Selamat Datang!

Rita Sarlawa, SE, M.Si: “Jangan di area abu-abu, kita tidak akan bisa berjalan”

Saat ditemui penulis, perempuan beranak dua ini menerima dengan ramah. Dengan baju batik warna orange ia terlihat lebih fresh. Rita Sarlawa, SE, M.Si, itulah nama dari isteri Soni Arisandy ini. Perempuan kelahiran 11 Januari ini dipercaya sebagai pengawas dari Kopdit CU Betang Asi periode 2012-2014.

Ia mengakui sebagai bagian dari Badan Pengawas,  tim bekerja dengan solid. Apa sudut pandangnya dari sisi perempuan di tingkat board, tantangan apa yang ia hadapi dan harapan ke depan untuk CU Betang Asi?, berikut petikan wawancaranya bersama penulis di lantai-2 kantor CU, Rabu (3/7) lalu:

Apa tugas utama anda?

Saya adalah seorang dosen fakultas ekonomi, jurusan manajemen universitas Palangka Raya (UNPAR), saya sudah mengajar 12 tahun.

Di CU Betang Asi anda di Badan Pengawas (BP) sebagai apa?

Saya sebagai sekretaris BP.

Apa tugasnya?

Yang pertama, melakukan perencanaan ketika kami ingin melakukan audit dan pengawasan dengan menyiapkan segala perlengkapan yang akan kami bawa untuk audit, seperti ATK, SOP dan kebijakan pengurus supaya di lapangan tidak bertanya lagi kepada manejer atau koordinator yang berada di TPK, karena pegangan kami sudah ada.

Yang kedua, melakukan administrasi ketika ada surat masuk dan surat keluar yang berhubungan dengan BP, kemudian melaporkan hasil audit dan pengawasan kami  pada pengurus.

Apa tantangan yang anda hadapi selama ini?

Ketika saya menjadi seorang pengawas  itu sesuatu hal yang menarik dan sangat apresiatif sekali sebagai BP, karena belum pernah, dan ketika saya menghadapi hal ini, saya berusaha belajar dan mencari berbagai macam literatur tentang auditor dan kepengawasan di toko- toko buku. Apa sebenarnya badan pengawas dan auditor itu, apa yang membuat mereka berbeda, saya juga mempelajari segala macam tentang kertas kerja, laporan.

Jadi tantangannya itu sangat berat, kita mempunyai beban moril karena ini berhubungan dengan independen dari BP itu sendiri, kami dari BP tidak ingin memihak yang satu dan yang lain  untuk kepentingan lembaga ini, kami harus benar-benar independen itu beban moril yang berat.

Yang  paling berkesan selama kurang lebih 2 tahun ini?

Menyenangkan, karena bisa berkeliling karena saya belum pernah ke daerah-daerah. Saya jadi tahu sakitnya melakukan audit. Seorang pengawas juga bisa dipandang sebelah mata, tapi ada juga anggapan bahwa BP hanya sekedar mengawasi tetapi fungsi dan tanggung jawab pengawas ini kan sangat besar, terhadap kemajuan lembaga ini.

Menjadi seorang pengawas menyenangkan, walaupun sisi negatifnya kita bisa dimarahi orang, karena apa yang kita laporkan mungkin mengganggu.

Pernahkan itu terjadi orang menjadi tidak suka, karena saat ini peran anda menjadi antagonis dan tidak disukai orang walaupun itu adalah tugas yang harus dilakukan?

Tentu saja, pada saat ada hasil temuan, yang bersangkutan marah bisa dari pengurus maupun manajemen, tetapi itu kenyataan yang ada dan kami tidak bisa mengada-ada karena itulah realitas yang ada.

Jadi walaupun marah karena bertugas sebagai BP ya, ditahan saja.Walaupun kita berhadapan dan bersalaman merasa sesuatu yang kurang nyaman kan pasti ada, karena kita sudah membongkar sesuatu yang mengganggu zona aman seseorang, itu mungkin suatu hal yang sangat berat tapi harus dilakukan.

Terkait anda sebagai seorang perempuan, bagaimana anda membagi waktu, bisa berjalan beriringan  sebagai dosen, ibu rumah tangga dan lainnya?

Jadwal audit biasanya dilakukan pada akhir pekan, dan menyesuaikan dengan tim yang lain, karena mereka juga PNS jadi biasanya pada Jumat, Sabtu dan Minggu. Saya sebagai seorang perempuan senang sekali karena bisa berada pada posisi board karena kadang-kadang perempuan itu jarang ingin ditempatkan di posisi leader. Karena itu, saya ingin menunjukkan kepada perempuan-perempuan yang lain jika punya potensi kita tidak usah menghindar.

Bagaimana anda memandang dari sisi perempuan terhadap aktivis dan penggiat CU Betang Asi?.

Saya pernah memberikan saran kepada manajemen di TP dan TPK bahwa sebagai seorang perempuan jangan mau kalah dengan laki-laki. Kita kan mempunyai otak yang sama, seperti pisau yang tumpul jika dilatih-latih terus, itu akan menjadi yang baik .

Tapi kadang manajemen yang perempuan kalau sudah di suruh maju dan punya kapasitas dia tidak mau, padahal di luar ada batasan minimal 30% perempuan di posisi sektor formal maupun informal, ketika sudah ada waktu yang tepat why not perempuan tidak menunjukkan hal itu?

Tanggapan pengurus dari hasil pengawasan yang telah dilakukan?

Selama ini, ketika kami sudah menyampaikan hasil audit, beberapa Minggu setelahnya baru ada tindak lanjut dari pengurus, mengundang rapat antara pengurus dan badan pengawas. Setelah itu badan pengawas, pengurus dan manajemen untuk melakukan verifikasi dengan hasil audit.

Ada ungkapan, anda adalah pengawas yang  tegas dan berani, komentar anda?

Saya bekerja sesuai dengan tugas dan jabatan saya sebagai BP, jadi saya  berusaha independen dalam hal mengawasi dan saya berusaha tegas, kalau katakan iya, iya dan kalau katakan tidak, tidak, jangan di area abu-abu, karena kalau abu-abu kita tidak akan bisa berjalan. Ketegasan diperlukan supaya lembaga ini tidak menunggu-nunggu.

Menurut anda bagaimana hasil pengawasan secara maksimal dinikmati oleh anggota CU?

Salah satunya ada di saat Rapat Anggota Tahunan (RAT), kita menyampaikan laporan hasil kepengawasan.

Jadi hanya 1 tahun sekali, apakah ada alternatif lain?

Sepengetahuan saya, bahwa LKSB ditunjukkan kepada anggota, tapi dari segi administrasi atau segi manajemennya kita laporkan pada saat RAT saja, sementara LKSB-LKSB yang ada sebetulnya harus ditempelkan di papan pengumuman setiap bulan supaya anggota tahu dan bisa memonitoring.

Ternyata selama ini CU Betang Asi konsolidasi mengalami peningkatan yang cukup pesat  baik dari segi aset, pertumbuhan anggota dan piutang lalai, anggota menjadi tahu bahwa piutang lalai di CU Betang Asi demikian, karena kadang-kadang di papan pengumuman yang ada bisa menempelkan laporan keuangan secara per bulan supaya menjadi informasi kepada anggota.

Tingkat soliditas dari badan pengawas?

Kami sangat solid.

Bagaimana penilaian anda terhadap tingkat komitmen manajemen dari hasil audit yang telah dilakukan?

Kadang-kadang tidak sesuai dengan rencana tindak lanjut yang telah ditetapkan padahal ketika hasil audit sudah dilaporkan dan ada keputusan dari pengurus, manajemen lambat dalam menanggapi hasil dari temuan itu, karena saling menunggu.

Misalnya dari sisi organisasi harus ada ditempelkan visi dan misi dari CU. Ini diterapkan berbeda-beda ada yang melakukan, ada yang tidak, padahal di SOP harus di pajang. Dokumen-dokumen tentang legalitas lembaga harus ada, misalnya Badan Hukum (BH) ada foto copy di TP dan TPK.  Ketika ada orang yang datang orang jadi tahu CU Betang Asi legal secara hukum dan sudah mempunyai NPWP dan sudah lengkap, karena sebagai contoh dari koperasi biasanya adalah CU Betang Asi.

Saya terpikir, ketika dokumen ini tidak disiapkan dan ada orang yang studi banding dari propinsi lain menilai ternyata ini tidak baik. Kita mempersiapkan ke arah yang profesional paling tidak semuanya sama dari kantor pusat sampai TP-TP.

Bagaimana anda bisa memberikan contoh agar hasil audit ini lembaga bisa menerapkannya dari hal-hal yang kecil ke hal-hal yang besar?

Harus mengikuti aturan dan kebijakan yang sudah dibuat lembaga, jangan manajemen melanggar aturan itu. Kalau misalnya aturan itu tidak relevan bagaimana tindak lanjut dari pengurus untuk melakukan perbaikan terhadap kebijakan dan SOP yang ada supaya lebih relevan dengan kondisi yang sekarang.

Harapan anda sebagai pengawas perempuan di CU Betang Asi?

CU Betang Asi  dapat berjalan sesuai visi, misi, prinsip-prinsip dan nilai CU, yaitu nilai-nilai kejujuran, solidaritas. Ini harus semakin ditunjukkan, jangan kita semakin besar, nilai-nilai itu turun, karena kadang-kadang keterbukaan kurang, manajemen saling menjelekkan dan ini menimbulkan konflik pada lembaga ini.

Kita dapat memupuk kembali kebersamaan ketika kita pertama  membangun lembaga ini tanpa sesuatu apapun dan kita makin besar. Manajemen dapat mengelola diri dan fasilitas yang dipinjamkan lembaga. Agar lembaga ini dapat berjalan sesuai dengan sistem, orang-orangnya harus sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai CU itu sendiri.

Sumber berita dan foto: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, July 4, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved