Selamat Datang!

Damianus Kartiman: “Inginkan Kelompok Anggota Komunitas CU Bisa Berkembang, Melahirkan Ilmu-Ilmu yang Semakin Kreatif dan Inovatif”

Penulis baru saja tiba di kantor TP. Penyang Hinje Simpei, Pulang Pisau. Sinar Matahari pagi terpantau cerah, masih belum sampai di titik tertinggi. Hawa panas mulai merayap menghangatkan bumi Penyang Hinje Simpei, Kota Pulang Pisau.

Hari itu, Jumat, 6 Juli 2018. Seorang pria menempuh waktu sekitar 45 menit dari rumahnya di desa Gohong ke kantor TP. PHS. Kesempatan baik ini penulis gunakan, bertemu dan berbincang dengan pria Dayak ini. Pria kelahiran 21 April 1980 ini sukses sebagai peternak ikan. Ada sejumlah kolam ikan yang secara berkala siap panen.

Ia lahir di sebelah barat pulau Kalimantan. Tepatnya di Sibau Hilir,  Putussibau Utara Kabupaten Kapuas Hulu. Dipilih dengan perolehan suara yang cukup banyak, ia dipercaya menjadi anggota pengurus Kopdit CU Betang Asi. Usia muda tidak menghalanginya masuk dalam sistem kepengurusan CU. Damianus Kartiman, ia dipanggil. Pembicaraan selama 15 menit terasa cepat berlalu. Berikut petikannya:

Sejak terpilih sebagai anggota pengurus Februari 2018 lalu, perubahan apa yang anda lakukan untuk memajukan konsep pemberdayaan di CU?

Sejak terpilihnya sebagai anggota pengurus Februari 2018, saya melihat perubahan, memajukan anggota komunitas atau kelompok. Memang berbagai masalah, tantangan yang kita alami. Bagaimana merubah pola pikir anggota. Mereka merasa dalam usaha yang dijalankan tidak berinovatif dan kreatif.

Tetapi, kami sudah menjalankan kelompok usaha bersama. Minimal ada 5 orang. Kami terus melakukan usaha-usaha perbaikan. Ada yang tidak pernah mereka lakukan pada tata kelola usaha mereka baik dalam keuangan ataupun pemahaman. Mereka tidak mengetahui usaha mereka, untung atau rugi. Kami juga mengembangkan beberapa usaha di CU Betang Asi baik peternakan, perikanan dan pertanian, itu yang sekarang kami geluti.

Bicara tantangan, tentu dalam proses pengalaman anda baik sebagai pengurus, maupun anda sudah melakukan peternakan ikan. Tantangan apa yang dialami dalam melakukan usaha-usaha pemberdayaan di komunitas khususnya di Kopdit CU Betang Asi?

Tantangan memang ada, waktu saya menjadi peternak ikan. Satu, ilmu pengetahuan kami sangat minim terkait cara budidaya. Kedua, tantangan dalam lingkungan atau  sistem usaha seperti kalau ada banjir, kondisi alam dan juga tantangan lain adalah dalam penjualan.

Anggota kita merasakan hal demikian. Sudah berproduksi tapi penjualannya agak sulit. Tapi, kami terus bergerak memberikan pemikiran-pemikiran tidak bosan kepada mereka, supaya mereka membentuk komunitas yang ada, seperti di TP Betang Batarung Kuala Kurun. Mereka sudah membentuk komunitas pasar, itu yang menjadi tantangan, membentuk komunitas pasar.

Pengalaman selama ini, bagaimana anda bisa menjalankan proses jual beli setelah pasca panen?

Sekarang saya masih melakukan usaha itu, saya terus mengetahui perkembangan pasar. Kedua, kami sudah mempunyai langganan. Bekerja sama dan bermitra dengan orang yang mengambil hasil usaha kami.

Bicara soal strategi, tentu ini berhubungan dengan upaya yang telah dijalankan salah satunya adalah informasi yang lebih banyak, adanya komunitas, pelanggan yang setia. Dalam hal menjalankan pelayanan kepada anggota, khususnya kepada kelompok-kelompok usaha/ kelompok-kelompok tani yang mengarah ke pemberdayaan. Menurut anda strategi jitu apa yang bisa dijalankan?

Menurut saya, terutama dalam usaha. Apalagi kita dalam kelompok usaha di Kopdit CU Betang Asi ini adalah ternak babi. Strateginya, kalau saya membentuk salah satu kelompk yang membeli, adanya komunitas pasar. Kedua, kita harus mempromosikan hasil-hasil dari usaha kelompok ini melalui media sosial, dan kita sendiri yang memasarkan. Saya juga sebagai pengurus selalu memberikan informasi kepada masyarakat kalau kelompok usaha CU ini banyak.

Apakah sudah ada promosi khusus dari kawan-kawan?

Sekarang belum berjalan. Kami sudah merencanakan hal itu dengan beberapa anggota pengurus. Karena nanti ada membentuk satu komunitas pasar dan rantai-rantai, calo ataupun tengkulak-tengkulak sendiri dengan sendirinya putus.

Tantangan kita sekarang masih ada yang mencari keuntungan dari hasil-hasil kelompok ini. Ini yang mesti diputuskan. Kalau ada komunitas pasar tadi. Hal ini bisa di selesaikan dan dikendalikan.

Sisi positip apa yang bisa anda analisa, di tingkat petani/ kelompok yang bisa dikembangkan?

Satu, mereka bisa mendapatkan keuntungan dari usahanya. Mereka mempunyai usaha sendiri, dan tidak mengharapkan dari orang lain. Kebanyakan anggota kelompok kita, kaum perempuan. Mereka bisa  mendapatkan penghasilan sendiri di luar penghasilan suami.

Kedua, mereka sudah bisa merubah pola pikir. Karena di bidang pemberdayaan itu memberikan pendidikan seperti pembuatan pakan secara teknologi baru. Seperti sistem fermentasi dan pakan kering.

Apakah sudah berjalan efektif, banyak di gunakan anggota kelompok?

Sudah, bahkan mereka merespon, ternyata tidak sulit. Kalau dulu cari bakar untuk memasaknya, kalau memberi makan dipanasi dulu. Dapat sempat basi makanannya. Jadi sekarang kalau sudah fermentasi, tinggal di ambil dan dikasih ke ternak.

Berapa jumlah anggota kelompok?

Kalau jumlah orang ... ada 145 kelompok dengan jumlah total anggotanya adalah 941 orang. Ini jumlah di Kopdit CU Betang Asi.

Hal terpenting dalam kerja tim di tingkat pengurus adalah penerapan di tingkat anggota, terkesan lambat dalam mengambil tindakan. Pandangan anda bagaimana?

Kalau yang terpenting dalam koordinasi atau kerjasama dalam tim. Kami sekarang sudah menemukan beberapa hal karena waktu kegiatan monitoring evaluasi setiap TP/ TPK. Kami mendapatkan hal-hal yang harus diperbaiki dan itu dalam hal kebijakan-kebijakan yang belum sepenuhnya dirasakan oleh anggota. Ini juga menjadi PR bagi kami untuk melaksanakan terutama nanti dalam rapat pleno kita akan bahas hal-hal itu.

Kita akan perbaiki dan koreksi lagi. Dalam peraturan terkait kebijakan-kebijakan yang dulu, banyak sekali yang belum direvisi, terutama dalam Manual Operasional (MO)  banyak yang belum lengkap. Sekedar memberi contoh, ada yang menganggap kredit perumahan itu masuk dalam RUKO, barak, berarti mereka mengganggap pembangunan walet itu masuk dalam perumahan, padalah itu usaha produktif. Ada juga yang belum paham terkait tahapan-tahapan dalam pembayaran pinjaman.

Harapan anda ke depan untuk memajukan komunitas pemberdayaan di CU?

Pertama, saya ingin kelompok anggota, komunitas CU ini bisa berkembang dan terus melahirkan ilmu-ilmu yang baru lebih kreatif dan membuat anggota semakin kreatif dan inovatif.

Kedua, harapan saya juga perlu pelatihan-pelatihan yang lebih prinsip lagi kepada anggota supaya anggota tidak tergantung pada keadaan perubahan yang ada, jaman semakin maju, produk-produk anggota jangan tertinggal, harus dipikirkan, bagamana cara memberikan inovasi yang baru  kepada anggota.

Ketiga, saya mengharapkan seluruh anggota CU yang teridiri dari 37 ribu, baru sekian persen. Paling tidak 50-60% yang menjadi anggota kelompok komunitas CU.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, July 12, 2018
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved