Selamat Datang!

Gimmak Bulinga, S.Sos: “Orang Harus Tahu Bahwa Saya Dayak”

‘Bergayalah seperti aliran air, tapi berprinsiplah seteguh batu karang’. Ungkapan ini akan cocok dalam kondisi saat bekerja di lembaga apa saja. Bisa jadi terangkum dalam satu kata yaitu ‘inovasi’. Pernyataan ini senada terungkap kembali oleh pria yang penulis temui seusai rapat pengurus di kopdit CU Betang Asi pada Sabtu, 25 Juli 2015 lalu.

Usianya baru menginjak di 42 tahun. Pria Dayak kelahiran Tumbang Manggu, 11 Januari silam. Pernah bekerja di HPH Dwima Group selama 15 tahun. Ia mengatakan sempat berhenti, namum dipanggil kembali oleh manajer perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan.

Aktif di lembaga gereja dan organisasi lain, tidak menutup niatnya untuk berbuat lebih nyata di kopdit CU Betang Asi. Terpilih sebagai pengurus periode 2015-2017 ia menceritakan semangat dan berharap persaingan di CU sebagai tolak ukur berbuat bukan untuk saling menghianati.

Bergaya sangat Dayak dan menyukai gelang etnik, pria beristri Rium Saneli dan ayah dari Ogie dan Reka, keduanya lelaki. Ia bertutur dengan ramah. Berikut petikannya:

Mengapa anda mau masuk dalam kepengurusan CU Betang Asi?
 
Sebelum masuk sebagai anggota pengurus, pertama-tama saya ingin menyampaikan awalnya saya masuk anggota CU. Di pertengahan 2008 saya memandang CU tidak simpatik. Ini disebabkan pemahaman dan informasi yang keliru. Ada sepupu saya yang masuk anggota CU dan ingin pinjam tapi tidak dikabulkan. Saya mendapatkan informasi sepihak. Setelah saya mengetahui prosesnya. Saya salah menilai.

Di tahun 2009 saya tertarik dan masuk menjadi anggota CU. Mengikuti pendidikan dasar, sekarang pendidikan CU. Saat itulah saya merasakan ada harapan. Selanjutnya saya meminjam pertama kali dan merasa sangat diuntungkan.

Proses keanggotaan terus berjalan. Saya melihat CU dalam menjalankan program “kurang pemahaman” dalam pelaksanaan di lapangan saya ikut mengkritisi kebijakan-kebijakan menurut pemahaman saya setelah mengikuti pendas kurang tepat. Semakin banyaknya mengikuti kegiatan-kegiatan di CU, saya diberi kepercayaan. Saat pertemuan di Palangka Raya saya dikirim.

Sewaktu ada informasi pergantian pengurus saya diberikan masukan oleh teman-teman aktivis di TP Batu Lampang, Telok.  Beberapanya adalah Pendeta Agus dan Heri sebagai koordinator TPK Tumbang Manggu, supaya saya mengikuti pemilihan ini. 

Awalnya saya membayangkan, kalau hanya ikut karena orang saya merasa kurang afdol. Akhirnya saya ikut terlibat. Dari sisi perasaan ikut terlibat tanpa berbuat juga percuma. Saat ada momen untuk berbuat ini dan mengikuti prosedur pemilihan. Sebagai anggota CU, rasanya kurang puas. Menurut saya jika ikut sebagai pengurus maka saya ikut terlibat dan berbuat. 

Saat saya presentasi sebagai calon pengurus, merasa tidak yakin. Saya hanya membawa selembar kertas yang isinya tanggal saya masuk anggota dan nomor buku anggota. Ternyata dalam fit and proper test kurang lebih ¾ jam pertanyaan yang diajukan tidak mengenai tanggal berapa masuk, nomor anggota dan lainnya. Malah, yang ditanyakan terkait organisasi yang saya ikuti.

Waktu itu saya aktif dalam kepengurusan gereja. Saya masuk pada periode kedua sebagai wakil ketua II BPH Majelis Jemaat di Calon Resort. Dalam aturan sinode di Pontianak tidak boleh 2 kali berturut-turut maka saya beristirahat. Artinya, sebagai pengurus, saya bisa terlibat dan berbuat. Percuma terlibat kalau tidak berbuat. Masalah hasil waktu akan membuktikan dengan niat.  

Apa saja yang anda buat selama ini?

Untuk yang sekarang saya tetap mengajak calon anggota supaya ber-CU. Saya mengatakan CU adalah harapan dan masa depan kita. Setelah saya dilantik sebagai pengurus sedikit banyak saya harus mempunyai dasar-dasar mengajak orang ikut, tidak hanya asal mengajak.

Dulu saya mengajak berdasarkan rasa simpati, tapi bisa menyalahi aturan. Tetapi perbedaan sekarang saya kembali ke calon anggota atau masyarakat yang belum ber-CU saya ajak mengacu dari pendidikan yang telah diberikan CU. Saya memberi pemahaman bahwa CU itu bukan bank. Di masyarakat CU itu disebut dengan istilah bank Dayak. Saya mengatakan bahwa CU itu berbeda. 

Selanjutnya saya juga memberikan masukan-masukan dan pendekatan-pendekatan anggota di TPK Tumbang Manggu. Ditujukan kepada ‘eks’ aktivis yang awalnya baik, sekarang terbeban masalah kredit lalai. Saya melakukan pendekatan, kalau memang masalahnya pribadi saya abaikan, tapi jika masalah kelembagaan CU, mereka menganggap dikucilkan karena lalai. Sedangkan faktor lalai ini banyak bisa karena kemampuan untuk membayar tidak mampu. Tapi ada juga yang seolah-olah tidak mampu. Saya melakukan pendekatan ke orang-orang ini supaya bisa kembali dan tidak merasa dikucilkan.

Saya juga bertanggung jawab sesuai bidang yang diberikan dalam pengurus. Saya dibagian kredit dan pemasaran. Saya mengikuti proses rapat, dan memberikan masukan pada proses perkreditan. Terus terang, bayangan saya sebelum masuk pengurus, tidak ada mengenai masalah kredit. Ternyata setelah pembagian tugas saya dipercayai menangani hal itu dengan wakil ketua II. Kesan saya selama ini, ternyata analisis kredit sangat menentukan untuk kredit lalai. Jika kita salah analisis maka akan rawan terjadi kredit lalai.

Saya juga merasa perlu ilmu yang lebih untuk ini. Anggota  menjadi sebagai pemilik abadi dan citra lembaga ke depan, supaya tidak putus di tengah jalan. CU tetap ada setelah saya dan anak saya dan menjadi abadi.

Sebagai sosok baru duduk di kepengurusan. Bagaimana anda mengelaborasi antara pengurus lama dan baru?

Saya beradaptasi. Dari 3 anggota pengurus yang baru saya yang paling baru. Pak Neves dari pengawas. Pak Yulius pada periode yang lalu ikut mendaftar menjadi pengurus, tapi tidak masuk.

Sebagai orang baru, saya harus banyak belajar UU Koperasi, bagaimana mendekatkan dengan sistem CU. Istilahnya hanya karena mengadopsi UU koperasi. Dalam rapat-rapat pengurus banyak mendengarkan dan mencoba memasang telinga lebih jeli. Juga dari hasil rapat-rapat awal saya tetap memberikan saran dan pendapat. Dalam rapat pengurus suara kita semua di dengar tidak ada istilah dominan ketua atau sekretaris.

Sebagai orang baru saya juga harus banyak belajar dengan melihat, mendengar dan berbuat. Saya juga banyak bertanya kadang-kadang dengan manajer-manajer saya tanya ini dan itu. Saya juga melihat pengurus bukanlah yang paling hebat tapi kami di beri kesempatan untuk menahkodai.

Saya merasa sebagai orang baru yang terpilih sebagai pengurus secara aturan kurang lebih 6 bulan dari persyaratan. Terlibat selama 5 tahun 6 bulan sebagai anggota. Saya merasa sebagai suatu hal yang sangat berharga. Kesan awalnya dengan CU walaupun tidak bagus. Tapi saya terlibat, bisa berbuat dan saya bertekad menyumbangkan hal yang terbaik. Saya menjalin komunikasi baik dengan pengurus dan manajemen.

Harapan anda supaya CU makin eksis dan berkembang baik?

Pertama, CU benar-benar abadi. Artinya CU sebagai suatu lembaga yang benar-benar ber-CU bukan mirip CU, harus maju tanpa menyingkirkan lembaga-lembaga lain.  Adanya persaingan sebagai tolak ukur berbuat bukan untuk saling menghianati.

Harapan lain, CU biarlah semakin bertumbuh makin tinggi, tapi tidak menjatuhkan yang lain. Harapan yang paling utama, CU mampu mensejahterakan masyarakat “anggota CU”. Artinya CU bisa membuktikan bahwa kesejahteraan bisa kita dapatkan dengan ber-CU.

Jika kita lihat di sisi perkotaan mungkin kalangan menengah dan agak ke bawah sedikit. Tapi kalau di pedesaan betul-betul kalangan bawah. Mereka inilah sasaran yang maju dan berdiri semakin tinggi sejahtera.

Penampilan anda suka bergelang Dayak dan ada tato Dayak, alasan anda?

Pengalaman saya, kenapa saya suka bertato. Kalau saya bilang ini adalah “kecelakaan” waktu saya sekolah SMP-SMA. Saya dari 13 orang bersaudara kandung, yang bertato saya sendiri. Saya bertato karena pemahaman saya dulu kalau orang Dayak pasti bertato, sayangnya tato saya bukan ciri khas Dayak.

Saya bergelang, karena saya ingin menunjukkan identitas. Semenjak saya berkerja di perusahaan, saya ikut organisasi-organisasi sering ditanyakan, ‘kamu orang mana?’. Karena itu saya berkata orang Dayak Kalimantan Tengah dan berciri gelang lilis lamiang ini. Dan ini masalah budaya bukan agama. Kalau diikat untuk prosesi itu berbeda. Ada yang memakai kalung dan menggunakan gaya ritual khusus.

Orang harus tahu bahwa saya orang Dayak, karena dalam setiap pertemuan baik CU atau di luar. Pernah orang mengatakan saya orang Jawa, orang Batak, dari forum kata-katanya saya orang Batak, tapi saat saya berbicara di depan orang menyebut saya orang Jawa. Padahal saya orang Dayak tulen dan tidak ada sangkut pautnya.

Di mana saat ini anda bekerja?

HPH Dwima group sekitar 15 tahun. Sempat keluar 3 tahun dan masuk kembali pada tahun 2014. Saya diajak oleh manajer untuk bergabung. Padahal saya terbentur sebagai pengurus, tapi ada toleransi dari 6 hari kerja ini.

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis






Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, July 30, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved