Selamat Datang!

YTS Lakukan Pendampingan Kelompok Peternak


Bertempat di kampung Sei Gohong dan kelurahan Banturung kegiatan pendampingan kelompok peternak ikan di laksanakan. Di salah satu rumah anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) pembuat pakan ternak di Sei Gohong dan Banturung, Tangkiling dilakukan pembuatan pakan ikan.

Anggota kelompok yang sebagian besar anggota CU Betang Asi ini sepakat untuk memutuskan setiap minggu melakukan pembuatan pakan ternak ikan. Menurut Frind Imanuel, secara hitung-hitungan pembuatan pakan ternak ikan ini memangkas lebih dari 50% jika di beli di toko pakan ikan kualitas nomor satu.

“Jika anggota kelompok membeli pakan sudah jadi seharga 12-13 ribu rupiah perkilo, maka dengan membeli bahan baku dan melakukan pembuatan pelet (baca digiling bersama), maka hanya 5-6 ribu per kilo, cukup banyak pemangkasan biaya,” jelas pria yang bekerja di Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) ini kepada penulis Rabu (7/5) lalu.

Dari pantauan penulis bahan baku dedak, kepala udang, di campurkan secara merata di atas terpal yang sudah di paparkan sebelumnya halaman rumah. Salah seorang ibu yang ditemui penulis menceritakan kemudahan yang diterimanya saat bergabung di kelompok.

Pancar adalah salah seorang ibu yang tinggal Sei Gohong. Ia tergabung dalam kelompok dampingan YTS sejak tahun 2000-an. Ibu yang mempunyai 3 kolam ikan ini merasa cukup terbantu dengan adanya pembuatan pakan ini.

“Saya membeli hanya seharga 5 ribu per kg, jika dibandingkan membeli di toko pakan harganya 12-13 ribu per kg. Sehingga dapat mengatasi kendala yang paling utama dalam pemberian pakan yang kami terbarkan untuk kolam kami sendiri, setidaknya kami dapat 20-25 kg sekali menggiling,” cerita Pancar.

Walaupun baru berjalan 1 bulan di Sei Gohong, Pancar mengungkapkan sangat terbantu. Ia mengakui telah ikan yang dipeliharanya di kolam terpal cukup banyak  peminatnya, bahkan pembeli datang sendiri untuk membeli di kolamnya secara langsung.

Dari proses pembuatan pelet ini, informasi yang diterima penulis bahwa penjemuran dilakukan 1-2 hari untuk cuaca yang panas. Pakan yang sudah kering dalam 1 hari diberikan ke kolam ikan pada pagi dan malam harinya.

Terkait mesin untuk menggiling, Frind mengungkapkan ini adala salah satu komitmen dari YTS untuk membantu masyarakat. Harapannya  anggota CU yang dibina, ketika melakukan kredit di CU mesin ini dapat menekan biaya produksi pakan dan meringankan mereka dalam membayar angsuran di CU.

Ditempat berbeda, CU Betang Asi ikut mendampingi Frind ke Banturung. Kelurahan yang berjarak tempuh 30 menit dari kota Palangka Raya ini mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak.

Dari CU Betang Asi, Leani, Yosi Monalisa dan Asep Nana Sumpena yang ikut mendampingi sejak pagi hingga siang mengamati proses pembuatan pelet yang dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di kelurahan Banturung pada Jumat (9/5) lalu.

Proses di mulai dengan membersihkan mesin pembuatan pelet sekaligus melakukan pemanasan untuk mesin. Berikutnya sebanyak 2 karung dedak padi seberat 85 kg di ditebarkan di atas terpal, ½  karung kepala udang dan ikan asin serta ½  karung bungkil sawit.

Pencampuran menggunakan cangkul dan sekop yang dilakukan secara berlahan. Jika sudah tercampur, maka dilanjutkan dengan pencampuran air menggunakan gembor (alat penyiram air) sampai kekentalan dirasa cukup. Peremasan bahan pelet dilakukan menggunakan tangan. Bahan yang di remas tidak pecah ketika diremas ini menandakan pencampuran air di hentikan.

Salah seorang ibu yang enggan disebutkan namanya menceritakan bahwa usai dilakukan penggilingan, selanjutnya bahan di jemur di bawah terik matahari. “Jika saya beli di pasar harganya 12-13 rb per kg. Sedangkan jika dibeli bahan bakunya dibuat sendiri seharga 5 ribu per kg”, ungkapnya.

Menurut Frind Imanuel, dalam KUB yang dibentuk sudah membuat Standart Operasional Prosedur (SOP) untuk masing-masing tahapan, dari pembersihan mesin, pembuatan bahan baku hingga pemasaran. “Nama KUB yang ada di Banturung ini adalah Katunen Jaya. Hasil dari pembuatan pakan di timbang dan pengaturan persentase pembelian dari 5 ribu per kg di bagi sesuai SOP yang telah dibuat,” tutur pria yang juga membantu CU sebagai kolektor di Tangkiling dan sekitarnya ini.

Ke depan diharapkan anggota CU yang melakukan wirausaha serupa membuat kelompok sehingga pendampingan dapat dilakukan secara optimal. Jika anda ingin mengcopy film terkait pembuatan pelet ini silahkan menghubungi bagian pendidikan CU di kantor pusat Palangka Raya.

Sumber foto: dokumen CU Betang Asi.
***





Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, May 13, 2014
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved