Selamat Datang!

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (3)

Pada dua tulisan sebelumnya, Munaldus mengungkapkan refleksi menuju 40 tahun CU Betang Asi dan perubahan gerakan CU pada masa mendatang. Tulisan kali ini lebih menyorot konsep orang Dayak dalam ber-cu. Walaupun sekitar 30 menit berbincang, Munaldus mengatakan Orang Dayak punya nyali. Ini dibuktikan Damang Batu dalam mengumpulkan orang di Tumbang Anoi.

Berbicara CU, Munaldus juga menegaskan bahwa CU adalah perjalanan perubahan. CU merupakan alat mencapai tujuan. Membangun dan mengembangkan CU harus memperhatikan inculturasi antara kepercayaan (baca iman) dan adat budaya. Berikut petikan lengkapnya:

Sepulangnya anda dari Tumbang Anoi. Apa yang didapatkan?

Yang saya dapatkan kegaguman pada leluhur, Damang Batu.kenapa ia bisa mengumpulkan orang dari seluruh penjuru negeri dan dari benua lain. Banyak orang tidak mau. Tiba-tiba Damang Batu mau. Kita harus bercermin pada dia. Soal keberaniannya.

Ia menyiapkan 1 tahun. Berladang, berkebun singkong, pelihara binatang, untuk persiapan. Itu tidak mudah sebenarnya. Apalagi waktu itu transportasi sulit. Belum ada yang pakai mesin. Saya kira raja-raja lain di Kutai dan lain-lain sebenarnya jauh lebih hebat. Kok  tidak ada nyali. Jadi orang Dayak punya nyali. Kalau saya merasa lemah, saya mengingat orang dulu bisa. Bodoh betul generasi sekarang, semua sudah tersedia. Internet, transportasi gampang, kok lembek. Bagi saya itu sebuah pembelajaran yang hebat, makanya saya ingin menulisnya.

Informasi yang diterima, anda mau membuat buku kembali. Apa latar belakangnya dan infomasi apa yang dituliskan. Judulnya apa?

Ini kan bicara kreatifitas. Saya melatih diri dan kerja dalam tim. Maka saya menulis selalu pakai tim. Kalau saya sudah tua. Ada orang yang melanjutkan. Kalau sendiri bisa. Hebat sendiri. Tapi ini tidak boleh. Ini saya latih mereka menulis.

CU sudah menjadi ikon di Indonesia, semua bilang begitu. Maka orang belajar macam-macam. Bahkan kita sudah menjadi hitungan untuk birokrasi. Saya semalam masuk bursa calon menteri koperasi. Maka saya menulis buku bersama Jokowi dan kawan-kawan. Judulnya revolusi mental. Saya menulis revolusi mental dalam koperasi.

Jadi tanggal 17 Oktober 2014. Sebelum pelantikan tanggal 20 Oktober, kami ada pertemuan peluncuran buku itu. Cuma saya bukan politisi. Saya gak bisa melompat pagar, polisi yang punya itu. Tim pemilihan mencari orang yang paham koperasi. Sebenarnya Roby Tulus, dirujuk pada yang muda. Saya kirim CV ke sana. Tapi sudah masuk bursa saja saya pikir sudah diperhitungkan. Tapi dalam dunia yang begitu aspek politik tinggi.

Buku kami ingin menulis tentang Credit Union Nation Pride. CU adalah kebanggaan bangsa. Ujungnya adalah kami diskusi-diskusi supaya tidak ke situ. Tulis saja CU di tanah Dayak. Tapi itu masih tema belum judul.

Pengalaman kita masuk ke penerbit. Dipertimbangkan oleh penerbit dampak-dampak. Sampai di penerbit judulnya berubah. Penerbit punya hasil survey judul yang laku di pasar. Judul mengenai kemiskinan pertama. Gak laku. Begitu melihat judul kemiskinan. Simpan saja di rak tidak ada orang beli. Itu risetnya Gramedia.

Jadi kalau kita kirim tulisan ke Gramedia. Kalau menurut survey ada rasanya gak oke, anda boleh ganti judulnya. Tidak bisa ngepas. Dia tidak terbitkan. Itu baru tema. Soal judul nanti dulu.

Buku yang ini, CU ditanah Dayak. Ada orang di Jakarta bilang saya saja yang menerbitkan. Bukunya belum jadi. Saya bilang tunggu ini on the spot, masih ada perjalanan di tempat lain. Tapi sudah ada gambaran. Ada 6 buku yang sudah diterbitkan.

Selain Tumbang Anoi, tempat lain yang dikunjungi?

Ada, kami sudah mengunjungi di Tampang Sambas, ada rimba 80 hektar, warisan dari moyang kami. Rimba dengan pohon-pohon yang besar. Tidak boleh diganggu. Ada SK pemerintah sekarang sebagai hutan adat. Saya mau lihat siapa yang punya ide pertama. Kami sudah tahu.

Tokoh-tokoh macam itu. Kami juga pergi ke Sei Utik di rumah betang menjadi perlindungan budaya di Sei Utik, Apay Janggut kami tanya perannya. Mengapa bisa bertahan.  Hari Rabu kami berangkat ke Tampun Juah di Balai Karangan. Ini terkenal seperti Tumbang Anoi. Apa-apa bicara Dayak tentu mulainya dari kampung Tampun Juah letakknya di bawah sedikit dari Balai Karangan.

Kampung Tampun Juah setertinggal Tumbang Anoi, tidak semegah namanya menurut saya. Hari Rabu kami berangkat ke sana. Bermalam 1 malam. Karena ini CU di tanah Dayak. Kami tidak bisa. Di Kaltim saya sudah keliling sampai hulu Mahakam. Saya belum menemukan tempat sejarah yang historis.

Makanya saya sudah menghubungi Dokter Yohanes. Kami mau tulis buku CU di tanah Dayak. Saya minta bapak kontribusi 1 tulisan. 3 halaman. Belum ada jawaban. Kami mau lihat 4 tempat itu dulu. Kesemuanya dihubungkan dengan keberadaan CU.

CU itu sudah pilar pembangunan daerah. Di Kalbar sudah expecially di sebut 3 pilar pembangunan Dayak. Gereja, Dewan Adat dan CU. Itu sudah di deklarasi oleh mereka. Kita memperkuat pilar CU.

Pandangan pribadi anda dan arti CU bagi anda?

Pandangan teologis. CU itu adalah perjalanan perubahan komunitas kita. Kita ketinggalan dari orang. Dibandingkan dengan orang Cina. Ekonomi kita kan masih di agriculture. Sementara orang Cina di pasar. Dirikan hotel, mini market, supermarket. Kita masih di hulu. Belum di hilir. Baru akhir-akhir ini kita mendengar kalau di Kalbar jaman Oevang Oeray dulu di ranah politik cukup membanggakan buat kita.

Maka kami juga akan menulis partai Dayak. Dulu terkenal, tapi mengapa tiba-tiba jatuh. Tapi filosofinya ditemukan di sini. Kalau orang Dayak bicara hidup mati kompak. Tapi berjalan, siapa yang naik dulu, kita tarik kakinya. Kecuali dia dalam urusan kelahi, bunuh membunuh kompak. Tapi kalau bicara maju dan dalam kondisi tenang. Tidak usah katanya, kita sama-sama di sini saja.

CU perjalanan perubahan. Alat kita mencapai tujuan. CU juga hadiah dari Tuhan. Harus kita pelihara. Jangan di sia-siakan.

Angka 40 menjadi symbol perjalanan CU. Mengapa anda suka menggunakannya?

Di buku kami yang pertama atau yang kedua ada di katakan bahwa sebuah organisasi bisnis benar-benar disebut berkelanjutan apabila sudah melewati 40 tahun. Sebelum angka 40 tahun belum bisa.

Keling Kumang itu 40 tahun dibagi dua. 20 tahun pertama 1993-2013 hanya bicara CU.   2013-2033 kami bicara konglomerasi sosial. Jadi kami tidak bicara CU kami bicara group. Sekarang sudah Keling Kumang Group (KKG). Membawahi CU sebagai induk perusahaan, Koperasi 52 bicara mengenai ritel, 5 outlet, ada Koperasi 77 koperasi konsumsi, ada yayasan, ada sekolah. Sebentar lagi kami punya K-100 mengurus jasa dari hotel dll. Jadi koperasi keuangan, konsumsi, produksi dan jasa kita kerjakan. Ini ada mitra yang membantu dari Australia.

Hingga 2033 target pencapaiannya?

Ya. Mulai dari sekarang hingga tahun 2033 kita akan bekerja dalam group. Di waktu pertemuan sebelumnya saya sampaikan, karena kalian (CU Betang Asi) sudah urus KPD baguskan itu tapi jangan lepas. Masih ada lembaga yang menaungi di atasnya. Misalnya Betang Asi group. Di situ ada pengurusnya, manajer.

Yohanes kan tahun depan akan disebut Managing Director di KKG. Ia membawahi semua manajer di kantor. Kalau tidak seenak perut. Apalagi kalau sudah merasa besar. Jadi KKG adalah holding company. Ini mempelajari manajemen holding. Ini adalah konglomerasi sosial.

Ini sudah terjadi di India, Filipina. Mereka sampai bisa mengurus jalan tol, hotel. Ini disebut campuran bisnis. Ini bukan hanya lembaga keuangan seperti sekarang. Kalau kita mau urus masyarakat Dayak tidak bisa pakai satu entitas. Mengembangkan masyarakat Dayak itu seperti militer.

Militer itu kan ada Angkatan Darat, Laut, Udara. Angkatan Darat ada infantry, alteleri, kavaleri. Juga ada sub-subnya zipur dll. Selalu begitu. Tapi tetap di bawah komando militer. KKG seperti itu. Kalau  hanya urus uang saja, akan jenuh nanti. Akan jadi kapitalis. Hanya menghitung untung rugi.

Tantangan terbesar pengembangan di era sekarang menurut anda?

Tata kelola. Good Government-nya bermasalah sekarang ini. Bagaimana menyiapkan orang yang orang patuh pada konstitusinya. Anggaran dasarnya. Periodesasi harus diikuti pengurus, pengawas, manajer.  Maka kalau sudah tahu periodeisasi  mereka harus siapkan orang.  Bagaimana orang diperkuat.  Kalau regulasi naturallah kena semua. Karena CU yang mati semuanya hari ini semuanya berawal dari tata kelola. Tata kelola yang buruk menyebabkan manusianya buruk juga.

Pandangan anda bahwa lembaga yang kuat didukung oleh pribadi yang kuat secara fisik dan mental?

Itu yang saya katakan tadi. Organisasi sesuai orangnya. Maka untuk mendapatkan orang yang baik mulai dari rekrutmen. Ketika sudah rekrutmen yang baik, maka ia bisa di kembangkan. Bisa diasah. Kalau sudah diasah maka tahap berikutnya, letakkan di tempat yang benar dengan orang yang tepat. Tapi kalau rekrutmennya asal-asalan tidak bisa diasah.

Urutannya kalau rekrutmen kan karakter dulu, passion (semangat) baru kompetensi. Untuk kompetensi kan dilatih. Kalau anda pilih parang di pasar. Kita pilih parang yang dibuat dari besi sembarangan, atau spring mobil atau bar chainsaw. Tentu orang orang ambil bar chainsaw. Berarti karakternya bagus. Tinggal diasah pasti tajam. Tidak mudah rusak. Jadi rekrutmen penting. Di tangan orang Human Resource Management (HRM) itu harus kuat.

Bagaimana jika terlanjur rekrutmennya salah, apa yang harus dilakukan?

Dikeluarkan. Cara mengeluarkan. System kompensasi gajih menggunakan Key Perform Indicator (KPI). Target. Ada base salary. Katakan itu untuk kasir sesuai UMP 1,6 juta. Tapi kalau prestasi bagus dia masih bisa dapat variable salarynya 1,5-2 juta. Kalau bekerja bagus dari 1,6 naik sampai 2-3 juta.

Tapi kalau belum, maka di sebut Rajin Malas Sama Saja (RMSJ). Pengalaman kita, ketika menerapkan KPI di tahun 2010. Begitu diterapkan system, 12% staf keluar. Dia tidak mampu budaya baru, perubahan yang baru. Dia tidak mampu dengan mindset yang baru. Keluar sendiri. Tidak sanggup.

Maka harus bicara KPI sekarang. Kami sudah punya toolsnya. Tapi KPI kalau tidak dikawal oleh pengurus, tidak didukung oleh manajer. Tumpul. Karena itu banyak korban. Yang rekrutmen pasti tidak akan bisa bertahan.

Gerakan CU terganggu oleh fraud di internal. Solusi mengatasinya?

Dalam dunia bisnis tidak mungkin fraud itu zero. Gak bisa. Selalu ada. solusinya adalah pengawasan yang ketat. Berikutnya pembinaan. Fraud terjad karena system yang tidak kuat. Control system tidak kuat. Dibiarkan. Lepas. Tidak ada pemantauan. Kan orang tergoda lihat duit banyak.

Pembinaan iman, spritualitas harus kuat. Maka saya tekankan bahwa dalam Amsal orang baik, walaupun rejeki belum tiba tapi bencana sudah dekat. Kalau orang jahat walaupun rejeki tiba, tapi bencana sudah dekat. Ambil saja uang 5 juta, kalau ketahuan dikeluarkan. Orang jahat. Bencana sudah mengenai dia. Ambil 100 juta masuk penjara. Bencana dan rejeki itu apa bedanya. Keduanya sama-sama hilang.

Itu harus diingatkan terus kepada staf yang masih muda. Di tempat kita sudah ada yang masuk penjara. Anak itu kami beri beasiswa untuk sekolah. Saya katakan kalian bisa ambil uang. Tapi kalian tidak bisa ambil otak kami. Saya bisa jamin jika diambil 1 M dalam waktu 2 bulan kami bisa dapat untung kembalikan itu. Tapi kamu akan menikmati nama buruk sepanjang masa sebagai orang jahat.

Kalau jahat. Rejeki menjauh. Saya omong begitu waktu pleno. saya bukan ketua, tapi saya penasehat. Saya 20 tahun menjadi ketua. Banyak keluarkan uang pribadi. Tidak ada gajih. Kadang-kadang punya jasa pengurus untuk menutup kerugian pada staf. Tapi saya tidak berkekurangan. Makan cukup. Anak kuliah baik. Saya percaya pada Tuhan. Tuhan katakan jangan kuatir. Bunga bakung di pelihara Tuhan. Burung-burung di udara tetap dikasih makan oleh Tuhan. Saya tidak takut.

Tapi menurut saya membangun CU konteksnya harus inculturasi. Satu adalah iman. Kedua adat istiadat. Kami punya rumah Betang kantor ada upacara adat di tahun ini kami akan pasang 2 tiang sandung kayu Ulin. Itu tanda kita masuk pada 20 tahun ke dua dari perjalanan 40 tahun. Saya bilang begitu symbol-simbol macam itu penting juga mengingatkan kita.

Bicara tips dari pengalaman anda, bagaimana CU agar sehat, kuat sekaligus besar?

Nomor 1. Self regulation harus bagus. Pemerintah tidak terlalu campur tangan. Kalau CU rusak tidak bisa mati mendadak. Karena tidak bisa disuspent oleh pemerintah. Tidak berani. Seperti bank. Itu bisa dihentikan oleh BI, Menkeu. Kita tidak bisa. Maka kita harus memperbaiki self regulation. Ada kebijakan. SOP. Aturan main. AD selalu dibaca ulang. Kalau perlu diamandemen. Dan dipatuhi bukan hanya dibuat dan dibiarkan.

Nomor 2, adalah dana stabilisasi harus ada. seperti LPS itu berasal dari equitas. Kalau di laporan keuangan ada kolom equitas. Di dalam WOCCU adal SP dan SW anggota jangan dimasukkan. Hanya dana cadangan saja. Itu bentuknya harus dalam bentuk ivestasi keuangan jangka panjang. Seperti deposito di atas 1 tahun.

Jadi tidak ada namanya modal lembaga/ equitas yang dijual. Tidak boleh. Kami punya ada dana stabilisasi 10% dari total asset. Uang ini tdak boleh dipakai oleh pengurus, pengawas, staf. Ini uang hanya boleh dipakai kalau terjadi force majeur. Kerugian yang berat. Kalau likuidasi dan kalau merger. Penggunaan dana hanya di putuskan oleh rapat anggota. Jadi kalau mau masuk CU. Dilindungi gak simpanan kami. Kita tidak dilindungi LPS. Itu kan dibawah Menkeu. Di awasi OJK. Kita dibawah kementerian koperasi.

Self regulasi namanya dana stabilisasi. Stabilation fund. Ini ketentuan dari WOCCU, Winconsin. Kita tidak bisa LPS. Iurannya besar. Maka self regulasi saja. Di lembaga keuangan milik pemerintah. Jadi kalau di tanya bagaimana CU bangkrut. Kembali gak uang kita. Kan ada dana stabilisasi. Itu LPSnya kita.

Dana ini kan untuk menjaga dan mengantisipasi kerugian. Dana likuid kan untuk kewajiban jangka pendek. Penarikan simpanan. Pencairan pinjaman. Operasional kantor. Kalau di PUSKHAT wajib. untuk ban serep. Ini kan seperti ban serep. Kalau kita mau pakai mobil berani gak pakai ban serep. CU tidak boleh tidak ban serap. CU adalah kendaraan menuju cita-cita kita.  Dana stabilisasi adalah harga mati. Seharusnya PUSKOPDIT yang mengelola dan mengatur. Itu wajib ada.

Sumber foto: Rokhmond Onasis

***


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, December 10, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved