Selamat Datang!

Mahdalena Antisa, SE: “Kita Bisa Membina, Menghasilkan Anggota Berkualitas”

Menjadi anak bungsu dari 9 bersaudara tidak membuat sosok perempuan muda ini menjadi tidak mandiri. Tahun ini usianya baru menginjak 25 tahun. Perempuan Dayak kelahiran Tumbang Manjul, Seruyan 16 Januari silam menceritakan kepada penulis di Palangka Raya Kamis (3/9), bahwa CU EPI adalah sumber kehidupannya.

Belum sampai 2 bulan ia dipercaya menjadi manajer kopdit CU Eka Pambelum Itah, Sampit. Dengan segala dinamika yang terjadi di CU EPI ia yakin dan mampu mengatasinya bersama pengurus, pengawas dan teman-teman yang mendukung.

Anak dari Leprain Pantau (ayah) dan Tresia Mini (ibu) ini menceritakan bahwa pemahaman anggota yang masuk CU EPI harus di tingkatkan secara kualitas bukan hanya kuantitas. Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Sejak kapan anda dipercaya sebagai Manajer CU EPI?

Sejak 30 Juli 2015 dan berjalan mulai Agustus 2015.

Bagaimana  ceritanya sampai anda mau dan bersedia dipilih?


Kalau mau dan bersedianya, saya ditunjuk pengurus. Menurut pengurus saya sudah pilihan terakhir yang bisa. Sejak 13 Desember 2007 sudah menjadi anggota CU EPI dari wilayah Bangkal, Seruyan.

Sejak anda menjadi anggota dan terlibat di manajemen, dari pantauan anda, tantangan apa yang terbesar dihadapi CU EPI?

Yang paling utama adalah dari manajemen. Soalnya kalau manajemenya bagus tentu pengembangan ke masyarakat tentu akan baik. Tantangan terbesar adalah pengembangan manajemen.

Sejak tahun 2007, teman-teman seangkatan kerja anda masih aktif?

Ada 1 , walaupun sempat keluar tapi masuk lagi. Yang dibawah saya ada tinggal 2. Selebihnya staf baru semua.

Bagaimana strategi yang anda lakukan untuk merecovery CU EPI sekarang?

Yang pasti, dari dalam dulu. Baik manajemen, pengurus dan pengawas. Pengembangan dan pembelajaran tentang CU harus lebih dalam dulu. Baru bisa menjelaskan keluar kalau sudah dalam. Yang terberat kan di situ. Manajemennya masih banyak yang belum tahu tentang CU. Ditanya tentang CU masih menjawab dengan kebingungan yang pasti, pengembangan kapasitas dari manajemennya.

Anda salah satu perempuan Dayak yang dipercaya memimpin di posisi strategis di CU Kalimantan, bagaimana perasaaan anda?

Kalau saya dibilang senang itu tidak, soalnya ini adalah pekerjaan berat, apalagi dalam kondisi CU EPI seperti ini. Tantangannya tentu banyak dan berat. Apalagi posisi saya sebagai perempuan, kalau perempuan kan banyak berfikir memakai perasaan, untuk mengambil keputusan harus mengambil perasaan ini dan itu.

Beda halnya dengan laki-laki mungkin lebih …. Kalau perempuan mengambil keputusan yang ini bagaimana perasaan yang itu. Contohnya adalah bagaimana pemindahan staf, rolling dari TP-A ke TP-B, semacam itu yang memang berat. Belum lagi menghadapi yang melanggar-melanggar aturan. Kemudian, aturan yang sudah dibuat tidak dijalankan. Aturan sudah baik-baik di buat ada yang merubahnya. Merubah pola lama menjadi pola bagus itu yang susah.

Dari satu sisi itu adalah beban menurut anda, tapi anda tentu mampu mengatasi itu semua bersama tim anda?

Mampu, selama pengurus, pengawas dan teman-teman masih bisa mendukung.

Bersama tim anda tentu akan melakukan perubahan, prioritas yang segera di jalankan terhadap CU EPI?.

Terutama yang pasti, akan ada audit dan hasilnya harus diperbaiki. Setelah audit ada monitoring dari BKCUK hasilnya harus dijalankan, apa yang memang kurang, yang perlu ditambah, yang sudah ada diperbaiki. Audit akan dijalankan bulan ini. Akan kita lihat rekomendasi dari orang yang lebih tahu dulu. Kalau kita mengambil langkah sendiri tanpa ada bimbingan orang yang lebih tahu dulu. Kita akan tahu hasil dari audit BKCUK.

Pendapat anda tentang, kualitas anggota lebih penting dari semata-mata mengejar kuantitas anggota?

Pasti. Memang, kualitas memang harus. Yang jadi kendala di kita (CU EPI) kenapa anggota, banyak masuk, tapi banyak juga yang keluar. Intinya di penjelasan kita untuk anggota. Artinya anggota tidak berkualitas. Percuma banyak masuk tapi juga banyak keluar. Pemahaman anggota belum ada tentang CU EPI.

Contoh kecil, anggota mengajukan (kredit) ditolak, akhirnya keluar. Ini yang memastikan kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Memastikan pendidikan (kualitas) lebih penting.

Harapan anda untuk CU EPI?

Pasti harapannya untuk kemajuan ke arah yang lebih baik. Kita bisa membina anggota dan menghasilkan anggota yang berkualitas. Selain anggota juga, manajemen di dalam harus kuat. Penguatan di dalam mungkin lebih penting.

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, Anda memandang CU EPI sebagai apa,?

Sumber kehidupan. Soalnya penghasilan dari situ (CU EPI). Apa yang sudah didapat selama ini, dari kuliah saya sekolah dari usaha sendiri hingga mendapatkan gelar sarjana, motor,  membantu keluarga dan lainnya.

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Friday, September 4, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved