Selamat Datang!

Berkembang Berkat Credit Union Tilung Jaya

Usaha yang dikelolanya, Galeri Busana Adat Dayak, berupa kerajinan tangan, membuat busana adat Dayak beserta asesoris pakaian adat. Usaha tersebut dirintis tahun 1992, tetapi masih kecil-kecilan, dan belum ditekuni secara serius. Ketika tahun 2001 Credit Union Tilung Jaya ikut festival yang digelar oleh Dewan Pastoral Paroki, Christin yang aktif dalam kepanitiaan memperoleh informasi sedikit tentang credit union.

Dalam suatu diskusi antara pengurus Credit Union Tilung Jaya dengan pengurus WKRI disepakati perlu diadakan sosialisasi credit union di kalangan WKRI. Setelah ada sosialisasi akhirnya banyak yang menyadari bahwa credit union itu baik adanya dan menghilangkan kekhawatiran tentang koperasi yang tidak berhasil. Christin semakin percaya bahwa credit union besar manfaatnya setelah mengikuti pendidikan dasar. Dan atas persetujuan sang suami dia mendaftarkan diri jadi anggota. Resmi menjadi anggota Credit Union Tilung Jaya 28 Februari 2002 dengan nomor buku 192.

“Setelah menjadi anggota ada harapan untuk terus menjalankan usaha, karena bisa meminjam modal,” jelasnya berterus terang. Dia mengaku, berwirausaha karena ingin membantu suami menambah penghasilan, membantu biaya adik-adiknya yang sekolah di kota kabupaten. Galerinya menyewakan busana adat, baik untuk pria, wanita, maupun anak-anak, lengkap dengan pernak-pernik asesorisnya. Biasanya banyak yang menyewa kalau ada hari-hari besar, Agustusan, Hari Kartini, hari besar keagamaan, festival, dan ada upacara adat penyamburtan tamu-tamu penting.

Waktu awal merintis usaha, karena modalnya minim hanya cukup untuk membeli bahan-bahan jika ada pesanan, yang sifatnya tidak menentu. Kondisi itu dijalaninya selama kurang lebih 7 tahun. Baru tahun 2002 titik terang mulai kelihatan. Karena ada prospek yang cukup menjanjikan, dan untuk mendapatkan permodalan tempatnya jelas, Credit Union Tilung Jaya, maka Christin membulatkan tekat untuk mengembangkan usahanya. “Sejak menjadi anggota Tilung Jaya, semakin semangat untuk menekuni usaha. Pesanan mulai banyak penyewaan juga meningkat,” tutur Christin yang kemudian modal Rp20 juta dari uang pribadi dan pinjaman dari Tilung Jaya.

Sebagai anggota, dia mengaku sudah 4 kali pinjam ke Tilung Jaya. Terakhir, 2013 pinjam Rp75 juta. Dana itu untuk pengembangan galeri Rp30 juta dan Rp45 juta lainnya untuk usaha penangkaran ikan arwana. Jenis barang yang diproduksi antara lain; baju manik, kayu manik, ikat kepala, topi manik untuk pria, rompi, taplak meja, tempat tisu, sarung, dompet, anting-anting, ikat pinggang, dan banyak lagi.

Kalau dulu mengawali usahanya ditangani sendiri, sedikit dibantu adik-adiknya yang masih sekolah, belum berani merekrut karyawan, kerjanya juga di ruang tamu dan ruang keluarga, mulai tahun 2000 setelah berkembang dia mulai menerima karyawan. Saat ini mempekerjakan 8 orang, sebagai karyawan tetap 4 orang, dan pekerja lepas 4 orang. Tempat usaha pun memiliki ruang khusus, tidak menyatu dengan ruang tamu.

Sistem penggajian pekerja dilakukan dengan dua cara; yaitu pada saat menyetujui suatu pekerjaan – order diberikan panjar, dan sisanya dibayar setelah pekerjaannya selesai. Atau upah diberikan setelah pekerjaan selesai. Besarnya upah disesuaikan dengan volume pekerjaan. Contoh, untuk pembuatan baju manik upahnya Rp1,5 juta per baju, untuk kain Rp2 juta, selendang manik Rp250.000,- syal manik Rp100.000,- dan untuk gantungan kunci Rp30.000,- Pemasaran dilakukan melalui informasi saat arisan kantor, arisan Dharma Wanita, arisan WKRI, arisan lingkungan dan melalui pengurus dan staf Tilung Jaya. Barang-barang hasil kerajinan dipajang – disiapkan di ruangan galeri berukuran 4 x 5 meter. (my)

Sumber: http://majalahukm.com; Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com dan http://www.indonesiakaya.com




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Friday, June 27, 2014
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved