Selamat Datang!

Neka: “Saya Bangga Menjadi Anggota CU”

Bermodal tekad perempuan paruh baya ini melangkahkan kakinya mengikuti pelatihan wajib. Walaupun tak diijinkan suaminya, ia bersikeras tetap ikut belajar. Ibu rumah tangga yang berasal dari Desa Kota Baru, kecamatan Kapuas Tengah, Pujon akhirnya resmi menjadi anggota CU. Ibu Neka itulah nama yang tercantum dalam buku bernomor anggota (BA) 109.687 pada bulan Maret 2009.

Walaupun harus menempuh jarak dan melewati jalur sungai dengan sampan kecil bermesin Kubota, ia bergerak ke arah Desa Kayu Bulan. Bersama temannya berangkat untuk mengikuti kegiatan pelatihan CU Betang asi yaitu di selama 2 (dua ) hari. Perjalanan pergi dan pulang di antar oleh suaminya, sehingga mengikuti pelatihan secara penuh.

Usai pelatihan, segera ia menjual kalung emasnya. Hasil penjualan ini digunakan untuk menabung dan menjadi anggota CU Betang Asi.  Pemahaman baru ia dapatkan setelah pelatihan. Apa yang telah ia dengar dan pelajari begitu tepat baginya dan keluarganya. Buku-buku materi yang didapatkan yaitu Manual Operasional (MO) dan materi pelatihan ia pinjamkan ke suami untuk dibaca ulang dan dipelajari.

Tiga bulan setelah pelatihan, ia bersama suaminya Anjay, mendatangi kolektor Kayu Bulan untuk berkonsultasi. Pertemuan ini untuk membahas apakah bisa dilakukan Pelatihan Dasar Desa Kota Baru, kecamatan Kapuas Tengah, Pujon. Hasilnya, pelatihanpun terlaksana pada Bulan Juni 2009 diikuti sebanyak 35 Orang peserta.

Pertemuan ini membawa perubahan baru dalam keluarganya. Semua keluarga dari Ibu Neka akhirnya masuk menjadi anggota CU Betang Asi. Bahkan, suaminya dipercaya menjadi Aktivis dan Kolektor di Desa Kota Baru, Pujon.  Ibu Neka menggabungkan dirinya dalam kelompok Peternakan Babi. Ia dipercaya menjadi aktivis CU di desanya, untuk memimpin 10 orang anggota kelompok.

Ibu Neka sungguh merasakan pentingnya bergabung dan menjadi anggota CU Betang Asi. Ia mendapat berbagai pertolongan yang tidak didapatnya dari tempat lain. Bertambahnya Ilmu, keterampilan, semangat, tabungan, pengelolaan keuangan, memanfaatkan waktu, kesempatan serta menyekolahkan anaknya meupakan hal positip yang ia dapatkan. Hal lain, ia membangun usaha baru Rumah Burung Walet (RBW) dari modal usaha yang dipinjamkan CU Betang Asi kepadanya dan suaminya.

Memberi contoh dengan tindakan, itulah yang dijalankan sebagai seorang aktivis. Ia dan suaminya memberi contoh menjadi penabung dan peminjam yang baik. Menjadi tenaga pembedayaan juga dilakoni keduanya, sehingga kelompok usaha lainnya dapat terbentuk di tempat tersebut.

Kondisi terbaru, Ibu Neka memiliki 20 ekor ternak babi terdiri dari 3 indukan 1 pejantan dan 16 ekor untuk penggemukan. Berkat tekad dan semangat yang kuat ia selalu mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh CU Betang Asi. Keterampilan lain Ibu Neka mampu menolong temannya dengan menyuntik ternak yang sakit atau butuh vitamin. Bagaimana cara pembuatan dan pemberian pakan serta pemeliharaan babi yang baik juga ia sampaikan dengan lugas.

Hingga ajal memanggil ia tetap menjadi anggota CU. “Saya bangga menjadi anggota CU. Saya telah menyiapkan tabungan bagi masa tua sampai ajal menjemput,” katanya. Ia berpesan jika masa lampau orang tua menyiapkan tanah dan kebun sebagai warisan. Namun, anak-anak sekarang sangat berbeda, mereka tidak mampu mengelola tanah dan kebun, tetapi mungkin bisa mengelola uang saja. Itulah tabungan dan menjadi warisan bagi mereka.

Sumber tulisan dan foto: Junaidi Mahin; Manajer TP Tahasak Batu Sepan, Pujon;





Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, October 9, 2018
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved