Selamat Datang!

Peresmian Kantor Baru TP Sangai (2)

Ritual Lawang Sakepeng dan Potong Pantan Awali Kegiatan

Rintik hujan membasahi penulis dan rombongan yang menuju Tumbang Sangai. Penunjuk waktu masih berada di angka 6 pagi. Melewati jalan beraspal mulus dan ¼ jalan sebelum tiba di Tumbang Sangai di sambut dengan jalan tanah yang sudah melewati proses pengerasan.

Hujan sudah mulai berkurang. Hanya menyisakan titik-titik air di atas tanah podsolit merah kuning. Tepat di depan kantor yang akan diresmikan rombongan tiba pukul 10.45 pagi. Dua tenda besar terpasang, satu tenda kecil dan kursi sudah tersusun rapi. Panggung acara dan baliho sudah terpasang di bagian belakang kantor. Tepat di samping mess karyawan yang menjadi 1 areal dalam kantor. Beberapa spanduk dan umbul-umbul berlogo CU Betang Asi terpasang di sekitar kantor yang akan diresmikan.

Kantor yang terletak di jalan Jata RT. 009 RW. 004 Desa Tumbang Sangai menjadi strategis karena dekat dengan keramaian pasar di Tumbang Sangai. Saat rombongan yang berjumlah 30-an orang tiba, panitia meminta supaya berkumpul di belakang lawang sakepeng yang telah dibuat. Ada ritual adat Dayak yang mesti di jalani sebelum acara puncak peresmian kantor.

Tanah sudah mulai mengering setelah hujan turun. Tampak dua pesilat laki-laki dan perempuan sudah menunggu pada kedua sisi gerbang lawang sakepeng. Tetabuhan bunyi gong dan gendang sudah terdengar. Para pesilat sudah siap dengan atraksi dan jurus yang di pasang.

Jumat pukul 11. 30 siang (12/7) lawang sakepeng sudah disiapkan panitia. Dibuat dari 3 kayu sebesar lengan orang dewasa. Berjarak 1,5 meter di pasang berjajar. Ada 3 baris benang diantara tiang. Bunga bertangkai dan 4 lembar uang 50 ribu rupiah menjadi penghias pada benang yang dipasang. Daun kelapa yang terjuntai ke bawah menjadi pelengkap aksesoris dari lawang sakepeng. Benang ini akan diputuskan dalam penampilan pencak silat Dayak.

Setelah ada aba-aba dari panitia, atraksi dimulai. Pemain silat harus memutuskan benang yang merintangi. Lawang Sakepeng dari suku Dayak ngaju ini merupakan atraksi silat untuk memutuskan rintangan berupa tali/ benang yang diikat pada gapura. Lawang artinya pintu atau gapura. Sakepeng berarti satu keping.

Lawang Sakepeng biasanya dibuat dari kayu dengan lebar kurang lebih 1,5 meter dengan tinggi 2 atau 3 meter. Biasanya dihiasi dengan tanaman rambat dan burung Enggang pada bagian atasnya. Biasanya dibuat untuk menyambut tamu atau acara pernikahan. Hal yang penting juga Lawang Sakepeng di hiasi dengan daun kelapa. Dapat juga ditambah talawang yang dipasang bagian sisi samping. Ritual lawang sakepeng di iringi musik gong dan gendang dengan irama pukulan tertentu, berciri khas pencak silat. (mediacenter.palangkaraya.go.id)

Setelah ritual ini dilewati semua rombongan dipersilahkan berjalan menuju depan pintu depan. Ternyata di sini juga masih terpasang satu kayu penghalang. Ada satu ritual lagi yang mesti di lewati, yaitu potong pantan.

Potong pantan, adalah upacara memotong kayu yang dipasang melintang di pintu masuk menggunakan mandau. Diiringi dengan doa yang disampaikan oleh pisor berbahasa sangiang. Upacara ini untuk mencegah hal-hal buruk dan kayu dapat dipotong tanpa halangan (id.m.wikipedia.org).

Ambu Naptamis dan Ethos H.L sebagai pimpinan rombongan diberikan masing-masing 1 mandau yang akan digunakan untuk ritual ini. Depan kayu melintang, di atas tanah telah di letakkan batu asah dan 1 buah telor yang mesti di injak oleh pimpinan rombongan.

Dengan yakin Ambu Naptamis menginjak telor dan melangkah ke depan mendekati kayu penghalang. Diringi doa-doa yang disampaikan pisor, Ambu beserta rombongan semakin mendekati pintu masuk. Tabur beras di atas kepala di lakukan pisor dilanjukan memberikan tampung tawar kepada semua rombongan. Percikan air dari dedaunan yang menjadi alat pemercik, ke empat penjuru mata angin.

Dalam pelaksanaan di Tumbang Sangai tampak di meriahkan dengan pemberian minuman baram yang di berikan kepada tamu yang akan masuk. Lebih dari separuh isi 5 liter jerigen diberikan langsung oleh pemuka adat yang menerima tamu dari Palangka Raya. Gelas per gelas baram dituangkan dan segera di minum oleh rombongan yang ada.

Ambu membuka kain bahalai yang menutupi kayu penghalang tersebut. Dilipat dari bagian tepi kiri dan kanan menuju tengah kain. Seorang Pisor masih memandu dengan doa-d0a yang diucapkan perlahan. Usai melipat bahalai, Ambu mengawali dengan memotong kayu yang disengaja tidak mengenai kayu penghalang. Iringan doa diucapkan pisor. Selanjutnya, tebasan kedua dari mandau yang dipegang kokoh oleh Ambu mengenai kayu penghalang.

Kepingan kayu kecil, bekas tebasan mandau, hampir saja mengenai wajah Ethos H.L. Pria yang dipercaya menjadi GM di kopdit CU Betang Asi ikut dalam ritual potong pantan. Ia melanjutkan,  melakukan tebasan ketiga dan seterusnya, hingga kayu tersebut menjadi terpotong dua.

Dengan terpotong kayu menjadi dua bagian, kemudian di sambut dengan teriakan pekik khas dayak, malahap sebanyak 3 kali. Tampak 2 penari perempuan dengan baju khas dayak didominasi warna merah. Ajakan masuk di tandai dengan pemberian selendang hijau kepada Ambu dan Ethos.
Rombongan diterima oleh camat Telaga Antang, Siwel Toemon dan Kepala Desa, H.Suharyanto.  Bersama rombongan diajak duduk di kursi utama. menunggu acara peresmian di laksanakan.

Proses pemberkatan kantor dan sambutan Camat Telaga Antang, kami sampaikan di tulisan berikutnya (bersambung).

Sumber Tulisan dan Foto: Rokhmond Onasis



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Sabtu, 13 Juli 2019
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved