Selamat Datang!

Indonesia Lahan Potensial Mengembangkan Credit Union

Indonesia terpilih sebagai tuan rumah ACCU Forum, kata Wakil Presiden ACCU Romanus Woga (Rommy) dari Indonesia yang juga Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), disepakati pada September 2013 di Katmandu, Nepal. “Waktu itu ada beberapa negara yang mencalonkan diri menjadi tuan rumah, namun akhirnya disepakati CUCO (Credit Union Central ) of Indonesia menjadi tuan rumah untuk ACCU Forum 2014,” jelas Rommy yang untuk kedua kalinya terpilih menjadi Wakil Presiden ACCU.

Dia mengaku, sebagai Ketua Umum Inkopdit, sekaligus sebagai Wakil Presiden Credit Union se Asia, mempunyai beban tanggung jawab untuk menjadi tuan rumah forum dunia yang baik, dan memberi kepuasan kepada tamu yang berdatangan dari 25 negara di dunia dengan jumlah peserta terdiri dari : Australia, 10 , Bangladesh, 40 , Cambodia, 2 , Canada, 7, China 1, Hongkong, 7, India, 2, Indonesia, 117, Korea, 10, Kenya/Afrika, 3, Laos, 4, Mauritius, 2, Malaysia, 20, Mongolia, 27, Nepal, 79, Philipina, 130, Rusia, 1, Singapura 22, Sri Lanka, 9, Taiwan, 5, Timor Leste, 9, Thailand, 50, Amerika Serikat, 1, Vietnam, 10, Myanmar 1, Staf dari ACCU Bangkok dan CUCO Indonesia dan dari Puskopdit Bali, 13. Total peserta seluruhnya berjumlah : 580 orang.

Walaupun Indonesia sebagai tuan rumah, tapi jumlah peserta paling banyak adalah dari negara tetangga, Phillipina, 130 orang. Indonesia jatahnya 150 orang, namun karena terlambat mendaftar, diisi dari negara lain. Yang terlambat mendaftar termasuk Puskopdit Flores Mandiri Ende, Puskopdit BK3D Sumatera Utara, Puskopdit Maluku, Puskopdit BK3D Timor, dll. Sedangkan Puskopdit Swadaya Utama mengutus peserta sebanyak 37 orang dari 10 kopdit primair, juga utusan pengurus dan pengawas serta manajemen dari Puskopdit.

Kegiatan tersebut dipusatkan di “Sanur Paradise Plaza Hotel, Bali“. Ada tiga bagian kegiatan yaitu: Workshop dari tanggal 14 – 17 September, disambung Open Forum, dari tanggal 17 – 20 September, dan pada 21 September Rapat Anggota Tahunan (RAT) ACCU. Untuk RAT ACCU, pesertanya terbatas yaitu Presiden dan CEO utusan dari negara-negara anggota ACCU, tiap negara hanya dibatasi 2 peserta. Open Forum, dibuka oleh Deputy Kelembagaan Menteri Koperasi dan UMKM Republik Indonesia, Drs.Setyo Haryanto. Para pembicara ahli Credit Union dunia, menambah wawasan dan pendalaman pengetahuan tentang pengelolaan credit union bagi para peserta. Mereka adalah: Mark Worthington dari Australia, Brian Bennet dari Amerika, Sylvain Barate dari Kanada, Paul Luchtenburg, Robby Tulus, Ranjith Hetiarachchi, dll.

Di sela kegiatannya yang sangat padat, Majalah UKM mendapat kesempatan wawancara dengan Prersident Association of Asian Confederation of Credit Union (ACCU) Simon A. Pereira, dari Bangladesh. “Tujuan kita sama, membantu sesama, menolong diri sendiri guna mencapai kesejahteraan melalui credit union. Karena itu perlu saling menguatkan, saling menolong dan bergotong royong untuk berkembang bersama,” pesannya.

Menurut Simon, Indonesia lahan yang sangat potensial untuk mengembangkan credit union. Jumlah penduduknya yang sangat besar, 250 juta orang. Karena Indonesia termasuk Negara-negara berkembang, masih banyak pendudukanya yang harus disejahterakan. “Sama seperti Bangladesh, kami masih harus kerja keras untuk mencapai sejahtera. Walau ada Grameen Bank, lembaga pemberdayaan berbasis keuangan khusus untuk mengentaskan kemiskinan, credit nunion tidak merasa tersaingi. Kami sama-sama ingin menuju sejahtera,” urai Simon yang dalam pemilihan pengurus baru dikalahkan oleh Dr Chalermpo Dulsamphant dari Thailand.

Dalam kebersamaan tidak cukup dengan slogan solidaritas saja, tetapi sungguh-sungguh saling peduli, dan mencari solusi terbaik bagi credit union yang masih mengalami perkembangan lambat. Harapannya, begitu credit union dibangun ingin cepat berkembang dan maju seperti dalam perencanaan. “Signs of growth – tanda-tanda pertumbuhan credit union di Indonesia masih relatif tinggi. Karena itu kepercayaan anggota harus terus ditingkatkan. Mereka percaya setelah melihat tata kelola,” jelasnya

Untuk mewujudkan credit union yang berkelanjutan, dengan cara meningkatkan kapasitas dan kapabelitas pengelolaan, terutama meningkatkan pemahaman dan keterampilan mengelola credit union sejalan dengan pertumbuhan aset dan keanggotaan credit union yang telah memiliki tata kelola. Ada standar tata kelola yang disebut good cooperative governance. Untuk mencapai tata kelola yang baik tidak mudah. Jika sejak awal sudah memulai dengan standar tata kelola yang baik, akan jauh lebih baik, karena akan semakin mematangkan kita untuk siap ke situasi besar. Kita harus sepakat bahwa credit union yang kita kembangkan harus tetap sehat, tetap berkembang secara berkelanjutan.

Credit union harus menjadi lembaga yang dipercaya oleh para anggotanya. Bahkan dihargai dan dikagumi oleh pesaing. Orang akan kagum pada credit union karena konsistensi dalam menjalankan prinsip dan nilai-nilai credit union yang terwujud dalam produk dan pelayanan kepada anggota. ACCU telah merumuskan 5 faktor kunci menuju credit union yang berkelanjutan. Ke-5 faktor tersebut harus dijalankan secara komprehensip, terintegrasi dan memperhatikan kekuatan keuangan. Indikatornya Pearls, dimana ada 13 indikator yang harus terus dikontrol, dimonitor sebagai standar keberhasilan.

Pertama efisiensi operasional. Bagaimana akan terjadi kekuatan keuangan kalau tidak ada efisiensi operasional. Efisiensi operasional ini tercermin dari keefektifan arus kerja, proses penyampaian pelayanan kepada anggota. Kedua, kepuasan anggota harus terus menjadi perhatian. Jangan sampai yang disebut kepuasan bermakna salah. Ketiga bagaimana posisi credit union bersaing di tengah masyarakat. Keempat, terciptanya kepuasan pengelola atau pegawai. Ada pertanyaan, kenapa ACCU hanya memunculkan kepuasan pegawai, tidak ada kepuasan pengurus pengawas. Karena dalam tata kelola credit union yang langsung berinteraksi dengan anggota adalah pengelola. Kelima, kunci menuju credit union berkelanjutan.

Untuk bisa melihat lembaga itu berumur panjang atau tidak, ada beberapa hal, antara lain; lembaga tersebut peka terhadap perubahan lingkungan atau tidak. Kondisi lingkungan bisnis sekarang sudah berubah. Maka credit union juga harus mengubah beberapa hal yang dijalankan credit union. Ada faktor kosesif, kesatuan yang utuh, memiliki indentitas yang kuat. Kalau tidak dipertegas dari dirinya, credit union rentan untuk menjadi tidak kohesif, tidak memiliki indentitas jelas, karena suka terpancing-pancing persaingan.

Lembaga yang bisa berumur panjang biasanya yang toleran, tidak terlalu ketat dalam beberapa hal. Juga menghindari terlalu banyak kontrol yang terpusat. Ada beberapa yang berlaku khusus, misalnya, tentang kredit mikro. Karena kondisi masyarakat masih sangat membutuhkan bantuan dan memang menjadi sasaran credit union prioritas pinjamannya adalah mikro.

Credit union seperti misi utamanya, perlu memberdayakan sumber-sumber internal, dan tidak harus menunggu ahli semua.Yang sudah mengalami pembelajaran bersama credit union praktekan. Kita juga harus semaksimal mungkin meminimalisir resiko. Ada kebebasan untuk melakukan apa saja yang dapat dilakukan untuk pengembangan credit union tanpa harus meyakinkan pihak ketiga sebagai penyandang dana. Selama credit union berpegang teguh mengandalkan swadaya, selama memaksimalkan potensi anggota untuk menghimpun dana, credit union tetap terhormat, tetap dipercayai anggota.

Credit union harus dibangun – dikembangkan dan diukur dari kesuksesannya dalam mengelola 4 perspektif, yaitu perspektif keuangan, keanggotaan, pelanggan, dan proses bisnis internal. Forum pertemuan memiliki fungsi strategis dalam upaya melakukan konsolidasi gerakkan untuk menyatukan langkah pengembangan bersama. Semangat kebersamaan yang dibangun, yaitu membangun semangat yang satu dan sama. Sebagaimana tubuh, anggota tubuh kita banyak, namun satu tubuh. Apa yang dirasakan oleh salah satu anggota, dirasakan oleh seluruh tubuh.

Keragaman merupakan modal besar bagi kita untuk melakukan lebih banyak inovasi baru. Semangat berbagi harus menjadi inti untuk mewujudkan gerakkan satu tersebut. Strategi yang diterapkan di satu credit union dapat pula coba diterapkan di credit union lainnya. Credit union harus saling bekerjasama – bersaudara -bersahabat. Saling menguatkan, saling menolong untuk berkembang bersama, membicarakan strategi bersama, untuk tujuan bersama, yaitu semua credit union sehat dan kuat – save and soundness. (mar).

Sumber berita: http://majalahukm.com/indonesia-lahan-potensial-mengembangkan-credit-union/

Sumber foto: http://assets.kompasiana.com/statics/files/1406349547298231050.jpg




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, November 17, 2014
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved