Selamat Datang!

Effendi: “Saya Berani Berbicara Saya Sudah Melakukan”

Rambutnya mulai memutih. Janggutnya menjadi penanda bahwa ia menua. Tapi, matanya masih menatap dengan tajam. Belum habis 1 malam berikutnya untuk memahami informasi CU ia mengambil kesimpulan bergabung menjadi anggota sejak tahun 2012.

Pria kelahiran Kota Besi, 30 Oktober 1957 ini sehari-hari dipanggil bapa Novi. Ditemui penulis di Talingke saat mengikuti pendidikan Financial Literacy (FL) pada Minggu (19/3) lalu. Ia bercerita tentang perjalanan hidup setelah menjadi anggota kopdit CU Betang Asi. Berikut petikannya.

Kapan anda mengikuti pendidikan dasar (pendas) CU?

Saya telah mengikuti pendas pada Selasa-Rabu, 30-31 Oktober 2012 di Talingke dengan nomor anggota 800.218.  Fasilitator saat itu adalah AUG Adi Subrata Putra dan Donny. Sekarang saya berdomisili di desa Talingke, Kecamatan Tasik Payawan, Katingan.

Selama mengikuti pelatihan, setelah mendalaminya di hari pertama pelatihan malam itu, sebelum selesai saya langsung ikut bergabung. Kita memahami masalah CU ini adalah membantu orang yang tidak mampu.

Saya juga melihat visi misinya. Berkenaan dengan alam pemikiran, memang tidak mungkin kita minta bantuan dengan orang yang kaya. Kalau kita membantu bantuan dengan orang kaya, otomatis banyak proses. Tetapi, sesama orang miskin ada saling tolong dan bantu membantu, ada kebersaamaan.

Tantangan yang ada temui selama menjadi anggota CU?

Jadi selama itu pertama, memang saya agak kesulitan. Banyak isu-isu yang tidak sesuai setelah pendas. Cuman satu, sebagian banyak orang menasehati. Ada dua jenis nasehat ada yang positif dan ada yang negative. Tergantung dengan orang yang mendengar nasehat apakah nasehat itu menjadi penghalang atau pemacu, tapi bagi saya sendiri nasehat ini menjadi pemacu, karena senang dan bahagia adalah orang itu sendiri, bukan orang lain.

Setelah menjadi anggota mencoba kapitalisasi, sebanyak 5 juta selama 5 tahun. Tetapi, karena menilai semakin cepat semakin bagus, tidak sampai 5 tahun saya melunaskannya. Terkadang saya mencek juga untuk buku yang ada pada kolektor, duit turus termasuk SP/SW-nya.

Perubahan hidup yang dialami, dirasakan setelah menjadi anggota CU?

Perubahan ini memang banyak. Pertama, dulu kerja keras sambil berladang sambil mencari ikan. Sekarang hanya sekedarnya. Kedua, masalah pendidikan anak bisa juga seperti orang (yang punya uang). Saya bisa buat kerja sampingan untuk istri saya, buka warung dan berjualan.

Berapa anak anda?

Ada 2 anak, perempuan semua. Anak pertama sudah lulus SMA dan alhamdulilah bisa saat sekarang bersiap-siap untuk kuliah di Palangka Raya. Ia mengambil kuliah berjenjang karena sudah honorer. Anak yang kedua semenjak kelas 2 SD sudah saya tabungkan TAS. Setelah sampai ke SMP ditarik untuk masuk. Sekarang masih tetap berjalan. Sehingga persiapan untuk masuk SMA, sebagai rencana saya.

Yang satunya anak saya sekolah di Palangka Raya mengikuti sepupunya. Ia sekolah di SMP 6. Tinggal di sekitar jalan Seth Ajie. Karena anak saya mendapatkan prestasi baik selama sekolah, mudah-mudahan dalam ujian ada kelonggaran untuk prestasinya.

Sehari-hari sumber penghasilan Bapak?

Kalau pekerjaan saya tidak menetap. Kadang-kadang bila ada kesempatan cari ikan. Kalau tidak saya akan berjalan untuk melihat pemasukan dari sumber lain. Kadang juga, ada orang yang mau pijat saya pijat. Bila ada yang memberi tanpa pamrih. Bahkan saya berdoa untuk hamil tua dan mandi-mandi secara keagamaan saya dipanggil. Bahkan saya membuat cetakan kue dari kaleng sarden, membuat anyaman rotan pemukul tilam. Tetap ada penghasilan yang saya terima.

Kalau saya mencari ikan pengeluaran kami per bulan sekitar 3 juta. Untuk pemasukan ada 4,5 per bulan. Uang ini untuk menghidupi keluarga saya di Talingke 1 istri dan 2 anak. Saya sekarang ada dengan anak saya yang pertama, jadi cuma kami bertiga.

Adakah pengalaman dari Bapak, supaya kita tetap mampu hidup dan bisa menabung dengan pekerjaan yang tergantung alam?

Saya sering bercerita di lingkungan sekitar rumah. Kita berpikir ke depan. Coba kita pikir kita cari 500 rupiah saja per hari, kita tabung. Kita tabungkan di tabungan. Saya berani berbicara saya sudah melakukan.

Pertama, sebelum saya masuk CU 3 kali isteri saya masuk rumah sakit, saya tidak pernah minta bantuan kepada masyarakat, karena penghasilan. Kadang-kadang hasil mencari ikan dapat 10 kg dapat 5 ribu rupiah terkadang 15 ribu.

Saat ia sakit, ibu saya kaget bagaimana uang pengobatan di rumah sakit. Meraka tidak tahu kaleng-kaleng saya susun di atas dan dibuka dan dijual hasilnya bisa untuk berobat.  Saat istri saya 3 tahun mengalami sakit. Anak saya masih kecil, yang tertua masih kelas 4 SD, yang nomor dua baru bisa jalan.

Sebelum berangkat bekerja, saya harus memasak untuk istri. Jam 9-10 saya baru bisa berangkat. Tiba kembali harus jam 3 dan membersihkan rumah dan lainnya. Saat itu istri saya tidak bisa apa-apa. Selama 2,5 tahun kondisi ini terjadi. Jika tidak dengan cara menabung saya tidak mampu mengatasi.

Istri saya berobat dan masuk rumah sakit, tidak ditemukan penyakit. Di sebut jantungan tidak juga. Saya mencari pengobatan alternative sampai ke desa Petak Bahandang. Hasilnya mereka katakan bahwa hanya 3 bulan usia istri saya, dan siap-siap “ketok paku”.

Saya tidak putus asa. Saya berangkat ke Sampit, saya ambil lagi tabungan. Tiba di Sampit dan mencoba tidak tinggal di rumah. Saya satu bulan tinggal bersama ipar saya. Tapi, sampai satu bulan tidak ada perubahan.

Saya memutuskan kembali ke rumah kemudian datanglah dealer salah satu pengobatan dari Cina. Akhirnya saya bergabung dan ikut dengan menjual tanah sebagai modal. Orang mengatakan saya tidak pandai karena sampai menjual petak. Saya tidak merespon, masalah harta bisa dicari. Ternyata hasil pengobatan dirasakan ada keajaiban. Setelah minum 15 hari ibu saya awalnya tidak bisa berjalan, bisa berjalan. 1 minggu bisa turun dan naik ke sungai untuk buang air besar.

Setelah sehat kami berdua mencari rotan. Orang pun bertanya kenapa bisa sembuh; itulah saya katakan kalau kalian katakan saya tidak bijak, tidak tentu saja istri saya tidak sembuh. Sekarang saya balik balas mereka.

Ada orang yang menolak pengobatan yang seperti saya, akhirnya meninggal karena sakit. Contoh lain ketika ada ibu saya sakit dan kritis. Saya bersama anak istri saya berangkat ke Sampit, beruntung saya ada bawa obat tersebut. Ketika tiba di Sampit, tubuh ibu saya lumpuh sebelah, sudah selama 3 hari.  Hasilnya selama 24 jam, besoknya ibu saya bisa berjalan ke WC.

Pesan untuk masyarakat yang belum masuk CU

Saya katakan supaya dapat masuk CU. Walaupun banyak orang-orang yang mengatakan berbeda kaidah. Saya katakan itu masalahnya tidak ada orang-orang dari CU memaksa kamu. Ini membicarakan ekonomi finansial. Bahagia itu kita yang merasakan. Walaupun ada isu-su terkait kaidah. Tapi sekarang banyak yang masuk kemudian keluar; sekarang ingin masuk lagi.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis.




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, March 28, 2017
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved