Selamat Datang!

AMAN Selenggarakan Seminar Peran Seni dan Pendidikan

Jarum jam masih menunjukkan 9 pagi. Kamis, 23 Oktober 2014 di salah satu ruang pertemuan di Hotel Aquarius Palangka Raya telah di penuhi sejumlah peserta yang mengikuti kegiatan ‘Seminar Peran Seni dan Pendidikan untuk Keadilan Lingkungan di Kalimantan Tengah’. Begitulah isi spanduk yang terpampang di depan ruangan. Sebagai pembukaan sanggar Tari Sanggar Tari Balanga Tingang, ikut menampilkan tarian Masyarakat Adat Dayak usai dipanggil pembawa acara.

AMAN Kalteng bekerja sama dengan Institute Ungu, Jakarta melakukan seminar ini dalam 1 rangkaian kegiatan pementasan teater Subversif (23-24/10). Dalam penjelasannya Faiza Mardzoeki, selaku direktur mengatakan bahwa keinginannya untuk berbagi, bagaimana para pelajar dan mahasiswa ini merespon masalah-masalah penting seperti masalah lingkungan dengan cara seni. “Saya pikir mungkin kesenian tidak akan langsung bisa merubah sesuatu tapi saya pikir kesenian bisa menjadi teman bisa menjadi pendekatan yang cukup berarti untuk memperbincangkan mendiskusikan isu-isu penting,” kata perempuan penulis naskah ini teater ini.

Berkaitan dengan permasalahan masyarakat adat, dalam sambutannya Simpun Sampurna sebagai Ketua BPHW AMAN Kalteng mengatakan, Masyarakat Adat berada dan terlibat langsung dampak pada lingkungan. Salah satu contoh yang terlihat dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah, jika tidak dibayar maka orang tidak mau memadamkannya. Maka dari itu kearifan lokal dan inisiatif-inisiatif lokal sangat diperlukan dalam aktivitas menjaga lingkungan saat ini, namun saat ini praktek seperti ini yang  telah mulai berkurang, dibandingkan pada masa lalu.

“Apa yang terjadi di Kalimantan Tengah sangat mempengaruhi terhadap dunia bukan hanya di Kalimantan Tengah saja. Jadi harapan saya dari kegiatan ini bisa lahir kesadaran semua pihak arti pentingnya menjaga lingkungan,” harap Dadut panggilan sehari-harinya.

Karena kegiatan ini didukung oleh kedutaan Norwegia di Indonesia, Duta besarnya turut hadir menyampaikan sambutan. Stig Traavik, bercerita bahwa, bangsa Norway mempunyai pemahaman yang sama dengan konsep pohon kehidupan yang ada di Kalimantan. Juga dalam hal Budaya peduli lingkungan Bangsa Norway  hampir sama dengan Bangsa Dayak di Indonesia yang berkisah tentang Livelihood yang menceritakan tentang pohon kehidupan.

“Saya sangat bangga sekali karena Indonesia telah menampilkan karya seniman kami Hendrik Ibsen yang sangat terkenal. Teater malam nanti menggambarkan bagaimana budaya sisi modern dan sisi tradisional sangat berbenturan dan bagaimana cita-cita yang ingin kita dengar dan yang tidak ingin kita dengar dan siapa yang berpengaruh dan bertanggung jawab atas lingkungan serta siapa yang menerima dampak buruk langsung atas kerusakan lingkungan. Kesadaran dalam hal ini ketika anda mempunyai hak namun tidak bisa mengungkapkannya,” kata Traavik.

Ia melanjutkan bahwa, kondisi di sini beruntung  karena mempunyai pemerintah daerah sangat mendukung. Ini merupakan contoh yang baik sebagai upaya mendukung keadilan lingkungan. Traavik juga mengingatkan bahwa potensi kerjasama dari pihak yang peduli lingkungan dan pihak yang peduli kerjasama seperti Universitas Muhammadiyah Palangka Raya  yang memberikan tempat untuk pementasan.

Secara singkat, sebelum membuka acara secara resmi, Syahrin Daulay sebagai asisten II setda provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan sambutan. Selaku pemerintah provinsi menyambut baik untuk kegiatan ini karena diharapakan menghasilkan kesadaran dalam pentingnya menjaga lingkungan.

Sebelum masuk pada materi seminar, Dinda Kanya Dewi membacakan Puisi hasil karya Pelajar Palangkaraya. Puisi ini menggambarkan kondisi lingkungan di Kalimantan Tengah.

Pada panel pertama yang dipandu Yohanes Taka sebagai moderator, Simpun Sampurna dipercaya sebagai pembicara pertama. Ia membawakan materi Penyebab Konflik di Kalimantan Tengah, antara Perusahaan Perkebunan, Pertambangan dengan Masyarakat Adat yang Berdampak Terhadap Alam dan  Lingkungan.

Secara singkat, Dadut menggambarkan permasalahan yang terjadi dalam tata ruang, tumpang tindih antara kekuasaan pemerintah dengan kekuasaan adat. Kerusakan lingkungan dan sebagainya itu bersumber dari masalah Tata Ruang. Harapannya kedepan harus adanya pelibatan Masyarakat Adat dalam Penyusunan Tata Ruang sehingga mengecilkan konflik dan dapat menjadi solusi.

Pemateri kedua adalah Mastuati dari Lembaga Dayak Panarung (LDP). Aktivis perempuan ini mengajak peserta melihat dampak Industri ekstraktif tambang dan perkebunan di Kalimantan Tengah bagi perempuan dan masyarakat adat.

Mastuati mengingatkan dengan pertanyaan kritis. Apa yang kita lakukan agar perempuan dan masyarakat adat semakin kuat?. Beberapa hal dapat di lakukan dengan upaya advokasi, edukasi, kampanye mengenai Hak Azasi Perempuan dan Hak Azasi Manusia serta pengorganisasian agar perempuan dan masyarakat adat dapat bekerja secara kolektif.

Berikutnya, sebagai pemateri ketiga pada panel pertama adalah Marko Mahin sebagai Rektor Universitas Kristen Palangka Raya. Ia memaparkan Seni Budaya dan Pendidikan Pemerdekaan.
Marko menegaskan, peran seni budaya sebagai media pendidikan kritis, sehingga masyarakat bisa menggambarkan apa yang dipikirkan, menceritakan apa yang telah digambarkan dan mementaskan peristiwa hidup dan harapan hidup yang dialami tersebut, sehingga seni budaya bukan lagi hanya sekedar hiburan atau pertunjukan, bukan lagi alat penindasan dan media membangun kesadaran palsu baru atau menjadi alat penjinakkan kaum penindas tapi merupakan bagian dari proses menemukan transformasi baik dalam diri sendiri maupun dalam komunitas.

Hal penting lainnya pria yang masih sebagai pendeta aktif ini mengatakan seni budaya bisa menjadi tempat membangun kesadaran kritis tentang ketidakadilan dan penindasan, tempat membangun sikap kritis, percaya diri, semangat juang dan pemahaman atas apa yang membuat mereka tetap miskin, tergantung dan tertindas. Jadi masyarakat tidak hanya berfikir bagaimana dunia tetapi juga mampu berfikir bagaimana mengubah dunia.

Pada panel kedua  yang dipandu Faiza Mardzoeki sebagai moderator, Abdi Rahmat sebagai direktur Teropong diberi kesempatan pertama menyampaikan paparanya yang berjudul Memaknai Isu Kesenian, Lingkungan dan Pendidikan (Sebuah Refleksi).

Abdi mengatakan, kesenian sebagai ideologi lingkungan bukan merupakan sesuatu yang didorong-dorong, tapi merupakan sesuatu yang keluar sebagai keniscayaan bahwa lingkungan merupakan ideologi dari kesenian sehingga menempatkannya menjadi sesuatu yang memiliki posisi strategis. Kesenian harus dipulihkan maknanya sebagai sesuatu yang mengandung nilai, bukan hanya sebatas pada keterampilan, kepopuleran, dan tidak hanya skill. Jadi “Bagaimana Mengembalikan Makna Kesenian Merupakan Cara Ampuh Mempengaruhi Perbaikan Lingkungan?”.

Dari sisi akademisi berikutnya, Bismart Ferry Ibie sebagai  tenaga pengajar fakultas kehutanan universitas Palangka Raya mencoba melihat bagaimana pendidikan, lingkungan, media menjadi seni dan budaya.

Secara kritis, pria berkacamata ini mengatakan bahwa permasalahannya kita sering salah ketika mendidik. Ketika kita tidak bisa mengoptimalkan atau menggambarkan objek sesuatu yang kita ajarkan. Seni dalam pelajaran adalah ketika kita bisa mendeskripsikan suatu objek kedalam suatu gambar matematis. Guru dan Dosen sering membuat sesuatu yang gampang menjadi sulit agar kelihatan intelek oleh mahasiswanya, tapi seharusnya ini dibalik supaya yang sulit menjadi mudah.

Untuk memperkaya pemahaman peserta, panitia juga mengajak Matius Hosang dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Tengah. Ia membawakan paparan berjudul
Peran Pemerintah Dalam Mendorong Dunia Seni Dan Pendidikan Untuk Perubahan Positif Partisipasi Masyarakat Dan Keadaan Lingkungan Di Kalimantan Tengah.

Acara yang berakhir pada pukul 1.30  siang ini diwarnai pertanyaan peserta antara lain dari Mardiana Deren, PEREMPUAN AMAN Barito Timur, Novi Angraiyati, Mahasiswa Universitas Kristen Palangkaraya, Andri Masijia, Produser Film Maker/ Lembaga ICC, Agus dari GMNI Palangkaraya, peserta dari Staff Pengajar di Universitas Kristen Palangkaraya dan Pemerhati dan Pelindung Satwa Kalimantan Tengah.

Sumber foto: Dokumen AMAN Kalteng dan http://www.institutungu.org



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, November 1, 2014
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved