Selamat Datang!

Romo Fredy: “Sekarang Saat untuk Banyak Kerjasama, Membangun System dalam Memahami dan Mengimplementasikan Ilmu CU”

Hidup total dalam CU. Inilah yang menjadi pokok pikiran yang ingin dibagi pegiat CU di pulau berhuruf ‘K’ di Indonesia bagian Timur. Dari Tana Toraja, Sulawasi Selatan ia menyuarakan perubahan  harus dimulai dari diri sendiri, dan harus 100%.

RD. Fredy Rante Taruk, baru saja pulang dari Bangkok, Thailand mengikuti Managing Yourself For Others (MYFO). Romo Fredy, begitu namanya di panggil secara akrab. Pada 10 Juni 2017 lalu ia memberikan pencerahan dan berbagi pengalaman dalam mengelola CU Betang Asi dalam pertemuan Organization Development (OD) selama 3 hari.

Menggunakan kemeja biru bermotif kotak-kotak lengan pendek, Ia menerima penulis berbincang terkait keberhasilan CU Sauan Sibarrung yang dipimpinnya meraih Access Branding dari ACCU Bangkok. Berikut petikannya:

Tentu anda setuju keberhasilan CU Sauan Sibarrung adalah kerja tim. Menurut anda dalam tim ini siapa yang menjadi kompas perjalanan CU itu sendiri?

CU itu kan sebenarnya kumpulan orang yang sepakat untuk memulai sebuah perjalanan kehidupan bersama menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, memang ada orang yang menjadi pemegang peranan untuk mengarahkan, merencanakan, mengambil keputusan-keputusan dan mengimplementasikannya.

Kalau di tanya Sauan Sibarrung memperoleh keberhasilan, itu adalah keberhasilan bersama. Karena tidak mungkin ketika para pemimpinnya itu mengambil keputusan tetapi ia melaksanakan, juga tidak bisa mengimplementasikannya dengan baik, maka tidak akan terjadi sebuah sinergi maka keberhasilan access branding itu adalah bukti atas kerjasama tim secara terpadu untuk bekerja sesuai dengan standar/ kualitas CU yang aman, sehat dan berkelanjutan di dalam jaringan CU tingkat Asia.

Jadi, menurut saya memang tetap para pemimpin mendapat porsinya. Tapi, semua orang yang terlibat secara keseluruhan adalah bagian dari keberhasilan. Maka CU-CU yang ingin mencapai sebuah standar itu harus memaksimalkan fungsi dan kehadiran masing itu secara aktif dan memiliki kontribusi yang memadai. Itu yang akan menentukan keberlanjutan CU dimasa depan.

Kita harus meninggalkan cara kerja di mana CU menggantungkan diri pada figur-figur atau individu yang tentu saja ketika orang-orang tersebut tidak mengambil bagian lagi lalu CU-nya mengalami kemunduran. Dengan system pembelajaran melalui access branding seharusnya CU-CU itu memiliki system dimana, semua komponen terdapat di dalamnya, tentu dengan porsinya masing-masing.

Dengan kata lain Romo menyampaikan kaderisasi itu penting?

Ya, itu sangat penting, karena kaderisasi itu harus dibuat dalam system. Itulah yang merupakan bagian dari kaderisasi. System itulah yang menghasilkan kaderisasi. Tetapi kalau kita berfikir system, otomatis  kita  berfikir keberlanjutan. Itulah yang menghasilkan kader dan itu memang harus diciptakan, tidak bisa tidak.

Anda pernah membuat pernyataan. Inspirasi ini menggelitik aktivis CU. ‘Kita harus 100% untuk mengabdi di CU dan 100% juga mengabdi di pemerintah atau swasta’. Saya pikir ini cukup tajam. Apa dasar pemikiran Romo saat mengeluarkan pernyataan ini?

Setiap orang memiliki waktu 24 jam sehari. Dan setiap orang dalam pengalaman kebersamaan di masyarakat pada umumnya sudah memiliki porsi-porsi keaktifan di masyarakat. Ada porsi-porsi  mengurus keluarga, untuk bekerja secara formal. Kalau dia dalam volunteer CU ada porsi untuk hidup sosial, ada porsi untuk rekreasi, hiburan. Semua ada porsinya dalam 24 jam.

Setiap orang yang mengurus CU harus menempatkan semuanya pada porsinya pada tempatnya maka kalau semua pada porsinya harus 100% semua. Ketika saya harus mengurus pekerjaan saya 100%. Kalau harus mengurus keluarga harus 100%, ketika saya juga harus membagi waktu untuk kegiatan saya di CU itu juga harus 100%.

Jadi konsep konsep 100% adalah konsep pengaturan diri dengan tanggung jawab penuh. Tidak ada tanggung jawab yang disepelekan, dilalaikan dimanapun dia, dan waktu yang 24 jam itu dimaksimalkan pengaturannya. Jadi manajemen diri dan ini yang sekarang banyak di latih di jaringan CU tingkat dunia yang disebut Managing Yourself For Others (MYFO). Ia harus mengatur diri. Kalau mampu mengatur diri, dia akan mampu mengatur kehadirannya di CU dengan baik.

Persaingan ke depan tentu semakin kuat dan tajam. Menghadapi itu apa yang mesti disiapkan oleh gerakan CU untuk tetap bertahan, terutama di Indonesia?

Kalau di tingkat global sudah dianjurkan semua CU-CU itu mengedepankan yang disebut integrasi berbasis informasi dan teknologi. Di kalangan di tingkat Asia sudah didorong dan bentuknya sudah semakin jelas. Maka sebenarnya kalau di tingkat Indonesia kembali orang harus sampai kepada kesadaran itu. Bahwa gerakan ini adalah gerakan yang bekerja sama, berjejaring menciptakan kesatuan, dan menjadi kekuatan juga di tengah masyarakat yang mengandalkan informasi dan teknologi.

Maka CU di Indonesia harus sadar diri itu, tidak boleh  mengedepankan hanya persaingan, bekerja sendiri-sendiri, mengedepankan daerah sendiri. Dia harus mampu bekerja sama. Karena salah satu pendorong adalah menciptakan system yang terintegrasi. Sekarang sudah di rintis sekarang akan ada namanya ACCU Payment Platform (APP) yang boleh di pakai disetiap negara/ federasi.

Dengan demikian setiap federasi diumpamakan satu negara mulai terintegrasi. Mulai dengan sistemnya, informasi dan teknologi di dalamnya pelan-pelan akan terintegrasi juga standarisasi tata kelola, SDM dan seterusnya. Jadi untuk menghadirkan dalam masa persaingan bebas seperti sekarang ini, kekuatan CU adalah kekuatan integrasi.

Prediksi anda tahun berapa Indonesia mencapai itu? 

Itu termasuk hal yang paling sulit karena di kondisi sekarang egoisme masing-masing CU masih tinggi. Proses pembelajaran tidak merata. Masih banyak gap. Dari segi pemahaman, pengetahuan CU, teknik kemampuan kinerja manajemen, teknologi masih banyak sekali gap.

Tetapi, ada harapan karena BKCU Kalimantan menjadi salah satu di bawah payung INKOPDIT untuk memulai membangun system integrasi itu dengan menggunakan APP. Kalau dalam skenario APP ini, diharapkan dalam 1 – 2 tahun ini sudah running. Tetapi persoalannya adalah berapa CU dan berapa PUSKOPDIT mulai mau terintegrasi.

Tetapi BKCUK dalam RATnya di Maumere pada April lalu, telah mengambil keputusan bersama bahwa akan dijalankannya. Jadi dari segi waktu sudah dekat sekali dan itu membutuhkan kerjasama dan  dukungan tentu kerjasama dengan INKOPDIT, dukungannya dan mungkin ada PUSKOPDIT lain yang mau kerjasama dengan bidang itu.

Ada beberapa hal yang mesti diadopsi dari modul pembelajaran di ACCU. Tetapi, memang ada juga yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Pendapat anda bagaimana?

Modul dari ACCU itukan sebenarnya modul/ bahan yang telah diteliti diambil dari pengalaman best practice CU-CU yang kemudian di jadikan sebagai modul. Oleh karena itu 22 modul yang sudah ada di ACCU itu sudah standar itu. Sesuatu yang baik. Tapi penerapannya disesuaikan dengan konteks masing-masing.

Jadi bukan berarti bahan itu kaku. Bahan itu justru lentur disesuaikan tetapi frame worknya. Ada kata yang penting dan selalu, yaitu frame work/ kerangka itu selalu ada. Jadi yang dijaga itu adalah kerangkanya/ frame work.

Soal penerapan itu penyesuaian beberapa item tetapi tidak menghilangkan frame worknya itu cara kerjanya. Sehingga customize atau kontekstualisasinya terjadi di CU. Tetapi kerangkanya tetap mengacu pada best practice. Hal-hal yang prinsipil ada semua di situ.

Dari pemantauan kemajuan CU di tingkat Asia. Menurut Romo sangat dipengaruhi oleh factor apa?

Banyak factor. Pertama, yang paling penting komitmen orang-orang yang terlibat yang bisa kita sebut aktivis, komite. Kalau aktivis-aktivis ini memiliki visi masa depan dan memiliki integritas pribadi untuk dikomunikasikan bersama dalam sebuah kebersamaan maka mudah bagi negara-negara itu membangun gerakan-gerakan CU. Karena kalau mereka sendiri sudah tidak sepakat yang sering terjadi di beberapa negara itu perpecahan, perselisihan. Banyak  federasi, beberapa federasi, antar PUSKOPDIT bersaing. Maka kalau dilihat itu factor apa yang menentukan, yaitu volunteernya.  

Kedua, faktor regulasi pemerintah. Regulasi ini positif akan mendukung proses CU-CU dan keberhasilan di beberapa negara advokasinya dari aktivis kepada pemerintah yang berhasil. Sehingga ada berberapa kemudahan. Lalu fasilitas regulasi yang mendukung terjadinya gerakan CU secara lebih baik.

Kalau kita konteks Indonesia, kita harus bersatu, kerjasama untuk mengadvokasi regulasi-regulasi yang kita butuhkan, sambil membuktikan kepada pemerintah bahwa gerakan seperti ini adalah gerakan yang bagus, positif dan betul-betul meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sisi kesaksiannya harus ada. Sisi dimana masyarakat dan pemerintah bisa melihat bukti nyata bahwa model ini adalah model yang terbaik untuk masyarakat. Tetapi, ketika di banyak negara temasuk kita mungkin banyak kegagalan-kegagalan koperasi. Banyak kesalahan-kesalahan tata kelola. Banyak CU yang bangkrut, lalu menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat dan juga dari regulasi pemerintah juga sangat hati-hati untuk memberikan dukungan terhadap best practice di CU itu.

Di tingkat Asia, penerapan best practice di negara, di Indonesia nomor urut berapa?

Sampai hari ini, orang-orang mengatakan di tingkat pertemuan CU Asia penerapan tata kelola dan kesehatan serta branding ketahanan dan lainnya ada di Korea. CU-CU di Korea Selatan itu 31% penduduknya adalah anggota CU. Dan itu menjadi sebuah gerakan yang sudah menyentuh sampai kepada kesejahteraan masyarakat. Terintegrasi dengan  kebutuhan dan aspirasi masyarakat dan sangat familiar, 31% penduduk menjadi pengguna yang luar biasa, anggota dan pengguna.

Kalau Indonesia masih jauh. Masih harus berjuang. Kalau di level kita masuk di level ketiga, pertama itu di Korea, kedua itu negara Nepal. Di level ketiga itu Indonesia, Filipina. Kalau di Singapura ada beberapa CU tapi lain modelnya. Ada CU di beberapa di negara tapi mereka sangat kecil sehingga ia ikut terintegrasi pemerintah.

Apa pesan Romo bagi gerakan CU di Indonesia?

Sekarang itu saat untuk banyak kerjasama. Membangun system, terintegrasi. Meningkatkan pembelajaran dan kemampuan dalam memahami, mengimplementasikan ilmu CU. Berikutnya, secepatnya membangun integrasi system mulai dari teknologi. Dengan itu, pelan-pelan mempengaruhi standarisasi di semua bidang

Pesan khusus untuk CU Betang Asi?

Dengan OD sudah melihat beberapa kelemahan. Pertama, maka harus segera mengambil eksekusi jangan menunggu kerumitan dalam area itu lama, jadi akut baru mengambil tindakan. Jadi harus segera.

Kedua harus membenahi konsep Strategic Planing. Ke arah mana gerakan ini, hasil apa yang ingin  dicapai, bagaimana mencapainya secara baik dan benar. Bagaimana melibatkan semua komponen secara aktif.

Terakhir, CU ini harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat Kalteng bukan hanya sebagai lembaga menghadirkan diri, tetapi apakah lembaga ini berguna bagi masyakat Kalteng untuk mengangkat harkat dan martabat, meningkatkan pendapatannya dan kesejahteraan. Itu yang akan legitimasi keberhasilan CU di sini.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis.



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, June 19, 2017
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved