Selamat Datang!

Milodi, SH: “Yang Dikatakan Harus Merupakan Bagian Dari Yang Dilakukan”

Tiga puluh tiga menit berlalu begitu saja. Waktu terasa sangat cepat saat penulis melakukan diskusi 4 mata dengan pria dari 1 anak ini. Dari isu tantangan, strategi, lingkungan hidup, prinsip dan harapannya bagi gerakan CU.

Jumat siang, 26 Juni 2015, Milodi, SH nama pria yang  bersedia menemui penulis di ruang kerjanya. Kantor Kopdit CU Sumber Rejeki yang terletak di jalan K.R. Soesilo RT.33 Ampah Kota,Barito Timur terlihat megah saat penulis masuk dan menuju lantai dua. Tempat pria kelahiran Sanggu, 25 Januari 1972 ini sudah menunggu.

Suami dari Rama Rejekini ini dipercaya kembali sebagai GM Kopdit CU Sumber Rejeki periode 2015-2017. Ia menegaskan bahwa upaya memperbaiki ini dimulai dari diri sendiri dan memberi teladan yang baik. Ia berprinsip yang di katakan harus merupakan bagian dari yang dilakukan. Berikut petikan diskusinya:

Sejak kapan anda menjabat sebagai GM?

Sejak tahun 2013-2015, kemudian terpilih kembali 2015-2017. Pemilihan dilakukan oleh pengurus  dengan menggunakan prosedur yang benar dan system yang sudah berlaku di CU dengan mempertimbangkan kemampuan dari seseorang dan dituangkan dalam Surat Keputusan Pengurus. Masa 3 tahun dapat diperpanjang jika berprestasi dan dianggap mumpuni.

Tantangan terbesar yang dihadapi CUSR sekarang?

Tantangan terbesar adalah bagaimana memperbaiki sikap, perilaku internal yang tidak ideal di dalam praktek ber-CU sesuai dengan harapan CU sejati. Perjuangan terberat yang harus dilakukan adalah bagaimana menata ulang. Menata kembali awalnya  dan menata yang sedikit bias dari rel yang utama.  Setelah saya membaca, mengamati tulisan orang-orang dan pembelajaran di mana-mana bagaimana CU dikelola. CU SR ada bagian tertentu yang mesti di kembalikan ke rel tepat.

Strategi anda untuk mengembalikan ke rel tepat?

Terus terang, pekerjaan itu tidak mudah, karena selalu berdekatan dengan budaya, kebiasaan-kebiasaan lama. Melakukan perubahan itu memerlukan proses tidak serta merta selesai. Karena, bagaimanapun juga persoalan kita memerlukan konsentrasi, keseriusan dan keteladanan dari siapapun didalamnya.

Untuk mengembalikan kepada posisi yang benar  dan mendekati ideal merupakan perjuangan yang berat. Karena, banyak pengaruh dari sekeliling, seperti budaya, tindakan, perilaku yang “agak terlena” dalam situasi. Bahasa sekarang yang dipakai adalah zona nyaman terusik ketika ada upaya untuk memperbaiki sesuatu, adanya perubahan.

Zona nyaman saya selama ini sebagai GM, tentu fasilitas yang melekat di diri sudah ada. Orang sering katakan tidak ada GM kalau tidak ada mobil. Padahal, saya pakai motor dan saya belum punya mobil.

Ada beberapa rekanan yang lewat (kantor) dan berkata, GM-nya tidak ada padahal saya di dalam  Ketika berkomunikasi dengan saya ia kaget  beberapa minggu yang lalu saya katakan saya sudah di kantor. Ia bertanya, kenapa anda sebagai pimpinan kok tidak punya mobil. Saya katakan itu tentu kebutuhan, namun “belum saatnya” karena saya sadar bahwa sederhana itu tidak harus melarat.

Mengelola CU sebagai lembaga keuangan,  pendidikan dan pemberdayaan, tidak boleh bagi saya orang melupakan keserderhanaan, namun jangan sampai melarat, sampai mati kelaparan. Upaya memperbaiki ini dimulai dari diri sendiri dan memberi teladan yang baik.

Yang saya katakan harus merupakan bagian dari yang saya lakukan. Agak aneh jika saya mengatakan silahkan anda ke lapangan untuk tagih ini. Tapi, saya sendiri ongkang-ongkang kaki, gehek-gehek, main itu, main ini. Tapi, kawan pontang-panting di lapangan. Gaji di terima di awal atau di akhir bulan. Itu tidak benar bagi saya.

Tentu kita sepakat bahwa, dimana-mana tempat keteladanan penting. Ini ditopang oleh profesionalisme, keterampilan dan tidak mengesampingkan nilai-nilai serta prinsip CU yang sudah dari awal begitu adanya.

Bicara tentang perubahan, target waktu anda kapan?

Untuk CU Sumber Rejeki, memang ada pengalaman buruk dan ini memang tidak mudah. Saya katakan kepada kawan-kawan, jangan saling menghakimi tapi kita cari solusi. Kalau menghakimi mudah, si-A salah si-B salah tapi solusi yang ditawarkan apa?.

Bicara soal target, CU Sumber Rejeki waktu RAT BKCUK di Surabaya saya ditantang bersama CU-CU lain. CU Sumber Rejeki di access pada tahun 2017. Menurut teman-teman internal itu masuk akal. Siap atau tidaknya saya di akhir cerita nanti minimal punya target itu harus dilakukan. Soal dapat perunggu, dapat kayu dan lain-lain itu belakangan.

Selain komitmen BKCU terhadap CU primer tentu CU primer harus berjuang habis-habisan dan mest diperbaiki dari sisi atas dan bawah. Target-target internal tentu dengan memperbaiki dan mempersiapkan tata kelola. Betul, setelah kami melakukan Organization Development (OD) memberi warna tentang bagaimana berupaya untuk keluar dari masalah  kita.

Langkah kongkrit yang anda lakukan hingga 2017?

Tentu, sekali lagi mengemas tampilan. Access Branding itu kan banyak  aspek, yang paling sederhana misalnya soal desain kantor. Belakangan desain kantor CU Sumber Rejeki  ketika membangun baru sudah tidak bergaya klasik dan sempit seperti ini. Sekarang sudah mulai diperlebar dan disesuaikan
.
Itu salah satu upaya, yang lainnya setelah OD dilakukan, terlihat tempat pelayanan mana yang betul-betul konsisten. Untuk sampai konsisten ini betul-betul dicari cara dan pendekatan yang tepat. Target bulanan, tahunan, 3 tahun sampai kepada access tadi terus diperbaharui, dikembangkan  dan diperbaiki berkerjasama dengan pengurus.

Terkait wilayah pengembangan CU SR yang berhadapan dengan pertambangan dan perkebunan. Apa upaya dari CU SR untuk memberikan penyadaran ke anggotanya untuk menjaga sumber-sumber penghasilannya?

Sejak didirikan lembaga ini, kita tahu sejarah pendiriannya diinisiasi oleh sebuah lembaga yang konsentrasi dengan sumber daya alam dan pemanfaatannya dengan benar. Dari awal kita konsentrasi benar salah satu yang sudah CU SR lakukan adalah mengumpulkan dana lingkungan yang jumlanya Rp 2.000,- per anggota per tahun. Itu  sudah dikumpulkan sejak puluhan tahun lalu saya lupa tanggal  dimulai. Upaya itu  dimulai  karena kita sadar betul kita akan berhadapan dengan dunia yang cepat juga rusaknya.

Upaya lain kita juga bekerja sama dengan kelembagaan yang se-visi dengan kita bagaimana menyelamatkan alam dan lingkungan. Sampai hari ini teman-teman di Sumber Rejeki berupaya meningkatkan kualitas hasil sadapan karet. Beberapa waktu lalu, Sumber Rejeki mengirimkan orang ke Toraja, Palangka Raya dan tempat lain belajar di lapangan.

Kini sudah terbentuk beberapa kelompok di salah satu tempat pelayanan sebagai percontohan. Semoga dari upaya peningkatan mutu karet ini juga membantu anggota kita dalam hal ber-CU-nya, mengangsur dan menabung dengan baik. Karena penghasilan baik dan membangun kerjasama  sesuai dengan yang diharapkan.

Sisi lain juga, sebagai perlindungan terhadap eksploitasi  sawit dan tambang. Kita tidak bergerak langsung mengkampanyekan itu di lapangan untuk bergerak bersama-sama di lapangan. Bersama lembaga non pemerintah kita mendukung gagasan pembangunan berkesinambungan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan dan benar sampai dengan hari ini belum pernah “mendanai”. Kecuali pada konggres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan saresehan dengan lembaga-lembaga terkait dengan dana yang juga terbatas.

Itu sebagai wujud komunikasi antar kita dan bukti mendukung pembangunan berkelanjutan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan belum ada aturan yang jelas untuk penggunaan dana lingkungan. Yang jelas spiritnya itu untuk mendukung gerakan pembangunan berkelanjutan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan.

Dulu saya ingat ketika gagasan ini dimulai ada kawan menanyakan bagaimana pengaturannya bagaimana bentuk dukungannya. Saya katakan, nanti akan kita pikirkan setahu saya banyak lembaga di Kalteng, regional bahkan nasional  untuk membantu kita dan mendukung. Minimal, mengkampanyekan. Sesungguhnya Sumber Rejeki dari awal didirikan sangat sadar jika sumber pendapatan anggota rusak maka dengan sendirinya CU juga.

Terobosan anda lakukan selama menjadi GM?

Yang paling kentara adalah upaya di sisi internal lembaga ini harus diperbaiki. Ini termasuk komunikasi dengan PUSKOPDIT, juga membangun komunikasi dengan pemerintah dalam hal melengkapi legalitas lembaga. Membangun komunikasi juga di lakukan dengan CU di 1 kawasan.

Terobosan yang lain, CU SR 2 tahun ke depan tidak ekspansi, lebih ke penguatan internal untuk lembaga ini betul-betul kuat. Fokus perjuangan agak sedikit di tarik ke dalam. Ke luar dilakukan sambil melihat kepentingannya apa. Lebih kepada di tahan di dalam. Membangun komitmen bersama memang berat. Di sisi lain, juga terus meningkatkan kapasitas pengurus dan manajemen untuk bisa menghadapi tantangan zaman yang begitu deras.

Apa yang anda lakukan saat menghadapi penyalahgunaan wewenang staf CU sehingga citra CU  SR yang terpuruk?

Itu hal yang sangat luar biasa dan saya ketika masuk berlaku standar untuk si-A melakukan apa dan si-B melakukan apa. Ketika situasi itu ada yang tidak ideal, sehingga ini mengawali cerita mengapa saya jadi tahu.

Saya mengatakan, ini pasti ada masalah. Saya bertanya ke orang yang paling bertanggung jawab, apakah tidak mengetahui hal tersebut bahwa ada sesuatu di sini. Saya kira bukan karena  tidak mampu. Jika disebut lalai juga saya tidak punya bukti. Ini akhirnya mengalir saja dan pada tahun 2011 hingga pada Juli atau Agustus saat saya masuk ketika ditelusuri betul-betul tidak ideal.

Ini menjadi pintu masuk. Salah satu upaya dilakukan. Saya mengatakan cosmos alam  terganggu untuk kondisi ini. Secara adat istiadat, peradaban. Betul jika bisa mengembalikan apa yang dicuri, tapi perasaan anggota rusak dan terganggu.

CU lain terganggu. Melihat tulisan di Koran. TP BPP merupakan bagian dari CU Betang Asi. Saya langsung angkat telpon Pak Ethos dan Pak Ambu, memohon maaf, bahwa pemberitaan ini keliru. Saya saat itu berada di tempat lain, dan mengatakan tolong sampaikan ke koran bahwa ini berita yang keliru.

Arus untuk ya dan tidak memang ada melewati proses pengadilan. Saya katakan, bagaimanapun resikonya kita harus sampai ke pengadilan. Jika tidak, rush pasti terjadi, orang tidak percaya, citra CU Sumber Rejeki hancur lebur dan kita dianggap melindungi penjahat.

Lalu, upaya ke pengadilan dilakukan. Walaupun hasilnya tidak memuaskan. Namun saya bersama anggota mufakat, bahwa apapun hasilnya ini kita bisa menerima hasil putusan pengadilan kita terima dikatakan tidak becus, kalah. Kita menerima resiko dari putusan pengadilan. Bagi saya pribadi, keputusan itu tidak maksimal. Kesakitan hati tidak senilai dengan itu.

Mata panah memang ditujukan kepada saya, mengapa zaman anda rusak?. Saya secara simple mengatakan semestinya kita juga berterima kasih bahwa saat saya menjabat justru bisa membongkar sesuatu yang sudah dilakukan sejak lama.

Saya tidak menghakimi teman-teman terdahulu. Tidak juga mengatakan lalai, karena saya tidak punya bukti. Namun secara lurus kami mengatakan  ada sesuatu yang lepas dari kontrol dari pengendalian.

Jika menggali ke belakang sedikit. Apakah tidak terpikir waktu itu kita menggunakan hukum adat?

Saya mengungkapkan itu dalam rapat bersama anggota. Jika  di denda adat itu akan lebih menentramkan cosmos. Tapi sebagian besar peserta rapat dan hasil konsultasi juga dengan ahli hukum tidak sependapat jika menggunakan hukum adat.  Diputuskan menggunakan hukum (positif).

Sesaat setelah terjadi proses gonjang ganjing yang luar biasa. Kita pelan-pelan meyakinkan anggota. Sempat terjadi rush 4-5 M.  dikatakan CU tidak aman. Ini berpengaruh di internal maupun di eksternal.

Upaya lain, kami menjelaskan ke anggota duduk persoalan yang sebenarnya. Dengan tidak mengkambing hitamkan program, pengawas maupun teman-teman. Ternyata anggota mengerti dan yang menarik kembali menyimpan. Yang menyimpan minimal kembali setelah mendengar penjelasan.

Di sudut lain, pelaku sudah di penjara. Kami dinilai serius. Namun yang menjadi beban, tidak mungkin hanya melakukan seorang diri. Ini menjadi beban saya untuk membuktikan. Kalau memang yang lain terbukti silahkan. Jangan sungkan menimpali kasus ini pada 1 orang saja.

Saya berprinsip jabatan tidak bisa melindungi kejahatan. Kalaupun saya terlibat, mari kita usut dan silahkan dipenjarakan. Proses di pengadilan kita hormati.  Saya juga berbagi pengalaman dengan teman-teman CU lain terkait kasus yang terjadi.

Upaya lain, hampir setiap bulan teman-teman manajemen di pantau datanya untuk menjaga kepercayaan anggota. Melihat secara dekat praktek yang terjadi, meminta bagian TI untuk mengontrol itu secara ketat.

Sekarang Tempat Pelayanan BPP itu yang terbesar dari CU Sumber Rejeki. Secara asset, anggota dan yang lainnya baik. Karena anggota melihat kami melakukan kerja yang serius. Diterpa masalah dan sekarang bisa recovery dengan baik.

Harapan anda bagi gerakan CU di Kalteng?

Mari kita berlomba dengan sehat, baik dan benar. Sesama CU saling menghargai.  Membangun komunikasi di Kaltim, Kalsel. Jangan pernah meninggalkan kita berjuang bersama. Jika salah satunya besar yang lainnya juga berandil dan berjuang menjadi besar dengan cara yang elegan. Dan yang penting kita saling mengingatkan dan 1 jaringan. Bisa saja kerja sama di bidang audit, monitoring dan supervisor. Mari kita bangun media sebagai alat kontrol bagi kita agar CU berlomba secara sehat.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis

***


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, June 27, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved