Selamat Datang!

Sejarah CU dunia, Indonesia hingga Kalimantan

“Sejarah adalah aset yang berharga. Membuang sejarah itu bagaikan membuang hasil-hasil penelitian berharga yang telah diteliti dimasa lalu, dan mencoba meneliti dari awal tanpa refrensi masa lalu.”

“Orang orang hebat tidak akan mempelajari sejarah jika sejarah tidak penting. Dan orang-orang hebat akan “hidup” di masa dimasa sekarang dan masa depan, karena mereka tahu kehidupan itu ada dimasa depan.”

Itulah dua kalimat bijak yang  dikutip dari http://www.bijakkata.com. Bicara sejarah tentu kita tidak bisa melupakannya begitu saja. Demikian pula untuk sejarah credit union. Berikut di sajikan artikel dari http://puskopditbkcukalimantan.org.  Artikel ini mengingatkan kita perjalanan sejarah CU di dunia, Indonesia hingga ke Kalimantan.

Sejarah Credit Union Di Dunia

Pada abad 19, tahun 1846-1847, masyarakat Jerman ditimpa musibah kelaparan dan musim dingin yang hebat. Akibat cuaca buruk tersebut, banyak penduduk yang kelaparan. Penyakitpun menyerang mereka. Akhirnya kehidupan menjadi sangat kacau. Para petani yang menggantungkan hidup pada kemurahan alam tak berdaya. Henry Wolff seorang pejabat local setempat menggambarkan kondisi para petani saat itu sebagai “Dunia Tak Berpengharapan”. Miskin tak berdaya dan pertanian berantakan. Masyarakat tidak memiliki uang untuk membeli mesin pertanian, pupuk, bibit atau membangun peternakan untuk meningkatkan pendapatan.

Pada saat itu petani adalah korban yang sangat menderita. Para petani meminjam uang dari lintah darat dengan bunga yang sangat tinggi. Disamping itu mereka meminta jaminan atas lahan pertanian mereka. Apabila mereka gagal membayar pada saat jatuh tempo maka tanah pertanian dan harta benda lain yang mereka gadai langsung disita. Bahkan sering terjadi harta benda para petani juga menjadi incaran para lintah darat. Kehidupan para petani pada waktu itu ibarat  “gali lobang tutup lobang, tutup hutang lama, cari hutang baru.”

Usaha ini ternyata tidak membuahkan hasil dan tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kaum miskin. Derma atau bantuan cuma-cuma tidak dapat memecahkan masalah kemiskinan namun menambah beban karena jumlah warga miskin menjadi terus bertambah karena mudahnya mendapat bantuan.

Tahun 1849 saat Friedrich Wilhelm Raiffeisen menjadi walikota ia mendirikan Perkumpulan Masyarakat Flamersfeld untuk membantu para petani miskin yang terdiri dari 60 orang kaya. “Kaum miskin harus segera ditolong” begitu katanya. Maka Raiffeisen mengundang kaum kaya agar mengumpulkan uang untuk menolong kaum miskin. Kaum kaya menanggapi secara positif seruan sang walikota supaya kaum miskin mendapat sumbangan, tapi  penggunaan uang oleh kaum miskin tidak terkontrol, bahkan tidak sedikit yang cepat-cepat memboroskan uangnya agar menerima derma lagi. Akibatnya para dermawan tidak berminat membantu kaum miskin lagi

Friedrich Wilhelm Raiffeisen, pada waktu itu juga mendirikan Brotveiren, suatu kelompok yang membagi-bagikan roti kepada kaum miskin. Kemudian ia mendirikan pabrik roti yang menjual roti kepada orang yang tidak mampu dengan harga murah. Ia juga mendirikan perkumpulan yang bertugas meminjamkan uang dan membeli bibit kentang kepada petani. Tetapi hal itu ternyata juga tidak menyelesaikan masalah kemiskinan secara permanen. Hari ini diberi, besok sudah habis, begitu seterusnya.

Friedrich Wilhelm Raiffeisen pindah ke Heddersdoff dan menjabat lagi sebagai walikota. Ia juga mendirikan perkumpulan Heddesdorfer Welfare Organization suatu organisasi yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Kemudian organisasi ini dikenal cukup luas dimasyarakat. Walaupun pengorganisasiannya berhasil tetapi kemudian muncul berbagai kendala. Para penanam modal dari kaum kaya mulai luntur semangatnya, karena keuntungan organisasi tersebut tidak mereka rasakan.

Raiffeisen terus memperbaiki dan menyempurnakan gagasan terutama mengenai prinsip dan metode pengorganisasian masyarakat. Akhirnya ia mengganti pendekatan dari pendekatan derma dan belas kasihan dengan PRINSIP MENOLONG DIRI SENDIRI (self help). Ternyata pendekatan ini sukses.

Tahun 1864 Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan sebuah organisasi baru berama “Heddesdorfer Credit Union” dimana kebanyakan anggotanya adalah para petani. Untuk menjadi anggotanya seseorang harus berwatak baik, rajin, dan jujur. Untuk mengetahuinya, para tetangga harus memberikan rekomendasi. Kegiatannya mirip arisan, mengumpulkan sejumlah uang lalu meminjamkannya kepada anggota yang memerlukan. Manajemen Heddesdorfer Credit Union dijalankan secara demokratis dengan cara: Setiap anggota berpartisipasi dalam rapat anggota; Satu anggota satu suara; Para anggota memilih pengurus dan membuat pola kebijakan bersama; Dipilih suatu badan yang disebut dengan pengawas. Pengawas bertugas mengawasi kegiatan Credit Union dan membuat laporan pengawasan kepada rapat anggota. Raiffeisen menekankan pada kerja secara sukarela kepada Pengurus dan Pengawas, yang boleh menerima imbalan hanyalah kasir purnawaktu yang menjalankan operasional

Berdasarkan pengalaman di atas, sang wali kota akhirnya memiliki kesimpulan: Sumbangan tidak menolong diri kaum miskin, tetapi sebaliknya merendahkan martabat manusia yang menerimanya; Kemiskinan disebabkan oleh cara berpikir yang keliru; Kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri; Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka; Pinjaman harus digunakan untuk tujuan produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan peminjam adalah watak peminjam.

Singkatnya Heddesdorfer Credit Union yang dibangun Raiffeisen, Petani dan Kaum buruh berkembang pesat di Jerman. Credit Union Sampai wafatnya Reiffeisen tahun 1988, terdapat 425 Credit Union di Jerman.

Keberhasilan Heddesdorfer Credit Union atas 3 prinsip utama dalam menjalankan organisasi akhirnya menjadi prinsip dasar Credt Union: Azas Swadaya, modal dari simpanan hanya diperoleh dari anggotanya; Azas Setiakawan/ solidaritas, Pinjaman hanya diberikan kepada anggotanya; Azaz Pendidikan/ penyadaran, membangun watak adalah yang utama, hanya yang berwatak baik yang diberikan pinjaman.

CU berkembang ke seluruh dunia, Seorang wartawan Alphonse Desjardin pada awal abad ke-20 membawa CU ke Canada. Seorang saudagar kaya Edward Fillene membawa CU ke Amerika Serikat.Mary Gabriella Mulherim membawa ke Asia khususnya Korea. Pada tahun 1934, dibuat Undang-Undang tentang Credit Union pada masa pemerintahan Presiden F. D. Rosevelt. Kemudian gabungan Credit Union di Amerika Serikat (Credit Union National Association) membentuk Biro Pengembangan CU sedunia, yang diresmikan menjadi World Council of Credit Unions (WOCCU) pada 1971. Kantor pusatnya di Madison, Wiscounsin Amerika Serikat.

Struktur Jaringan Credit Union

WOCCU : World Council of Credit union; ACCOSCA : The Afrika Cooperative and Credit Association; AFCUL : The Australian Federation of Credit Union Limited; CUNA : The Credit Union National Association (USA); ACCU : The Asian Confederation of Credit Union (Bangkok); CCS : The Canadian Cooperative Credit Society; CCCU : The Caribbean Confederation of Credit Union; COLAC : The Confederation Latino Americana de Cooperative de Alhoro; INKOPDIT : Induk Koperasi Kredit; BKCU : Badan Kooordinasi Credit Union; BK3D : Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah; CU : Credit Union; Anggota : Masyarakat anggota Credit Union.

Federasi Credit Union ASIA

Bangladesh, CCULB-The Cooperative Credit Union League of Bangladesh; Hongkong, CULHK-Credit Union League of Hong Kong;  Indonesia , CUCO- Credit Union Counseling Office (namun dalam perjalanan waktu berganti nama menjadi BK3I-Badan kordinasi Koperasi Kredit Indonesia lalu berganti lagi dengan nama INKOPDIT-Induk koperasi kredit) dengan alamat website masih menggunakan CUCO, www.cucoindo.org)

Jepang , JCU - Japan Credit Unions; Korea, NACUFOK - National Credit Union Federation of Korea; Malaysia, WCCS - Workers Credit Co-operative Society Ltd. Malaysia; Nepal, NEFSCUN - Nepal Federation of Savings and Credit Cooperatives Union; Papua New Guinea , FESALOS - Federation of Savings & Loan Societies PNG; Philippines; NATCCO - National Confederation of Cooperatives; PFCCO - Philippine Federation of Credit Cooperatives; Republic of China Taiwan, CULROC - Credit Union League of the Republic of China Taiwan; Sri Lanka , SANASA - Federation of Thrift & Credit Cooperative Societies Sri Lanka; Thailand; CULT - Credit Union League of Thailand; FSCT - Federation of Savings and Credit Cooperatives of Thailand; Vietnam, CCF - Central People’s Credit Fund - Vietnam.

Catatan: Ada yang menarik dari federasi Credit Union diatas; ada 2 negara di Asia yaitu Philipina dan Thailand memiliki 2 federasi Credit Union. Artinya ACCU memperkenankan sebuah negara memiliki lebih dari satu Federasi Credit Union; Di Indonesia federasi Kredit Union disebut Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT).

[1] Sumber informasi dari buku “Menjadi kaya karena uang bekerja untuk kita” , ditulis oleh Munaldus berdasarkan buku The Credit Union Movement: Origins and Development 1850-1970 yang ditulis oleh J. Carrol dan Gilbert C. Fite, Ilustrasi: materi DIKSAR CUBG.

[2] www.woccu.org 2010 Statistical Report, WOCCU juga mencatat penetrasi pertumbuhan 7.5% (jumlah anggota Credit Union dibagi populasi ekonomi aktif usia 19-64 tahun). Di Indonesia sendiri tahun 2010 penetrasi pertumbuhan Credit Union baru mencapai 0.9%, namun di Korea penetrasi Credit Union sudah mencapai 15.7%.

Sejarah Credit Union Di Indonesia
Awalnya Carolus Albrecht, SJ, kelahiran Altusried, Augsburg, Jerman Selatan, 19 April 1929 ditugaskan  ke  Indonesia pada Desember 1958 di Girisonta, Jawa Tengah. Tahun 1959 kemudian pindah ke Jakarta bertugas di Tanjung Priok kemudian pindah lagi lalu Semarang pada tahun 1960 sampai 1961.

Sebagai bentuk kesadaran Gereja Katolik terhadap pentingnya pemberdayaan ekonomi rakyat, KWI (Konferensi Waligereja Indonesia, waktu itu bernama Majelis Agung Waligereja Indonesia-MAWI), menugaskan Pater Albrecht, SJ (Delegatus Sosial Keukupan Agung Jakarta) dan sejawatnya Frans Lubbers, OSC (Delegatus Sosial Keuskupan Bandung) mengembangkan Credit Union  bersama semua Delegatus Sosial Keuskupan.

Dimulai dari SELA (Socio Economic Life in Asia, Lembaga yang berada di bawah Serikat Jesus) menyelenggarakan sebuah seminar panjang di Bangkok tahun 1963 dengan pembicara para imam dan awam dari Amerika, Eropa dan Philipina. SELA adalah lembaga yang pertama kali memperkenalkan Credit Union di Asia, termasuk Indonesia. Seminar yang bertajuk Community Development and Credit Union inilah yang menjadi tonggak awal ide pengembangan Credit Union di Indonesia.

Seminar tersebut dihadiri oleh Carolus Albrecht SJ, John Dijkstra SJ, Frans Lubbers, OSC dan dari masyarakat awam hadir FX. Bambang Ismawan, Nico Susilo dan Sumitro.  Sekembalinya mereka dari seminar tersebut tidak serta-merta langsung mendirikan Credit Union.  Setelah 2 tahun menjalani pergumulan, Ikatan Petani Pancasila memulainya dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam pada tahun 1965 ketika FX. Bambang Ismawan menjadi Ketua Umum Ikatan Petani Pancasila.  Kelompok usaha serupa banyak berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung.

Walaupun Credit Union belum juga didirikan, namun seminar-seminar Credit Union terus dilaksanakan, seperti di Bandung tahun 1968 dan Sukabumi tahun 1969 oleh Frans Lubbers, OSC. Akhirnya Pater Albrecht mengundang CUNA (The Credit Union National Association (USA) secara resmi pada tahun 1967, untuk memperkenalkan gerakan Credit Union ke Indonesia. Saat itu hadir A.A. Bailey mewakili CUNA dan Augustine R. Kang Manager ACCU (The Asian Confederation of Credit Union).

Pembentukan CUCO ini melewati proses yang panjang, tahun 1969 Pastor John Collins, SJ diminta ke Jakarta untuk melakukan kajian kelayakan Credit Union yang dikembangkan di Indonesia.  Kesimpulannya Credit Union dianggap layak untuk dikembangkan dengan syarat 5 tahun masa inkubasi. Embrio gerakan Credit Union baru terbentuk tepatnya  4 Januari 1970, ketika Pater Albrecht membentuk Credit Union Counselling Office (CUCO) yang beralamat di Jalan Gunung Sahari N0. 88 Jakarta (Kini menjadi kantor INKOPDIT) dan Drs. Robby Tulus sebagai pelaksananya.

Berkat dukungan Dirjen Koperasi saat itu yaitu Bapak Ir. Ibnoe Soedjono akhirnya Credit Union layak untuk dikembangkan bahkan Ibnoe Soedjono menjadi Ketua Dewan Penyantun CUCO yang beranggotakan Raden Mas Margono Djoyohadikusumo (pendiri BNI 46), Prof. Dr. Fuad Hasan (Guru besar psikologi yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan & Kebudayaan), Mochtar Lubis (wartawan dan satrawan), Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ (Pendiri Lembaga Pendidikan & Pengembangan Manajemen), A.J. Sumandar, John Dijkstra, SJ dan Pater Albrecht, SJ sendiri. Kemudian tahun 1971, Pater Albrecht menyerahkan jabatan Direktur Pengelola CUCO kepada Robby Tulus dan beliau melanjutkan karya-karyanya sebagai imam.

Walaupun perangkat organisasi sudah ada, namun Credit Union secara resmi baru berjalan pada tahun 1976 setelah terbentuk Biro Konsultasi Koperasi Kredit (BK3). Seiring waktu, nama CUCO di Indonesia diubah menjadi Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) pada Konferensi Nasional Koperasi Kredit Indonesia pada tahun 1981. Kini BK3I sudah dikenal dengan nama Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT). Berkat perjuangan yang gigih Pater Albrecht dan kawan-kawan  Credit Union berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia.

Setelah menjadi warna Negara Indonesia, Pater Albrecht memiliki nama Indonesia Karim Arbie. Tahun 1980, Pastor Karim pindah dan menjadi pastor pembantu di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Tahun 1985 pindah lagi ke Paroki Santa Anna , Duren Sawit, Jakarta Timur sampai 1990. Pada tahun 1990, Pada usia sudah 61 tahun, Pastor Karim ditugaskan ke Timor-Timur. Pada 27 Juli 1997, beliau masih sempat merayakan 40 tahun imamatnya di Altusried. Namun pada 11 September 1999 beliau tertembak orang tak dikenal di Dilli, Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Beliaulah orang yang berjasa memperkenalkan Credit Union ke Indonesia.

CU semakin berkembang bahkan Asetnya tumbuh 259% selama 10 tahun terakhir terlampir dalam table perkembangan Kopdit 10 tahun terkahir dari 2001-2010 seluruh CU/Kopdit yang tergabung dalam Gerakan Koperasi Kredit Indonesia:
   
Dari perjalanan sejarah Credit Union di Indonesia, inilah  nama-nama Inisiator gerakan awal Credit Union di Indonesia: Albrecht Karim Arbie, SJ; Robby Tulus; Ir. Ibnoe Soedjono; John Collins, SJ;     Raden Mas Margono Djoyohadikusumo; Prof. Dr. Fuad Hasan; Mochtar Lubis; Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ; A.J. Sumandar; John Dijkstra, SJ; FX. Bambang Ismawan; Frans Lubbers, OSC; Nico Susilo; Sumitro; FX. Susanto; Hubertus Woeryanto; Theodorus Trisna Ansarli; A.C. Lunandi; Suharto Nazir; Sukartono.


Sejarah Puskopdit BKCU Kalimantan
Kalimantan Barat merupakan bagian pengembangan Gerakan Credit Union (CU) yang dirintis oleh Pastor Karl Albrectht Karim, SJ (almarhum). Bibit-bibit Credit Union yang ditabur, berkembang dan mengalami inkultarasi sesuai budaya Kalimantan (Dayak) menjadi  CU “ala Kalimantan”. Perjalanan perkembangan CU di Kalimantan Barat sangat menarik untuk ditelusuri. Masih banyak saksi hidup, pelaku sejarah yang tahu persis bagaimana jatuh bangun, timbul tenggelamnya Credit Union di kawasan ini. Lebih menarik lagi akhir-akhir ini Credit Union menjadi populer. Teman-teman senusantara bahkan dari negara tetangga datang ke Kalimantan Barat untuk mempelajari CU “ala Kalimantan”. Menurut pendapat DR. Francis Wahono pada RAT BK3DK tahun buku 2006 di Palangka Raya CU “ala Kalimantan” disebut Credit Union Modern (CUM). Apabila kita menapak tilas terhadap sejarah perkembangan gerakan Credit Union Kalimantan, maka dapat dikelompokkan ke dalam fase-fase sebagai berikut :

Fase Awal Pengenalan (1975-1984)

Pada fase ini gerakan Credit Union berjalan secara sendiri-sendiri, alamiah tanpa koordinasi antar CU primer. Ketika itu Credit Union di wilayah Kalimantan Barat menjadi bagian dari program kerja Delegatus Sosial (DELSOS) Keuskupan Agung Pontianak yang dipimpin oleh  Pastor Pius Gamperle, OFM.Cap.

Pada fase ini banyak berdiri Credit Union  di paroki-paroki sebagai lingkup wilayah operasional mereka. Umumnya masih dikelola secara tradisional, belum ada pegawai, pengurus merangkap pengelola dan hanya mengelola simpan-pinjam dengan produk tunggal. Ikatan pemersatu (Common Bond) terkesan masih tertutup, untuk kalangan terbatas. Akibatnya banyak credit union yang tidak mampu bertahan, hidup segan mati tak berkubur dan tinggal satu-satunya CU yang masih bertahan adalah CU Lantang Tipo (2 Februari 1976) di Pusat Damai, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Fase Uji Coba (1985-1989)

Pada fase ini terjadi refleksi mengapa Credit Union pada masa terdahulu kerdil, dan hanya melangkah “poco-poco”, bahkan banyak yang menghilang tanpa berita.

Untuk mengkaji lebih jauh dan mencari langkah-langkah menumbuhkan kembali gerakan Credit Union di Kalimantan Barat, Delsos Keuskupan Agung Pontianak dipimpin oleh Pius Alfred memfasilitasi terbentuknya Tim Pengembang Credit Union dengan menyelenggarakan Pelatihan Dasar Credit Union bekerjasama dengan BK3I Jakarta. Maka pada tanggal 12 Mei 1985 didirikan Credit Union Laboratorium yaitu Credit Union Khatulistiwa Bakti di Pontianak.

Tim pengembang berpendapat Credit Union harus dimulai dari kota, tidak seperti pada fase sebelumnya di mana Credit Union dimulai di Paroki di daerah-daerah. Credit Union Laboratorium menjadi tempat belajar, dan memberi inspirasi tumbuhnya Credit Union baru baik di Kotamadya maupun di daerah pedalaman Kalimantan Barat.

Selanjutnya, beberapa orang dari Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih yang juga terlibat dalam kepengurusan Credit Union Khatulistiwa Bakti mendirikan Credit Union Pancur Kasih pada tanggal 28 Mei 1987 dengan basis para guru SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi beserta pegawai Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih Pontianak. Perkembangan selanjutnya berdirilah beberapa CU antara lain yang masih bertahan sampai saat ini yaitu Credit Union Sehaq (1 Oktober 1988) di Pahauman Landak  dan Credit Union Usaha Kita (9 Juli 1989) di Sei Ayak Sanggau (sekarang Sekadau). Pada tanggal 17  Agustus 1988 berdiri Credit Union Bina Masyarakat di Sintang dan tanggal 15 April 1989 berdiri Credit Union Masdapala di Ngabang.

Dengan semakin banyaknya CU primer bangkit kembali sehingga terpenuhi persyaratan pendirian BK3D yaitu minimum 3 CU primer (Khatulistiwa Bakti, Lantang Tipo, Pancur Kasih), maka pada tanggal 27 November 1988  terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalimantan Barat (BK3D Kalbar) sebagai wadah untuk koordinasi dan pelatihan CU primer.  Pengurus periode pertama tercatat A.R Mecer sebagai Ketua, Pius Alfred bin Simin sebagai Wakil Ketua, P. Florus sebagai sekretaris,  dan Frans Laten sebagai Bendahara. Tahun 1991 ada pergantian pengurus.  Tiba-tiba muncul 40-an CU, tanpa sepengetahuan pengurus BK3D, AR  Mecer sebagai ketua saat itu. Ketika RAT, terpilihlah Pius Alftred sebagai ketua.  CU yang 40-an menghilang.

Fase Inkubasi (1990-1996)

Fase ini berlangsung selama 6 tahun di mana  BK3D Kalbar memulai kegiatannya secara efektif. Selain mengkoordinir Credit Union yang tumbuh dalam fase sebelumnya, BK3D Kal-bar juga memfasilitasi berdirinya CU-CU baru diantaranya Credit Union Bonaventura (9 Januari 1991)    di Nyarumkop Singkawang, Credit Union Semandang Jaya (1 November 1991) di Balai Semandang Ketapang, Credit Unon Semarong (27 Februari 1993) di Sosok Sanggau, Credit Union Keling Kumang (25 Maret 1993) di Tapang Sambas Sekadau, Credit Union Pancur Solidaritas (1 April 1994) di Ketapang, Credit Union Sumber Kasih (1 Mei 1994) di Teraju Sanggau, Credit Union Stella Maris (12 Februari 1995) di Pontianak, Credit Union Nyai Anta (14 Mei 1995) di Ng. Taman Sekadau, Credit Union Tri Tapang Kasih (2 Juni 1996) di Sejiram Kapuas Hulu, Credit Union Banuri Harapan Kita (10 Juni 1995) di Batang Tarang Sanggau, Credit Union Pancur Dangeri (14 April 1995) di Simpang Dua Kecamatan Simpang Hulu Kabupeten Ketapang,  Credit Union Agape (13 Juni 1996),  Credit Union Canaga Antutn (14 April 1996) di Menyumbung Ketapang.

Adapun Credit Union yang tidak bergabung dengan BK3D Kalbar yaitu :  Credit Union Samaria (24 Oktober 1995) di Batang Tarang, Credit Union Alam Lestari Jopo (1 April 1995) di Desa Cupang Gading, Kecamatan Sekadau Hilir, dan Credit Union Berkat Usaha (18 Oktober 1996) di Baram Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang.  Namun pengembangan CU belum terencana dengan baik. Produk dan Pelayanan juga masih konvensional. Dana fasilitasi dan pendampingan masih sangat terbatas, belum mandiri dan masih tergantung pada donatur. BK3D Kalbar belum berhasil mengkoordinir CU-CU yang ada, sehingga CU masih berjalan sendiri-sendiri.

Fase Konsolidasi (1997-1999)

Kepengurusan BK3D Kalbar dipimpin oleh A.R Mecer. Tanda-tanda perkembangan sudah mulai tampak. Manajemen profesional mulai diterapkan,  secara internal BK3D Kalbar mulai mengangkat karyawan sebagai tenaga kerja penuh waktu. CU-CU yang ada mulai terkoordinir dengan baik dan jelas. Telah dilakukan persamaan persepsi tentang Visi dan Misi gerakan Credit Union termasuk perencanaan strategis dan pengembangan wilayah kerja.

Hal ini berkaitan juga dengan terpilihnya A.R.Mecer sebagai anggota MPR RI (1999-2004) utusan golongan minoritas etnis Dayak. CU mulai diperkenalkan ke wilayah luar Kalbar. Di Kalteng berdiri Credit Union U Sumber Rejeki (1 Maret 1999) di Ampah Barito Selatan  dan di Kaltim berdiri Credit Union Sempekat Ningkah Olo (1 Juli 1999) di Jengan Danum Kutai Barat. Di Kalbar berdiri Credit Union  Kusapa (13 Desember 1998) di Sanggau. Credit Union Pangiris Midup (1 September 1997) di Langkar, Kecamatan Simpang Hulu Kabupeten Ketapang, Credit Union Manteare (6 September 1998) di Rawak, Sekadau, Kalimantan Barat, Credit Unio Tuah Menua (18 Agustus 1998) di Sei Utik Kecamatan Embaloh Hulu Kapuas Hulu, Credit Union Puyang Gana (6 Juli 1998) di Desa Keboq Kecamatan Kelam Permai Sintang Kalbar, Credit Union Gemalaq Kemisiq (17 Februari 1999) di Tanjung Kecamatan Jelai Hulu Ketapang, Credit Union Bina Kasih (23 Oktober 1999) di Pontianak, Credit Union Pangsurat Gunung Bawang ( 3 April 1998) di Belimbing Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang, Credit Union Panamuan Katalino (1  Juni 1997) di Tumiang Kecamatan Samalantan Kabupaten Bengkayang, dan Credit Union Taponkng Borimai (29 September 1998) di Kotup Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau dan  Credit Union Raya Ramoh (1 Juni 1997).

Pola ketergantungan dana pada donatur untuk fasilitasi dan pendampingan mulai bergeser dengan pola peningkatan keswadayaan.

Fase Penemuan Jati Diri (2000-2001)

Fase ini merupakan titik awal kebangkitan BK3D Kalbar di bawah kepemimpinan A.R Mecer. Philosofi, nilai-nilai, serta prinsip-prinsip Credit Union diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal khususnya masyarakat Dayak. Melalui refleksi, evaluasi serta rekoleksi, para pengembang Credit Union di Kalimantan terinspirasi sehingga menemukan ramuan kombinasi pendekatan Ilmu Pengetahuan Modern, religius, dan nilai-nilai budaya lokal.

Upaya penerapan pendekatan tersebut telah mengakar dalam praktik kehidupan sehari-hari para anggota. Kekhasan Credit Union Kalimantan mendorong  Credit Union di wilayah ini menjadi leading factor perkembangan Credit Union di Indonesia. Perencanaan Strategis sebelum mendirikan CU baru menjadi suatu keharusan. CU model baru berdiri di mana-mana. Di antaranya Credit Union Mura Kopa (22 Februari 2000) di Keladang Sanggau, Credit Union Keluarga Kudus (15 Oktober 2000) di Pontianak,  Credit Union Daya Lestari (4 Juni 2001) di Samarinda, Credit Union Tilung Jaya (15 Oktober 2001) di Putussibau,  Credit Union Telaga Kumang (1 Oktober 2000) , dan  Credit Union Arus Laur (15 November 2001).

Fase Perluasan Wilayah Kerja (2002-2006)

Pesatnya perkembangan Credit Union di bawah naungan BK3D Kalbar menjadi perhatian dari kalangan luar. Melalui mitra kerja di bawah SegeraK Pancur Kasih, kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat dan kalangan gereja, mereka melakukan kunjungan ke Credit Union Kalimantan dan mereka melihat ada sesuatu yang berbeda. Karena dorongan yang kuat untuk mengembangkan Credit Union di wilayahnya masing-masing, mereka melakukan negosiasi untuk meminta difasilitasi oleh BK3D K.

Permintaan terus mengalir, satu persatu Credit Union berdiri dan berkembang dengan konsep CU “ala Kalimantan” baik di Kalbar maupun di luar Kalbar yaitu     Credit Union Petemai Urip Mamahak Teboq Kutai Barat (10 April 2002) Samarinda, Credit Union Femung Pebaya (14 September 2002) di Malinau Kaltim, Credit Union Betang Asi    (26 Maret 2003) di Palangka Raya Kalteng, Credit Union Tani Mandiri (1 Mei 2003) di Nanga Mau Sintang, Credit Union Muare Pesisir  (10 Mei 2003) Sungai Itik di Kakap Kalbar, Credit Union Citra Dayak (29 Agustus 2003) di Belusuh Kutai Barat Kaltim, Credit Union Alang Jalung (25 Oktober 2003) di Desa Ritan Baru Kecamatan Tabang Kutai Kartanegara Kaltim, Credit Union Sabhang Utung (17 September 2004) di Nanga Kemangai Sintang, Credit Union Remaung Kecubung (7 Februari 2004) di Pangkalan Bun Kalteng, Credit Union Mambuin     (4 April 2005) di Babo Papua Barat, Credit Union Almendo (8 April 2005) di Sorong Papua Barat, Credit Union Eka Pambelum Itah (23 Juni 2006) di Sampit Kalteng, Credit Union Sinar  Papua Selatan (20 Agustus 2006) di Merauke Papua, Credit Union Bererod Gratia  (15 Mei 2006) di ibu kota negara Jakarta, dan Credit Union Bahtera Sejahtera (15 September 2006) di Maumere NTT, Credit Union Sauan Sibarrung (7 Desember 2006) di Makale Tana Toraja Sulawesi Selatan dan Credit Union Sinar Saron (7 Juli 2006) di Larantuka, Kabupaten Flores Timur NTT.

BK3D Kalimantan Barat terdorong atas permintaan anggota untuk menyesuaikan nama yang tepat. Pada RAT BK3D Kalbar Tahun Buku 2002 tanggal 11 Pebruari 2003 di Sekadau nama BK3D Kalbar diubah menjadi  BK3D Kalimantan-Indonesia yang disingkat BK3DK. Formulasi  khas Credit Union “ala Kalimantan” menjadi model bagi Credit Union di luar Kalimantan. Falsafah petani menjadi inspirasi dalam pengembangan produk dan pelayanannya.

Adanya produk unggulan mendorong anggota untuk membangun masa depan melalui Credit Union. Untuk mempersiapkan masa depan ini, setiap anggota dimungkinkan meminjam untuk disimpan kembali di Credit Unionnya masing-masing. Pinjaman ini disebut Simpanan Kredit atau Simpanan Kapitalisasi atau Pola Menabung yang terprogram. BK3D-K merasa berkewajiban merespon permintaan fasilitasi dan pendampingan Credit Union di luar Kalimantan. Perkembangan Credit Union yang pesat mendorong aktivis untuk terus menerus mengasah diri dengan pengetahuan dan ketrampilan. Oleh sebab itu para praktisi Credit Union Kalimantan aktif menghadiri event-event yang diselenggarakan di tingkat nasional maupun Internasional. Dengan demikian Credit Union Kalimantan mulai dikenal di kalangan Credit Union Indonesia dan Asia.

Fase Akreditasi (2007-sekarang)

Fase Akreditasi dimulai sejak tahun 2007. Beberapa CU yang berdiri pada fase ini Credit Union Kasih Sejahtera (8 Juni 2007) di Atambua Timor, Credit Union Kingmi (9 Juli 2007) di Pontianak Kalbar, Credit Union Mekar Kasih (28 September 2007) di  Makassar, Credit Union Gerbang Kasih (13 Juni 2007 ) di Ende NTT, dan Credit Union Kasih Sejahtera (25 Juli 2007) di Surabaya.

Paradigma baru dalam mengelola credit union memerlukan pengetahuan dan ketrampilan baru. Credit Union Kalimantan harus standar dan profesional, sehingga perlu alat penilaian yang standar yang diakui di tingkat dunia. Instrumen assesmen inilah yang dikenal dengan nama ACCESS Branding. Pada tahap awal ini, untuk sementara sepuluh Credit Union anggota BK3D-K (Pancur Kasih, Lantang Tipo, Keling Kumang, Khatulistiwa Bakti, Betang Asi, Sumber Rejeki, Pancur Solidaritas, Bonaventura, Tilung Jaya dan Canaga Antutn) direkomendasikan untuk mempersiapkan  diri mengikuti  akreditasi ACCESS Branding oleh Association Of Asian Confederation of Credit Unions (ACCU).

Catatan:
Peran-peran Gereja melalui para Romo: Rm.Subiyanto(Papua), Belino(Florus), Fredy (Sulawesi), Chrisantus Lake, Pr.(Atambua). CU masuk sekolah sebagai muatan lokal (SMP/U Fransiskus Asisi).

Arti Logo BKCU Kalimantan

Arti gambar pulau Kalimantan
Melambangkan gerakan Credit Union Kalimantan bermula dari Kalimantan. Gerakan yang merupakan titik tolak sejarah perkembangan Credit Union Indonesia.

Arti gambar Bola Dunia
Menunjukkan  bahwa Gerakan Credit Union Kalimantan merupakan gerakan yang mendunia (global). Salah satu kekuatan  gerakan Kalimantan yaitu bukan hanya lokal tetapi memiliki jaringan internasional.

Arti gambar Tangan
Gambar tangan yang menopang Bola Dunia dan Pulau Kalimantan melambangkan kemandirian.  Gerakan yang mengutamakan prinsip solidaritas/setia kawan dan swadaya.

Makna Warna Logo Puskopdit BKCU Kalimantan
Warna Biru: melambangkan Kedamaian dan Keamanan; Warna Hijau: melambangkan kesejahteraan. Gerakan Credit Union Kalimantan bertujuan agar setiap anggota  bebas  financial; Warna Coklat: melambangkan Warna yang menunjukkan  bagian pulau Kalimantan yang bukan wilayah NKRI.

Sumber: http://puskopditbkcukalimantan.org.




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, May 20, 2015
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved