Selamat Datang!

Kunjungan Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena (1)

Di penghujung tahun 2015 ini, CU Betang Asi melakukan persiapan rutin. Pelaksanaan RAT di depan mata pada bulan Januari dan Februari 2016 mendatang. Ditengah-tengah kesibukan tesebut CU Betang Asi menerima rombongan tamu dari Kalimantan Barat. Munaldus, Yohanes RJ dan Yuspita Karlena.

Ketiganya datang sebagai penulis buku, sahabat lama dan mitra kerja. Kali ini penulis berhasil melakukan wawancara dan melakukan peliputan. Ada apa dan mengapa mereka mau datang ke bumi Tambun Bungai?. Jawabannya akan pembaca temukan dalam tulisan ini.

Tulisan ini disusun dari interview yang dilakukan penulis pada akhir Nopember lalu. Tulisan di bagi menjadi 3. Pertama, refleksi malam menuju 40 tahun CU Betang Asi. Kedua, sudut pandang Munaldus saat berkunjung kembali ke CU Betang Asi dan ketiga, berbagi pengalaman dari CU Keling Kumang.

Jumat, 27 Nopember 2015 bertempat di aula CU Betang Asi. Sebelum ketiganya berangkat ke Tumbang Anoi. Munaldus memberikan refleksi perjalanan CU Betang Asi menuju 40 tahun. Berikut salinannya:

Terima kasih atas undangannya. Kami datang ingin menulis buku CU di tanah Dayak. Sebuah tema yang sulit. Tapi saya coba untuk merealisasikannya. Itu kemungkinan buku yang ke-8. Buku akan terbit, sedang di Gramedia. Sedang diedit. Ini mengenai kredit lalai. Baca, kalau mau tahu kredit lalai.

Februari 2003 dulu. Februari 2015 berarti sudah 12 tahun. Masih berapa lagi perjalanan (seperti di) Keluaran. 40 tahun. Hitung saja 40-12 ada 28 tahun. Dalam perjalanan 40 tahun. 28 tahun yang akan datang yaitu tahun 2043. Coba bayangkan kita masih hidup tidak. Tergantung dari program kita. Kalau kita programkan masih (hidup). Betang Asi seperti apa?.

Bicara  tahun 2003. Ada uskup di depan. Saya sempat terganggu waktu fasilitasi. Tapi saya harus mengatakan ini dulu pada almarhum Amu Lanu. Ia masih mengawal CU sampai hari ini. Saya kira kita tidak menduga kalau CU ini sebesar ini. Sama dengan CU Keling Kumang. Kita tidak menduga sebesar ini sekarang.

Kalau kita mengurus CU mana yang penting, kualitas atas kuantitas?. Sekarang mana yang penting tangan sama kaki?. Dua-duanya. Kalau begitu kualitas dan penting sama-sama penting. Kalau gak pakai analogi tidak jalan kan. Kita harus bisa memecahkan persoalan ini. Sama penting. Kalau kita tidak bicara kualitas masyarakat kita tidak bisa maju. Kita malas. Kita ngurus sekitar ini saja. Dua-duanya harus jalan. Sama-sama penting.

Pertanyaan kedua. Apakah ada di antara yang hidupnya merasa belum berhasil atau belum sukses?. Kalau anda mengurus CU belum berhasil. Belum puas. Pasti ada, karena manusia tidak tumbuh sesuai dengan potensinya.  Ini tanda-tandanya anda melakukan hal-hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda. Orang itu salah.

Ini tidak akan pernah maju. Itu sebabnya kita berkumpul di sini anda harus melakukan hal yang berbeda untuk mencapai hasil yang berbeda. Kalau kita ngurus lalai tidak bisa turun-turun kenapa?. Berapa KL di sini kalau Tepat Waktu Tepat Jumlah (TWTJ) sesuai perjanjian. Bukan seperti dulu yang penting bayar bunga. Yang penting bunga ditambah angsuran. Kalau standar access gak bisa. kalau TWTJ ini dikali 2,6, sudah ada riset di kami. Fakta ini harus di hadapi. KL yang tinggi.

Waktu saya presentasi saya bilang KL kami tinggi di PUSKHAT.  Lalu teman dari negara lain bilang, kok bisa masih hidup. Mungkin belum waktunya meninggal. Karena CU tidak bisa meninggal mendadak kaya bank. Ia di hentikan operasionalnya oleh BI. Kalau kita tidak. Sampai meninggal benar-benar.

Saya 35 tahun di CU. Sampai pada kesimpulan bahwa 80% kemajuan, kemunduran atau kematian CU di tangan ketua pengurus dan GM.  Atau dua-duanya. Itu presentasi saya di 40 PUSKOPDIT, mereka tidak bicara apa-apa. Karena di INKOPDIT saya jadi anggota pengurus. Saya melihat ketua tidak berani ambil posisi. Pasang badan.  Kalau saya pasang badan. Ambil keputusan. Asal itu benar. Saya mesti tanya dulu. Ini keputusannya. Jalankan.

Saya ingat kami dulu mengambil konsultan bayar 500 juta untuk honor saja yang lain-lain training,  pendampingan 300 juta. Total 800 juta. Semua pengurus, staf diam tidak ambil keputusan. Saya ambil keputusan. Ini harus dijalankan. Siapa yang berkeberatan dengan keputusan ini berdiri dan berhadapan dengan saya. Semua diam.

Kalau ini gagal 800 juta kita tanggung bersama dan dipotong dari semuanya. Karena saya ada dengan Pak Yohanes. Hanya dalam 1 tahun asset kami meningkat 2 x lipat. Sampai 1 T sekarang. Saya bilang, kalau kita tahu itu emas. Jangan takut buat jalan dari perak. Itu kata pepatah. Tetapi 80% di tangan ketua pengurus dan GM. Berani gak pasang badan. Tetapi kalau tidak berani ambil keputusan. Masih diayun-ayun antara ia dan tidak. Apalagi di bawah. Buah kelapa jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau jatuh jauh, berarti di jatuh di sungai, yang lain pasti ikut. Asal keduanya power full.

Pengawas adalah nafas dari pengurus. Karena pengurus hanya tahu isi perut CU itu dari laporan pengawas. Karena pengurus tidak dilatih mengaudit. Saya 20 tahun jadi ketua. Kita buat keputusan hanya dari laporan pengawas. Jadi investasi kepada pengawas harus kuat. Laporan pengawas harus benar-benar.

Klongchan CU di Thailand. Terkenalnya hampir di seluruh dunia. Dimana orang studi banding referensinya ke  Klongchan. Anggotanya 400 ribu lebih. Tiba-tiba kita mendengar tanggal 12-13 Juli 2013 masuk ke Bangkokpost. Buka di internet. Klongchan CU Collaps.  Ada 12 M Baht di bawa oleh pengurus dan manajernya hilang. Anggota tidak bisa tarik simpanan dan 100 anggota membuat petisi. Lapor ke pihak berwajib. Pengawas di ciduk. Masuk penjara sekarang. Ada 11 orang.

Anggota melaporkan pengawas ke polisi karena pengawas dipilih oleh RAT. Anggota menyerahkan sehat pemeriksaan CU kepada pengawas. Dan ini pengawasnya lalai. Di Bangkok. Saya di bulan September ke Thailand. Bertemu satu kawan. Ngomong hampir 1 jam di bis. Ia bercerita lebih dari 5 tahun masuk penjara. Dan semuanya di sita oleh negara. Apakah kita sanggup ngurus CU. Tiba-tiba rumah kita dikasih police line. Semoga tidak sanggup. Jadi 80%  maju, mundur, bangkrut tergantung dari ketua pengurus dan GM. Kalau berdua ini bermasalah. Buah kelapa jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Maka, setiap 3 bulan rapat pengurus lampirkan apakah ketua menabung lancar. Kalau ketua meminjam, pinjaman lancar megembalikan TWTJ. Istri dan anak-anak ikut. Wakil ketua, sekretaris, bendahara. Ditunjukkan. Ini namanya disclosure dalam tata kelola. Pengawas juga begitu. Setiap tiga bulan tidak ada satupun yang boleh macet. Begitu contoh dari kita macet apa yang terjadi. Staf ikut juga. Kalau ketua keras pada diri sendiri. GM saya mau anda disclosure dalam rapat manajemen. 3 bulan sekali. Semua staf harus tunjukkan.  Apakah ini sudah dilakukan.

Maka tidak ada yang berani macet. Saya pernah lihat pengurus macet. Saya berikan 7 hari kalau tidak anda akan kena dis. Ketika dia ngomong harus bagus dulu. Ini masih dilakukan sampai sekarang. Disclosure itu diomongkon di dekritkan, dengan demikian integritas ketua pengurus tidak bisa diragukan. GM juga. Yang lain pasti ikut. Saya bicara pengalaman.

Seperti apa CU Betang Asi 20 tahun yang akan datang?. Apakah masih akan mengurus semata-mata CU saja. Kata David Richardson, WOCCU bilang CU  abad 21 bukan semata-mata menjual produk-produk keuangan simpan pinjam. Tetapi ia harus menyediakan solusi.

Solusi adalah jalan keluar. Apakah masyarakat hanya berhadapan dengan masalah keuangan?. Jawabannya tidak. Masalah yang dihadapi adalah sosial, lingkungan, sumber kehidupan/ income. Jadi menurut saya yang dikatakan David Richardson ini. Keuangan hanya bagian lain. Yang lain adalah koperasi konsumsi. Koperasi produksi. Mata pencaharian utama masyarakat di sini adalah karet, sawit.

Harga (karet) yang berbeda juga masalah. Kan perlu solusi. Tanah-tanah sudah habis. Kita sudah berhadapan dengan 4 musim. Ada tambahan musim asap dan musim hujan. Masalah makin banyak di hadapi anggota. Tanah di serap perusahaan. Bagaimana solusinya.

Menurut saya kita harus keluar dari comfort zone ngurus uang. Kalau mau zona yang tidak nyaman ngurus ritel, produksi, industry, produksi gula dll. Dan ini harus dikerjakan secara kelompok oleh anggota. Bagaimana mendampinginya.

Untuk bisa menyediakan solusi bagi anggota di level 3 atau fase 3 yang dikeluarkan oleh WOCCU disebut aliansi. Contohnya seperti yang terjadi di Philippines dan Buldana Urban Cooperative Credit Society di India. Meraka sampai bisa mengurus jalan tol, rumah sakit, hotel, tekstil, orang jompo, sekolah, universitas. Kalau mereka bisa mengapa kita tidak. Tapi siapa pelopornya harus disiapkan orangnya.

Itu karena persekawanan. Maka di Keling Kumang membentuk KKG. Maka logonya tidak ada CU-nya. Itu sudah group. Kami punya 5 outlet mini market. Koperasi produksi kerupuk, beras, pupuk organic, dll yang dibutuhkan anggota. Sebentar lagi kita punya hotel, koperasi K-100, yayasan, ada SMK. 1 kali masuk 300 anak masuk. Sangat berharap dengan CU. Sebagian besar mereka  sangat miskin. Sama dengan saya 30 tahun dulu. Sama miskinnya. Ini terlalu kok masih ada. Kita sudah di kota ini enak. Turunlah ke lapangan bagaimana miskinnya kita. Kalau kita disini level ataslah. Kalau kita bisa ngurus itu. Kami dapat beasiswa dari Australia 50 orang anak.

Jadi menurut saya agar itu bisa dikerjakan satu-satunya adalah network. Jaringan. Mitra. Cari mitra yang local, internasional yang bisa membantu. Karena kita lemah dalam beberapa aspek. Terutama dalam capacity building. Terutama kalau kita mau masuk jurusan itu. 20 tahun kami punya. Dan 22 tahun kami sekarang. CU Betang Asi baru 12. Separonya. Kita perlu siapkan sumber daya baik-baik.

Mumpung masih muda. Berkaryalah. Kira-kira gambarannya begitu. Kalau kita hanya mengurus CU saja. Di zona nyaman. Kita coba keluar melihat pengurus yang lain. Kita harus ada mitra yang membantu kita. Banyak sekali peluang.

Ingat. Kalau kita punya tujuan dan niat baik dalam Kitab Suci Keluaran. Dari Mesir ke tanah terjanji. Lalu kelaparan. Mereka mulai marah. Tapi tiba-tiba roti Manna jatuh dan burung Merpati berdatangan. Masih gak buah Manna itu jatuh?. Masih. Buah Manna itu ide, gagasan, konsep. Saya biasa begitu. kalau mengerjakan bingung, merenung di pesawat, bis atau WC. Tiba-tiba (mendapatkan) ini caranya, saya catat cepat. Keluar dulu dari WC sebentar. Jawabannya ada. itu buah Manna jatuh. Biar tidak hilang dicatat. Saya selalu bawa buku kecil.

Buah Manna itu ide, solusi, pemikiran. Baru-baru ini kami retret di Cisarua ada Pastor Wayan pernah di Soverdi, kenal dengan Pastor Sunaryo. Saya ada tanya … buah Manna itu masih jatuh gak Pastor. Saya bilang masih sampai hari ini. Kalau kita punya ide mendirikan atau mengerjakan apa.

Saya akan mengakhiri kata-kata saya dari Amsal. Yang tidak setuju terserah. “Orang baik walaupun rejeki belum tiba, tapi bencana sudah menjauhinya. Orang jahat, walaupun bencana belum tiba, tapi rejeki sudah menjauhinya”.

Kalau anda mengurus CU pilih yang mana?. Jadi peliharalah CU ini dengan niat baik. Kerjakan dengan baik. Sekarang fraud angkanya sudah aneh-aneh. Penggelapan. Pencurian. Kalau di Kalbar sudah miliaran. Baru-baru ini kasir. 3 tahun ia mengambil uang. Bisa dibayangkan kemana itu pengawas. Kok tidak tahu. Sekarang sedang diurus polisi. Siapa yang mampu mengembalikan uang itu. Bahkan CUnya sudah bangkrut ada juga.

Jadi sekali lagi buatlah pengawas jika kurang kuat.  Ambil auditor internal. Minta kepada GM.  atau System Pengawasan Internal (SPI) latih mereka bagus-bagus. Maka perbaiki sistemnya. Begitu terjadi konflik di dalam. Duduk bersama bikin aturan dengan baik. Biasanya kalau ada konflik, perselisihan tandanya sistemnya tidak jalan. Maka duduklah kita dan dituliskan. Everything should be written, not written not exist. Segala sesuatu harus tertulis. Yang tidak tertulis sama dengan tidak ada. Begitu kita mengalami kesulitan.

Saya merasa bertanggung jawab juga. Mudah-mudahan doa saya agar CU Betang Asi maju pesat. Dan usul saya harus membentuk group. Misalnya nanti Betang Asi Group. Di bidang bisnis. Siapa yang berani memulai kita belajar di situ. Tidak ada yang tidak berhasil, namanya bisnis. Untung rugi pasti ada. kalau untung terus juga tidak pernah. Kalau rugi terus berarti bego.bongol. Jadi bisnis seperti air laut. Kadang pasang. Tinggi gelombang. Kadang-kadang tenang. Saya pikir cukup. Terima kasih.

Handep Hapakat. Sewut Batarung.

Mohon maaf jika kata-kata yang tidak berkenan.

Sumber foto: Dokumen CU Betang Asi.
***


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Sunday, December 6, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved