSCT - Federation of Savings and Credit Cooperatives of Thailand; Vietnam, CCF - Central People’s Credit Fund - Vietnam.

Catatan: Ada yang menarik dari federasi Credit Union diatas; ada 2 negara di Asia yaitu Philipina dan Thailand memiliki 2 federasi Credit Union. Artinya ACCU memperkenankan sebuah negara memiliki lebih dari satu Federasi Credit Union; Di Indonesia federasi Kredit Union disebut Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT).

[1] Sumber informasi dari buku “Menjadi kaya karena uang bekerja untuk kita” , ditulis oleh Munaldus berdasarkan buku The Credit Union Movement: Origins and Development 1850-1970 yang ditulis oleh J. Carrol dan Gilbert C. Fite, Ilustrasi: materi DIKSAR CUBG.

[2] www.woccu.org 2010 Statistical Report, WOCCU juga mencatat penetrasi pertumbuhan 7.5% (jumlah anggota Credit Union dibagi populasi ekonomi aktif usia 19-64 tahun). Di Indonesia sendiri tahun 2010 penetrasi pertumbuhan Credit Union baru mencapai 0.9%, namun di Korea penetrasi Credit Union sudah mencapai 15.7%.

Sejarah Credit Union Di Indonesia
Awalnya Carolus Albrecht, SJ, kelahiran Altusried, Augsburg, Jerman Selatan, 19 April 1929 ditugaskan  ke  Indonesia pada Desember 1958 di Girisonta, Jawa Tengah. Tahun 1959 kemudian pindah ke Jakarta bertugas di Tanjung Priok kemudian pindah lagi lalu Semarang pada tahun 1960 sampai 1961.

Sebagai bentuk kesadaran Gereja Katolik terhadap pentingnya pemberdayaan ekonomi rakyat, KWI (Konferensi Waligereja Indonesia, waktu itu bernama Majelis Agung Waligereja Indonesia-MAWI), menugaskan Pater Albrecht, SJ (Delegatus Sosial Keukupan Agung Jakarta) dan sejawatnya Frans Lubbers, OSC (Delegatus Sosial Keuskupan Bandung) mengembangkan Credit Union  bersama semua Delegatus Sosial Keuskupan.

Dimulai dari SELA (Socio Economic Life in Asia, Lembaga yang berada di bawah Serikat Jesus) menyelenggarakan sebuah seminar panjang di Bangkok tahun 1963 dengan pembicara para imam dan awam dari Amerika, Eropa dan Philipina. SELA adalah lembaga yang pertama kali memperkenalkan Credit Union di Asia, termasuk Indonesia. Seminar yang bertajuk Community Development and Credit Union inilah yang menjadi tonggak awal ide pengembangan Credit Union di Indonesia.

Seminar tersebut dihadiri oleh Carolus Albrecht SJ, John Dijkstra SJ, Frans Lubbers, OSC dan dari masyarakat awam hadir FX. Bambang Ismawan, Nico Susilo dan Sumitro.  Sekembalinya mereka dari seminar tersebut tidak serta-merta langsung mendirikan Credit Union.  Setelah 2 tahun menjalani pergumulan, Ikatan Petani Pancasila memulainya dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam pada tahun 1965 ketika FX. Bambang Ismawan menjadi Ketua Umum Ikatan Petani Pancasila.  Kelompok usaha serupa banyak berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung.

Walaupun Credit Union belum juga didirikan, namun seminar-seminar Credit Union terus dilaksanakan, seperti di Bandung tahun 1968 dan Sukabumi tahun 1969 oleh Frans Lubbers, OSC. Akhirnya Pater Albrecht mengundang CUNA (The Credit Union National Association (USA) secara resmi pada tahun 1967, untuk memperkenalkan gerakan Credit Union ke Indonesia. Saat itu hadir A.A. Bailey mewakili CUNA dan Augustine R. Kang Manager ACCU (The Asian Confederation of Credit Union).

Pembentukan CUCO ini melewati proses yang panjang, tahun 1969 Pastor John Collins, SJ diminta ke Jakarta untuk melakukan kajian kelayakan Credit Union yang dikembangkan di Indonesia.  Kesimpulannya Credit Union dianggap layak untuk dikembangkan dengan syarat 5 tahun masa inkubasi. Embrio gerakan Credit Union baru terbentuk tepatnya  4 Januari 1970, ketika Pater Albrecht membentuk Credit Union Counselling Office (CUCO) yang beralamat di Jalan Gunung Sahari N0. 88 Jakarta (Kini menjadi kantor INKOPDIT) dan Drs. Robby Tulus sebagai pelaksananya.

Berkat dukungan Dirjen Koperasi saat itu yaitu Bapak Ir. Ibnoe Soedjono akhirnya Credit Union layak untuk dikembangkan bahkan Ibnoe Soedjono menjadi Ketua Dewan Penyantun CUCO yang beranggotakan Raden Mas Margono Djoyohadikusumo (pendiri BNI 46), Prof. Dr. Fuad Hasan (Guru besar psikologi yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan & Kebudayaan), Mochtar Lubis (wartawan dan satrawan), Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ (Pendiri Lembaga Pendidikan & Pengembangan Manajemen), A.J. Sumandar, John Dijkstra, SJ dan Pater Albrecht, SJ sendiri. Kemudian tahun 1971, Pater Albrecht menyerahkan jabatan Direktur Pengelola CUCO kepada Robby Tulus dan beliau melanjutkan karya-karyanya sebagai imam.

Walaupun perangkat organisasi sudah ada, namun Credit Union secara resmi baru berjalan pada tahun 1976 setelah terbentuk Biro Konsultasi Koperasi Kredit (BK3). Seiring waktu, nama CUCO di Indonesia diubah menjadi Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) pada Konferensi Nasional Koperasi Kredit Indonesia pada tahun 1981. Kini BK3I sudah dikenal dengan nama Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT). Berkat perjuangan yang gigih Pater Albrecht dan kawan-kawan  Credit Union berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia.

Setelah menjadi warna Negara Indonesia, Pater Albrecht memiliki nama Indonesia Karim Arbie. Tahun 1980, Pastor Karim pindah dan menjadi pastor pembantu di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Tahun 1985 pindah lagi ke Paroki Santa Anna , Duren Sawit, Jakarta Timur sampai 1990. Pada tahun 1990, Pada usia sudah 61 tahun, Pastor Karim ditugaskan ke Timor-Timur. Pada 27 Juli 1997, beliau masih sempat merayakan 40 tahun imamatnya di Altusried. Namun pada 11 September 1999 beliau tertembak orang tak dikenal di Dilli, Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Beliaulah orang yang berjasa memperkenalkan Credit Union ke Indonesia.

CU semakin berkembang bahkan Asetnya tumbuh 259% selama 10 tahun terakhir terlampir dalam table perkembangan Kopdit 10 tahun terkahir dari 2001-2010 seluruh CU/Kopdit yang tergabung dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia:
   
Dari perjalanan sejarah Credit Union di Indonesia, inilah  nama-nama Inisiator gerakan awal Credit Union di Indonesia: Albrecht Karim Arbie, SJ; Robby Tulus; Ir. Ibnoe Soedjono; John Collins, SJ;     Raden Mas Margono Djoyohadikusumo; Prof. Dr. Fuad Hasan; Mochtar Lubis; Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ; A.J. Sumandar; John Dijkstra, SJ; FX. Bambang Ismawan; Frans Lubbers, OSC; Nico Susilo; Sumitro; FX. Susanto; Hubertus Woeryanto; Theodorus Trisna Ansarli; A.C. Lunandi; Suharto Nazir; Sukartono.


Sejarah Puskopdit BKCU Kalimantan
Kalimantan Barat merupakan bagian pengembangan Gerakan Credit Union (CU) yang dirintis oleh Pastor Karl Albrectht Karim, SJ (almarhum). Bibit-bibit Credit Union yang ditabur, berkembang dan mengalami inkultarasi sesuai budaya Kalimantan (Dayak) menjadi  CU “ala Kalimantan”. Perjalanan perkembangan CU di Kalimantan Barat sangat menarik untuk ditelusuri. Masih banyak saksi hidup, pelaku sejarah yang tahu persis bagaimana jatuh bangun, timbul tenggelamnya Credit Union di kawasan ini. Lebih menarik lagi akhir-akhir ini Credit Union menjadi populer. Teman-teman senusantara bahkan dari negara tetangga datang ke Kalimantan Barat untuk mempelajari CU “ala Kalimantan”. Menurut pendapat DR. Francis Wahono pada RAT BK3DK tahun buku 2006 di Palangka Raya CU “ala Kalimantan” disebut Credit Union Modern (CUM). Apabila kita menapak tilas terhadap sejarah perkembangan gerakan Credit Union Kalimantan, maka dapat dikelompokkan ke dalam fase-fase sebagai berikut :

Fase Awal Pengenalan (1975-1984)

Pada fase ini gerakan Credit Union berjalan secara sendiri-sendiri, alamiah tanpa koordinasi antar CU primer. Ketika itu Credit Union di wilayah Kalimantan Barat menjadi bagian dari program kerja Delegatus Sosial (DELSOS) Keuskupan Agung Pontianak yang dipimpin oleh  Pastor Pius Gamperle, OFM.Cap.

Pada fase ini banyak berdiri Credit Union  di paroki-paroki sebagai lingkup wilayah operasional mereka. Umumnya masih dikelola secara tradisional, belum ada pegawai, pengurus merangkap pengelola dan hanya mengelola simpan-pinjam dengan produk tunggal. Ikatan pemersatu (Common Bond) terkesan masih tertutup, untuk kalangan terbatas. Akibatnya banyak credit union yang tidak mampu bertahan, hidup segan mati tak berkubur dan tinggal satu-satunya CU yang masih bertahan adalah CU Lantang Tipo (2 Februari 1976) di Pusat Damai, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Fase Uji Coba (1985-1989)

Pada fase ini terjadi refleksi mengapa Credit Union pada masa terdahulu kerdil, dan hanya melangkah “poco-poco”, bahkan banyak yang menghilang tanpa berita.

Untuk mengkaji lebih jauh dan mencari langkah-langkah menumbuhkan kembali gerakan Credit Union di Kalimantan Barat, Delsos Keuskupan Agung Pontianak dipimpin oleh Pius Alfred memfasilitasi terbentuknya Tim Pengembang Credit Union dengan menyelenggarakan Pelatihan Dasar Credit Union bekerjasama dengan BK3I Jakarta. Maka pada tanggal 12 Mei 1985 didirikan Credit Union Laboratorium yaitu Credit Union Khatulistiwa Bakti di Pontianak.

Tim pengembang berpendapat Credit Union harus dimulai dari kota, tidak seperti pada fase sebelumnya di mana Credit Union dimulai di Paroki di daerah-daerah. Credit Union Laboratorium menjadi tempat belajar, dan memberi inspirasi tumbuhnya Credit Union baru baik di Kotamadya maupun di daerah pedalaman Kalimantan Barat.

Selanjutnya, beberapa orang dari Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih yang juga terlibat dalam kepengurusan Credit Union Khatulistiwa Bakti mendirikan Credit Union Pancur Kasih pada tanggal 28 Mei 1987 dengan basis para guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi beserta pegawai Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih Pontianak. Perkembangan selanjutnya berdirilah beberapa CU antara lain yang masih bertahan sampai saat ini yaitu Credit Union Sehaq (1 Oktober 1988) di Pahauman Landak  dan Credit Union Usaha Kita (9 Juli 1989) di Sei Ayak Sanggau (sekarang Sekadau). Pada tanggal 17  Agustus 1988 berdiri Credit Union Bina Masyarakat di Sintang dan tanggal 15 April 1989 berdiri Credit Union Masdapala di Ngabang.

Dengan semakin banyaknya CU primer bangkit kembali sehingga terpenuhi persyaratan pendirian BK3D yaitu minimum 3 CU primer (Khatulistiwa Bakti, Lantang Tipo, Pancur Kasih), maka pada tanggal 27 November 1988  terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalimantan Barat (BK3D Kalbar) sebagai wadah untuk koordinasi dan pelatihan CU primer.  Pengurus periode pertama tercatat A.R Mecer sebagai Ketua, Pius Alfred bin Simin sebagai Wakil Ketua, P. Florus sebagai sekretaris,  dan Frans Laten sebagai Bendahara. Tahun 1991 ada pergantian pengurus.  Tiba-tiba muncul 40-an CU, tanpa sepengetahuan pengurus BK3D, AR  Mecer sebagai ketua saat itu. Ketika RAT, terpilihlah Pius Alftred sebagai ketua.  CU yang 40-an menghilang.

Fase Inkubasi (1990-1996)

Fase ini berlangsung selama 6 tahun di mana  BK3D Kalbar memulai kegiatannya secara efektif. Selain mengkoordinir Credit Union yang tumbuh dalam fase sebelumnya, BK3D Kal-bar juga memfasilitasi berdirinya CU-CU baru diantaranya Credit Union Bonaventura (9 Januari 1991)    di Nyarumkop Singkawang, Credit Union Semandang Jaya (1 November 1991) di Balai Semandang Ketapang, Credit Unon Semarong (27 Februari 1993) di Sosok Sanggau, Credit Union Keling Kumang (25 Maret 1993) di Tapang Sambas Sekadau, Credit Union Pancur Solidaritas (1 April 1994) di Ketapang, Credit Union Sumber Kasih (1 Mei 1994) di Teraju Sanggau, Credit Union Stella Maris (12 Februari 1995) di Pontianak, Credit Union Nyai Anta (14 Mei 1995) di Ng. Taman Sekadau, Credit Union Tri Tapang Kasih (2 Juni 1996) di Sejiram Kapuas Hulu, Credit Union Banuri Harapan Kita (10 Juni 1995) di Batang Tarang Sanggau, Credit Union Pancur Dangeri (14 April 1995) di Simpang Dua Kecamatan Simpang Hulu Kabupeten Ketapang,  Credit Union Agape (13 Juni 1996),  Credit Union Canaga Antutn (14 April 1996) di Menyumbung Ketapang.

Adapun Credit Union yang tidak bergabung dengan BK3D Kalbar yaitu :  Credit Union Samaria (24 Oktober 1995) di Batang Tarang, Credit Union Alam Lestari Jopo (1 April 1995) di Desa Cupang Gading, Kecamatan Sekadau Hilir, dan Credit Union Berkat Usaha (18 Oktober 1996) di Baram Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang.  Namun pengembangan CU belum terencana dengan baik. Produk dan Pelayanan juga masih konvensional. Dana fasilitasi dan pendampingan masih sangat terbatas, belum mandiri dan masih tergantung pada donatur. BK3D Kalbar belum berhasil mengkoordinir CU-CU yang ada, sehingga CU masih berjalan sendiri-sendiri.

Fase Konsolidasi (1997-1999)

Kepengurusan BK3D Kalbar dipimpin oleh A.R Mecer. Tanda-tanda perkembangan sudah mulai tampak. Manajemen profesional mulai diterapkan,  secara internal BK3D Kalbar mulai mengangkat karyawan sebagai tenaga kerja penuh waktu. CU-CU yang ada mulai terkoordinir dengan baik dan jelas. Telah dilakukan persamaan persepsi tentang Visi dan Misi gerakan Credit Union termasuk perencanaan strategis dan pengembangan wilayah kerja.

Hal ini berkaitan juga dengan terpilihnya A.R.Mecer sebagai anggota MPR RI (1999-2004) utusan golongan minoritas etnis Dayak. CU mulai diperkenalkan ke wilayah luar Kalbar. Di Kalteng berdiri Credit Union U Sumber Rejeki (1 Maret 1999) di Ampah Barito Selatan  dan di Kaltim berdiri Credit Union Sempekat Ningkah Olo (1 Juli 1999) di Jengan Danum Kutai Barat. Di Kalbar berdiri Credit Union  Kusapa (13 Desember 1998) di Sanggau. Credit Union Pangiris Midup (1 September 1997) di Langkar, Kecamatan Simpang Hulu Kabupeten Ketapang, Credit Union Manteare (6 September 1998) di Rawak, Sekadau, Kalimantan Barat, Credit Unio Tuah Menua (18 Agustus 1998) di Sei Utik Kecamatan Embaloh Hulu Kapuas Hulu, Credit Union Puyang Gana (6 Juli 1998) di Desa Keboq Kecamatan Kelam Permai Sintang Kalbar, Credit Union Gemalaq Kemisiq (17 Februari 1999) di Tanjung Kecamatan Jelai Hulu Ketapang, Credit Union Bina Kasih (23 Oktober 1999) di Pontianak, Credit Union Pangsurat Gunung Bawang ( 3 April 1998) di Belimbing Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang, Credit Union Panamuan Katalino (1  Juni 1997) di Tumiang Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang, dan Credit Union Taponkng Borimai (29 September 1998) di Kotup Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau dan  Credit Union Raya Ramoh (1 Juni 1997).

Pola ketergantungan dana pada donatur untuk fasilitasi dan pendampingan mulai bergeser dengan pola peningkatan keswadayaan.

Fase Penemuan Jati Diri (2000-2001)

Fase ini merupakan titik awal kebangkitan BK3D Kalbar di bawah kepemimpinan A.R Mecer. Philosofi, nilai-nilai, serta prinsip-prinsip Credit Union diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal khususnya masyarakat Dayak. Melalui refleksi, evaluasi serta rekoleksi, para pengembang Credit Union di Kalimantan terinspirasi sehingga menemukan ramuan kombinasi pendekatan Ilmu Pengetahuan Modern, religius, dan nilai-nilai budaya lokal.

Upaya penerapan pendekatan tersebut telah mengakar dalam praktik kehidupan sehari-hari para anggota. Kekhasan Credit Union Kalimantan mendorong  Credit Union di wilayah ini menjadi leading factor perkembangan Credit Union di Indonesia. Perencanaan Strategis sebelum mendirikan CU baru menjadi suatu keharusan. CU model baru berdiri di mana-mana. Di antaranya Credit Union Mura Kopa (22 Februari 2000) di Keladang Sanggau, Credit Union Keluarga Kudus (15 Oktober 2000) di Pontianak,  Credit Union Daya Lestari (4 Juni 2001) di Samarinda, Credit Union Tilung Jaya (15 Oktober 2001) di Putussibau,  Credit Union Telaga Kumang (1 Oktober 2000) , dan  Credit Union Arus Laur (15 November 2001).

Fase Perluasan Wilayah Kerja (2002-2006)

Pesatnya perkembangan Credit Union di bawah naungan BK3D Kalbar menjadi perhatian dari kalangan luar. Melalui mitra kerja di bawah SegeraK Pancur Kasih, kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat dan kalangan gereja, mereka melakukan kunjungan ke Credit Union Kalimantan dan mereka melihat ada sesuatu yang berbeda. Karena dorongan yang kuat untuk mengembangkan Credit Union di wilayahnya masing-masing, mereka melakukan negosiasi untuk meminta difasilitasi oleh BK3D K.

Permintaan terus mengalir, satu persatu Credit Union berdiri dan berkembang dengan konsep CU “ala Kalimantan” baik di Kalbar maupun di luar Kalbar yaitu     Credit Union Petemai Urip Mamahak Teboq Kutai Barat (10 April 2002) Samarinda, Credit Union Femung Pebaya (14 September 2002) di Malinau Kaltim, Credit Union Betang Asi    (26 Maret 2003) di Palangka Raya Kalteng, Credit Union Tani Mandiri (1 Mei 2003) di Nanga Mau Sintang, Credit Union Muare Pesisir  (10 Mei 2003) Sungai Itik di Kakap Kalbar, Credit Union Citra Dayak (29 Agustus 2003) di Belusuh Kutai Barat Kaltim, Credit Union Alang Jalung (25 Oktober 2003) di Desa Ritan Baru Kecamatan Tabang Kutai Kartanegara Kaltim, Credit Union Sabhang Utung (17 September 2004) di Nanga Kemangai Sintang, Credit Union Remaung Kecubung (7 Februari 2004) di Pangkalan Bun Kalteng, Credit Union Mambuin     (4 April 2005) di Babo Papua Barat, Credit Union Almendo (8 April 2005) di Sorong Papua Barat, Credit Union Eka Pambelum Itah (23 Juni 2006) di Sampit Kalteng, Credit Union Sinar  Papua Selatan (20 Agustus 2006) di Merauke Papua, Credit Union Bererod Gratia  (15 Mei 2006) di ibu kota negara Jakarta, dan Credit Union Bahtera Sejahtera (15 September 2006) di Maumere NTT, Credit Union Sauan Sibarrung (7 Desember 2006) di Makale Tana Toraja Sulawesi Selatan dan Credit Union Sinar Saron (7 Juli 2006) di Larantuka, Kabupaten Flores Timur NTT.

BK3D Kalimantan Barat terdorong atas permintaan anggota untuk menyesuaikan nama yang tepat. Pada RAT BK3D Kalbar Tahun Buku 2002 tanggal 11 Pebruari 2003 di Sekadau nama BK3D Kalbar diubah menjadi  BK3D Kalimantan-Indonesia yang disingkat BK3DK. Formulasi  khas Credit Union “ala Kalimantan” menjadi model bagi Credit Union di luar Kalimantan. Falsafah petani menjadi inspirasi dalam pengembangan produk dan pelayanannya.

Adanya produk unggulan mendorong anggota untuk membangun masa depan melalui Credit Union. Untuk mempersiapkan masa depan ini, setiap anggota dimungkinkan meminjam untuk disimpan kembali di Credit Unionnya masing-masing. Pinjaman ini disebut Simpanan Kredit atau Simpanan Kapitalisasi atau Pola Menabung yang terprogram. BK3D-K merasa berkewajiban merespon permintaan fasilitasi dan pendampingan Credit Union di luar Kalimantan. Perkembangan Credit Union yang pesat mendorong aktivis untuk terus menerus mengasah diri dengan pengetahuan dan ketrampilan. Oleh sebab itu para praktisi Credit Union Kalimantan aktif menghadiri event-event yang diselenggarakan di tingkat nasional maupun Internasional. Dengan demikian Credit Union Kalimantan mulai dikenal di kalangan Credit Union Indonesia dan Asia.

Fase Akreditasi (2007-sekarang)

Fase Akreditasi dimulai sejak tahun 2007. Beberapa CU yang berdiri pada fase ini Credit Union Kasih Sejahtera (8 Juni 2007) di Atambua Timor, Credit Union Kingmi (9 Juli 2007) di Pontianak Kalbar, Credit Union Mekar Kasih (28 September 2007) di  Makassar, Credit Union Gerbang Kasih (13 Juni 2007 ) di Ende NTT, dan Credit Union Kasih Sejahtera (25 Juli 2007) di Surabaya.

Paradigma baru dalam mengelola credit union memerlukan pengetahuan dan ketrampilan baru. Credit Union Kalimantan harus standar dan profesional, sehingga perlu alat penilaian yang standar yang diakui di tingkat dunia. Instrumen assesmen inilah yang dikenal dengan nama ACCESS Branding. Pada tahap awal ini, untuk sementara sepuluh Credit Union anggota BK3D-K (Pancur Kasih, Lantang Tipo, Keling Kumang, Khatulistiwa Bakti, Betang Asi, Sumber Rejeki, Pancur Solidaritas, Bonaventura, Tilung Jaya dan Canaga Antutn) direkomendasikan untuk mempersiapkan  diri mengikuti  akreditasi ACCESS Branding oleh Association Of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU).

Catatan:
Peran-peran Gereja melalui para Romo: Rm.Subiyanto(Papua), Belino(Florus), Fredy (Sulawesi), Chrisantus Lake, Pr.(Atambua). CU masuk sekolah sebagai muatan lokal (SMP/U Fransiskus Asisi).

Arti Logo BKCU Kalimantan

Arti gambar pulau Kalimantan
Melambangkan gerakan Credit Union Kalimantan bermula dari Kalimantan. Gerakan yang merupakan titik tolak sejarah perkembangan Credit Union Indonesia.

Arti gambar Bola Dunia
Menunjukkan  bahwa Gerakan Credit Union Kalimantan merupakan gerakan yang mendunia (global). Salah satu kekuatan  gerakan Kalimantan yaitu bukan hanya lokal tetapi memiliki jaringan internasional.

Arti gambar Tangan
Gambar tangan yang menopang Bola Dunia dan Pulau Kalimantan melambangkan kemandirian.  Gerakan yang mengutamakan prinsip solidaritas/setia kawan dan swadaya.

Makna Warna Logo Puskopdit BKCU Kalimantan
Warna Biru: melambangkan Kedamaian dan Keamanan; Warna Hijau: melambangkan kesejahteraan. Gerakan Credit Union Kalimantan bertujuan agar setiap anggota  bebas  financial; Warna Coklat: melambangkan Warna yang menunjukkan  bagian pulau Kalimantan yang bukan wilayah NKRI.

Sumber: http://puskopditbkcukalimantan.org.

TPK ke-20 Resmi di Buka

Written By rokhmond onasis on Tuesday, May 5, 2015 | 8:43 AM

Matahari sudah beranjak meninggi. Rabu, 1 April 2015 pukul 9.30 pagi. Tepat di pinggir jalan lintas Palangka Raya- Kuala Kurun. Salah satu ruko berpintu harmonika tampak ramai. Terpasang tenda berukuran besar dengan susunan kursi yang rapi di bawahnya.

Kampuri itulah nama kampung yang penulis kunjungi. Di hari Rabu pagi itu Tempat Pelayanan Khusus (TPK) ke-20 kopdit CU Betang Asi akan resmi beroperasional. Dibuka dengan tarian Mandau Dayak oleh 4 penari perempuan dari SMP-1 Kampuri. Tarian ini semakin asyik dengan ada 2 pemain musik yang secara langsung memainkan gong dan gendang. Ditambah 1 orang yang menyanyikan lagu karungut.

Doa pembuka di lakukan oleh Ibu Pendeta Dona. Dari penjelasan Hunan, ketua panitia di ketahui bahwa 2 hari sebelumnya telah dilakukan Perencanaan Strategis (SP) sebagai persiapan pendirian TPK Kampuri. Kegiatan SP yang di lakukan pada 30-31 Maret 2015, dan peresmian TPK ini menghabiskan dana 74 juta lebih yang berasal dari CU.

Sedangkan dalam sambutan Ethos HL, selaku GM, ia mengatakan TPK Kampuri adalah unit kerja dari TP Betang Sinta di Sepang Kota. Dalam operasionalnya ada 13 kampung yang akan di layani oleh TPK Kampuri dari Kampuri hingga Petak Bahandang, Gunung Mas. Ethos menegaskan bahwa pelayanan tidak boleh menjadi menara gading.

Peresmian ini dihadiri pula oleh ketua pengurus CU Betang Asi, Ambu Naptamis dan penasehat, TT. Suling. Beberapa undangan yang nampak hadir, Camat Mihing Raya, Kapolsek, Danramil Sepang, Gumas. Side Linga sebagai Camat Mihing Raya dipercaya untuk melakukan seremonial pembukaan tirai papan kantor. Sebagai rangkaian penutup acara, pemberkatan kantor dilakukan oleh Pastor Lusius Uran, SVD.

Semoga pendekatan pelayanan kepada anggota CU dan masyarakat dapat dilakukan secara optimal, sehingga membawa aktivitas yang positif bagi masyarakat di kecamatan Mihing Raya dan sekitarnya.

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis.

Refleksi HUT CU Betang Asi Ke-12

Written By rokhmond onasis on Sunday, April 5, 2015 | 9:08 PM

Perjalanan CU Betang Asi yang menginjak ke-12 tahun pada 26 Maret 2015 lalu mempunyai catatan dan kenangan tersendiri dari pelaku sejarah sekaligus pendiri lembaga milik anggota ini. Matheus Pilin dalam catatan yang dikutip dari emailnya mengajak anggota untuk merefleksikan apakah CU Betang Asi ada bersama kaum tertindas?. Berikut kutipan lengkap isi emailnya:

"Yang terkasih Insan CU Betang Asi di dalam rumah Betang yang panjang dan, sahabatku  aktivis  (rekan pendiri, pengurus, pengawas, manajemen) yang aku banggakan.  L***i SMS aku jika ada catatan refleksi abang mohon kirim ke email.  Sambil menikmati perjalanan macet di Jakarta aku berbagi demikian:

Kasih dalam rumah  betang, itu kata yang pas untuk 12 tahun CU Betang Asi hari ini 26 Maret 2003-2015. Semangat kasih persaudaraan, solidaritas, semangat kebersamaan, toleran, perhatian, peduli sesama itu ajaran kasih dalam nilai luhur rumah betang.

Kini warga rumah betang sudah ribuan jumlahnya bernaung & "tinggal" di dalam rumah Betang Asi. Adakah ia menjadi asing?
Adakah ia masih kenal “orang tuanya”?
Adakah kegembiraan, kesejahteraan ?

12 tahun jika dianalogikan sebuah bangunan masih bagus, kokoh, belum ada yang rusak, atap lepas ditiup angin dan lain-lain, karena itu ada banyak yang tertarik untuk mampir dan berteduh sejenak. Rumah Betang yang panjang, dari kota ke desa terus ke kampung hingga pedukuhan disana ada warga yang miskin, marginal, tertindas, tak berdaya, adakah ASI nya BETANG disana bersama mereka?

Semoga CU Betang Asi tetap bersama kaum ANAWIM & DHUAFA.

Selamat ulang tahun-12"
@matheus Pilin Belawing

Sumber: Matheus Pilin pilin***@gmail.com; On 26 Mar 2015, at 09.42 (beberapa tulisan di edit tanpa mengurangi maknanya).


LDP dan KARSA Selenggarakan Lokakarya

Written By rokhmond onasis on Monday, March 30, 2015 | 1:46 AM

Lembaga Dayak Panarung (LDP) Bekerjasama dengan Lingkar Pembaruan Perdesaan & Agraria  (KARSA) Jogyakarta mengadakan Lokakarya “Isu-Isu Kritis UU Desa No.6 Tahun 2014” dan Pelatihan “Perencanaan & Penganggaran yang Pro Perempuan dan Anak”.

Selama 3 hari dari tanggal 23 – 25 Maret 2015. Kegiatan dilaksanakan di Aula Kecamatan Jabiren Raya, Desa Jabiren. Di hadiri perwakilan pemerintahan Desa dan perempuan dari Desa Jabiren, Pilang, Sakakajang & Garung kecamatan Jabiren Raya dan 1 desa Gohong dari kecamatan Kahayan Hilir kabupaten Pulang Pisau.

Sebanyak  70 orang hadir saat pembukaan. Sedangkan saat pelatihan selama 2 hari (24 – 25 Maret 2015) di hadiri sebanyak 35 orang yang pesertanya dikhususkan untuk  perempuan. Sedangkan untuk narasumber dan fasiltator yang berpengalaman di bidangnya langsung dari dari KARSA Jogyakarta seperti Drs. Widyo Hari Murdianto, M.Si, Farid Hadi Rachman, Drs., dipl. Ing., M.E, Paramita Iswari, ST. MA dan Ita Natalia, S.Hut.

Dalam lokakarya ini banyak disampaikan dan dibahas tentang perbedaan dan perubahan  UU No. 32/2004 – PP No. 72/2005  dan UU Desa No.6 Tahun 2014, dan persiapan untuk mendapatkan dana desa sesuai (PP No. 60/2015)  jadi setiap desa tidak sama yang diterima di sesuaikan dengan jumlah penduduk, luas wilayah, angka kemiskinan, dan tingkat  kesulitan geografis, diperkirakan dana desa akan turun bulan April 2015 kalau tidak ada kendala.

Dalam UU Desa tersebut terdapat beberapa implikasi untuk desa seperti, kedudukan desa semakin jelas dan kuat, Desa bukan lagi sebagai pemerintahan semu, tetapi sebagai pemerintahan masyarakat atau pemerintahan berbasis masyarakat, Desa mempunyai kewenangan yang jelas dan relevan dengan kepentingan warga masyarakat setempat, Desa mempunyai basis material (terutama dana) yang lebih besar, Satu desa, satu perencanaan dan satu anggaran, Desa akan menjadi lebih demokratis, Pembangunan desa akan lebih dinamis dan maju.

Sedangkan untuk warga meliputi arena dan sumberdaya menjadi lebih besar dan lebih dekat pada warga desa. Warga mempunyai hak yang besar untuk berpartisipasi memanfaatkan bahkan merebut arena dan sumberdaya. tetapi tidak kalah penting  juga bagaimana kesiapan desa untuk membuat dan menyusun Perencanaan pembangunan desa ke depannya.

Dalam pelatihan dikhususkan untuk perempuan di mana dalam UU Desa No. 6 Tahun 2014 perempuan harus memahami isi dari UU tersebut sebab peran perempuan dalam pembangunan desa dan keterlibatan di dalan Ruang partisifasi perempuan di dalam desa sangat terbuka.

Misalnya, partisipasi perempuan di desa dapat dilakukan melalui Pemerintah Desa,BPD, Musyawarah Desa, Penyusunan RPJMDes, Penyusunan APBDes, Penyusunan Perdes, Partisipasi perempuan di desa juga dapat dilakukan melalui Lembaga Kemasyarakatan Desa seperti RT/RW, PKK, Karang Taruna, PKK, LPMD, Lembaga Adat dan kelompok-kelompok yang tumbuh di desa seperti: kelompok petani, peternak dll, Mendudukan keterwakilan perempuan dalam BPD menjadi point vital (sangat penting) untuk memastikan program-program strategis tersebut telah mengakomodir kebutuhan gender strategis yang dijalankan secara partisipatif dan berangkat dari aspirasi kelompok masyarakat tanpa logika mayoritas dan minoritas.

Pentingnya keterwakilan perempuan dalam BPD karena perempuan merupakan kelompok penerima manfaat langsung dari kebijakan BPD. Hadirnya musyawarah desa sebagai bentuk keterlibatan warga dalam pengambilan keputusan, Di dalam musyawarah desa mengikutsertakan unsur perempuan, Perempuan desa juga dapat kesempatan untuk terlibat dalam pemerintahan di desa dengan menjadi kepala desa atau perangkat desa.

Perempuan di desa juga dapat aktif dalam memberikan usulan ataupun tanggapan pada saat penyusunan RPJMdes, APBDes, ataupun Perdes dan lain-lain agar mempunyai keberpihakan pada kepentingan perempuan. Tidak kalah penting, di bahas juga dalam pelatihan ini untuk penyusunan APBDes penggangaran yang pro perempuan dan anak.

Sumber tulisan dan foto: Marchony/ Lembaga Dayak Panarung (LDP).
***



HUT CU Ke-12 Lakukan Sunatan Massal

Written By rokhmond onasis on Thursday, March 19, 2015 | 9:00 AM

Kecamatan Kapuas hulu, tepatnya di Sei Hanyu dipilih panitia menjadi pusat pengobatan gratis. Kampung yang juga diberi nama Sungai Hanyo ini akan dihadiri oleh 5 dokter yang akan bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis.

Informasi yang dikumpulkan penulis, rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) CU Betang Asi ke-12, dimulai pada tanggal 23 Maret 2015 dengan pengobatan dan sunatan masal. Selanjutnya tepat pada HUT yang jatuh pada Kamis, 26 Maret 2015 di halaman kantor pusat Palangka Raya akan dibuka pelayanan donor darah, bekerja sama dengan PMI Kota Palangka Raya.

Kemudian, pada Sabtu, 28 Maret pegiat CU Betang Asi akan melakukan kebaktian/ misa syukur di aula Diknas provinsi Kalteng. Rangkaian acara HUT ditutup pada tanggal 30 Maret 2105 dengan melakukan kunjungan ke lembaga-lembaga sosial di sekitar kota Palangka Raya.

Semoga dengan semakin bertambahnya usia lembaga milik masyarakat ‘Dayak’ ini semakin melayani anggota dengan professional dan tidak terjebak pada pelayanan yang bersifat karitatif.

 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa