Selamat Datang!

Catatan Kecil Pelatihan CUSCC

Pelatihan Credit Union Supervisory Competency Course (CUSCC)  beberapa bulan lalu telah dilaksanakan. Dari tanggal 29 Juli-1 Agustus 2013 pelatihan ini dilaksanakan di wisma PU kota Makassar.

Salah seorang peserta yang mengikuti pelatihan adalah sekretaris pengawas kopdit CU Betang Asi, Rita Sarlawa. Menurutnya tujuan dari pelatihan adalah untuk meningkatkan kompetensi Pengurus, Pengawas dan  Komite Audit Credit Union.

Ia menceritakan pengalaman yang didapatkan selama pelatihan dan yang paling berkesan adalah benar-benar bisa merasakan roh audit yang sebenarnya, Jadi “feel”- nya dapat. Artinya bahwa peran, fungsi dan tanggung jawab dari seorang pengawas/ komite audit  dan auditor internal begitu sangat penting di Credit Union.  Khususnya hal-hal yang berkaitan dengan persoalan pemeriksaan dan pengawasan di Credit Union demi kesehatan dan keberlanjutan Credit Union itu sendiri.

“Aplikasinya terhadap CU Betang Asi adalah menerapkan 4 (empat) jenis audit yaitu laporan keuangan, operasional, kepatuhan dan sosial maka sistem audit yang ada akan lebih komprehensif lagi,” jelas Rita. Dari sisi tugas dan tanggung jawab Rita mengatakan sebagai tim pengawas menyadari bahwa tugas audit akan semakin berat lagi. Tapi hal ini dilakukan untuk eksistensi Credit Union Betang Asi, supaya apa yang menjadi visi dan misi CU dapat tercapai...helping people help themselves... that’s greats !, jelasnya.

Fasilitator dalam pelatihan ini adalah Romo Fredy Rante Taruk, yang juga pengurus dari Puskopdit BKCUK. Romo di bantu oleh Rosalina Susi. Dari sekian banyak penyampaian materi ada benang merah yang dapat di tarik oleh Rita. Ia menerangkan bahwa, ancaman egoisme dalam CU yaitu yang kaya makin kaya dan yang miskin, tetap miskin.

Benang merah berikutnya, BJS 12 - 15% telah mengundang opportunis ‘menimbun’ modal di CU. Mereka kadang tidak meminjam, dan hanya menunggu BJS setiap bulan. Ironisnya di dalam  CU terdapat segelintir anggota berduit yang menunggu BJS, sementara sebagian besar lainnya yaitu orang kecil/ petani harus  bersusah payah bekerja untuk membayar angsuran mereka. CU demikian cenderung kapitalistik, dan tidak cooperative.

“Karena sesungguhnya CU bukan lembaga keuangan tetapi CU lebih kepada lembaga pemberdayaan masyarakat. Saya rasa CU Betang Asi perlu untuk membuat/ merumuskan apa saja yang menjadi nilai-nilai inti dari lembaga ini, hal ini berkaitan dengan jati diri dari CU BESI,” jelas Rita yang mengutip ungkapan Romo.

Terkait jati diri, ini berkaitan dengan apa yang menjadi nilai-nilai dari lembaga tersebut. Ketika sudah mengetahui apa yg menjadi nilai-nilai tersebut maka seluruh lapisan anggota menyadari eksistensi CU ini berdiri.

Misalnya nilai-nilainya adalah  SEJATI yang merupakan singkatan dari Sustainable-berkelanjutan, Eamark -7 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, Segera Melayani, Sukses), Justice- Adil dan jujur,  Advanced- Terdepan dalam kualitas dan kuantitas, Togetherness- Berat sama dipikul ringan sama dijinjing dan Intregrity-intregitas.

“Ada 10 modul yang kami pelajari selama pelatihan dengan waktu 18 jam,” terang perempuan yang juga sebagai akademisi ini. Lebih jauh ia menceritakan pada awal pelatihan yang dilakukan sebelumnya adalah orientasi program dan evaluasi kredit lalai CU primer, kemudian masuk ke masing-masing modul.

Modul 1, membahas tentang Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit/ Pengawas; Modul 2, Jenis Audit; Modul 3, Membaca dan Memahami Laporan Keuangan CU; Modul 4, Evaluasi Kecukupan Pengendalian Internal CU; serta Modul 5, Memahami Asersi Manajemen Mengenai Laporan Keuangan.

Modul 6-10 berturut-turut membahas, Penetapan Tujuan dan Prosedur Audit; Audit Kinerja Sosial; Pertumbuhan & Pembelajaran; Penilaian Efektivitas Komite Audit/ Pengawas; dan Rencana Tindakan.

Menurut Rita, suasana pelatihan yang dikemas cukup menarik sekali, walaupun ada beberapa sesi yang membuat peserta mengantuk, tapi tak mematahkan semangat untuk terus melanjutkan pelatihan. Bercerita tentang kuantitas dan kualitas anggota ia merasakan bahwa mengejar kualitas dan kuantitas anggota harus berimbang. “Saatnya CU Betang Asi berbenah diri untuk menuju perubahan, karena baik saja belum tentu cukup yang pasti harus baik yang ideal,” tutup Rita.

Sumber tulisan: Rokhmond  Onasis; Sumber foto: Rita Sarlawa.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, September 7, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved