Headlines News :

Terbaru

TPPHS Laksanakan RAT TB 2015

Written By rokhmond onasis on Sunday, January 17, 2016 | 7:43 AM

Spanduk dominan warna merah menghiasi sejumlah sudut kota Pulang Pisau. Salah satunya ada di depan Aula Bappeda Komplek Perkantoran, jalan WAD. Duha Mantaren-1. Isi spanduk ini mengajak anggota Kopdit CU Betang Asi TP Penyang Hinje Simpei dapat menghadiri RAT (Rapat Anggota Tahunan) pada Sabtu, 16 Januari 2016.

Cuaca cerah mengawali acara RAT. Panas matahari cukup terik saat penulis memantau pelaksanaan RAT yang bertema “Anggota Menolong Anggota Untuk Memperkuat Pemberdayaan Komunitas”. RAT di buka secara resmi oleh Jhon Oktoberiman, Staf Ahli Bupati Pulang Pisau.

Aula yang di dominasi pelapis dinding warna hijau ini dipenuhi anggota yang antusias hadir untuk mendengarkan LPJ pengurus dan pengawas pada pelaksanaan Tahun Buku 2015. Tampak hadir Ethos H.L dari manajemen. Sedangkan dari pengurus di wakili oleh Gregorius Doni Senun dan dari pengawas, Tunjung Amel.

Memasuki pintu utama aula, anggota akan di sambut dengan penyajian hasil kegiatan anggota berupa kerajinan anyaman rotan. Sejumlah topi, tas, dompet, lawung dan lain-lain ditampilkan dengan variasi harga 100 ribu sampai 400 ribu. Disayap kiri pintu masuk juga terdapat foto kegiatan pemberdayaan komunitas peternak ikan dan sayuran. Beberapa ekor ikan tampak di masukkan di dalam aquarium yang disiapkan panitia.

Selain penyampaian LPJ, anggota juga mendapatkan pemaparan Manual Operasional (MO) Pengurus untuk Tahun Buku 2016. Penyampaian ringkasan Program Kerja di bacakan oleh Manejer TP PHS, Junaidi. Peserta yang hadir mencapai 223 orang saja. Padahal yang diundang sebanyak 2.932 orang. Persentase kuorum kehadiran peserta hanya sampai angka 1 digit, yaitu 8%.

Sejumlah peserta menanggapi paparan dari pengurus. Salah satunya Ratno Tuah dari kampung Sei Kayu. Ia mengupas iuran Solduka, penggunaan dana operasional yang tidak ada dalam program tahun sebelumnya tapi ada realisasinya, pengunaan dana RAT yang mencapai 100 juta mohon dapat disampaikan secara transparan.

Penurunan Balas Jasa Simpanan Duit Turus (DT) dari 14% ke 13% juga di tanyakan oleh Ebenhard Jaya. Ia meminta apa penyebab terjadinya penurunan ini, sehingga anggota menjadi tahu alasannya. Damianus Kartiman juga menanyakan terkait pendidikan wajib 1 dan 2. Ia juga menegaskan apakah MO sudah final atau belum, hingga pada RAT konsolidasi. Hasil dari RAT TP PHS akhirnya menghasilkan apa?.

Pendeta Eva, mengulas, jika Balas Jasa DT turun dapat diimbangi dengan balas jasa pinjaman yang juga diturunkan. Frans P. Kalasa juga menanyakan mengapa promosi undian berhadiah pada Tahun Buku 2016 ditiadakan?. Lainnya halnya dengan Pendeta Ranai yang menawarkan untuk tahun depan dapat diperbaiki, pembahasan dalam program kerja dapat di berikan waktu lebih banyak.

Acara yang dimulai pada pukul 8 pagi ini berakhir pada pukul 4.30 sore. Ditutup dengan pembacaan berita acara RAT dan nama-nama utusan peserta yang mengikuti pada RAT konsolidasi.

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis

Perubahan SW Anggota

Written By rokhmond onasis on Wednesday, January 6, 2016 | 7:08 AM

“Simpanan Wajib (SW) anggota pada tahun buku 2016 naik dari Rp. 10.000,- menjadi Rp. 20.000,- per bulan”. Itulah salah satu isi pengumuman yang di tandatangani oleh GM Kopdit CU Betang Asi, Ethos H.L, SE  tertanggal 30 Desember 2015 lalu.

Isi pengumuman ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 2016, mengacu pada keputusan rapat pengurus kopdit CU Betang Asi  No. 69/KEP.CUBA/PRY/I.1/XII/2015. Pada tanggal 30 Desember 2015 tentang  pemberlakuan Manual Operasional Produk dan Pelayanan Tahun Buku 2016.

Pengumuman ini dipertegas kembali dengan surat dari GM, bernomor: 213/GM.CUBA/PRY/I.1/XII/2015. Diharapkan seluruh anggota kopdit CU Betang Asi dapat mencermati dan melaksanakannya.

Jadwal RAT 2016

Written By rokhmond onasis on Wednesday, December 30, 2015 | 5:59 AM

“Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam CU; Rapat Anggota diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun”

Itulah salah satu pasal yang ada di Anggaran Dasar (AD) Kopdit CU Betang Asi. Bunyi pasal berikutnya adalah mengatur hak suara dalam rapat anggota.  Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) dalam rangka pengurus  mempertanggungjawabkan pengelolaan organisasi dan usaha kopdit kepada anggota.

Anggota dewasa dapat berpartisipasi aktif menghadiri, mendengar, mengkritisi dan bertanya terhadap kinerja pengurus. Hal yang sama juga di lakukan pada kinerja pengawas. Berikut jadwal RAT Kopdit CU Betang Asi untuk tahun 2016:



Informasi mengenai jam dan tempat yang lebih rinci, anggota dapat mendatangi kantor pelayanan terdekat.

Sumber gambar: http://wsa.wesleyan.edu/files/2012/03/Untitled1.jpg

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (3)

Written By rokhmond onasis on Thursday, December 10, 2015 | 11:20 PM

Pada dua tulisan sebelumnya, Munaldus mengungkapkan refleksi menuju 40 tahun CU Betang Asi dan perubahan gerakan CU pada masa mendatang. Tulisan kali ini lebih menyorot konsep orang Dayak dalam ber-cu. Walaupun sekitar 30 menit berbincang, Munaldus mengatakan Orang Dayak punya nyali. Ini dibuktikan Damang Batu dalam mengumpulkan orang di Tumbang Anoi.

Berbicara CU, Munaldus juga menegaskan bahwa CU adalah perjalanan perubahan. CU merupakan alat mencapai tujuan. Membangun dan mengembangkan CU harus memperhatikan inculturasi antara kepercayaan (baca iman) dan adat budaya. Berikut petikan lengkapnya:

Sepulangnya anda dari Tumbang Anoi. Apa yang didapatkan?

Yang saya dapatkan kegaguman pada leluhur, Damang Batu.kenapa ia bisa mengumpulkan orang dari seluruh penjuru negeri dan dari benua lain. Banyak orang tidak mau. Tiba-tiba Damang Batu mau. Kita harus bercermin pada dia. Soal keberaniannya.

Ia menyiapkan 1 tahun. Berladang, berkebun singkong, pelihara binatang, untuk persiapan. Itu tidak mudah sebenarnya. Apalagi waktu itu transportasi sulit. Belum ada yang pakai mesin. Saya kira raja-raja lain di Kutai dan lain-lain sebenarnya jauh lebih hebat. Kok  tidak ada nyali. Jadi orang Dayak punya nyali. Kalau saya merasa lemah, saya mengingat orang dulu bisa. Bodoh betul generasi sekarang, semua sudah tersedia. Internet, transportasi gampang, kok lembek. Bagi saya itu sebuah pembelajaran yang hebat, makanya saya ingin menulisnya.

Informasi yang diterima, anda mau membuat buku kembali. Apa latar belakangnya dan infomasi apa yang dituliskan. Judulnya apa?

Ini kan bicara kreatifitas. Saya melatih diri dan kerja dalam tim. Maka saya menulis selalu pakai tim. Kalau saya sudah tua. Ada orang yang melanjutkan. Kalau sendiri bisa. Hebat sendiri. Tapi ini tidak boleh. Ini saya latih mereka menulis.

CU sudah menjadi ikon di Indonesia, semua bilang begitu. Maka orang belajar macam-macam. Bahkan kita sudah menjadi hitungan untuk birokrasi. Saya semalam masuk bursa calon menteri koperasi. Maka saya menulis buku bersama Jokowi dan kawan-kawan. Judulnya revolusi mental. Saya menulis revolusi mental dalam koperasi.

Jadi tanggal 17 Oktober 2014. Sebelum pelantikan tanggal 20 Oktober, kami ada pertemuan peluncuran buku itu. Cuma saya bukan politisi. Saya gak bisa melompat pagar, polisi yang punya itu. Tim pemilihan mencari orang yang paham koperasi. Sebenarnya Roby Tulus, dirujuk pada yang muda. Saya kirim CV ke sana. Tapi sudah masuk bursa saja saya pikir sudah diperhitungkan. Tapi dalam dunia yang begitu aspek politik tinggi.

Buku kami ingin menulis tentang Credit Union Nation Pride. CU adalah kebanggaan bangsa. Ujungnya adalah kami diskusi-diskusi supaya tidak ke situ. Tulis saja CU di tanah Dayak. Tapi itu masih tema belum judul.

Pengalaman kita masuk ke penerbit. Dipertimbangkan oleh penerbit dampak-dampak. Sampai di penerbit judulnya berubah. Penerbit punya hasil survey judul yang laku di pasar. Judul mengenai kemiskinan pertama. Gak laku. Begitu melihat judul kemiskinan. Simpan saja di rak tidak ada orang beli. Itu risetnya Gramedia.

Jadi kalau kita kirim tulisan ke Gramedia. Kalau menurut survey ada rasanya gak oke, anda boleh ganti judulnya. Tidak bisa ngepas. Dia tidak terbitkan. Itu baru tema. Soal judul nanti dulu.

Buku yang ini, CU ditanah Dayak. Ada orang di Jakarta bilang saya saja yang menerbitkan. Bukunya belum jadi. Saya bilang tunggu ini on the spot, masih ada perjalanan di tempat lain. Tapi sudah ada gambaran. Ada 6 buku yang sudah diterbitkan.

Selain Tumbang Anoi, tempat lain yang dikunjungi?

Ada, kami sudah mengunjungi di Tampang Sambas, ada rimba 80 hektar, warisan dari moyang kami. Rimba dengan pohon-pohon yang besar. Tidak boleh diganggu. Ada SK pemerintah sekarang sebagai hutan adat. Saya mau lihat siapa yang punya ide pertama. Kami sudah tahu.

Tokoh-tokoh macam itu. Kami juga pergi ke Sei Utik di rumah betang menjadi perlindungan budaya di Sei Utik, Apay Janggut kami tanya perannya. Mengapa bisa bertahan.  Hari Rabu kami berangkat ke Tampun Juah di Balai Karangan. Ini terkenal seperti Tumbang Anoi. Apa-apa bicara Dayak tentu mulainya dari kampung Tampun Juah letakknya di bawah sedikit dari Balai Karangan.

Kampung Tampun Juah setertinggal Tumbang Anoi, tidak semegah namanya menurut saya. Hari Rabu kami berangkat ke sana. Bermalam 1 malam. Karena ini CU di tanah Dayak. Kami tidak bisa. Di Kaltim saya sudah keliling sampai hulu Mahakam. Saya belum menemukan tempat sejarah yang historis.

Makanya saya sudah menghubungi Dokter Yohanes. Kami mau tulis buku CU di tanah Dayak. Saya minta bapak kontribusi 1 tulisan. 3 halaman. Belum ada jawaban. Kami mau lihat 4 tempat itu dulu. Kesemuanya dihubungkan dengan keberadaan CU.

CU itu sudah pilar pembangunan daerah. Di Kalbar sudah expecially di sebut 3 pilar pembangunan Dayak. Gereja, Dewan Adat dan CU. Itu sudah di deklarasi oleh mereka. Kita memperkuat pilar CU.

Pandangan pribadi anda dan arti CU bagi anda?

Pandangan teologis. CU itu adalah perjalanan perubahan komunitas kita. Kita ketinggalan dari orang. Dibandingkan dengan orang Cina. Ekonomi kita kan masih di agriculture. Sementara orang Cina di pasar. Dirikan hotel, mini market, supermarket. Kita masih di hulu. Belum di hilir. Baru akhir-akhir ini kita mendengar kalau di Kalbar jaman Oevang Oeray dulu di ranah politik cukup membanggakan buat kita.

Maka kami juga akan menulis partai Dayak. Dulu terkenal, tapi mengapa tiba-tiba jatuh. Tapi filosofinya ditemukan di sini. Kalau orang Dayak bicara hidup mati kompak. Tapi berjalan, siapa yang naik dulu, kita tarik kakinya. Kecuali dia dalam urusan kelahi, bunuh membunuh kompak. Tapi kalau bicara maju dan dalam kondisi tenang. Tidak usah katanya, kita sama-sama di sini saja.

CU perjalanan perubahan. Alat kita mencapai tujuan. CU juga hadiah dari Tuhan. Harus kita pelihara. Jangan di sia-siakan.

Angka 40 menjadi symbol perjalanan CU. Mengapa anda suka menggunakannya?

Di buku kami yang pertama atau yang kedua ada di katakan bahwa sebuah organisasi bisnis benar-benar disebut berkelanjutan apabila sudah melewati 40 tahun. Sebelum angka 40 tahun belum bisa.

Keling Kumang itu 40 tahun dibagi dua. 20 tahun pertama 1993-2013 hanya bicara CU.   2013-2033 kami bicara konglomerasi sosial. Jadi kami tidak bicara CU kami bicara group. Sekarang sudah Keling Kumang Group (KKG). Membawahi CU sebagai induk perusahaan, Koperasi 52 bicara mengenai ritel, 5 outlet, ada Koperasi 77 koperasi konsumsi, ada yayasan, ada sekolah. Sebentar lagi kami punya K-100 mengurus jasa dari hotel dll. Jadi koperasi keuangan, konsumsi, produksi dan jasa kita kerjakan. Ini ada mitra yang membantu dari Australia.

Hingga 2033 target pencapaiannya?

Ya. Mulai dari sekarang hingga tahun 2033 kita akan bekerja dalam group. Di waktu pertemuan sebelumnya saya sampaikan, karena kalian (CU Betang Asi) sudah urus KPD baguskan itu tapi jangan lepas. Masih ada lembaga yang menaungi di atasnya. Misalnya Betang Asi group. Di situ ada pengurusnya, manajer.

Yohanes kan tahun depan akan disebut Managing Director di KKG. Ia membawahi semua manajer di kantor. Kalau tidak seenak perut. Apalagi kalau sudah merasa besar. Jadi KKG adalah holding company. Ini mempelajari manajemen holding. Ini adalah konglomerasi sosial.

Ini sudah terjadi di India, Filipina. Mereka sampai bisa mengurus jalan tol, hotel. Ini disebut campuran bisnis. Ini bukan hanya lembaga keuangan seperti sekarang. Kalau kita mau urus masyarakat Dayak tidak bisa pakai satu entitas. Mengembangkan masyarakat Dayak itu seperti militer.

Militer itu kan ada Angkatan Darat, Laut, Udara. Angkatan Darat ada infantry, alteleri, kavaleri. Juga ada sub-subnya zipur dll. Selalu begitu. Tapi tetap di bawah komando militer. KKG seperti itu. Kalau  hanya urus uang saja, akan jenuh nanti. Akan jadi kapitalis. Hanya menghitung untung rugi.

Tantangan terbesar pengembangan di era sekarang menurut anda?

Tata kelola. Good Government-nya bermasalah sekarang ini. Bagaimana menyiapkan orang yang orang patuh pada konstitusinya. Anggaran dasarnya. Periodesasi harus diikuti pengurus, pengawas, manajer.  Maka kalau sudah tahu periodeisasi  mereka harus siapkan orang.  Bagaimana orang diperkuat.  Kalau regulasi naturallah kena semua. Karena CU yang mati semuanya hari ini semuanya berawal dari tata kelola. Tata kelola yang buruk menyebabkan manusianya buruk juga.

Pandangan anda bahwa lembaga yang kuat didukung oleh pribadi yang kuat secara fisik dan mental?

Itu yang saya katakan tadi. Organisasi sesuai orangnya. Maka untuk mendapatkan orang yang baik mulai dari rekrutmen. Ketika sudah rekrutmen yang baik, maka ia bisa di kembangkan. Bisa diasah. Kalau sudah diasah maka tahap berikutnya, letakkan di tempat yang benar dengan orang yang tepat. Tapi kalau rekrutmennya asal-asalan tidak bisa diasah.

Urutannya kalau rekrutmen kan karakter dulu, passion (semangat) baru kompetensi. Untuk kompetensi kan dilatih. Kalau anda pilih parang di pasar. Kita pilih parang yang dibuat dari besi sembarangan, atau spring mobil atau bar chainsaw. Tentu orang orang ambil bar chainsaw. Berarti karakternya bagus. Tinggal diasah pasti tajam. Tidak mudah rusak. Jadi rekrutmen penting. Di tangan orang Human Resource Management (HRM) itu harus kuat.

Bagaimana jika terlanjur rekrutmennya salah, apa yang harus dilakukan?

Dikeluarkan. Cara mengeluarkan. System kompensasi gajih menggunakan Key Perform Indicator (KPI). Target. Ada base salary. Katakan itu untuk kasir sesuai UMP 1,6 juta. Tapi kalau prestasi bagus dia masih bisa dapat variable salarynya 1,5-2 juta. Kalau bekerja bagus dari 1,6 naik sampai 2-3 juta.

Tapi kalau belum, maka di sebut Rajin Malas Sama Saja (RMSJ). Pengalaman kita, ketika menerapkan KPI di tahun 2010. Begitu diterapkan system, 12% staf keluar. Dia tidak mampu budaya baru, perubahan yang baru. Dia tidak mampu dengan mindset yang baru. Keluar sendiri. Tidak sanggup.

Maka harus bicara KPI sekarang. Kami sudah punya toolsnya. Tapi KPI kalau tidak dikawal oleh pengurus, tidak didukung oleh manajer. Tumpul. Karena itu banyak korban. Yang rekrutmen pasti tidak akan bisa bertahan.

Gerakan CU terganggu oleh fraud di internal. Solusi mengatasinya?

Dalam dunia bisnis tidak mungkin fraud itu zero. Gak bisa. Selalu ada. solusinya adalah pengawasan yang ketat. Berikutnya pembinaan. Fraud terjad karena system yang tidak kuat. Control system tidak kuat. Dibiarkan. Lepas. Tidak ada pemantauan. Kan orang tergoda lihat duit banyak.

Pembinaan iman, spritualitas harus kuat. Maka saya tekankan bahwa dalam Amsal orang baik, walaupun rejeki belum tiba tapi bencana sudah dekat. Kalau orang jahat walaupun rejeki tiba, tapi bencana sudah dekat. Ambil saja uang 5 juta, kalau ketahuan dikeluarkan. Orang jahat. Bencana sudah mengenai dia. Ambil 100 juta masuk penjara. Bencana dan rejeki itu apa bedanya. Keduanya sama-sama hilang.

Itu harus diingatkan terus kepada staf yang masih muda. Di tempat kita sudah ada yang masuk penjara. Anak itu kami beri beasiswa untuk sekolah. Saya katakan kalian bisa ambil uang. Tapi kalian tidak bisa ambil otak kami. Saya bisa jamin jika diambil 1 M dalam waktu 2 bulan kami bisa dapat untung kembalikan itu. Tapi kamu akan menikmati nama buruk sepanjang masa sebagai orang jahat.

Kalau jahat. Rejeki menjauh. Saya omong begitu waktu pleno. saya bukan ketua, tapi saya penasehat. Saya 20 tahun menjadi ketua. Banyak keluarkan uang pribadi. Tidak ada gajih. Kadang-kadang punya jasa pengurus untuk menutup kerugian pada staf. Tapi saya tidak berkekurangan. Makan cukup. Anak kuliah baik. Saya percaya pada Tuhan. Tuhan katakan jangan kuatir. Bunga bakung di pelihara Tuhan. Burung-burung di udara tetap dikasih makan oleh Tuhan. Saya tidak takut.

Tapi menurut saya membangun CU konteksnya harus inculturasi. Satu adalah iman. Kedua adat istiadat. Kami punya rumah Betang kantor ada upacara adat di tahun ini kami akan pasang 2 tiang sandung kayu Ulin. Itu tanda kita masuk pada 20 tahun ke dua dari perjalanan 40 tahun. Saya bilang begitu symbol-simbol macam itu penting juga mengingatkan kita.

Bicara tips dari pengalaman anda, bagaimana CU agar sehat, kuat sekaligus besar?

Nomor 1. Self regulation harus bagus. Pemerintah tidak terlalu campur tangan. Kalau CU rusak tidak bisa mati mendadak. Karena tidak bisa disuspent oleh pemerintah. Tidak berani. Seperti bank. Itu bisa dihentikan oleh BI, Menkeu. Kita tidak bisa. Maka kita harus memperbaiki self regulation. Ada kebijakan. SOP. Aturan main. AD selalu dibaca ulang. Kalau perlu diamandemen. Dan dipatuhi bukan hanya dibuat dan dibiarkan.

Nomor 2, adalah dana stabilisasi harus ada. seperti LPS itu berasal dari equitas. Kalau di laporan keuangan ada kolom equitas. Di dalam WOCCU adal SP dan SW anggota jangan dimasukkan. Hanya dana cadangan saja. Itu bentuknya harus dalam bentuk ivestasi keuangan jangka panjang. Seperti deposito di atas 1 tahun.

Jadi tidak ada namanya modal lembaga/ equitas yang dijual. Tidak boleh. Kami punya ada dana stabilisasi 10% dari total asset. Uang ini tdak boleh dipakai oleh pengurus, pengawas, staf. Ini uang hanya boleh dipakai kalau terjadi force majeur. Kerugian yang berat. Kalau likuidasi dan kalau merger. Penggunaan dana hanya di putuskan oleh rapat anggota. Jadi kalau mau masuk CU. Dilindungi gak simpanan kami. Kita tidak dilindungi LPS. Itu kan dibawah Menkeu. Di awasi OJK. Kita dibawah kementerian koperasi.

Self regulasi namanya dana stabilisasi. Stabilation fund. Ini ketentuan dari WOCCU, Winconsin. Kita tidak bisa LPS. Iurannya besar. Maka self regulasi saja. Di lembaga keuangan milik pemerintah. Jadi kalau di tanya bagaimana CU bangkrut. Kembali gak uang kita. Kan ada dana stabilisasi. Itu LPSnya kita.

Dana ini kan untuk menjaga dan mengantisipasi kerugian. Dana likuid kan untuk kewajiban jangka pendek. Penarikan simpanan. Pencairan pinjaman. Operasional kantor. Kalau di PUSKHAT wajib. untuk ban serep. Ini kan seperti ban serep. Kalau kita mau pakai mobil berani gak pakai ban serep. CU tidak boleh tidak ban serap. CU adalah kendaraan menuju cita-cita kita.  Dana stabilisasi adalah harga mati. Seharusnya PUSKOPDIT yang mengelola dan mengatur. Itu wajib ada.

Sumber foto: Rokhmond Onasis

***

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (2)

Written By rokhmond onasis on Monday, December 7, 2015 | 11:10 PM

Kemajuan dari sisi pertambahan asset dan anggota CU Betang Asi menjadi salah satu pengamatan oleh Munaldus. Saat melakukan kunjungan ke Palangka Raya akhir Nopember 2015 lalu. Pentingnya pendidikan yang berlapis bagi anggota harus dilakukan, tidak hanya dilakukan sekali saja.

Salah seorang fasilitator ketika pendirian CU Betang Asi pada Februari 2003 silam mengungkapkan juga CU ini harus belajar mengenai Triple Bottom Line (TBL). Jangan hanya urus uang. TBL ini adalah financial, social dan environmental. Berikut petikan wawancaranya:

Perasaan anda saat berkunjung kembali kantor CU Betang Asi?

Saya ke Betang Asi itu kan terakhir 2007. Saya datang kembali 2015. Sudah cukup lama. Kalau soal gedung tidak banyak berubah yang ada di sini. Saat saya ke Tumbang Anoi. Saya singgah di kantor TP dan TPK. Di situ saya terkejut kantor sudah standar dengan di KP tidak jauh beda.

Saya kira itu kemajuan. Dari segi pertambahan anggota dan asset juga kemajuan. Maju pesat. Biasanya saya menilai dari anggota. 38 ribu anggota sudah dan asset juga bisa dinilai. Kemajuan besar. Penampilan staf juga bagus.

Mundur 12 tahun ke belakang. Anda sebagai pendiri, atmosfer apa yang dialami saat memfasilitasi awal SP dan akhirnya CU Betang Asi berdiri?

Awalnya mereka ragu. Untuk ada Pak Mecer mendampingi. Di aula Nazaret ada Uskup juga hadir waktu itu. Saya bingung dengan adanya kehadiran Uskup. Dulu ada kesulitan, kan ada CU sebelumnya. Itu di 4 buah CU/ koperasi. Kita agak kesulitan lama untuk menyatukannya dan melahirkan nama yang baru.

Seingat saya ada Pak Amu yang menjadi leading. Ia sudah tahu belajar awal. Ia ada gambaran mengarahkan. Kami orang baru. Karakter Kalteng kan harus dipelajari juga. Untuk waktu itu mulus.  Saya sempat katakan kata mereka. Kalian boleh tidak boleh dirikan, tapi jangan salahkan kami, kalau kami ke sini. Kalian boleh ribut, tapi jangan salahkan kalau kami masuk ke sini (Kalteng). Lalu mereka bilang. Jangan dulu. Kalau kami mau ijin nasional juga oke kan.

Pantauan anda sebagai pendiri dan berkeliling di seluruh nusantara, bahkan luar negeri, pembenahan apa yang dilakukan CU Betang Asi ke depan?

Saya tidak bisa melihat ke dalam karena harus Organization Development. Melihat eksekusi visi, misi, nilai-nilai inti, proses kontrolnya dan Standart Operational Operation (STO).  Yang saya baca 2 hari ini dan saya ada ngobrol dengan Pak Yulius dan Pak Sewan. Mereka masih menggunakan istilah TPK itu memang ada ditulis dalam buku kami. TPK itu kan subnya dari TP. Itu model dari pemerintah. Kami di ajari tidak seperti itu. Semua disebut TP.

Jadi yang di atas adalah manajer area. Tapi ia tidak punya kantor. TP punya kantor, ia melayani anggota. Manajer area hanya mengkoordinir. Memperkuat manajer. Mengawasi, fungsi control. Itu yang kami lakukan sekarang. Saya tidak menyarankan dulu, karena di wilayah yang luas ini kan ada 5 kabupaten, bisa 5 area. 1 area bisa membawahi 5-6 tempat pelayanan. Katakanlah Gunung Mas ada 6 kecamatan. Mestinya ada 6 pelayanan. Manajer TP lah yang membuat ia lahir. Itu kami punya sekarang.

Fungsi manajer area selain koordinasi adalah menyelesaikan masalah yang berat yang manajer TP harus diback up. Seperti istilah coaching dan counseling manajer TP biar kuat. Tapi ini harus melalui OD karena menurut saya Kalteng beda dengan Kalbar. Mereka sudah berbagi wilayah. Tapi kalau saya melihat, karena dibagi wilayah mereka cenderung santai. Kecepatan, apa cape-cape gak ada yang merebut wilayah kami.

Kalau kami di sana harus kreatif. Kalau gak orang lain yang mengerjakannya. Kalau mau cepat ia harus manajer area. Misalnya per kabupaten. Area 1 Palangka Raya. Area 2 kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Gunung Mas, Katingan. 1 kabupaten minimal harus buka di setiap kota kecamatan. Sudah rapi  sekali itu. Bisa saja buka di daerah-daerah strategis lainnya.

Sekarang CU Betang Asi (seperti) bermain sepak bola Indonesia. Tendangan jarak jauh. Kalau kami pemain Eropa. Setiap 8-9 km ada kantor TP. Kami rapi sekali. Itu menurut saya. Saya sampaikan kepada Pak Yulius.

Apakah tidak terlalu dekat?

Tunggu saja nanti, ketika wilayah berkembang. Kan kita tahu wilayah berkembang, simpang 3, simpang 4. Dimana orang bertemu. Sekarang pasang dulu kantornya. Kita mengantisipasi 10 tahun wilayah itu harus di kuasai dulu. Maka Keling Kumang agresif seperti Lantang Tipo itu.

Bicara Dayak, sekarang pada masa transisi, antara mempertahankan dan melepaskan yang ada. Peran CU Betang Asi menurut anda, katakanlah dalam konteks lahan, banyak anggota CU yang tergiur melepaskan lahan?

Harus disadarkan. Di omongi masuk dalam kurikulum pendidikan. Kita tidak bisa halangi orang yang punya barang. Kalau kita menghalangi kita dulu tidak mengerjakannya juga tidak bisa apa-apa. Tapi di ingatkan terus menerus, dampaknya bagaimana ke depan kalau tidak ada tanah bagaimana.

Satu-satunya pintu masuk adalah pendidikan. Maka pendidikan tidak boleh yang satu kali selesai 2-3 hari selesai. Kalau kita punya berlapis-lapis, motivasi, pendidikan dasar, penyegaran 1 tahun 2 kali. Setelah rapat anggota, pengurus, pengawas semua ke lapangan penyegaran. Bisa dihadiri 100-200 orang, 2-3 jam, kita putar video, kita siapkan bahannya. Kemajuan dan masalah di jelaskan. Kalau tidak ada tanah bagaimana. Sudah diantisipasi belum.

Kalau masalah saya melihat masalah di Kalteng ini adalah daerah aliran sungai (DAS). Parah betul. Lebih parah dari kami punya. Masih ada di sana sungai yang masih bersih. Di Sekadau. Di sini coklat semua. 20-30 tahun ke depan. Sumber air dijaga oleh tentara dan polisi. Siapkanlah itu. Kami sudah bicara di training-training itu. Sumber air di jaga baik. Karena ini akan menjadi pertumpahan darah. Tidak bisa lagi orang minum di situ. Banjir kapan saja bisa terjadi.

Kami sudah ada pinjaman untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), 300-400 juta. Tujuannya supaya hulu sungai dijaga. Disepakati. Ada 26 PLTMH, ini dikelola oleh kelompok anggota. Yang tersebar di hulu-hulu kampung yang PLN tidak ada. ini ada 1 turbin 20 kk/ orang. Ini bertujuan menjaga lingkungan. Mata air terjaga. Mereka tidak akan menjual tanah karena itu sebagai sumber. Kami sudah mempersiapkan diri dengan Koperasi 77 untuk kerjasama dengan isi ulang, kami sudah merencanakanya.

Harapan anda bagi CU Betang Asi?

CU Betang Asi harus belajar mengenai triple bottom line. Jangan hanya urus uang, memang penting, ngurus sosial juga penting. TBL ini adalah financial, social dan environmental. Itu ada di buku kami. Setiap anggota kita diukur untuk sosialnya. Berapa jumlah anggota di bawah, atas garis kemiskinan. Kalau kita tau dengan alat ukur. Kami sudah pakai sejah tahun 2011. Sekarang semua anggota diukur.

Supaya bisa naik kelas secara ekonomi. Harus jelas. Apa yang dilakukan setelah diketahui. Pendidikan FL, entrepreneurship. Kami sudah ada memproduksi kerupuk. Home industry. Itu dikemas dengan baik. Itu diserahkan pada K-52, kami ada 5 outlet produk dari koperasi ini akan masuk ke outlet, pemasaran gak masalah.

PLTMH ini berkaitan dengan lingkungan. Di ajarkan sebelum makan cuci tangan. Kita baca expired. Apa artinya. Dan kami tidak boleh memberikan pinjaman merusak lingkungan, tebang pohon, sedot emas dll. Ini harus ada kebijakannya. Ini kan untuk masa depan juga.

Sumber Foto: Rokhmond Onasis

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (1)

Written By rokhmond onasis on Sunday, December 6, 2015 | 2:10 PM

Di penghujung tahun 2015 ini, CU Betang Asi melakukan persiapan rutin. Pelaksanaan RAT di depan mata pada bulan Januari dan Februari 2016 mendatang. Ditengah-tengah kesibukan tesebut CU Betang Asi menerima rombongan tamu dari Kalimantan Barat. Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena.

Ketiganya datang sebagai penulis buku, sahabat lama dan mitra kerja. Kali ini penulis berhasil melakukan wawancara dan melakukan peliputan. Ada apa dan mengapa mereka mau datang ke bumi Tambun Bungai?. Jawabannya akan pembaca temukan dalam tulisan ini.

Tulisan ini disusun dari interview yang dilakukan penulis pada akhir Nopember lalu. Tulisan di bagi menjadi 3. Pertama, refleksi malam menuju 40 tahun CU Betang Asi. Kedua, sudut pandang Munaldus saat berkunjung kembali ke CU Betang Asi dan ketiga, berbagi pengalaman dari CU Keling Kumang.

Jumat, 27 Nopember 2015 bertempat di aula CU Betang Asi. Sebelum ketiganya berangkat ke Tumbang Anoi. Munaldus memberikan refleksi perjalanan CU Betang Asi menuju 40 tahun. Berikut salinannya:

Terima kasih atas undangannya. Kami datang ingin menulis buku CU di tanah Dayak. Sebuah tema yang sulit. Tapi saya coba untuk merealisasikannya. Itu kemungkinan buku yang ke-8. Buku akan terbit, sedang di Gramedia. Sedang diedit. Ini mengenai kredit lalai. Baca, kalau mau tahu kredit lalai.

Februari 2003 dulu. Februari 2015 berarti sudah 12 tahun. Masih berapa lagi perjalanan (seperti di) Keluaran. 40 tahun. Hitung saja 40-12 ada 28 tahun. Dalam perjalanan 40 tahun. 28 tahun yang akan datang yaitu tahun 2043. Coba bayangkan kita masih hidup tidak. Tergantung dari program kita. Kalau kita programkan masih (hidup). Betang Asi seperti apa?.

Bicara  tahun 2003. Ada uskup di depan. Saya sempat terganggu waktu fasilitasi. Tapi saya harus mengatakan ini dulu pada almarhum Amu Lanu. Ia masih mengawal CU sampai hari ini. Saya kira kita tidak menduga kalau CU ini sebesar ini. Sama dengan CU Keling Kumang. Kita tidak menduga sebesar ini sekarang.

Kalau kita mengurus CU mana yang penting, kualitas atas kuantitas?. Sekarang mana yang penting tangan sama kaki?. Dua-duanya. Kalau begitu kualitas dan penting sama-sama penting. Kalau gak pakai analogi tidak jalan kan. Kita harus bisa memecahkan persoalan ini. Sama penting. Kalau kita tidak bicara kualitas masyarakat kita tidak bisa maju. Kita malas. Kita ngurus sekitar ini saja. Dua-duanya harus jalan. Sama-sama penting.

Pertanyaan kedua. Apakah ada di antara yang hidupnya merasa belum berhasil atau belum sukses?. Kalau anda mengurus CU belum berhasil. Belum puas. Pasti ada, karena manusia tidak tumbuh sesuai dengan potensinya.  Ini tanda-tandanya anda melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Orang itu salah.

Ini tidak akan pernah maju. Itu sebabnya kita berkumpul di sini anda harus melakukan hal yang berbeda untuk mencapai hasil yang berbeda. Kalau kita ngurus lalai tidak bisa turun-turun kenapa?. Berapa KL di sini kalau Tepat Waktu Tepat Jumlah (TWTJ) sesuai perjanjian. Bukan seperti dulu yang penting bayar bunga. Yang penting bunga ditambah angsuran. Kalau standar access gak bisa. kalau TWTJ ini dikali 2,6, sudah ada riset di kami. Fakta ini harus di hadapi. KL yang tinggi.

Waktu saya presentasi saya bilang KL kami tinggi di PUSKHAT.  Lalu teman dari negara lain bilang, kok bisa masih hidup. Mungkin belum waktunya meninggal. Karena CU tidak bisa meninggal mendadak kaya bank. Ia di hentikan operasionalnya oleh BI. Kalau kita tidak. Sampai meninggal benar-benar.

Saya 35 tahun di CU. Sampai pada kesimpulan bahwa 80% kemajuan, kemunduran atau kematian CU di tangan ketua pengurus dan GM.  Atau dua-duanya. Itu presentasi saya di 40 PUSKOPDIT, mereka tidak bicara apa-apa. Karena di INKOPDIT saya jadi anggota pengurus. Saya melihat ketua tidak berani ambil posisi. Pasang badan.  Kalau saya pasang badan. Ambil keputusan. Asal itu benar. Saya mesti tanya dulu. Ini keputusannya. Jalankan.

Saya ingat kami dulu mengambil konsultan bayar 500 juta untuk honor saja yang lain-lain training,  pendampingan 300 juta. Total 800 juta. Semua pengurus, staf diam tidak ambil keputusan. Saya ambil keputusan. Ini harus dijalankan. Siapa yang berkeberatan dengan keputusan ini berdiri dan berhadapan dengan saya. Semua diam.

Kalau ini gagal 800 juta kita tanggung bersama dan dipotong dari semuanya. Karena saya ada dengan Pak Yohanes. Hanya dalam 1 tahun asset kami meningkat 2 x lipat. Sampai 1 T sekarang. Saya bilang, kalau kita tahu itu emas. Jangan takut buat jalan dari perak. Itu kata pepatah. Tetapi 80% di tangan ketua pengurus dan GM. Berani gak pasang badan. Tetapi kalau tidak berani ambil keputusan. Masih diayun-ayun antara ia dan tidak. Apalagi di bawah. Buah kelapa jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau jatuh jauh, berarti di jatuh di sungai, yang lain pasti ikut. Asal keduanya power full.

Pengawas adalah nafas dari pengurus. Karena pengurus hanya tahu isi perut CU itu dari laporan pengawas. Karena pengurus tidak dilatih mengaudit. Saya 20 tahun jadi ketua. Kita buat keputusan hanya dari laporan pengawas. Jadi investasi kepada pengawas harus kuat. Laporan pengawas harus benar-benar.

Klongchan CU di Thailand. Terkenalnya hampir di seluruh dunia. Dimana orang studi banding referensinya ke  Klongchan. Anggotanya 400 ribu lebih. Tiba-tiba kita mendengar tanggal 12-13 Juli 2013 masuk ke Bangkokpost. Buka di internet. Klongchan CU Collaps.  Ada 12 M Baht di bawa oleh pengurus dan manajernya hilang. Anggota tidak bisa tarik simpanan dan 100 anggota membuat petisi. Lapor ke pihak berwajib. Pengawas di ciduk. Masuk penjara sekarang. Ada 11 orang.

Anggota melaporkan pengawas ke polisi karena pengawas dipilih oleh RAT. Anggota menyerahkan sehat pemeriksaan CU kepada pengawas. Dan ini pengawasnya lalai. Di Bangkok. Saya di bulan September ke Thailand. Bertemu satu kawan. Ngomong hampir 1 jam di bis. Ia bercerita lebih dari 5 tahun masuk penjara. Dan semuanya di sita oleh negara. Apakah kita sanggup ngurus CU. Tiba-tiba rumah kita dikasih police line. Semoga tidak sanggup. Jadi 80%  maju, mundur, bangkrut tergantung dari ketua pengurus dan GM. Kalau berdua ini bermasalah. Buah kelapa jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Maka, setiap 3 bulan rapat pengurus lampirkan apakah ketua menabung lancar. Kalau ketua meminjam, pinjaman lancar megembalikan TWTJ. Istri dan anak-anak ikut. Wakil ketua, sekretaris, bendahara. Ditunjukkan. Ini namanya disclosure dalam tata kelola. Pengawas juga begitu. Setiap tiga bulan tidak ada satupun yang boleh macet. Begitu contoh dari kita macet apa yang terjadi. Staf ikut juga. Kalau ketua keras pada diri sendiri. GM saya mau anda disclosure dalam rapat manajemen. 3 bulan sekali. Semua staf harus tunjukkan.  Apakah ini sudah dilakukan.

Maka tidak ada yang berani macet. Saya pernah lihat pengurus macet. Saya berikan 7 hari kalau tidak anda akan kena dis. Ketika dia ngomong harus bagus dulu. Ini masih dilakukan sampai sekarang. Disclosure itu diomongkon di dekritkan, dengan demikian integritas ketua pengurus tidak bisa diragukan. GM juga. Yang lain pasti ikut. Saya bicara pengalaman.

Seperti apa CU Betang Asi 20 tahun yang akan datang?. Apakah masih akan mengurus semata-mata CU saja. Kata David Richardson, WOCCU bilang CU  abad 21 bukan semata-mata menjual produk-produk keuangan simpan pinjam. Tetapi ia harus menyediakan solusi.

Solusi adalah jalan keluar. Apakah masyarakat hanya berhadapan dengan masalah keuangan?. Jawabannya tidak. Masalah yang dihadapi adalah sosial, lingkungan, sumber kehidupan/ income. Jadi menurut saya yang dikatakan David Richardson ini. Keuangan hanya bagian lain. Yang lain adalah koperasi konsumsi. Koperasi produksi. Mata pencaharian utama masyarakat di sini adalah karet, sawit.

Harga (karet) yang berbeda juga masalah. Kan perlu solusi. Tanah-tanah sudah habis. Kita sudah berhadapan dengan 4 musim. Ada tambahan musim asap dan musim hujan. Masalah makin banyak di hadapi anggota. Tanah di serap perusahaan. Bagaimana solusinya.

Menurut saya kita harus keluar dari comfort zone ngurus uang. Kalau mau zona yang tidak nyaman ngurus ritel, produksi, industry, produksi gula dll. Dan ini harus dikerjakan secara kelompok oleh anggota. Bagaimana mendampinginya.

Untuk bisa menyediakan solusi bagi anggota di level 3 atau fase 3 yang dikeluarkan oleh WOCCU disebut aliansi. Contohnya seperti yang terjadi di Philippines dan Buldana Urban Cooperative Credit Society di India. Meraka sampai bisa mengurus jalan tol, rumah sakit, hotel, tekstil, orang jompo, sekolah, universitas. Kalau mereka bisa mengapa kita tidak. Tapi siapa pelopornya harus disiapkan orangnya.

Itu karena persekawanan. Maka di Keling Kumang membentuk KKG. Maka logonya tidak ada CU-nya. Itu sudah group. Kami punya 5 outlet mini market. Koperasi produksi kerupuk, beras, pupuk organic, dll yang dibutuhkan anggota. Sebentar lagi kita punya hotel, koperasi K-100, yayasan, ada SMK. 1 kali masuk 300 anak masuk. Sangat berharap dengan CU. Sebagian besar mereka  sangat miskin. Sama dengan saya 30 tahun dulu. Sama miskinnya. Ini terlalu kok masih ada. Kita sudah di kota ini enak. Turunlah ke lapangan bagaimana miskinnya kita. Kalau kita disini level ataslah. Kalau kita bisa ngurus itu. Kami dapat beasiswa dari Australia 50 orang anak.

Jadi menurut saya agar itu bisa dikerjakan satu-satunya adalah network. Jaringan. Mitra. Cari mitra yang local, internasional yang bisa membantu. Karena kita lemah dalam beberapa aspek. Terutama dalam capacity building. Terutama kalau kita mau masuk jurusan itu. 20 tahun kami punya. Dan 22 tahun kami sekarang. CU Betang Asi baru 12. Separonya. Kita perlu siapkan sumber daya baik-baik.

Mumpung masih muda. Berkaryalah. Kira-kira gambarannya begitu. Kalau kita hanya mengurus CU saja. Di zona nyaman. Kita coba keluar melihat pengurus yang lain. Kita harus ada mitra yang membantu kita. Banyak sekali peluang.

Ingat. Kalau kita punya tujuan dan niat baik dalam Kitab Suci Keluaran. Dari Mesir ke tanah terjanji. Lalu kelaparan. Mereka mulai marah. Tapi tiba-tiba roti Manna jatuh dan burung Merpati berdatangan. Masih gak buah Manna itu jatuh?. Masih. Buah Manna itu ide, gagasan, konsep. Saya biasa begitu. kalau mengerjakan bingung, merenung di pesawat, bis atau WC. Tiba-tiba (mendapatkan) ini caranya, saya catat cepat. Keluar dulu dari WC sebentar. Jawabannya ada. itu buah Manna jatuh. Biar tidak hilang dicatat. Saya selalu bawa buku kecil.

Buah Manna itu ide, solusi, pemikiran. Baru-baru ini kami retret di Cisarua ada Pastor Wayan pernah di Soverdi, kenal dengan Pastor Sunaryo. Saya ada tanya … buah Manna itu masih jatuh gak Pastor. Saya bilang masih sampai hari ini. Kalau kita punya ide mendirikan atau mengerjakan apa.

Saya akan mengakhiri kata-kata saya dari Amsal. Yang tidak setuju terserah. “Orang baik walaupun rejeki belum tiba, tapi bencana sudah menjauhinya. Orang jahat, walaupun bencana belum tiba, tapi rejeki sudah menjauhinya”.

Kalau anda mengurus CU pilih yang mana?. Jadi peliharalah CU ini dengan niat baik. Kerjakan dengan baik. Sekarang fraud angkanya sudah aneh-aneh. Penggelapan. Pencurian. Kalau di Kalbar sudah miliaran. Baru-baru ini kasir. 3 tahun ia mengambil uang. Bisa dibayangkan kemana itu pengawas. Kok tidak tahu. Sekarang sedang diurus polisi. Siapa yang mampu mengembalikan uang itu. Bahkan CUnya sudah bangkrut ada juga.

Jadi sekali lagi buatlah pengawas jika kurang kuat.  Ambil auditor internal. Minta kepada GM.  atau System Pengawasan Internal (SPI) latih mereka bagus-bagus. Maka perbaiki sistemnya. Begitu terjadi konflik di dalam. Duduk bersama bikin aturan dengan baik. Biasanya kalau ada konflik, perselisihan tandanya sistemnya tidak jalan. Maka duduklah kita dan dituliskan. Everything should be written, not written not exist. Segala sesuatu harus tertulis. Yang tidak tertulis sama dengan tidak ada. Begitu kita mengalami kesulitan.

Saya merasa bertanggung jawab juga. Mudah-mudahan doa saya agar CU Betang Asi maju pesat. Dan usul saya harus membentuk group. Misalnya nanti Betang Asi Group. Di bidang bisnis. Siapa yang berani memulai kita belajar di situ. Tidak ada yang tidak berhasil, namanya bisnis. Untung rugi pasti ada. kalau untung terus juga tidak pernah. Kalau rugi terus berarti bego.bongol. Jadi bisnis seperti air laut. Kadang pasang. Tinggi gelombang. Kadang-kadang tenang. Saya pikir cukup. Terima kasih.

Handep Hapakat. Sewut Batarung.

Mohon maaf jika kata-kata yang tidak berkenan.

Sumber foto: Dokumen CU Betang Asi.
***

Agustinus Alibata, S.Pd, M.Si: “Saya Mengabdi Pada Hati Nurani Saya”

Written By rokhmond onasis on Tuesday, November 10, 2015 | 5:55 PM

Delapan tahun waktu yang diperlukannya. Pria berumur 40 tahun ini berkomitmen kembali dan membangun tanah Dayak. Ia sempat di percaya sebagai ketua Litbang BKCUK, kemudian sebagai sekretaris pengurus periode 2014-2017.

Dua CU mengusungnya yaitu CU Pancur Dangeri dan CU Daya Lestari. Ia terpilih dan mendapatkan 5 suara. Lebih dari ½ jam ia berbincang dengan penulis di Palangka Raya pada 5 Nopember lalu. Bercerita tentang awal mula ikut CU. Di tahun 1995-lah, ia pertama kali mendengar motivasi CU kampungnya.

Pria kelahiran Karab, Ketapang, Kalimantan Barat, 17 Nopember ini mengakui walaupun pernah bekerja dan berada di Freeport bukan berarti ia mengabdi pada kapitalis. “Saya mengabdi pada hati nurani”, tegasnya.

Agustinus Alibata, S.Pd, M.Si,  itulah nama pria yang beristrikan Lusila Arnila, S.Psi. Ia berkomitmen usai mengambil S-2 di UGM harus kembali ke Kalimantan Barat. Walaupun sudah dikarunia 2 anak, yaitu Theresia Avilla Tumas Delecta dan Benedictus Damar Banua ia tetap menghabiskan 80% waktu, tenaga dan pikirannya di gerakan.

Anak ke 8 dari 9 bersaudara ini berprinsip hidup bukan hanya untuk mencari nafkah. Sebagai lelaki Dayak yang sempat merantau menepis ungkapan bahwa ia bukan  anak yang hilang, tapi anak kandung yang selama ini ada dan selalu bersama. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Anda menjadi sekretaris BKCUK?

Sejak Mei 2015 di Makassar. Di lantik di sana, belum sampai 1 tahun.

Mengapa anda mau?

Sebenarnya ini proses. Saya ketua CU Pancur Dangeri. Selain sebagai ketua CU saya seringkali diminta bantuan oleh teman-teman dari dulu untuk masuk CU-CU primer untuk memberikan pelatihan sebagai fasilitator. Selagi mereka mau berkerja sama dengan kita dan mengundang, kita datang ke CU-CU. Akhirnya BKCUK banyak sekali memakai saya.

Saat itu BKCUK sudah menetapkan saya sebagai ketua Litbang untuk Diklat BKCUK. Saya banyak bantu untuk buat modul. Saat itu wakil ketua Romo Fredy. Ia punya program yang sangat jelas untuk membuat modul dalam beberapa tahun. Sebagai ketua Litbang saya membantu. Kami menghasilkan 10 modul. 4 sudah naik cetak, 6 masih dalam proses penyempurnaan.

Tahun ini dilanjutkan oleh Romo Urbanus. Saat ini kami tidak ada lagi ketua Litbang karena saya menjadi pengurus dan ditangani oleh komite. Kami punya target dalam 2 tahun bisa mencetak 20 modul. 6 modul yang sedang naik cetak direncanakan kita launching di RAT.

Jadi, karena saya sudah sering ikut dalam pergerakan ini, saat di Makassar, teman-teman mendorong untuk maju. Jangan membantu lewat non struktural saja. Diharapkan ide-ide dan waktu saya bisa dipakai. Teman-teman menerima saya dengan baik. Saat saya masuk, dicalonkan oleh CU Pancur Dangeri dan CU Daya Lestari, dipilih dengan 5 suara.

Sekretaris adalah dapur dalam organisasi, kiat-kiat anda supaya organisasi BKCUK dapat berjalan dengan baik sesuai target?

Jujur, seumur hidup saya baru kali ini sebagai sekretaris. Ilmu sekretaris saya dangkal. Tapi, fungsi sekretaris saya ngerti, hanya belum pernah menjalankan tugas sebagai sekretaris.   Dalam perjalanan organisasi, saya sering sebagai ketua.

Saya pernah sebagai Ketua Pelajar Simpang Hulu di Ketapang, Kalbar. Juga menjabat sebagai Ketua Presidium Legio Maria. Sebelum melanjutkan kuliah 1 tahun saya pernah sebagai ketua MUDIKA (sekarang OMK). Sewaktu kuliah di Yogyakarta kami mendirikan organisasi Bujang Dara Kayong (BEDAYONG) dan saya sebagai ketua. Saya juga pernah menjadi Ketua-1 Pelajar Katolik Kalimantan Barat. Di universitas Sanata Dharma saya menjadi ketua HMJ. Juga sempat menjadi Ketua Karya Kerasulan Mahasiswa.

Saat dipercaya menjadi sekretaris sekarang, saya tahu karena dulu sebagai ketua sering berkomunikasi dengan sekretaris. Paling tidak saya ngerti tugas sekretaris. Intinya saya menjalankan sesuatu sebagai yang alamiah saja. Berjalan dengan proses yang ada. Saat ini belum ada gebrakan saya di BKCUK. Tapi saya dapat menjalankan fungsinya.

Alasan anda kembali membangun gerakan CU dari Kalimantan hingga Indonesia setelah sempat menjadi “anak yang hilang”?

Ini cerita yang panjang. Saya sebenarnya bukan “anak yang hilang”.  Anak insafpun tidak. Karena dari awal saya orang gerakan. Saya masuk CU Pancur Dangeri itu bukan tiba-tiba. Saya anggota awal.

Tahun 1995, pada malam motivasi CU pertama di kampung saya, dibawakan oleh Pak Lukas Gembira. Ia berasal dari kampung Bukang bersebelahan dengan kampung saya. Ia berada di kampung saya karena saudaranya ada di kampung kami.

Saat motivasi yang juga dibawakan oleh Pak Mecer saya melihat di kertas plano 1 juta menjadi 2 juta hingga menjadi 32 juta. Pada waktu itu angka 32 juta sungguh besar. Saat itu saya telah lulus SMA. Setelah motivasi saya langsung bergabung tanpa banyak berfikir ini aman, tidak aman. Motivasi itu juga dihadiri tokoh masyarakat.

Sebelum masuk menjadi anggota CU, dulu ada namanya Dana Solidaritas Masyarakat Dayak (DSMD). Masuk itu dulu 12 ribu selama 1 tahun. Sayapun ikut juga. Saat itu kartunya berwarna kuning. Setelah 1 tahun saya tidak ada kegiatan dan saya pergi kuliah. S-1 selama 4 tahun dan saya menjadi dosen di Sanata Dharma selama 1 tahun. Uang di CU tidak saya ambil, dan saya juga tidak pernah nabung. Jadi vakum.

Setelah jadi dosen 1 tahun, saya mengambil  S-2 di UGM. Saya belum kembali ke Kalbar. Tapi saya punya komitmen seusai kuliah saya harus kembali ke Kalbar. Saya mundur sebagai dosen di Sanata Dharma. Hidup mati kembali ke Kalbar.  Pada tahun 2004, saya mulai kembali menghidupkan CU. Saya ke Pontianak.

Saat itu saya belum ada pekerjaan tetap. Tapi saya bekerja di United National Development Programe  (UNDP) yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) selama 1 tahun. Saya juga bantu teman-teman di SEGERAK, Bang Djuweng dan lainnya. Saya ikut penelitian dengan mereka. Tapi saya tidak pernah melamar ke SEGERAK. Istri saya juga orang Pancur Kasih, kerja di Pengembangan Ekonomi Kerakyatan (PEK).

Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi pengawai negeri. Sudah 3 kali tes saya tidak pernah lulus jadi pegawai negeri. Bukan berarti saya tidak mau berkarya di sekitar kita. Tuhan punya rencana lain.

Dari UNDP, saya melamar ke Freeport. Walaupun tes bahasa Inggrisnya jauh lebih sulit dari tes masuk pegawai negeri. Saya lolos. Saat tes masuk di Jakarta, saya pikir tidak lolos menurut saya. Ini berhubungan dengan saingan pelamar. Tuhan punya rencana di situ. Akhirnya saya bekerja sebagai fasilitator selama 8 tahun. Tahun pertama saya kontrak. 7 tahun berikutnya saya permanen.

Sebagai fasilitator di Freeport, anda menangani bidang apa?

Pertama Leadership. Kedua Curriculum Development. Berikutnya Training And Assesment, fasilitator calon fasilitator. Jadi fasilitator Freeport nasibnya di tangan saya. Saya yang pegang sertifikasinya.

Selama 8 tahun saya di Freeport saya tidak tinggal di sana. Saya bisa Pergi Pulang (PP). Saya kan 6 minggu kerja, 2 minggu cuti. Jadi selama cuti di Pontianak, Pancur Kasih sering pakai saya untuk fasilitasi. CU Pancur Dangeri rutin langganan dengan saya. Seperti, pelatihan Customer Succses, Problem Solving. Sekalian pulang kampung, kasih pelatihan ke mereka dan senang saja karena saya anak daerah itu.

Saya tetap berkomitmen menabung di CU, karena saya bandingkan di seluruh tempat menabung yang lain, gak ada yang sebaik CU dalam benefitnya bagi kita sebagai anggota. Rumah saya itu nilainya 7M. Maksudnya 7 kali minjam. Itu semua dari CU tidak ada pinjaman dari lembaga lain. Ada pengaruh dari istri saya yang sangat baik mengatur rumah tangga. Baik dari segi keuangan, psikologinya menentramkan hubungan rumah tangga dan lainnya. Istri saya lebih membawa saya dalam gerakan ini.

Sebenarnya jika dilihat gerakan awal saya di UNDP, SEGERAK dan teman-teman saya adalah orang gerakan. Saya menerima apa yang direncanakan Tuhan bagi saya. Walaupun saya berada di Freeport bukan berarti saya mengabdi pada kapitalis. Saya mengabdi pada hati nurani saya. Kalau Freeport melakukan sesuatu yang menurut saya tidak sesuai. Saya tidak akan melakukannya untuk Freeport. Itu prinsip.

Bahkan, beberapa konflik terakhir sepulang saya dari Freeport, menurut saya mereka melakukan yang tidak sesuai hati nurani dan saya mundur. Itu terjadi pada tahun 2011. Saya membuat surat dan mengatakan saya mundur. Banyak hal menjadi “konflik batin” dengan Freeport. Bukan dengan freeportnya tapi “konflik batin”.

Saya disuruh kembali berkali-kali oleh Freeport. Dalam tahun 2012-2013 mereka pakai saya untuk kontraktor, konsultan, membuat modul-modul pelatihan untuk Community Development, dan lainnya. Sebagai konsultan saya jalani. Tapi saya tidak kembali.

Hari ini tadi ada kawan dari Martabe, di Sumatera meminta saya untuk mengisi posisi kerja. Tapi saya tidak. Saya happy, bukan karena uang. Kalau uang jauh lebih besar. Berkali-kali jauh lebih besar. Di sini karena gerakan saya membantu banyak orang. Saya bisa menuangkan ide saya lebih banyak. Konflik batin saya jauh lebih kecil.

Istri anda mendukung keputusan itu?

Istri saya tidak pernah tidak mendukung saya. Saya ke politik ia dukung. Saya dirumah, saya buka usaha. Saat bangkrut berusahapun ia tidak mencela saya. Saya ada di gerakan ini apalagi. Pasti ia dukung. Saya tidak salah memilih istri.

Fase Return Of Investment (ROI) ke Return Of Life (ROL) sudah anda lampaui?

Terus terang. Saat kerja di Freeport itu all out. Itu perusahaan paling baik untuk kita (pribadi). Bukan untuk masyarakat lebih luas.

Apa yang membuat anda menjadi merenung ulang dan menggelitik kondisi itu?

Antara lain memang salah satunya komitmen untuk masyarakat lokal (di perusahaan) itu ada tapi itu ada untuk melanggengkan mereka punya bisnis, bukan hati Freeport itu ada di masyarakat. Ini bagian dari teknik Freeport bisa bertahan, sedikit memberi charity kepada masyarakat. Bukan membuat masyarakat menjadi mandiri. Tapi membuat masyarakat jadi lebih jinak, soft lebih menjaga Freeport juga.

Untuk semua karyawan Freeport yang non staf juga tidak terlalu baik perlakuannya. Untuk staf seperti kami kemana-mana pakai helikopter. Kamar tersendiri, termasuk laundry. Tapi teman-teman yang non staf untuk produksi tidak terlalu baik. Saya juga komisaris dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Kami memperjuangkan mereka. Freeport tidak terlalu happy dengan itu.

Jadi saya bukan anak yang hilang. Karena sejak awal saya ada di CU. Saya pergi karena saya mau sekolah dan bekerja. Bukan karena meninggalkan CU Pancur Dangeri. Setelah saya buka usaha sendiri. Saya banyak waktu kosong. Mereka mengajak saya jalan-jalan ke kampung-kampung untuk memberikan motivasi. Mereka mendorong komitmen saya untuk menjadi pengurus.

Jadi saya tidak hilang, tapi anak kandung yang selama ini ada di sini. Saya anak kandung yang selalu bersama. Tapi kebersamaan itu tidak semua dilihat oleh orang.  Karena orang lebih dominan melihat saya di Freeport. Orang tidak melihat saya kerja di Freeport nabungnya di mana. Saat saya pulang dari Freeport saya memberikan pelatihan juga di masyarakat. Ini tidak pernah diekspos.

Perbedaan antara tempat kerja sebelumnya dan sekarang?

Kalau kita bekerja di dunia perusahaan kita hanya fokus untuk financial. Tapi saya pikir, kita tidak pernah bisa bisa baik kalau hanya memikirkan financial. Kita bisa makmur. Saya secara ekonomi tidak ada persoalan. Saya punya tanah, kebun, rumah, tabungan dan kendaraan. Kalau saya hanya memikirkan persoalan financial saya tidak persoalan. Ada teman yang menawarkan ke British Petroleum (BP) ke Martabe. Kalau untuk cari uang bisa saja. Ada juga tawaran untuk PERUSDA.

Tapi saya pikir, dimensi sosial kita jadi lepas. Saya dapat S.Pd dan M.Si bukan jatuh dari langit ini saya raih dengan berdarah-darah. Salah satu perjuangannya adalah saya dibiayai oleh Keuskupan Ketapang. Tentu sebagai anak Keuskupan ada beban moral, karena saya tidak mampu mengembalikan uang Keuskupan. Tapi saya mengembalikan dalam bentuk aktivitas yang bisa juga menolong orang lain. Salah satunya adalah di gerakan sosial yang memang membantu banyak orang untuk sampai ke kehidupan yang lebih baik. Salah satu tempat yang pas menurut saya adalah di CU. Saya enjoy sekali dengan CU.

Kalau untuk bayaran CU itu tidak seberapa. Paling tinggi saya di bayar di CU sekian juta/ hari. Kalau saya di Aneka Tambang di ICE, sekian juta/ orang. Kalau saya dalam 1 tahun pergi 3 kali itu cukup. Saya konsultan di Kaltim, sekali pergi 40 juta. Tidak perlu saya repot kalau hanya untuk cari uang.

Tapi, sekarang saya menghabiskan 80% waktu, tenaga dan pikiran saya di gerakan. Tanggal merah pun saya tetap fasilitasi. Walaupun itu hari untuk keluarga. Saya ada di Pangkalanbun, Toraja, Surabaya saya bukan kejar duitnya. Kalau kejar duit kerja saja saya di BP, 3 minggu kerja 3 minggu cuti. Saat cuti saya di rumah, duitnya kipas-kipas. Buat apa saya ke ujung samudera. Saya beri pelatihan sampai di Malino, Gowa, Sulsel. Saya pergi ke Ampah, Barito Timur, Kalteng. Saya pergi ke Putak Kaltim. Pergi ke Semarang, Yogya dll. Saya jadi lebih sehat di gerakan ini, tidak pikir badan remuk.

Saya tidak melihat sebagai sebuah beban. Saya menikmati dalam perjalanan ini. Itu bedanya dengan kita bekerja di sebuah perusahaan. Saya sekarang sampai pada freedom of time. Kalau saya bekerja di orang, saya jadi kuli. Tekad saya sejak keluar dari Freeport saya tidak pernah kembali menjadi kuli. Saya merdeka mengatur hidup saya.

Dari sisi persamaan. Apa yang anda temukan di dunia kerja sebelumnya dan sekarang?

Motivasi untuk kita berprestasi jauh lebih besar. Kita dituntut untuk menjadi orang yang profesional. Dalam arti kita bekerja untuk berprestasi lebih bagus. Punya etos kerja yang luar biasa. Tidak mengenal lelah, mengeluh, tidak habis berfikir, habis energi. Attitude harus baik, kinerja harus unggul, penampilan baik.

Dalam gerakan kita mengurus uang masyarakat. Jika tidak dengan kepenuhan hati, jiwa dan raga itu akan hilang. Dalam saya mendampingi CU saya all out karena itu tanggung jawab moral kita. Mau taruh dimana muka kita, kalau setiap tahun ada CU di gerakan kita yang kolaps. Itu kan muka kita. Saya lebih senang melakukan pendampingan ke CU karena barang itu real. Kasih pelatihan saya senang, tapi pendampingan jauh lebih senang. Hasil dari pelatihan kita susah kontrol, tapi dilanjutkan pendampingan, kita akan tahu hasilnya. Saya punya standar.

Motto hidup anda?

Servus Dei et Homini, melayani Tuhan dan sesama. Dari dulu saya sudah punya (motto) ini. Prinsipnya hidup bukan hanya untuk mencari nafkah. Kalau segala sesuatu untuk mencari nafkah kita akan terdorong untuk mengejar uang. Tapi bekerja untuk memuji dan memuliakan Tuhan serta bermakna bagi banyak orang, bangsa dan negara.

Harapan anda untuk gerakan CU di Kalimantan hingga Indonesia? 

Suistainable. Saya takut gerakan ini menjadi tidak suistainable. Itu menjadi konsen saya. Saya bertemu dengan CU-CU primer dan memastikan CU itu sehat. Termasuk CU Pancur Dangeri. Bukan CU besar tapi CU sehat. Kecil tapi sehat. Besar boleh tapi sehat.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis


Public Speaking Bagi CU Menjadi Penting

Written By rokhmond onasis on Monday, November 9, 2015 | 12:13 AM

“Kemampuan public speaking adalah sesuatu yang melekat. Kesulitan di public speaking adalah memastikan apa yang kita sampaikan dipahami dengan baik”

Itulah salah satu ungkapan yang disampaikan oleh Agustinus Alibata pada Rabu, 4 Nopember 2015 lalu. Dalam rangka Pelatihan Public Speaking bagian pendidikan dan pelatihan kopdit CU Betang Asi mengundang Alibata panggilan akrabnya untuk memandu pelatihan.

Sejak pukul 8 pagi hingga 5.30 sore, selama 3 hari (4-6/11)  peserta yang berasal dari TP dan TPK se-kopdit CU Betang Asi mengikuti dengan antusias. Sebanyak 36 peserta di ajak untuk belajar dan memahami konsep dasar public speaking, manfaatnya, tujuannya, membuat persiapan, melakukan latihan, membuka dan menutup pembicaraan,  mengatasi rasa takut, unsur dasar public speaking, menghindari kebiasaan yang tidak perlu, pendekatan public speaking, teknik berbicara di depan umum dan teknik berkomunikasi cerdas serta efektif.

Tidak hanya teori yang dilakukan. Peserta di minta untuk mempraktekkan teori yang telah diterima. Alibata yang juga sebagai ketua kopdit CU Pancur Dangeri ini membagi sesi-sesi pelatihan secara efektif. Masing-masing peserta diminta untuk memberikan penampilan terbaik selama 10 menit dalam menyampaikan materi.

Materi dibuat mengacu dari pendalaman nilai-nilai CU dan pendidikan dasar. Pria yang dipercaya sebagai sekretaris BKCUK ini juga mengajak 2 peserta yang lain memberikan feed back kepada peserta yang tampil sehingga proses learning by doing berjalan dengan baik. Ada 43 poin penilaian yang harus diperhatikan oleh peserta praktek. Selingan dengan ice breaking, contoh-contoh yang membumi disampaikan oleh Alibata berkaitan dengan dengan materi.

Poin-poin penting ini terangkum dalam lembar observasi. Perlu diperhatikan dan menjadi catatan penting adalah saat pembukaan dengan menerapkan prinsip GLOSS dan OFF. Ini adalah akronim dari Get (menciptakan ketertarikan), Link (menghubungkan ketertarikan dengan topik), Outcome (menjelaskan target yang diharapkan), Structure (sistematika urutan yang dibicarakan) dan Stimulation (mendorong peserta teribat aktif dalam proses).

Sedangkan OFF adalah Outcome (kemukakan hasil yang dapat dicapai), Feedback (umpan baik atas ketertarikan peserta) dan Future (hubungkan topic dan pembicaraan yang ada dengan kegiatan dan tindak lanjut ke depan.

Pelatihan yang dipusatkan di aula lantai-3, kopdit CU betang Asi dibuka secara resmi oleh Bambang Mantikei sebagai Wakil ketua-1. Peserta diikuti oleh Eni, Navilla, Maria Fransiska, Litra, Fetri Wahyuni, Martha T, Andri, Maria Candida, Salvina, Aeroporto, Firman, Haga, Lono Saputra, Rizki, Herie U. Daud, Julison, Randy Putra Kelana, Jonly S, Lisa, Tri Septiani, Cerdi, Erikson, Lolie, Julianson, Jimy, Sipendi, Yupersi, Bernadus Hendi, David Dibiciang, Yusak, Arintus, Rama, Prasetya Hardika, Hendro Hadiwinoto, dan penulis.

Dalam penutupan terungkap bahwa hasil pelatihan sangat memuaskan. Menurut Yoyo, ia sangat terkesan dan mendapatkan ilmu yang luar biasa dan lebih tahu alur public speaking. Sedangkan menurut Salvina saat pelatihan ia  belajar untuk berani tampil di depan umum walaupun ia termasuk orang yang pemalu dan kurang PD.

Hal senada ditekankan oleh Erikson, ia mengungkapkan bahwa seluruh materi yang telah disampaikan akan berguna di lapangan. Konsep GLOSS dan OFF sangat bermanfaat dan ia berharap dapat berlanjut lebih baik ke depan.

Penutupan ditandai dengan pemberian sertifikat kepada perwakilan peserta. Acara ditutup secara resmi oleh manajer diklat dan litbang kopdit CU Betang Asi, Yohanes Changking. Ia  berharap pelatihan ini dapat berkembang bagi CU dan bagi anggota.

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis.

Pertemuan Kolektor, Kelompok Inti TP PHS

Written By rokhmond onasis on Monday, October 12, 2015 | 11:54 PM

Pertemuan kolektor dan kelompok inti Kopdit CU Betang Asi TP Penyang Hinje Simpei (PHS) baru-baru ini di laksanakan. Dipusatkan di aula Setda kantor bupati Pulang Pisau.  Ruangan yang berkapasitas 300 orang aula ini terlihat lebih besar untuk 30 orang saja yang hadir di ruang pertemuan yang dihadiri juga oleh staf dari TP PHS.

Dipandu oleh Deputy GM, Leani dan pengurus, Yulius Langkah, pertemuan dibagi menjadi beberapa sesi. Dalam sesi awal peserta diajak untuk menggali informasi terbaru, kondisi anggota pada saat musim kemarau dan kabut asap sekarang. Usai menjawab apa yang terjadi perserta diajak kembali untuk berdiskusi dampak dari kondisi yang terjadi bagi CU dan anggota.

“Kita harus mengumpulkan apa yang kita punya bukan dari yang banyak, untuk membantu sesama,” jelas Leani, saat menegaskan kembali tujuan pendirian CU. Ia juga menekankan bahwa pentingnya database untuk anggota yang mengalami masalah dalam pengembalian pinjaman. Harus dipastikan apa penyebab utama yang mengakibatkannya.

Menjaga supaya peserta tidak bosan untuk saling berbagi informasi, pertemuan diselingi dengan permainan yang bersifat edukatif dan teamwork. Permainan itu adalah kijang, pemburu, tembok dan menerbangkan plastik selama mungkin. Kelompok yang paling kompak akan menjadi pemenang.

Dalam sesi yang dibawakan oleh pengurus, Yulius Langkah menjelaskan peraturan pengurus terkait kredit kelompok yang berbasis komunitas. Sedangkan di sesi akhir, Manajer TP PHS, Junaidi Mahin mengajak peserta untuk mereview target dan capaian dari awal tahun hingga bulan Oktober 2015 ini.

Para peserta memberikan masukan-masukan, kendala dan tantangan yang dihadapi di lapangan sebagai tugas dan fungsinya menjadi kolektor ataupun kelompok inti. Adapun utusan kampung-kampung yang ikut hadir yaitu dari Pilang, Simpur, Katunjung, Manusup, Sei Kapar, Tarantang, Pulau Kaladan, Kalumpang, Sei Ahas, Manusup Hilir, Kanamit, Jabiren, Pantai, Buntoi, Pulang Pisau, Sebangau Kuala, Gohong, Tanjung Kalanis, Kalawa, dan Kapuas

Sedangkan peserta yang ikut berpartisipasi yaitu Farida Susanti, Athis, Idar T. Labih, Sugiat, Mose K, Kusuma Ranti, Meri, Redie Arfandie, Maza Gatiso, Misradi, Ucerdius, Darmawi, Nau Don Yusias, Suranto Panut, Rayanalitae, Dawi, Pendeta Barnabas, Yulius Langkah, Solbimar Karau, Sieng, Frans, Damianus Kartiman, Barumbun, Rama, Gusterman, Maun I, Andri, Endo dan Memeliana.

Acara yang dilangsungkan pada Sabtu, 10 Oktober 2015 dimulai dari pukul 8.30 pagi hingga 4 sore ini ditutup dengan doa.

Sumber foto: Rokhmond Onasis.


CU Besi Lakukan Reposisi dan Mutasi

Written By rokhmond onasis on Tuesday, October 6, 2015 | 10:27 PM

Setelah sempat di pimpin Pelaksana Tugas (Plt) Manajer, terhitung pada 5 Oktober 2015 lalu Tempat Pelayanan Betang Sinta (TP BS) Kopdit CU Betang Asi di pimpin oleh manajer baru. Kali ini kursi tertinggi di manajemen CU Betang Asi TP BS, di percaya kepada Valentinus Jeghau, SE.

Pria yang mengawali karirnya sebagai tenaga sukarela pada Kopdit CU Betang Asi tahun 2004 di wilayah Kuala Kurun dan sekitarnya, berharap ini awal dari karyanya di CU Betang Asi, sebagai manajer. “Saya berharap dapat bekerjasama dalam 1 tim membangun TP BS. Saya juga akan melakukan perubahan dalam untuk membangun kerjasama tim, komunikasi sehingga tidak ada miskomunikasi dalam menjalankan tugas,” kata Valen kepada penulis usai pelantikan.

Valen menambahkan, sebelumnya ia dipercaya sebagai kepala divisi administrasi diklat di Kantor Pusat (KP) Palangka Raya. Ia merasa bangga diberi kepercayaan memimpin 1 tempat pelayanan dan tidak terlena karena ada tugas yang harus di pertanggung jawabkan. “Jabatan sebagai manajer adalah suatu tugas yang dipercayakan baik dari pengurus maupun dari unsur pimpinan manajmen,” ungkapnya dengan bangga.

Perasaan  lain juga diungkapkan oleh Arissalie, A.Md. Perempuan yang sudah lebih dari 7 tahun menjabat sebagai kepala bagian keuangan Tempat Pelayanan Betang Batarung (TP BB) Kuala Kurun. “Sejak tahun 2007 sudah lama di TP BB, Kuala Kurun, sekitar 7 tahun  kemungkinan ada rasa bosan, dan dengan adanya pemindahan ini ada pembaharuan,” jelasnya. Ia berharap di jabatan yang sama di TP yang berbeda dapat melakukan tugas yang lebih baik lagi.

Pengaturan ulang posisi manajemen ini juga diikuti oleh 16 orang lainnya yang menempati posisi berbeda pada beberapa TP. Pelantikan dan penandatanganan berita acara di lakukan di lantai-3 kantor pusat CU Betang Asi. Dalam sambutannya, GM Kopdit CU Betang Asi, Ethos H.L, SE mengatakan bahwa promosi, mutasi dan reposisi ini dan berdasarkan keputusan pengurus nomor: 16/KEP.CUBA/ PRY/I.1/X/ 2015 tertanggal 5 Oktober 2015.

Acara yang dimulai pada pukul 10-11.30  pagi ini juga dihadiri pengurus dan pengawas kopdit CU Betang Asi. Nampak hadir pengurus Ambu Naptamis, Bambang Mantikei, Karna Sophia Sihombing, Gimmak Bulinga, Gregorius Doni, dan Yulius Langkah. Sedangkan dari pengawas hanya dihadiri Rita Sarlawa dan Talita.

Dalam sambutannya usai penandatangan berita acara pelantikan, ketua pengurus Kopdit CU Betang Asi Ambu Naptamis, SH, MH mengatakan kebanggaannya bahwa seiring berjalannya waktu acara pelantikan semakin membaik setiap acara rotasi kepemimpinan.

“Hari ini bersejarah bagi yang dilantik. Saya harap lembaga ini semakin hari semakin berwibawa, kuat, bermartabat. Bertepatan pada 5 Oktober hari ini, kita dapat di samakan seperti tentara. CU mempunyai musuh yaitu melawan kemiskinan. Di acara pelantikan ini ada promosi, reposisi dan demosi. Ini salah satu cara untuk memperkuat pasukan dari CU Betang Asi. Jika ada kekurangan yang harus diperbaiki, dilakukan secara bermartabat,” kata Ambu.

Sebagai ketua pengurus, Ambu memandu pengambilan janji. Ke-18 orang yang dilantik di pandu untuk mengucapkan janji supaya dengan sungguh-sungguh memenuhi kewajibannya sebagai unsur pimpinan manajemen kopdit CU Betang Asi dengan sebaik-sebaiknya dan sejujur-jujurnya. Memegang teguh AD/ART kopdit CU Betang Asi dan menjalankan semua aturan dan kebijakan pengurus dengan selurus-selurusnya serta setia dan berbakti kepada CU Betang Asi.

Adapun ke-18 orang yang dipercaya adalah Valentinus Jeghau, SE;  Shiawan Etora; Herie U. Daud; Ernesto Kardinal; Erikson; Solbimar Karau; Saluh; Eni Wati Estuti, A.Md; Bernandus Hendi; Lono Saputra; Aditya Wanto Yosep, SE; Lolie; Aeroporto; Mery Normawati, ST; Asep Nana Sumpena; Erwin F. Mahin, S.Pd; Neneng Triono dan Arissalie, A.Md.

Semoga sumpah janji untuk bersikap jujur, adil dan bijaksana sehingga kopdit CU Betang Asi menjadi terpercaya dan abadi di Kalteng dapat dijalankan dengan kesungguhan hati, pikiran dan tindakannya. Acara yang dipandu oleh Desi sebagai MC di tutup foto bersama dan menikmati makanan ringan yang disiapkan panitia.

Sumber foto: Rokhmond Onasis
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa