Selamat Datang!

Perahu Tenggelam, Pendas di Talingke (Tetap) Dilakukan



Pantang menyerah. Itulah kata yang paling tepat mengawali diskusi dengan Pak Gun. Pria yang bernama lengkap Antonius Gunadi ini menceritakan kepada penulis terkait musibah yang dialaminya ketika menjadi fasilitator pendas di Talingke, Katingan, April 2013 lalu.

Ia bercerita kejadian berawal dari Tim fasilitator berangkat dari TPK Kasongan pada Jumat (12/4) pukul 12 siang dengan menggunakan mobil Hilux yang di kemudikan oleh Fery. Tiba di camp perusahaan sawit Asem Kumbang, camp ini terletak di sebelah hilir desa Asem Kumbang. Berhubung cuaca masih hujan, kami memutuskan untuk beristirahat dan minum di warung yang ada di sekitar camp perusahaan sawit. Hari masih hujan ketika Fery kembali ke Palangka Raya.


Pukul 15.45 sore perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ces (baca perahu) menyusuri sungai Katingan di kemudikan oleh Nor Abdiansyah. Sekitar pukul 17.15 sore kami memasuki terusan Talingke untuk memperpendek jarak tempuh, baru masuk terusan sekitar 200 meter kami melewati pohon tumbang dan berbelok ke arah kiri untuk menghindarinya, ternyata ces malah menabrak tunggul kayu yang tak terlihat, ditambah arus terusan yang deras akhirnya menengelamkan ces yang kami tumpangi.
 

Pria yang telah berusia 60 tahun ini  melanjutkan ceritanya, setelah semua berada di air, penumpang yang lain Thomas Fajar, koordinator TPK Kasongan memegang akar pepohonan yang ada di tepian terusan, beruntung sebelum naik ces, Tomy panggilan sehari-hari sudah memasang rompi pelampung sehingga tidak tenggelam.
 

Ada 2 tas dan 1 kardus yang sempat diselamatkan oleh Pak Nonoi panggilan sehari-hari Nor Abdiansyah, selebihnya seperti TOA, kabel LCD, stop kontak listrik tenggelam di bawa arus.  Saya membantu mengambil tas yang di tahan oleh Pak Nonoi dan sesudahnya Pak Nonoi berusaha mengangkat ces yang tenggelam dengan kedua kakinya agar tidak semakin tenggelam.

Kemudian, saya berusaha mengikat tali haluan ces ke pohon untuk menahan perahu semakin tidak tenggelam. Namun di saat yang sama, kaki Tomy semakin kram, sehingga harus dibantu naik ke darat. Pak Nonoi dan saya akhirnya berusaha mengangkat Tomy ke darat dan akhirnya dapat di angkat.
 

Dengan kondisi darurat, beruntung masih ada parang yang dapat diselamatkan sehingga digunakan untuk mencari rotan dan mengikat bagian kemudi perahu, kemudian perahu dilenggang untuk mengurangi air yang masuk.
 

Akhirnya perahu dapat terapung kembali dan sisa air yang ada di bagian dalam di kuras dengan menggunakan telapak tangan selama 20 menit, karena timba, gayung dan alas papan yang ada di bagian dalam perahu semua hilang. Namun keajaiban terjadi, tiba-tiba ada bambu yang hanyut  sepanjang 2,5 meter sebagai alat bantu mendorong perahu di kiri-kanan terusan.
 

Ketika kami menyelamatkan penumpang, barang dan perahu memakan waktu 1 jam, hingga pukul 18.15 malam. Dengan kondisi penerangan menggunakan 2 senter yang masih dapat di gunakan, kami tetap berjuang hingga 2 jam kami tiba di belakang kampung dan naik ke darat.
 

Kami akhirnya tiba di rumah Pak Nonoi pada pukul 19.55 malam. Saya masuk terlebih dahulu, disusul Tomy dan akhirnya Pak Nonoi yang terakhir masuk rumah dan langsung tidak sadarkan diri karena terlalu cape.
 

Pak Gun melanjutkan, kondisi cuaca memang tidak bersahabat karena sepanjang perjalanan cuaca dan gerimis sehingga lebih gelap dari biasanya. Dari sisi kerugian Pak Gun menaksir ada 25 juta lebih, termasuk di dalamnnya 2 laptop yang terendam air, LCD, sejumlah HP, dompet yang berisi surat-surat penting dan uang 300 ribu dan mesin ces yang tidak berfungsi karena masuk air.  Belum termasuk 5 kalkulator yang rusak akibat terendam air.
 

Sebagai informasi, Pak Gun adalah sebagai salah seorang pendiri CU Betang Asi di tahun 2003. Ia melanjutkan ceritanya pada keesokkan harinya Sabtu (13/4), peserta tetap datang pada jadwal pendas yang diumumkan sebelumnya. “Pendas kita jalan terus, dengan bahan yang ada, kita mengenang 10 tahun CU Betang Asi memulai dengan pendas manual,” ungkap Pak Gun. Untuk membantu proses ada seorang guru yang juga anggota CU membantu dengan meminjamkan alat manual seperti kertas, spidol dan lainnya.
 

Selama pendas 2 hari tersebut (13-14/4) di ikuti oleh 28 orang dengan perincian 2 anggota, 26 calon anggota. Pada proses pendas ada 22 orang yang masuk menjadi anggota. Masyarakat menilai selama proses pendas bangga dengan CU walaupun dengan kondisi yang minim. Seorang bapak mengatakan “Bahasa yang fasilitator gunakan sesuai dengan bahasa kami sehari-hari, sehingga kami bisa menerima dengan baik”, dengan memberikan kode 2 jempol kepada fasilitator. Respon positif disampaikan oleh peserta yang berasal dari Petak Bahadang, Asem Kumbang dan Trans Hiang Bana. Mereka akan menjajaki sehingga dapat melakukan pendas CU di desa masing-masing.
 

Pak Gun berharap ke depan fasilitator, staf dan lainnya memerlukan rompi pelampung untuk membantu di air, walaupun bisa berenang. Hal lainnya adalah carilah alat transportasi yang memadai dan aman, terkait pengadaaan transportasi air masih belum di penuhi oleh lembaga.
 

Di balik musibah ada hikmah, Pak Gun mengatakan, “Walaupun dengan kondisi minim masyarakat bisa menerima dan ada rasa kepercayaan yang muncul, apalagi dengan kondisi yang lebih siap,” pungkas Pak Gun kepada penulis.
 

Sumber tulisan: Rokhmond Onasis
Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Sunday, April 21, 2013
Share this post :

1 comment:

  1. terimakasih untuk pak gun. tetap semangat. Handep Hapakat Sewut Batarung!

    ReplyDelete

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved