Selamat Datang!

TP BPP, Kredit Konsumtif Diminati Anggota

Hujan baru saja turun dan membasahi bumi Jari Janang Kalalawah. Matahari masih terlihat malu-malu menampakkan wajahnya, pagi Senin (15/7) penulis menyusuri jalan di kota Tamiang Layang menuju tempat pelayanan dari Kopdit CU Sumber Rejeki (CU SR).

Di depan kantor yang terletak di jalan Nansarunai gang Anggrek, sejumlah anggota sudah mulai berdatangan untuk dilayani oleh penggiat CU TP. Balai Butut Pamelum (BPP) Tamiang Layang, Barito Timur.  Motor dan mobil sudah terparkir rapi di depan kantor yang di cat bernuansa putih. Di pintu utama, ada dua relief talawang (baca perisai) yang terletak di samping kiri dan kanan, nampak pula papan informasi kepada anggota yang belum terisi penuh.

Saat penulis masuk ke dalam kantor, hawa sejuk menyelimuti kulit karena ada AC di ruang pelayanan. Bergegas penulis menemui petugas dan menyampaikan tujuan kedatangan. Di sambut dengan jabat tangan erat oleh Titus Ednan, pria yang sekarang di percaya sebagai staf pendidikan di TP BPP.

Titus mengajak penulis masuk ke salah satu ruangan konsultasi kredit dan mengajak kepala seksi kredit, Agustina dan staf kredit TP BPP, Orintus untuk berdiskusi. Dengan ramah mereka mempersilahkan penulis duduk dan berbincang sebentar untuk menanyakan tujuan kedatangan ke kantor TP BPP.

Menurut Agustina, ia kebetulan ada di kantor TP BPP karena mengangsur pinjaman keluarga. “Saya sudah bertugas sebagai kepala seksi kredit di CU SR di Ampah,” ungkapnya. Di singgung tugas utama Tina panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa ia memantau setiap perkreditan di CU SR, terutama untuk kredit lalai. Selain itu, jika diperlukan ia turun langsung untuk menangani dan mendampingi tim ke lapangan untuk menemui anggota.

“Setiap bulan saya memperhatikan laporan kredit yang ada, setiap laporan berbeda-beda dari 17 TP dan saya harus mengetahui TP-TP mana saja yang kesulitan, biasanya 1 minggu tergantung permintaan, jika TP kecil biasaya 3 hari, tapi jika TP besar dan permasalahannya agak sulit, saya harus turun sampai permasalahan tersebut kita tanggapi,” kata perempuan berumur 35 tahun ini.

Terkait jenis kredit yang paling banyak di cairkan, di tempat yang sama Orintus menjelaskan bahwa kredit yang paling banyak dicairkan adalah kredit konsumtif yang peminatnya paling banyak, selanjutnya kredit produktif. “Rata-rata dalam 1 bulan di TP BPP ada 20 orang yang masuk kapitalisasi, yang kegunaannya untuk menambah modal anggota dan masuk anggota,” jelasnya. Ia menambahkan, anggota per Juni 2013 ada 2.600 orang dan ada 1400 peminjam yang lebih banyak perempuan.

Pria yang berusia 34 tahun ini menjelaskan bahwa jumlah pencairan kepada anggota pernah pernah sampai 300 juta. “Pencairan ini juga dilihat dari kelayakan anggota  dan tetap memperhatikan kualitas anggota  dan tidak semua di perlakukan seperti itu, jika layak akan diberikan. Syarat lainnya adalah anggota sudah ikut pendas 18 jam atau 2 hari dan layak diberikan sertifikat,” jelas pria yang sudah 3 tahun menangani kredit di TP BPP.

Dari sisi pengalaman menarik, Tina mengatakan, ia menyukai permasalahan di bagian kredit.”Permasalahan membuat kita dewasa dan salah satunya adalah cara berfikir kita berbeda ketika di kuliah kita hanya teori saja. Dalam praktek ini karakter orang, suku, kita dapatkan dari proses perkreditan,” jelas perempuan alumni S-2 Pancasetia Banjarmasin ini. 

Tina menjelaskan bahwa mereka sudah menggunakan pihak ke-3 untuk melakukan penyitaan barang. “Jadi jalan ini ditempuh ketika solusi sudah buntu dan akan diserahkan ke kuasa hukum, tapi tetap ada pendampingan dari bagian kredit. Kita tetap melakukan konsultasi dulu dengan anggota, dan bila benar-benar tidak mampu maka barang jaminan akan di ambil, ada 2 yaitu tanah dan kendaraan,” jelas perempuan yang sudah masuk CU sejak tahun 2002.

Berbicara stategi penanganan kredit lalai, Orintus menceritakan, ketika melakukan penagihan ke rumah anggota awalnya di kita harus mengetahui kondisi dari anggota itu sendiri. “Setelah kondisi anggota kita ketahui, baru kita tanyakan kenapa bisa lalai dalam kredit, tidak terlalu etis bila kita menagih langsung tanpa kita tahu kondisi dari orang tersebut. Biasanya kita mencari solusi bersama ke depannya seperti apa, cara mengangsurnya lagi,”katanya dengan nada tegas.

Menutup pembicaraaan, keduanya berharap, CU dapat berjalan terus sepanjang jaman. “CU tetap eksis sepanjang waktu, jika ada regenerasi CU juga demikian sampai  orang tua sampai anak cucu, dan dapat di nikmati, CU adalah bagian dari hidup dan bagi keluarga,” harap Tina.

Sedangkan Orintus menegaskan bahwa, CU dapat hidup sepanjang jaman, CU dapat lebih banyak melakukan promosi ke masyarakat menengah ke bawah. “Saya juga berharap ada muncul fasiltator-fasiltator yang handal dan hebat di bidangnya, dapat mensugesti orang dan harus up to date sehingga menjadi hebat,” pungkasnya kepada penulis.  

Keterangan foto: atas: Agustina, tengah: Orintus, bawah: tampak depan kantor

Sumber foto dan tulisan: Rokhmond Onasis.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, July 18, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved