Selamat Datang!

Tatau Ilai: “Kita sama-sama membangun KPD dan kita punya ‘warna’”

Saat saya berbincang dengan pria muda ini keakraban terasa sangat. Berbicara dengan aksen Dayak di sebelah Barat pulau Kalimantan, ia menerima saya dengan ramah pada Selasa (19/09). Tampak sejumlah motor diparkir rapi di depan KPD Tilung, Palangka Raya. Saat saya menuju lantai-2 tempat pria muda ini berkantor, ia masih di lantai-1 memastikan bahwa pekerjaan melayani pelanggan KPD berjalan baik.

Pria kelahiran Pontianak, 8 Juni  1975 ini menjabat tangan saya sembari berucap, “Apa yang bisa dibantu?”. Perbincangan selama ¼ jam bersama Tatau Ilai terasa sangat cepat ketika saya menanyakan pengalaman, mimpi bersama KPD dan strategi yang dilakukan supaya KPD Tilung tetap eksis. Berikut petikannya:

Sejak kapan Anda bergiat  di KPD Kalteng?

Kalau saya, sejak KPD dibuka pada tahun 2005. Saya sempat keluar pada tahun 2006 dan di tahun 2009 kembali masuk, di telpon untuk kembali mengelola KPD. Ketika itu masuk untuk memulai kembali ada 6 orang. Ya … sudah kami mengikuti saja. Sebenarnya kami hanya bantu-bantu saja. Dari proses dulu sejak KPD berdiri awalnya, kami masih punya tanggung jawab moral. Saat itu masih di KPD Rajawali saja. Selanjutnya dibuka KPD Tilung pada bulan Januari 2012.

Dipercaya untuk mengelola KPD Tilung sejak tahun berapa?

Saya tidak tahu tepatnya, tapi setelah 5-6 bulan berjalan di KPD Tilung. Saya dipanggil sama pimpinan, Pak Ethos dan Bu Leani. Saya ditempatkan dan masing-masing pegang 1 swalayan. Ada beberapa kawan yang dimutasi untuk membackup masing-masing swalayan, yang senior juga dibagi dari 6 orang tadi.

Sebutan Anda dan Cici di KPD Swalayan?

Kami disebut manajer toko.

Pengalaman yang paling menarik ketika menjadi manajer KPD Tilung?

Sebenarnya ketika pimpinan distributor datang, mereka sekedar dan lihat kunjungan ke KPD. Kadang-kadang pengalaman kita dengan mereka agak berbeda. Apalagi bahasa-bahasa  ritel yang mereka gunakan tidak terlalu saya pahami. Kalau bahasa umum untuk jual beli, sales dll bisa saja. Karena mereka memang pemimpin distributor.

Kadang-kadang kita untuk menyeimbangkan pembicaraan perlu untuk belajar, terkadang bahasa asing yang dipakai. Saya mau tidak mau belajar dan akhirnya saya bisa. Bahasa yang mereka pakai, seperti bahasa sehari-hari mereka. Ada istilah dagang dll, ada istilah fast moving, slow moving. Secara logika kita belajar, bahasa resign dll, ini perlu belajar.

Berapa lama proses belajar untuk ini?

Tidak lama juga, paling-paling 3-4 bulan, karena sering (dipercakapkan) dan karena ini menjadi masalah (komunikasi) saya belajar. Memang agak beda dengan istilah Inggris ekonomi dengan bisnis retail ini jika dilihat kamus sedikit berbeda. Bisa jadi ini mengunakan bahasa gaul bisnis retail, dipersingkat dan tidak terlalu kaku. Walaupun ada di internet, misalnya kalau ada barang baru masuk ini harus bayar listing dulu. Ini perlu pembelajaran yang baru.

Strategi ke depan bagaimana KPD Tilung supaya penjualan meningkat dan pendapatan juga bertambah?

Kalau untuk barang, penjualan masih rata-rata. Pesaing lain juga barang yang sama. Saya mengutamakan Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi, kalau bisa KPD bisa menggunakan Bahasa lokal, ini menjadi ciri dan menjadi berbeda dari yang lain. Kita berbeda ketika pelanggan masuk menggunakan bahasa lokal. Kalau untuk barang pesaing juga punya bangunan lebih luas, daya tarik lokal ini membuat lebih menarik.

Selain bahasa ada lagi? 

Untuk barang-barang ada juga produk-produk lokal, misalnya kerajinan-kerajinan tangan, gerai UMKM, ini mesti dibuat dan tidak mesti sama dengan gerai yang lain. Kita punya “warna” untuk bentuk fisik bangunan di KPD Tilung sudah terlihat ciri khas bangunannya.

Uniknya KPD Tilung ini kalau ada tamu dari luar, mereka ingin cari souvenir di rekomendaskan di cari di KPD Tilung, karena ini punya orang ‘Dayak’. Jam buka juga lebih malam.

Apakah pasokan barang untuk barang-barang souvenir lancar?

Saya tidak melihat pasti, apakah barangnya terlalu mahal atau model barang kita yang ketinggalan. Apakah karena tas kerajinan ini sama seperti tas-tas umum biasa. Tidak ada nilai yang lebih. Dari segi harga juga mesti di lihat lagi.

Mimpi KPD ke depan?

KPD dapat buka gerai kecil disetiap jalan-jalan strategis. Secara nama kita punya, swalayan bisa kita kuasai di Kalteng.

Anda bagian dari pembukaan gerai baru KPD Swalayan, bagaimana progresnya?

Di tahap awal, kita masih penerimaan karyawan dengan jadwal yang telah ditetapkan dari wawancara hingga pengumuman diterima. Di bangunan yang kita sewa ada 3 ruko yang mesti kita bongkar dindingnya. Hari Senin ini sudah di bongkar, setelah selesai di masukkan instalasi listrik, CCTV dll.

Diperkirakan kapan operasional?

Diperkirakan Nopember 2017 sudah launching.

Barang-barang yang dijual apakah punya ciri khas sendiri di gerai yang baru?

Sama saja dan dilihat apa saja potensi yang dibutuhkan orang.

Harapan anda sebagai manajer di KPD Tilung?

KPD Kalteng tetap bertahan. Artinya pengalaman dulu kita pernah pasang surut, jadi walaupun kondisi masih bisa bertahan melihat kondisi ekonomi 2017 yang tidak stabil. KPD Tilung masih tetap bisa mengimbangi dibandingkan toko-toko lain.

Kita sama-sama membangun KPD, masukan dan kritik membangun tetap jalan. Saya sendiri tidak bisa melihat kekurangan KPD. Berikan kritikan dan solusi yang membangun. Bukan hanya kritik, tapi juga solusi.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis.



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, September 19, 2017
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved