Selamat Datang!

Setelah Membuka Diri Stella Maris Berkembang Pesat

Umat Gereja Stella Maris, atau umat-umat gereja lain kalau mengalami kesulitan ekonomi biasanya datang ke Paroki mencari bantuan. “Di dalam benak mereka yang namanya Paroki – Pastor itu banyak uang untuk menyelesaikan masalah mereka,” tutur Maria Sukarni, Manajer Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Stella Maris, mengawali perbincangannya dengan wartawan Majalah UKM, beberapa waktu silam.

Menyadari begitu banyak umat gereja yang membutuhkan bantuan, Pastor Paskalis Soedirjo OFM Cap, Pastor Paroki Stella Maris melontarkan ide mendirikan Credit Union di lingkungan Paroki Stella Maris. Salah satu alas an perlunya dibentuk Credit Union di lingkungan Paroki Stella Maris, kenyataan yang sering terjadi ada umat kesulitan mengurus penguburan jika ada yang meninggal dunia. Kematian itu rahasia Tuhan, orang tidak bisa memperkirakan, kecuali bunuh diri tidak direncanakan, tetapi semua orang akan mengalaminya. Karena tidak direncanakan, cukup banyak umat yang kesulitan biaya mengurus penguburannya.

Gagasan mencari jalan keluar mengatasi kesulitan umat itu kemudian dibahas dalam rapat Dewan Pengurus Pastoral Paroki Stella Maris. Karena kebetulan dekat dengan Koperasi Kredit (Kopdit) Credit Union Pancur Kasih, kata Maria, berkoordinasi dengan mereka, bagaimana kalau Paroki Stella Maris membuat organisasi ekonomi yang bisa menjawab kebutuhan ekonomi umat.

Sebelum membentuk lembaga keuangan untuk menjawab kebutuhan umat, para tokoh sudah mengadakan rapat-rapat kecil untuk menentukan strategi ke depan. Karena belum paham yang namanya strategi planning, maka diajaklah para aktivis Pancur Kasih yang memang sudah sangat paham bagaimana mengelola credit union. Sebelum membentuk lembaga secara resmi diadakan pendidikan dan motivasi di kompleks gereja. Bagi umat yang tertarik dipersilahkan datang. “Walau hanya diumumkan di gereja, cukup banyak yang datang,” jelas Maria, yang waktu itu sebagai tenaga sukarela dikasih makan saja sudah senang.

Sebagai lembaga baru, resminya didirikan pada 1 Februari 1995, oleh 25 orang, kata Maria, yang awalnya sebagai tenaga sukarela, ada saja umat yang tidak setuju. Alasannya, gereja mengurusi kematian. Komentar miring itu karena ketidakpahaman mereka. “Kalau mau maju kita harus berjuang terus. Karena itu pengurus terus menerus mensosialisasikan kepada umat,” kata Maria seraya menambahkan, bahwa untuk mengamankan uang anggota ditipkan ke Kopdit Credit Union Pancur Kasih. Kebetulan, lokasnya berdekatan.

Karena awalnya hanya fokus pada umat Paroki, perkembangan Stella Maris tersendat-sendat, jalanya sangat lambat. Terlebih lagi karena dikelola secara sambilan, sementara umat sendiri belum percaya dengan kapabilitas mereka. Pengelolanya, baik pengurus maupun staf, bekerja secara sukarela, tanpa gaji. Pelayanan hanya dilasanakan pada hari Minggu setelah misa I dan II dengan 3 orang tenaga volunteer – sukarela, yaitu Nelly Gunawaty, Sri Djuhariningsih dan Maria Sukarni. Mereka dimentori oleh Serafina Serafin yang pada waktu itu sudah bekerja di Kopdit Credit Union Khatulistiwa Bakti. Akibatnya Stella Maris belum bisa dikembangkan secara maksimal untuk melayani kebutuhan anggota yang berimbas pada perkembangannya yang lamban.

Umat yang pernah membutuhkan bantuan pun tidak serta merta tertarik mau menjadi anggota. Selama 3 tahun (1997) jumlah anggota baru mencapai 179 orang dan aset baru Rp 67.631.575,- Tetapi akhir tahun buku 2013 jumlah anggota telah mencapai 5.040 orang dan aset Rp 54.798 708.416,- Menurut kreteria Kementerian Koperasi dan UKM, Kopdit Credit Uniion Stella Maris sudah termasuk koperasi besar Indonseia. Karena jumlah anggota sudah di atas 1000 orang, dan jumlah aset sudah di atas Rp 10 miliar.

Setelah terseok-seok agak lama, kata Maria, fase perkembangan yang terlihat cukup signifikan mulai tahun 2002. Saat itu disadari bahwa misi credit union bukan hanya untuk kelompok – golongan tertentu tetapi untuk semua orang yang ingin berkendak baik, membangun kebersamaan, mengatasi kesulitan bersama, saling tolong menolong dan membangun kesejehateraan bersama. “Kalau yang berhak menjadi anggota hanya umat Katolik saja berarti sudah melanggar hak umat lain menjadi anggota, terlibih mengingkari cita-cita misi mulia credit union,” jelas Maria. Karena itu akhirnya membuka diri siapa pun, setiap orang boleh menjadi anggota.

Kebijakan membuka kesempatan bagi masyarakat luas tanpa melihat agama, suku dan golongan juga pernah ada pro kontra. Terutama dari umat yang sangat fanatik. Misalnya, ada yang mengatakan, kita tidak bisa melayani pada hari Minggu karena hari Minggu adalah hari Sabat untuk Tuhan. “Untuk melayani Tuhan, tidak hanya pada hari Minggu. Melayani umat, itu bukti cinta kasih kita kepada umat, yang artinya juga melayani Tuhan. Sampai saat ini pun masih ada yang tanya, kenapa harus melayani – buka kantor pada hari Minggu,” jelas Maria serius.

Sejarah berdirinya Stella Maris buka hari Minggu, lanjut Maria, untuk melayani umat yang ke gereja. Sekalian mereka pergi ke gereja, mengurangi transportasi, mereka bisa menabung di koperasi. Karena kantor ini juga dekat dengan gereja hari Minggu pun tetap buka. “Kantor buka hari Minggu itu harga mati. Ketika menerima pegawai baru, juga dijelaskan dan harus menjadi komitmen. Karena sudah mendarah-daging dalam diri, tidak merasa terbebani. Melayani dengan iklas dan penuh kasih adalah pelayanan kepada Tuhan. Kebetulan sampai saat ini semua karyawan umat Katolik, lebih mudah memberikan pengertian,” jelas Maria, lalu menambahkan bahwa pelayanan tidak sehari penuh, hanya dari jam 09 – 13 Wib, dan hari Sabtu libur.

Ketika kantor masih di kompleks gereja, sementara anggota sudah mulai ada yang dari umat Muslim, ada pemandangan yang barang kali kelihatan aneh, pakai jilbab kok ke gereja. Padahal mereka itu hanya bertransaksi dengan koperasi, menabung atau pinjam uang. Tetapi lama-lama, makin banyak masyarakat yang tahu, dan makin banyak orang berjilbab di lingkungan gereja, menjadi biasa saja. “Entah benar atau salah, mereka yang non Katolik itu menganggap lebih percaya orang Katolik yang mengelola keuangan. Nilai kejujuran yang mereka nilai,” kata Maria, tidak bermaksud mendiskreditkan yang lain itu tidak jujur. Brang kali, lanjutnya, mereka menyimpan uang di Stella Maris itu untuk mengembangkan ekonominya lebih aman.

Setelah pindah kantor dari kompleks gereja, dan berhasil membangun gedung kantor di lokasi strategis di Jln Gusti Situt Mahmud No 80, Siantan, Pontianak, mendorong perkembangan Stella Maris melaju pesat. Dari jumlah anggota, misalnya, setiap bulan rata-rata di atas 100 anggota baru masuk. Waktu masih di kompleks gereja pertambahan jumlah anggota paling hanya 20 – 30 orang per bulan. Pengaruh dari seringnya berpromosi juga cukup besar terhadap pertambahan jumlah anggota. Kalau dilihat perkembangan jumlah anggota yang saat ini mencapai 5.040 orang, selama 3 tahun terakhir, prosentasenya yang non Katolik, terutama dari umat Muslim lebih besar.

 “Sekarang yang non Katolik sudah sekitar 40%, dan pertambahannya semakin besar. Ada yang dibawa oleh teman-temanya, ada juga karena setelah mereka melihat kantor lalu mampir tanya-tanya, segtelah mendapat penjelasan akhirnya mendaftar menjadi anggota, Jelas Maria. Tentang kebijakan pengembangan ke depan, kata dia, harus lebih fokus ke masyarakat non Katolik. Dan itu sudah dimulai, misalnya, di tempat pelayanan (TP) Jungkat dan Segedong, sudah melakukan pendekatan dengan kelompok ibu-ibu pengajian.

Kepada mereka selalu dijelaskan bahwa awal berdirinya Kopdit Credit Union Stella Maris itu dimulai dari Paroki, tetapi sekarang sudah terbuka untuk semua orang. Meski diakui belum menjadi kebijakan lembaga mengadakan kerja sama secara formal dengan tokoh-tokoh masyarakat tetapi secara informal telah terjalin dengan baik. Selagi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat mereka tidak ada masalah.

Sebagai salah seorang pendiri dan sejak awal terlibat dalam proses pengelolaan lembaga yang kini asetnya cukup besar, Maria merasa was-was jika terjadi stagnan peredaran uang. Kalau uang tersalurkan kepada anggota lancar, pengembaliannya juga lancer, dan semua lancar-lancar saja, pasti senang. Untuk menghindari terjadinya penumpukan uang di lembaga, harus ada kiat untuk memasarkan uang tersebut. Sebab pendapat lembaga untuk membiayai operasional termasuk membayar gaji karyawan berasal dari jasa pinjaman anggota.

Yang ideal, anggota pinjam uang di koperasi bukan untuk kebutuhan konsumtif, misalnya, beli alat-alat elektronik, beli mebel, dan sebagainya, tetapi untuk kegiatan produktif seperti untuk modal usaha. Kalau pinjam uang itu untuk kegiatan usaha, kesejahteraan anggota akan lebih cepat tercapai, dan lembaga juga akan lebih sehat karena perputaran uangnya lebih cepat. Menurut data, anggota yang pinjam untuk kegiatan produktif memang belum cukup besar karena baru sekitar 20%. “Idealnya yang pinjam untuk kegiatan produktif itu di atas 50%. Anggota sebagian besar pegawai swasta, pegawai negerinya sedikit, dan lebih sedikit lagi yang wirausaha,” jelasnya. (dm)

Sumber: http://majalahukm.com




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Sunday, May 4, 2014
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved