Selamat Datang!

Ketika Hidup Malas Menjadi Pilihan

Perjalanan kali ini memang menilik benar. Kehidupan nyata masyarakat di setiap desa yang berbeda tersirat dan tersurat. Antara satu desa dengan desa yang lain berbeda karakter. Pola hidup masyarakatnya tidak sama. Sebagai contoh, allkisah suatu hari saya ikut berkunjung. Bersama teman-teman yang melakukan tugas penagihan.

Penagihan kami lakukan kepada anggota yang lalai dalam pembayaran angsuran pinjaman. Kesempatan baik ini saya gunakan untuk mengamati  berbagai sifat yang secara sadar ataupun tidak sadar di perlihatkan anggota.

Sebagai sumber pendapatan utama saat ini roda ekonomi masyarakat di gerakkan usaha berbentuk penambang emas tradisional. Sehari-hari masyarakat menyebutnya manyedot. Kegiatan ini dilakukan di daerah aliran sungai (DAS) di sekitar desa yang mengandung logam emas. Ironisnya terkadang tindakan ini juga dilakukan oleh anggota CU.

“Apa sumber pendapatan keluarga anda?”, tanya saya.

Perempuan anggota CU inipun menjawab, ia hanya mengandalkan dan menunggu uang kiriman dari suaminya yang bekerja sebagai panyedot. Ia dan suaminya adalah anggota CU TP-BM.

“Apakah tiap bulannya suami anda mengirimkan uang atau seminggu sekali?”, tanya saya kembali.

“Tidak menentu. Iya kalau dalam seminggu ada dapat emas bisa dijual kadang hanya menghabiskan minyak dan berhutang dengan yang menyalurkan minyak kepada para penambang. Dalam 1 bulan terkadang bisa nihil hasil kerja, tergantung tempat atau lokasi kerja kalau beruntung”, jelasnya.

Pertanyaan saya semakin mendalam.

“Apa pekerjaan ibu, saat suami ibu pergi kerja. Selain hanya menunggu rumah?”, tanya saya dengan naik 1 nada.

Kali jawaban dari mulut ibu yang usianya sekitar 45 tahun, membuat saya menarik nafas lebih dalam. Ia menjawab hanya menunggu hasil kerja dari suaminya saja.

“Saya hanya mengurus rumah dan menjaga anak-anak saja,” jawabnya dengan nada datar.

Pertanyaan di pikiran saya adalah, mengapa ia betah saja di rumah. Apakah ia tidak bisa menoreh batang karet yang ada?. Apakah karena harga karet murah?. Ternyata di luar dugaan jawabanya adalah malas untuk menoreh karet, karena harga yang tidak naik. Membuat badan cape saja dan digigit nyamuk.

Saya berfikir ini adalah penyakit mental. Bukan penyakit fisik. Seharusnya ada aktivitas untuk membantu atau mengangkat derajat ekonomi keluarga. Salah satunya adalah dengan membantu suami dan tidak bergantung dari satu sumber pendapatan saja. 

Lupa bersyukur mungkin itu yang lebih tepat dari pikiran masyarakat yang ada. Masih ada pekarangan rumah yang cukup luas jika ada niat untuk bercocok tanam dan berkebun sayur mayur. Tentu hasilnya bisa di jual untuk membantu ekonomi keluarga. Dimana ada niat di situ ada jalan kan?

Jawaban yang hampir sama masih terngiang di pikiran saya hingga saat ini. Karakter anggota CU seperti ini masih banyak ditemui. Ini menjadi tantangan bagi kita semua sebagai penggiat di gerakan Credit Union. Fenomena ini yang mesti di rubah.  Meski bisa dihitung dengan jari, masih ada pola pikir yang bagus karena mau maju dan meninggalkan kemiskinan. Tindakan yang nyata adalah mereka berusaha keras untuk saling topang menopang antara suami-istri mencari nafkah. Tidak hanya bergantung pada suami atau istri saja. Lain halnya jika salah satu memang tidak bisa bekerja lagi karena suatu penyakit atau cacat. Kondisi inipun masih bisa di atasi, ya kan?. Bukan pasrah.

Catatan perjalanan ini membawa kesan mendalam. Sifat dan karakter masyarakat desa yang memang beraneka ragam. Sejuta pertanyaan berkecamuk dipikiran saya. Bagaimana cara kita bisa membangun dan memperbaiki karakter orang-orang malas?. Bagaimana cara dan solusi supaya orang-orang malas mau bekerja dari hasil keringatnya?. Bagaimana....

Inilah pentingnya kita bersama memberikan pendidikan melalui Credit Union. Dalam Credit Union kita bisa mendidik karakter seseorang untuk bangkit dari rasa malasnya. Di Credit Union kita dapat mengembangkan potensi kerja kita dan mendapatkan saluran dana untuk berusaha bangkit dari kemalasan.

Mari bergabung dengan Gerakan Credit Union.

Sumber tulisan: Estie V.K, manajer Tempat Pelayanan Batuah Marajaki.
Sumber Foto: https://images.yourstory.com



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, April 4, 2018
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved