Selamat Datang!

CU KB Utamakan Pendidikan

Medio Oktober 2013 lalu penulis berkesempatan mengunjungi beberapa CU yang ada di kota Pontianak. Salah satunya adalah CU Khatulistiwa Bakti (CU KB). Kantor CU ini tidak jauh dari kantor Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCUK). Hanya dengan beberapa langkah saja kita sudah dapat mengunjungi kantor yang terletak di jalan Imam Bonjol Pontianak.

Memasuki ruang pelayanan penulis disapa oleh petugas yang menanyakan maksud dan tujuan kedatangan. Dengan ramah staf mengajak untuk duduk, menunggu di ruang pelayanan yang sejuk  be-AC, suasana tampak tidak terlalu ramai, hanya 1-2 orang saja yang dilayani oleh petugas di balik meja kasir.

Tidak sampai 15 menit akhirnya penulis diajak ke lantai-2 menemui Tobias manajer kantor pusat, Imam Bonjol. Ia ditemani oleh Agustinus Satywan dan Agustinus Budianus. Ketiganya menyapa dengan ramah penulis, yang membuka diskusi dengan menanyakan strategi apa yang dilakukan CU KB untuk meningkatkan kualitas anggota.

Agustinus Satywan mengatakan pendidikan pertama yaitu sosialisasi sebelum anggota mengikuti pendidikan. “Ini dilakukan secara formal maupun informal di mana saja di warung kopi, bertemu dijalan. Setelah tertarik lalu dikumpulkan oleh Community Organizer (CO) yang ada di TP-TP dilanjutkan dengan pendidikan dasar plus bagi anggota dan calon anggota, ini rutin dilakukan tiap bulan,” ungkapnya.

Kepada anggota lama Wawan menjelaskan ada pendidikan motivasi yang diberikan kepada yang kurang aktif untuk diundang kembali mengikutinya selanjutnya, pendidikan pembukuan dasar untuk anggota yang tertarik dan ingin memperdalam tentang CU ada 20-30 orang anggota aktif yang diundang pada pembukuan dasar pertama. “Lalu ada juga pembukuan lanjutan yang lebih mengarah ke keuangan penyusunan akutansi. Ini sifatnya pilihan dan anggota yang mau ikut. Dengan mengacu pada jenjang pelatihan itu sendiri,” jelas pria yang dipercaya sebagai deputi ICT.

Lain halnya untuk pengurus, pelatihan CUDCC kepada calon pengurus dan pengurus. “Pelatihan ini kami adakan sendiri dan bekerja sama dengan BKCUK karena jika mengikuti BKCUK biasanya  1 tahun sekali. Sedangkan untuk pelatihan CO di koordinir oleh Human Rersource Management (HRM) yang dikumpulkan dari anggota-anggota yang aktif dan mereka bersedia di lapangan misalnya, membantu anggota, jemputan setoran, kolektor, bahkan tugas lain di lapangan,” papar Wawan.

Dari balas jasa yang diberikan kepada CO Agustinus Budianus menjelaskan ini berkaitan dengan SK yang dibuat langsung dari pengurus, dengan pembaharuan masa kontrak setiap tahun. “Tentang salary yang diterima ada dalam SK itu, ada SOP khusus tentang CO ini. Setelah pelantikan CO mereka membuat pernyataan kesungguhannya. Akan dievaluasi dalam 1 tahun tersebut,” jelas Budi.

Kelayakan menjadi seorang CO melalu penyaringan yang telah dilakukan oleh para manajemen di CU KB. Budi menjelaskan dari pengamatan teman-teman di kantor pelayanan, prestasi calon CO di nilai dalam hal kesediaan, kemauan, punya usaha sendiri dan setelah bersedia, akan diikutkan dalam pelatihan. “Terkadang sebelum menjadi CO mereka ikut membantu staf lapangan dan ini semacam ujian, tidak ada dibayar,” ungkap deputy usaha di CU KB ini.

Hal menarik lainnya CU KB menerapkan pendidikan ekstension kepada anggota yang tidak punya waktu 1 hari penuh, karena kesibukan dalam bekerja. Hal ini dijelaskan oleh Budi, bagi anggota yang tidak punya waktu untuk pendidikan dasar yang reguler pada Sabtu Minggu. Ektension ditawari pada malam hari dengan waktu 3 malam berturut. “Untuk ekstension, dilakukan pada malam hari jadi lebih singkat dari yang reguler dari pukul 19.00-22.00 malam, selama 3 hari jadi ada 9 jam dan lebih cepat,” jelas pria yang bergelar sarjana hukum ini.

Di tanyakan lama dan waktu ketiganya kompak menjawab untuk pendidikan dasar berdurasi 10-11 jam atau 1,5 hari. Pada hari Sabtu dimulai dari pukul 14.00-17.00. Pada hari Minggu dari pukul pagi 09.00 pagi sampai 17.00 sore. “Ini fleksibel tergantung dari daerah masing-masing. Sedangkan tempat bila ada ruang diklat seperti di Imam Bonjol ada di lantai 3. Sedangkan bagi kantor yang masih sewa atau di bangun akan di adakan di Sekolah Dasar, SMP, menyewa aula, ruang serba guna gereja dan rumah masyarakat,” terang Wawan.

Berbicara pelatihan tentu dipandu oleh fasilitator pelatihan. CU KB melakukan pelatihan dasar fasilitator untuk pengurus, manajemen dan pengawas. “Syaratnya harus pernah ikut TOT diklat dan harus lulus tes fasilitator, ia akan diuji oleh fasilitator inti, untuk menilai bagaimana cara fasilitasi dari calon fasilitator dan co fasilitator,” jelas Tobias.

Tobias melanjutkan, jadi minimal ada 2-3 orang, fasilitator dan co fasilitator. Proses TOT diklat ada 2-3 hari. Setelah ujian yang pertama magang dan dievaluasi. Indikator penilaian ada dan dibuat oleh CU, ada kerjasama antara manajemen dan pengurus dan akhirnya di lihat pada mampu dan tidak mampu.

Tantangan yang dihadapi oleh fasilitator cukup banyak, salah satunya adalah metode pendidikan orang dewasa. Menurut Wawan, awalnya yang paling sulit adalah mengubah pola pikir anggota dalam mengatur keuangan keluarga. “Biasanya sebelum kita memberikan materi CU. Kita bongkar dulu pola pikir masyarakat, biasanya bagaimana pendapat mereka dari pola menabung bagaimana?, apakah dari sisa. Perlahan kita masukkan bahwa menabung itu dari awal. Jika yang pertama sudah masuk, maka yang lain akan mudah masuk juga,” jelas Wawan dengan mimik serius.

“Hal lainnya ini juga dilihat dari variasi jumlah anggota dan tingkat pendidikan. Ada juga peserta yang minder. Ini jika heterogen, tapi jika homogen paling enak seperti kita di daerah mereka terlibat dan tidak ada yang merasa lebih besar. Tapi jika di desa kelemahan andragogi, dia lebih homogen, jika di kota lebih ramai karena latar belakang pendidikan tinggi,” jelas Budi menambahkan.

Menghadapi tantangan tersebut menurut Wawan, harus meningkatkan kualitas fasilitator, dalam metode awal, fasilitator inti dulu yang turun dan punya pengalaman, punya ice breaking, membuka awal ini sulit jika karakteristik awal belum di temukan dan peningkatan kualitas fasilitator kita tingkatkan terus menerus.

“Setiap tahun akan dilakukan evaluasi untuk melihat apakah fasilititator dapat naik grade. Evaluasi ini dilakukan oleh forum fasilitator dan ada tim yang menjadi penilai fasilitator inti, ini dikumpulkan tiap tahun bersama dengan pengurus dan diusulkan jika menjadi CO fasilitator akan menjadi fasilitator inti, atau bahkan ada yang turun aturan sudah kita buat. Ada 2 jenis yaitu diawali magang, ke co fasilitator dan fasilitator inti,” jelas Tobias.

Ketiganya berharap CU tetap eksis dan menjadi pilihan masyarakat, dalam persaingan dengan lembaga lain. Harapan lain, anggota bisa sejahtera bersama dan ini dilihat dari jumlah penduduk di Kalbar, dari persentasenya masih kecil yang masuk menjadi anggota CU. Seiring masuknya menjadi anggota, akan berubah pola pikirnya dengan adanya pendidikan, mengatur keuangan, menabung sehingga dapat menjadi penerus dan anggota sejahtera secara materi dan non materi.

Pertemuan yang dilakukan di ruang manajer kantor Imam Bonjol pada 19 Oktober 2013 lalu ini diakhiri dengan foto bersama. Semoga pelayanan CU KB kepada anggota semakin baik dan kesejahteraan bersama dapat diraih.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis
Keterangan foto: ki-ka: Tobias, Penulis, Budi dan Wawan


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, October 30, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved