Selamat Datang!

Agustinus Alibata, S.Pd, M.Si: “Saya Mengabdi Pada Hati Nurani Saya”

Delapan tahun waktu yang diperlukannya. Pria berumur 40 tahun ini berkomitmen kembali dan membangun tanah Dayak. Ia sempat di percaya sebagai ketua Litbang BKCUK, kemudian sebagai sekretaris pengurus periode 2014-2017.

Dua CU mengusungnya yaitu CU Pancur Dangeri dan CU Daya Lestari. Ia terpilih dan mendapatkan 5 suara. Lebih dari ½ jam ia berbincang dengan penulis di Palangka Raya pada 5 Nopember lalu. Bercerita tentang awal mula ikut CU. Di tahun 1995-lah, ia pertama kali mendengar motivasi CU kampungnya.

Pria kelahiran Karab, Ketapang, Kalimantan Barat, 17 Nopember ini mengakui walaupun pernah bekerja dan berada di Freeport bukan berarti ia mengabdi pada kapitalis. “Saya mengabdi pada hati nurani”, tegasnya.

Agustinus Alibata, S.Pd, M.Si,  itulah nama pria yang beristrikan Lusila Arnila, S.Psi. Ia berkomitmen usai mengambil S-2 di UGM harus kembali ke Kalimantan Barat. Walaupun sudah dikarunia 2 anak, yaitu Theresia Avilla Tumas Delecta dan Benedictus Damar Banua ia tetap menghabiskan 80% waktu, tenaga dan pikirannya di gerakan.

Anak ke 8 dari 9 bersaudara ini berprinsip hidup bukan hanya untuk mencari nafkah. Sebagai lelaki Dayak yang sempat merantau menepis ungkapan bahwa ia bukan  anak yang hilang, tapi anak kandung yang selama ini ada dan selalu bersama. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Anda menjadi sekretaris BKCUK?

Sejak Mei 2015 di Makassar. Di lantik di sana, belum sampai 1 tahun.

Mengapa anda mau?

Sebenarnya ini proses. Saya ketua CU Pancur Dangeri. Selain sebagai ketua CU saya seringkali diminta bantuan oleh teman-teman dari dulu untuk masuk CU-CU primer untuk memberikan pelatihan sebagai fasilitator. Selagi mereka mau berkerja sama dengan kita dan mengundang, kita datang ke CU-CU. Akhirnya BKCUK banyak sekali memakai saya.

Saat itu BKCUK sudah menetapkan saya sebagai ketua Litbang untuk Diklat BKCUK. Saya banyak bantu untuk buat modul. Saat itu wakil ketua Romo Fredy. Ia punya program yang sangat jelas untuk membuat modul dalam beberapa tahun. Sebagai ketua Litbang saya membantu. Kami menghasilkan 10 modul. 4 sudah naik cetak, 6 masih dalam proses penyempurnaan.

Tahun ini dilanjutkan oleh Romo Urbanus. Saat ini kami tidak ada lagi ketua Litbang karena saya menjadi pengurus dan ditangani oleh komite. Kami punya target dalam 2 tahun bisa mencetak 20 modul. 6 modul yang sedang naik cetak direncanakan kita launching di RAT.

Jadi, karena saya sudah sering ikut dalam pergerakan ini, saat di Makassar, teman-teman mendorong untuk maju. Jangan membantu lewat non struktural saja. Diharapkan ide-ide dan waktu saya bisa dipakai. Teman-teman menerima saya dengan baik. Saat saya masuk, dicalonkan oleh CU Pancur Dangeri dan CU Daya Lestari, dipilih dengan 5 suara.

Sekretaris adalah dapur dalam organisasi, kiat-kiat anda supaya organisasi BKCUK dapat berjalan dengan baik sesuai target?

Jujur, seumur hidup saya baru kali ini sebagai sekretaris. Ilmu sekretaris saya dangkal. Tapi, fungsi sekretaris saya ngerti, hanya belum pernah menjalankan tugas sebagai sekretaris.   Dalam perjalanan organisasi, saya sering sebagai ketua.

Saya pernah sebagai Ketua Pelajar Simpang Hulu di Ketapang, Kalbar. Juga menjabat sebagai Ketua Presidium Legio Maria. Sebelum melanjutkan kuliah 1 tahun saya pernah sebagai ketua MUDIKA (sekarang OMK). Sewaktu kuliah di Yogyakarta kami mendirikan organisasi Bujang Dara Kayong (BEDAYONG) dan saya sebagai ketua. Saya juga pernah menjadi Ketua-1 Pelajar Katolik Kalimantan Barat. Di universitas Sanata Dharma saya menjadi ketua HMJ. Juga sempat menjadi Ketua Karya Kerasulan Mahasiswa.

Saat dipercaya menjadi sekretaris sekarang, saya tahu karena dulu sebagai ketua sering berkomunikasi dengan sekretaris. Paling tidak saya ngerti tugas sekretaris. Intinya saya menjalankan sesuatu sebagai yang alamiah saja. Berjalan dengan proses yang ada. Saat ini belum ada gebrakan saya di BKCUK. Tapi saya dapat menjalankan fungsinya.

Alasan anda kembali membangun gerakan CU dari Kalimantan hingga Indonesia setelah sempat menjadi “anak yang hilang”?

Ini cerita yang panjang. Saya sebenarnya bukan “anak yang hilang”.  Anak insafpun tidak. Karena dari awal saya orang gerakan. Saya masuk CU Pancur Dangeri itu bukan tiba-tiba. Saya anggota awal.

Tahun 1995, pada malam motivasi CU pertama di kampung saya, dibawakan oleh Pak Lukas Gembira. Ia berasal dari kampung Bukang bersebelahan dengan kampung saya. Ia berada di kampung saya karena saudaranya ada di kampung kami.

Saat motivasi yang juga dibawakan oleh Pak Mecer saya melihat di kertas plano 1 juta menjadi 2 juta hingga menjadi 32 juta. Pada waktu itu angka 32 juta sungguh besar. Saat itu saya telah lulus SMA. Setelah motivasi saya langsung bergabung tanpa banyak berfikir ini aman, tidak aman. Motivasi itu juga dihadiri tokoh masyarakat.

Sebelum masuk menjadi anggota CU, dulu ada namanya Dana Solidaritas Masyarakat Dayak (DSMD). Masuk itu dulu 12 ribu selama 1 tahun. Sayapun ikut juga. Saat itu kartunya berwarna kuning. Setelah 1 tahun saya tidak ada kegiatan dan saya pergi kuliah. S-1 selama 4 tahun dan saya menjadi dosen di Sanata Dharma selama 1 tahun. Uang di CU tidak saya ambil, dan saya juga tidak pernah nabung. Jadi vakum.

Setelah jadi dosen 1 tahun, saya mengambil  S-2 di UGM. Saya belum kembali ke Kalbar. Tapi saya punya komitmen seusai kuliah saya harus kembali ke Kalbar. Saya mundur sebagai dosen di Sanata Dharma. Hidup mati kembali ke Kalbar.  Pada tahun 2004, saya mulai kembali menghidupkan CU. Saya ke Pontianak.

Saat itu saya belum ada pekerjaan tetap. Tapi saya bekerja di United National Development Programe  (UNDP) yang bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) selama 1 tahun. Saya juga bantu teman-teman di SEGERAK, Bang Djuweng dan lainnya. Saya ikut penelitian dengan mereka. Tapi saya tidak pernah melamar ke SEGERAK. Istri saya juga orang Pancur Kasih, kerja di Pengembangan Ekonomi Kerakyatan (PEK).

Cita-cita saya sebenarnya ingin menjadi pengawai negeri. Sudah 3 kali tes saya tidak pernah lulus jadi pegawai negeri. Bukan berarti saya tidak mau berkarya di sekitar kita. Tuhan punya rencana lain.

Dari UNDP, saya melamar ke Freeport. Walaupun tes bahasa Inggrisnya jauh lebih sulit dari tes masuk pegawai negeri. Saya lolos. Saat tes masuk di Jakarta, saya pikir tidak lolos menurut saya. Ini berhubungan dengan saingan pelamar. Tuhan punya rencana di situ. Akhirnya saya bekerja sebagai fasilitator selama 8 tahun. Tahun pertama saya kontrak. 7 tahun berikutnya saya permanen.

Sebagai fasilitator di Freeport, anda menangani bidang apa?

Pertama Leadership. Kedua Curriculum Development. Berikutnya Training And Assesment, fasilitator calon fasilitator. Jadi fasilitator Freeport nasibnya di tangan saya. Saya yang pegang sertifikasinya.

Selama 8 tahun saya di Freeport saya tidak tinggal di sana. Saya bisa Pergi Pulang (PP). Saya kan 6 minggu kerja, 2 minggu cuti. Jadi selama cuti di Pontianak, Pancur Kasih sering pakai saya untuk fasilitasi. CU Pancur Dangeri rutin langganan dengan saya. Seperti, pelatihan Customer Succses, Problem Solving. Sekalian pulang kampung, kasih pelatihan ke mereka dan senang saja karena saya anak daerah itu.

Saya tetap berkomitmen menabung di CU, karena saya bandingkan di seluruh tempat menabung yang lain, gak ada yang sebaik CU dalam benefitnya bagi kita sebagai anggota. Rumah saya itu nilainya 7M. Maksudnya 7 kali minjam. Itu semua dari CU tidak ada pinjaman dari lembaga lain. Ada pengaruh dari istri saya yang sangat baik mengatur rumah tangga. Baik dari segi keuangan, psikologinya menentramkan hubungan rumah tangga dan lainnya. Istri saya lebih membawa saya dalam gerakan ini.

Sebenarnya jika dilihat gerakan awal saya di UNDP, SEGERAK dan teman-teman saya adalah orang gerakan. Saya menerima apa yang direncanakan Tuhan bagi saya. Walaupun saya berada di Freeport bukan berarti saya mengabdi pada kapitalis. Saya mengabdi pada hati nurani saya. Kalau Freeport melakukan sesuatu yang menurut saya tidak sesuai. Saya tidak akan melakukannya untuk Freeport. Itu prinsip.

Bahkan, beberapa konflik terakhir sepulang saya dari Freeport, menurut saya mereka melakukan yang tidak sesuai hati nurani dan saya mundur. Itu terjadi pada tahun 2011. Saya membuat surat dan mengatakan saya mundur. Banyak hal menjadi “konflik batin” dengan Freeport. Bukan dengan freeportnya tapi “konflik batin”.

Saya disuruh kembali berkali-kali oleh Freeport. Dalam tahun 2012-2013 mereka pakai saya untuk kontraktor, konsultan, membuat modul-modul pelatihan untuk Community Development, dan lainnya. Sebagai konsultan saya jalani. Tapi saya tidak kembali.

Hari ini tadi ada kawan dari Martabe, di Sumatera meminta saya untuk mengisi posisi kerja. Tapi saya tidak. Saya happy, bukan karena uang. Kalau uang jauh lebih besar. Berkali-kali jauh lebih besar. Di sini karena gerakan saya membantu banyak orang. Saya bisa menuangkan ide saya lebih banyak. Konflik batin saya jauh lebih kecil.

Istri anda mendukung keputusan itu?

Istri saya tidak pernah tidak mendukung saya. Saya ke politik ia dukung. Saya dirumah, saya buka usaha. Saat bangkrut berusahapun ia tidak mencela saya. Saya ada di gerakan ini apalagi. Pasti ia dukung. Saya tidak salah memilih istri.

Fase Return Of Investment (ROI) ke Return Of Life (ROL) sudah anda lampaui?

Terus terang. Saat kerja di Freeport itu all out. Itu perusahaan paling baik untuk kita (pribadi). Bukan untuk masyarakat lebih luas.

Apa yang membuat anda menjadi merenung ulang dan menggelitik kondisi itu?

Antara lain memang salah satunya komitmen untuk masyarakat lokal (di perusahaan) itu ada tapi itu ada untuk melanggengkan mereka punya bisnis, bukan hati Freeport itu ada di masyarakat. Ini bagian dari teknik Freeport bisa bertahan, sedikit memberi charity kepada masyarakat. Bukan membuat masyarakat menjadi mandiri. Tapi membuat masyarakat jadi lebih jinak, soft lebih menjaga Freeport juga.

Untuk semua karyawan Freeport yang non staf juga tidak terlalu baik perlakuannya. Untuk staf seperti kami kemana-mana pakai helikopter. Kamar tersendiri, termasuk laundry. Tapi teman-teman yang non staf untuk produksi tidak terlalu baik. Saya juga komisaris dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Kami memperjuangkan mereka. Freeport tidak terlalu happy dengan itu.

Jadi saya bukan anak yang hilang. Karena sejak awal saya ada di CU. Saya pergi karena saya mau sekolah dan bekerja. Bukan karena meninggalkan CU Pancur Dangeri. Setelah saya buka usaha sendiri. Saya banyak waktu kosong. Mereka mengajak saya jalan-jalan ke kampung-kampung untuk memberikan motivasi. Mereka mendorong komitmen saya untuk menjadi pengurus.

Jadi saya tidak hilang, tapi anak kandung yang selama ini ada di sini. Saya anak kandung yang selalu bersama. Tapi kebersamaan itu tidak semua dilihat oleh orang.  Karena orang lebih dominan melihat saya di Freeport. Orang tidak melihat saya kerja di Freeport nabungnya di mana. Saat saya pulang dari Freeport saya memberikan pelatihan juga di masyarakat. Ini tidak pernah diekspos.

Perbedaan antara tempat kerja sebelumnya dan sekarang?

Kalau kita bekerja di dunia perusahaan kita hanya fokus untuk financial. Tapi saya pikir, kita tidak pernah bisa bisa baik kalau hanya memikirkan financial. Kita bisa makmur. Saya secara ekonomi tidak ada persoalan. Saya punya tanah, kebun, rumah, tabungan dan kendaraan. Kalau saya hanya memikirkan persoalan financial saya tidak persoalan. Ada teman yang menawarkan ke British Petroleum (BP) ke Martabe. Kalau untuk cari uang bisa saja. Ada juga tawaran untuk PERUSDA.

Tapi saya pikir, dimensi sosial kita jadi lepas. Saya dapat S.Pd dan M.Si bukan jatuh dari langit ini saya raih dengan berdarah-darah. Salah satu perjuangannya adalah saya dibiayai oleh Keuskupan Ketapang. Tentu sebagai anak Keuskupan ada beban moral, karena saya tidak mampu mengembalikan uang Keuskupan. Tapi saya mengembalikan dalam bentuk aktivitas yang bisa juga menolong orang lain. Salah satunya adalah di gerakan sosial yang memang membantu banyak orang untuk sampai ke kehidupan yang lebih baik. Salah satu tempat yang pas menurut saya adalah di CU. Saya enjoy sekali dengan CU.

Kalau untuk bayaran CU itu tidak seberapa. Paling tinggi saya di bayar di CU sekian juta/ hari. Kalau saya di Aneka Tambang di ICE, sekian juta/ orang. Kalau saya dalam 1 tahun pergi 3 kali itu cukup. Saya konsultan di Kaltim, sekali pergi 40 juta. Tidak perlu saya repot kalau hanya untuk cari uang.

Tapi, sekarang saya menghabiskan 80% waktu, tenaga dan pikiran saya di gerakan. Tanggal merah pun saya tetap fasilitasi. Walaupun itu hari untuk keluarga. Saya ada di Pangkalanbun, Toraja, Surabaya saya bukan kejar duitnya. Kalau kejar duit kerja saja saya di BP, 3 minggu kerja 3 minggu cuti. Saat cuti saya di rumah, duitnya kipas-kipas. Buat apa saya ke ujung samudera. Saya beri pelatihan sampai di Malino, Gowa, Sulsel. Saya pergi ke Ampah, Barito Timur, Kalteng. Saya pergi ke Putak Kaltim. Pergi ke Semarang, Yogya dll. Saya jadi lebih sehat di gerakan ini, tidak pikir badan remuk.

Saya tidak melihat sebagai sebuah beban. Saya menikmati dalam perjalanan ini. Itu bedanya dengan kita bekerja di sebuah perusahaan. Saya sekarang sampai pada freedom of time. Kalau saya bekerja di orang, saya jadi kuli. Tekad saya sejak keluar dari Freeport saya tidak pernah kembali menjadi kuli. Saya merdeka mengatur hidup saya.

Dari sisi persamaan. Apa yang anda temukan di dunia kerja sebelumnya dan sekarang?

Motivasi untuk kita berprestasi jauh lebih besar. Kita dituntut untuk menjadi orang yang profesional. Dalam arti kita bekerja untuk berprestasi lebih bagus. Punya etos kerja yang luar biasa. Tidak mengenal lelah, mengeluh, tidak habis berfikir, habis energi. Attitude harus baik, kinerja harus unggul, penampilan baik.

Dalam gerakan kita mengurus uang masyarakat. Jika tidak dengan kepenuhan hati, jiwa dan raga itu akan hilang. Dalam saya mendampingi CU saya all out karena itu tanggung jawab moral kita. Mau taruh dimana muka kita, kalau setiap tahun ada CU di gerakan kita yang kolaps. Itu kan muka kita. Saya lebih senang melakukan pendampingan ke CU karena barang itu real. Kasih pelatihan saya senang, tapi pendampingan jauh lebih senang. Hasil dari pelatihan kita susah kontrol, tapi dilanjutkan pendampingan, kita akan tahu hasilnya. Saya punya standar.

Motto hidup anda?

Servus Dei et Homini, melayani Tuhan dan sesama. Dari dulu saya sudah punya (motto) ini. Prinsipnya hidup bukan hanya untuk mencari nafkah. Kalau segala sesuatu untuk mencari nafkah kita akan terdorong untuk mengejar uang. Tapi bekerja untuk memuji dan memuliakan Tuhan serta bermakna bagi banyak orang, bangsa dan negara.

Harapan anda untuk gerakan CU di Kalimantan hingga Indonesia? 

Suistainable. Saya takut gerakan ini menjadi tidak suistainable. Itu menjadi konsen saya. Saya bertemu dengan CU-CU primer dan memastikan CU itu sehat. Termasuk CU Pancur Dangeri. Bukan CU besar tapi CU sehat. Kecil tapi sehat. Besar boleh tapi sehat.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis





Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, November 10, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved