Selamat Datang!

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (2)

Kemajuan dari sisi pertambahan asset dan anggota CU Betang Asi menjadi salah satu pengamatan oleh Munaldus. Saat melakukan kunjungan ke Palangka Raya akhir Nopember 2015 lalu. Pentingnya pendidikan yang berlapis bagi anggota harus dilakukan, tidak hanya dilakukan sekali saja.

Salah seorang fasilitator ketika pendirian CU Betang Asi pada Februari 2003 silam mengungkapkan juga CU ini harus belajar mengenai Triple Bottom Line (TBL). Jangan hanya urus uang. TBL ini adalah financial, social dan environmental. Berikut petikan wawancaranya:

Perasaan anda saat berkunjung kembali kantor CU Betang Asi?

Saya ke Betang Asi itu kan terakhir 2007. Saya datang kembali 2015. Sudah cukup lama. Kalau soal gedung tidak banyak berubah yang ada di sini. Saat saya ke Tumbang Anoi. Saya singgah di kantor TP dan TPK. Di situ saya terkejut kantor sudah standar dengan di KP tidak jauh beda.

Saya kira itu kemajuan. Dari segi pertambahan anggota dan asset juga kemajuan. Maju pesat. Biasanya saya menilai dari anggota. 38 ribu anggota sudah dan asset juga bisa dinilai. Kemajuan besar. Penampilan staf juga bagus.

Mundur 12 tahun ke belakang. Anda sebagai pendiri, atmosfer apa yang dialami saat memfasilitasi awal SP dan akhirnya CU Betang Asi berdiri?

Awalnya mereka ragu. Untuk ada Pak Mecer mendampingi. Di aula Nazaret ada Uskup juga hadir waktu itu. Saya bingung dengan adanya kehadiran Uskup. Dulu ada kesulitan, kan ada CU sebelumnya. Itu di 4 buah CU/ koperasi. Kita agak kesulitan lama untuk menyatukannya dan melahirkan nama yang baru.

Seingat saya ada Pak Amu yang menjadi leading. Ia sudah tahu belajar awal. Ia ada gambaran mengarahkan. Kami orang baru. Karakter Kalteng kan harus dipelajari juga. Untuk waktu itu mulus.  Saya sempat katakan kata mereka. Kalian boleh tidak boleh dirikan, tapi jangan salahkan kami, kalau kami ke sini. Kalian boleh ribut, tapi jangan salahkan kalau kami masuk ke sini (Kalteng). Lalu mereka bilang. Jangan dulu. Kalau kami mau ijin nasional juga oke kan.

Pantauan anda sebagai pendiri dan berkeliling di seluruh nusantara, bahkan luar negeri, pembenahan apa yang dilakukan CU Betang Asi ke depan?

Saya tidak bisa melihat ke dalam karena harus Organization Development. Melihat eksekusi visi, misi, nilai-nilai inti, proses kontrolnya dan Standart Operational Operation (STO).  Yang saya baca 2 hari ini dan saya ada ngobrol dengan Pak Yulius dan Pak Sewan. Mereka masih menggunakan istilah TPK itu memang ada ditulis dalam buku kami. TPK itu kan subnya dari TP. Itu model dari pemerintah. Kami di ajari tidak seperti itu. Semua disebut TP.

Jadi yang di atas adalah manajer area. Tapi ia tidak punya kantor. TP punya kantor, ia melayani anggota. Manajer area hanya mengkoordinir. Memperkuat manajer. Mengawasi, fungsi control. Itu yang kami lakukan sekarang. Saya tidak menyarankan dulu, karena di wilayah yang luas ini kan ada 5 kabupaten, bisa 5 area. 1 area bisa membawahi 5-6 tempat pelayanan. Katakanlah Gunung Mas ada 6 kecamatan. Mestinya ada 6 pelayanan. Manajer TP lah yang membuat ia lahir. Itu kami punya sekarang.

Fungsi manajer area selain koordinasi adalah menyelesaikan masalah yang berat yang manajer TP harus diback up. Seperti istilah coaching dan counseling manajer TP biar kuat. Tapi ini harus melalui OD karena menurut saya Kalteng beda dengan Kalbar. Mereka sudah berbagi wilayah. Tapi kalau saya melihat, karena dibagi wilayah mereka cenderung santai. Kecepatan, apa cape-cape gak ada yang merebut wilayah kami.

Kalau kami di sana harus kreatif. Kalau gak orang lain yang mengerjakannya. Kalau mau cepat ia harus manajer area. Misalnya per kabupaten. Area 1 Palangka Raya. Area 2 kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Gunung Mas, Katingan. 1 kabupaten minimal harus buka di setiap kota kecamatan. Sudah rapi  sekali itu. Bisa saja buka di daerah-daerah strategis lainnya.

Sekarang CU Betang Asi (seperti) bermain sepak bola Indonesia. Tendangan jarak jauh. Kalau kami pemain Eropa. Setiap 8-9 km ada kantor TP. Kami rapi sekali. Itu menurut saya. Saya sampaikan kepada Pak Yulius.

Apakah tidak terlalu dekat?

Tunggu saja nanti, ketika wilayah berkembang. Kan kita tahu wilayah berkembang, simpang 3, simpang 4. Dimana orang bertemu. Sekarang pasang dulu kantornya. Kita mengantisipasi 10 tahun wilayah itu harus di kuasai dulu. Maka Keling Kumang agresif seperti Lantang Tipo itu.

Bicara Dayak, sekarang pada masa transisi, antara mempertahankan dan melepaskan yang ada. Peran CU Betang Asi menurut anda, katakanlah dalam konteks lahan, banyak anggota CU yang tergiur melepaskan lahan?

Harus disadarkan. Di omongi masuk dalam kurikulum pendidikan. Kita tidak bisa halangi orang yang punya barang. Kalau kita menghalangi kita dulu tidak mengerjakannya juga tidak bisa apa-apa. Tapi di ingatkan terus menerus, dampaknya bagaimana ke depan kalau tidak ada tanah bagaimana.

Satu-satunya pintu masuk adalah pendidikan. Maka pendidikan tidak boleh yang satu kali selesai 2-3 hari selesai. Kalau kita punya berlapis-lapis, motivasi, pendidikan dasar, penyegaran 1 tahun 2 kali. Setelah rapat anggota, pengurus, pengawas semua ke lapangan penyegaran. Bisa dihadiri 100-200 orang, 2-3 jam, kita putar video, kita siapkan bahannya. Kemajuan dan masalah di jelaskan. Kalau tidak ada tanah bagaimana. Sudah diantisipasi belum.

Kalau masalah saya melihat masalah di Kalteng ini adalah daerah aliran sungai (DAS). Parah betul. Lebih parah dari kami punya. Masih ada di sana sungai yang masih bersih. Di Sekadau. Di sini coklat semua. 20-30 tahun ke depan. Sumber air dijaga oleh tentara dan polisi. Siapkanlah itu. Kami sudah bicara di training-training itu. Sumber air di jaga baik. Karena ini akan menjadi pertumpahan darah. Tidak bisa lagi orang minum di situ. Banjir kapan saja bisa terjadi.

Kami sudah ada pinjaman untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), 300-400 juta. Tujuannya supaya hulu sungai dijaga. Disepakati. Ada 26 PLTMH, ini dikelola oleh kelompok anggota. Yang tersebar di hulu-hulu kampung yang PLN tidak ada. ini ada 1 turbin 20 kk/ orang. Ini bertujuan menjaga lingkungan. Mata air terjaga. Mereka tidak akan menjual tanah karena itu sebagai sumber. Kami sudah mempersiapkan diri dengan Koperasi 77 untuk kerjasama dengan isi ulang, kami sudah merencanakanya.

Harapan anda bagi CU Betang Asi?

CU Betang Asi harus belajar mengenai triple bottom line. Jangan hanya urus uang, memang penting, ngurus sosial juga penting. TBL ini adalah financial, social dan environmental. Itu ada di buku kami. Setiap anggota kita diukur untuk sosialnya. Berapa jumlah anggota di bawah, atas garis kemiskinan. Kalau kita tau dengan alat ukur. Kami sudah pakai sejah tahun 2011. Sekarang semua anggota diukur.

Supaya bisa naik kelas secara ekonomi. Harus jelas. Apa yang dilakukan setelah diketahui. Pendidikan FL, entrepreneurship. Kami sudah ada memproduksi kerupuk. Home industry. Itu dikemas dengan baik. Itu diserahkan pada K-52, kami ada 5 outlet produk dari koperasi ini akan masuk ke outlet, pemasaran gak masalah.

PLTMH ini berkaitan dengan lingkungan. Di ajarkan sebelum makan cuci tangan. Kita baca expired. Apa artinya. Dan kami tidak boleh memberikan pinjaman merusak lingkungan, tebang pohon, sedot emas dll. Ini harus ada kebijakannya. Ini kan untuk masa depan juga.

Sumber Foto: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, December 7, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved