Selamat Datang!

INKUR Belajar ke KPD Kalteng

Besi ditajamkan besi, manusia di tajamkan sesamanya. Ungkapan terbukti dengan kedatangan rombongan dari Credit Union (CU) dan Koperasi Sektor Riil (KSR) yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar) untuk belajar bersama-sama di KPD Kalteng. Walaupun dari provinsi tetangga ribuan kilometer perjalanan darat ke provinsi Kalteng mesti di tempuh. Jarak yang jauh tidak menjadi halangan untuk bersama-sama belajar, berdiskusi dan mencermati mengapa KPD Kalteng masih eksis.

Sebanyak 35 orang, dengan 8 mobil menyusuri perjalanan lintas Borneo, dari sejumlah kabupaten di Kalimantan Barat. Tujuan mereka hanya satu, ingin belajar. Kesemuanya berasal dari lembaga Induk Koperasi Usaha Rakyat (INKUR), PUSKHAT Borneo, CU Mura Kopa, CU Nyai Anta, KSR Optimis Maju Bersama (OMB), KSR Viva Mandiri Utama (VMU), Terigas Usaha Bersama (TUB), CU Semandang Jaya, CU Banuri Harapan Kita, KSR Semarong Multi Guna (SMG), KSR Bina Tapang Mandiri (BTM), CU Tri Tapang Kasih (TTK), Keling Kumang Group (KKG) dan CU Semarong

Berangkat pada dini hari pukul 2 pagi, Selasa (18/6) lalu perjalanan dimulai. Ketika mulai letih melanda, rombongan berhenti sejenak di kantor-kantor CU yang ada pada titik-titik tertentu. Salah satunya, CU Semandang Jaya yang sudah memulai membuka kantor di provinsi Kalteng.

Perjalanan darat dengan jarak tempuh sekitar 30 jam, akhirnya tiba di Palangka Raya pada Rabu (19/6). Jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi. Hanya beristirahat beberapa jam, pukul 8 pagi  acara dilanjutkan dengan kunjungan melihat secara langsung proses pelayanan yang terjadi di KPD Tilung, KPD Rajawali dan KPD Hiu Putih.

Siang harinya pukul 12 sampai 13.30 WIB, usai makan siang di aula pertemuan lantai-3 kantor Kopdit CU Betang Asi Palangka Raya, acara di lanjutkan. Diskusi dan berbagi pengalaman dengan pelaku usaha ritel berjalan dinamis.

Tentu saja, setelah melihat secara langsung di 3 unit KPD swalayan, cukup menumpuk pertanyaan yang ada di benak. Pertanyaan yang sempat tercatat oleh penulis adalah strategi apa yang telah dilakukan KPD Swalayan hingga tetap bertahan sekarang.

Secara bergantian pengurus dan manajemen yang hadir dari KPD Kalteng menjawab pertanyaan. Menurut Gregorius Doni Senun, strategi yang dilakukan adalah adanya komitmen yang kuat, kerugian yang terjadi harus ditanggung bersama, hitung-hitungannya jika keluar anggota menanggung senilai 17% dari kerugian. Prinsip koperasi di pakai, jika untung, untung bersama dan jika rugi maka rugi bersama. Semua ini diputuskan dalam RAT luar biasa. Hal lain, sejumlah swalayan yang sempat dibuka di kampung, mesti ditutup karena tidak menutup biaya operasional. Terkait anggota, di terapkan belum menerima anggota dan menambah simpanan menjadi strategi lain agar tidak menanggung beban lebih berat pada masa recovery hingga tahun 2019 ini.

Ethos, sebagai Penanggung Jawab Utama KPD Swalayan juga menceritakan, adanya komitmen untuk tetap membangun KPD. Untuk meyakinkan distributor diterapkan ada uang ada barang. Perhitungan untuk membuka cabang di kampung mesti dilakukan secara cermat, jangan sampai terus merugi. Dalam 36 bulan harus Break Even Point (BEP). Ia menambahkan, strategi Stoctopname (SO) juga dilakukan secara berkala.

Lebih jauh, Ethos menceritakan pengalamannya. Ia terinspirasi dari Abat Elias, jangan sampai berinvestasi CU di saham KPD, tapi berfikirlah pada bangunan yang disewakan ke KPD. Proses pembelajaran tetap di lakukan bagi manajemen yang menjalankan operasional. Terkait pajak ia mengingatkan persoalan pajak mesti ditangani secara profesional dan cermat, hati-hati terhadap permainan pajak oleh distributor.

Dari Ambu Naptamis, sebagai ketua pengurus terungkap bahwa ketika sampai pilihan tetap menjalankan KPD atau tidak. Ia teringat apa yang disampaikan oleh almarhum Amu Lanu A. Lingu kepada Pak Goris, jika kita bubarkan saja KPD ini anggap uang kita hilang ketika bermain judi. Namun, walaupun sempat terjadi perdebatan, akhirnya diputuskan tetap membangun KPD ini. Ia mengaku, model pengembangan KPD saat ini ditemukan by accident, karena saat itu terjadi KPD mesti diurus, sehingga diputuskan dalam RAT manajemen CU harus membantu manajemen KPD dan dilakukan secara profesional.

Nampak hadir dalam pertemuan pengurus yang lain baik dari CU maupun KPD seperti Karna Sophia, Damianus Kartiman dan Sewantapuja. Leani, Yahya, Tatau, Cici dan Untung dari staf KPD juga hadir memeriahkan. Secara umum, diskusi berjalan dengan rasa kebersamaan yang tinggi. Dalam pertemuan ini juga Suroto sebagai Ketua Asosiasi Kader Sosio- Ekonomi Strategis (AKSES) aktif memberikan pendapat. Ia mengatakan di penghujung acara, ada trend di luar negeri membentuk grup. Suroto mengundang KPD dapat bergabung ke INKUR. “Tidak ada yang lebih baik dari usaha kita untuk menambah statistik koperasi dan KPD adalah salah satunya,” tegas Suroto.

Ketika penunjuk waktu berada di angka 14.45 WIB akhirnya acara ditutup dengan foto bersama dan berbagi cindera mata dari masing-masing lembaga. Malam harinya acara ramah tamah dilanjutkan hingga pukul 19.00 WIB dan beberapa rombongan melanjutkan perjalanan darat kembali menuju Kalbar.

Selamat menerapkan pembelajaran yang didapatkan. Semoga memberikan inspirasi. Sudah saatnya kita berjuang bersama di tanah Borneo.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis

***



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Selasa, 25 Juni 2019
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved