Selamat Datang!

Kilas Balik Sejarah Berdirinya CU Betang Asi


Ci..Uu atau Ce..Uu Sama Saja


Di kalangan masyarakat Kalteng, ada dua kebiasaan penyebutan Credit Union (CU). Kelompok yang pertama menyebutnya Cii..Uu. Kelompok yang kedua menyebutnya Cee..Uu. Apapun cara penyebutannya, ini memang tergantung lidah seseorang. Yang penting maksudnya sama yaitu CU.

Di awal-awal CU Betang Asi (CU Besi) mensosialisasikan keberadaannya di beberapa desa tahun 2003-2004, seringkali masyarakat menyebutnya kumpulan tukang kredit. Ungkapan ini bisa saja karena ketidaktahuan masyarakat tentang CU, atau ada juga dengan niat mengejek.

Namun seiring berjalannya waktu, kelompok masyarakat yang awalnya “sedikit” mengejek ini, malah sebagai penerima manfaat dari kehadiran CU Besi sekarang ini. CU atau Credit Union berasal dari bahasa latin Credere yang artinya percaya. Union artinya kumpulan. Sehingga jika digabungkan dua buah kata ini menjadi  kumpulan orang-orang yang saling percaya.

Kumpulan orang-orang ini berkomitmen untuk saling percaya atas apa yang mereka rencanakan dan melaksanakan secara bersama. Mereka bersepakat mewujutkan kesejahteraan kehidupan pribadi dan keluarga, melalui pencapaian dan pengelolaan keuangan yang cerdas dan bijaksana di Credit Union.

Melihat Peluang Di Tengah Masalah.

CU lahir di Jerman Barat, tepatnya kota Flammersfield. Waktu itu awal abad 19, masyarakat Jerman yang tinggal di kampung-kampung masih banyak yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam. Kondisi mereka saat itu, tidak ada bedanya dengan kondisi masyarakat kita di Indonesia saat ini, khususnya Kalimantan Tengah.

Di daerah kita saat ini, para penambang emas, nelayan, petani padi, petani sayur dan buah, penyadap karet dan lain-lain, ketika alam sedang tidak bersahabat dengan mereka (musim kemarau atau hujan), maka pekerjaan mereka berhenti. Kalau pekerjaan berhenti, artinya tidak ada penghasilan (tidak dapat uang).
Saat itu, masyarakat Jerman yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam, tidak berdaya menghadapi badai salju yang melanda seluruh negeri. Para petani tidak dapat bekerja dan banyak tanaman tidak menghasilkan. Penduduk pun kelaparan.

Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang berduit “lintah darat”. Mereka memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga yang tinggi. Banyak orang terjerat utang. Karena tak punya penghasilan dan dibebani bunga yang sangat tinggi, akhirnya mereka tak mampu membayar hutang. Sisa harta benda mereka pun disita oleh lintah darat.

Karena kehidupan di desa sangat sulit, banyak orang pindah ke kota, dengan harapan bisa memperoleh pekerjaan di kota.  Namun tak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia diganti oleh mesin-mesin. Sehingga banyak pekerja terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) dan Jerman dilanda masalah pengangguran besar-besaran.

Melihat kondisi ini, Friedrich Wilhem Reiffesen, walikota Flammersfield saat itu prihatin dan ingin menolong mereka. Ia mengundang orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan uang, kemudian dibagikan “derma” kepada kaum miskin.

Ternyata derma yang di gagas oleh Reiffesen tidak memecahkan masalah kemiskinan. Sebab kemiskinan terjadi salah satunya akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tak terkontrol dan tak sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya, para dermawan bosan dan tak lagi berminat membantu kaum miskin.

Raiffeisen terus melakukan upaya. Ia mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman lalu di bagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini pun tak menyelesaikan masalah. Hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu seterusnya.

Belajar dari  dua pengalaman itu, Raiffeisen berkesimpulan bahwa “kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri. Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan yang produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam.”
Untuk mewujudkan gagasannya tersebut, Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin membentuk organisasi bernama Credit Union (CU).

Ada 3 prinsip utama yang mereka pakai dalam ber-CU yaitu, azas swadaya (tabungan hanya diperoleh dari anggotanya), azas solidaritas atau setia kawan (pinjaman hanya diberikan kepada anggota) dan azas pendidikan dan penyadaran (membangun watak adalah yang utama; hanya yang berwatak baik yang dapat diberi pinjaman).

CU yang dibangun oleh Raiffeisen, petani miskin dan kaum buruh berkembang pesat di Jerman, bahkan menyebar ke seluruh dunia. Ke Canada, CU dibawa oleh seorang wartawan bernama Alphonse Desjardin pada awal abad ke-20. Ke Amerika Serikat, CU dibawa oleh seorang saudagar kaya bernama Edward Fillene. Sementara Suster Mary Gabriella Mulherim membawa CU ke Korea, Asia.
Keberadaan CU Di Indonesia

Di Indonesia CU disamakan dengan Koperasi Kredit. Credit Union, pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1960-an, oleh seorang pastor Katolik asal Jerman bernama  Karl Albrecth Karim Arbi, SJ  ketika bertugas di Indonesia .

Sebenarnya Koperasi Kredit sudah masuk di Indonesia pada tahun 1950-an dan mulai dijalankan oleh pemerintah Indonesia tahun 1955  sampai tahun 1959. Di tahun 1960-an terjadi inflasi (penurunan nilai mata uang) yang sangat hebat menimpa Indonesia, usaha simpan pinjam menjadi lumpuh total. Pertengahan tahun 1960-an koperasi-koperasi ini beralih menjadi koperasi konsumsi yang banyak berspekulasi dan fokus pada uang, sehingga koperasi ala Raiffeisen (CU) lenyap dan yang bermunculan adalah koperasi serba usaha.
Tahun 1967 para penggerak ekonomi Indonesia menghubungi WOCCU (World Council of Credit Union) yaitu organisasi CU dunia, untuk mendiskusikan gagasan Credit Union di Indonesia sebagai “Sarana sekaligus Wahana pengentasan kemiskinan”.  Usulan ini mendapat tanggapan positif dari WOCCU. Sebagai wujud keseriusannya WOCCU mengirim Mr. A.A. Bailey untuk datang ke Indonesia.

Awal Januari 1970 para penggerak ekonomi Indonesia dan WOCCU bersepakat membentuk wadah yang diberi nama Credit Union Counselling Office (CUCO) yang dipimpin oleh K. Albrecth Karim Arbie, SJ. Tahun 1971 CUCO mengangkat Drs. Robby Tulus sebagai Managing Director untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Perjalanan CU Ke Kalimantan

Perjalanan CU ke Kalimantan di mulai pada tahun 1975. Saat itu gereja Katolik bersama BK3I (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia) mengadakan pelatihan pembentukan CU di Nyarumkop, Kalimanatan Barat (Kalbar).

Salah satu dampak dari pertemuan itu adalah kelahiran CU Lantang Tipo di Pusat Damai, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau tanggal 2 Februari  1976. Tanggal 12 Mei 1985 CU Khatulistiwa Bhakti berdiri di Pontianak dan CU Pancur Kasih di Pontianak pada tanggal 28 Mei 1987. Seiring berjalannya waktu, organisasi CU terus bermunculan di sejumlah tempat di Kalbar.

Kehadiran CU Di Kalimantan Tengah

Credit Union di Kalimantan Tengah (Kalteng) sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1997. Namun sejak tahun 1999  barulah ada CU Kalteng terkoordinasi dengan Badan Koordinasi Koperasi Daerah (saat ini bernama Puskopdit BKCUK), yaitu ketika CU Sumber Rejeki (CU SR) berdiri di Ampah, Barito Timur.
Di Palangka Raya ide pendirian CU mulai digagas sejak tahun 2000-an, oleh Yayasan Dayak  Panarung (sekarang Lembaga Dayak Panarung atau LDP). Ambu Naptamis (Ketua CU Betang Asi Periode 2012 – 2014), pendiri dan aktivis LDP bersama seluruh aktivis LDP lain bahkan membentuk CU Panarung yang beranggotakan 71 orang pada tahun 2001.
April 2002, LDP dikunjungi oleh Fabrice Fenasse dan Darwis Kudhori dari CCFD Paris, Perancis dan Stefanus Djuweng dari Segerak (Serikat Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Dayak Pancur Kasih), Pontianak, Kalimantan Barat.

Bersama dengan Djuweng, Fabrice dan Darwis aktivis LDP mendiskusikan pengelolaan CU yang standard dan memberdayakan. Patokannya adalah sejumlah CU di Kalimantan Barat. Memang saat itu CU di Kalbar banyak melahirkan cerita sukses untuk pengembangan dan pelayanan kepada anggota.
Pasca pertemuan itu, April 2002, salah satu aktivis LDP yaitu Ethos H. Lidin (Sekarang GM CU Betang Asi) mengikuti Training Hak Asasi Manusia untuk Masyarakat Adat di Pontianak, Kalbar. Di Pontianak Ethos berdiskusi dengan aktivis Segerak Pancur Kasih dan melakukan kunjungan ke CU Pancur Kasih.

Pembentukan Embrio CU Betang Asi

Berbekal informasi hasil kunjungan Ethos dari Pontianak, semakin seriuslah niat aktivis LDP untuk mendirikan CU yang ideal. Hasil diskusi ini terus dikomunikasikan dengan aktivis Segerak di Pontianak. Sehingga pada bulan November 2002, Matheus Pilin dari Segerak datang dan melakukan assesment (diskusi dan berbagi pengalaman)  dengan Bapak T.T. Suling sebagai media komunikasi dengan Resort GKE, Nicolas Uda, BSc MM sebagai media komunikasi Perguruan Tinggi, Universitas Kristen Palangka Raya (UNKRIP) dan Pastor Lukas Huvang, MSF sebagai media komunikasi gereja Katolik. Assesment ini dilakukan bersama dengan Ambu Naptamis dan aktivis LDP.

Dari assessment itu, disepakati  rapat untuk membahas lebih serius gagasan CU. Dan rapat itu pun dilaksanakan tanggal 16 November 2002 di Aula Sangkuwong. Rapat pembahasan ini dihadiri: Pdt. Drs. Yaphie Gaman (Resort GKE); Drs. T.T. Suling (KSU-Sangkuwong); Longgor, SE (KSU-Sangkuwong); Tara Lisa   (KSU-Sangkuwong); Veronica Pudji Lestari  (CU Balawa Asi);  Anton Sunaryo (CU Balawa Asi);  Justin Patianom (KSU-Sinar Kasih); Ariel Ahad (KSU-Sinar Kasih); Ambu Naptamis Hanyi, SH (Yayasan Dayak Panarung); Sepmiwawalma (Sahewan Panarung-Yayasan Dayak Panarung); Ethos H.L (CU Panarung- Yayasan Dayak Panarung); Matheus Pilin (Pendamping, Segerak – Pancur Kasih, Pontianak, Kalbar).

Tindak lanjut pertemuan tersebut, bersama dengan tokoh gereja Katolik, tokoh GKE, CU Balawa Asi, KSU Sinar Kasih dan KSU Sangkuwong, LDP membentuk panitia kecil untuk persiapan SP (Perencanaan Strategis) CU yang akan dilaksanakan di Aula Nazaret, Komplek gereja Katolik Palangka Raya pada tanggal 18 – 22 Februari 2003.
Panitia kecil ini terdiri dari 5 orang “Panitia Lima”, yaitu Ambu Naptamis Hanyi, SH (Ketua); Hery Arayanto, SE (Wakil Ketua); Longgor, SE (Sekretaris); Veronica Pudji Lestari  dan dibantu  Tara Lisa (Bendahara). Tugas dan tanggung jawab dari panitia lima ini menyiapkan, memantapkan dan melaksanakan lokakarya Strategic Planning (SP) CU. Untuk biaya lokakarya tersebut sumber dananya adalah swadaya dari KSU Sangkuwong; KSU Sinar Kasih; CU Balawa Asi; CU Panarung masing-masing memberi kontribusi sebesar Rp. 1 juta.

Di luar “panitia lima” aktivis LDP seperti Ethos H.L,  Mastuati, Marchony, Sepmiwawalma bertugas untuk penyiapan maupun penyelenggaraan kegiatan. Ethos. H.L dan Sepmiwawalma di sekretariat bertugas menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan termasuk notulensi kegiatan. Marchony di bagian perlengkapan dan Mastuati di konsumsi untuk peserta.

Pembentukan Credit Union Betang Asi

Tanggal 18 – 22 Februari 2003, dengan dihadiri 53 orang peserta diselenggarakanlah  Perancanaan Strategis Pendirian CU di aula Nazaret kompleks Gereja Katolik Palangka Raya. Pertemuan ini melahirkan  Credit Union Betang Asi yang operasionalnya di buka pada tanggal 26 Maret 2003 dan diketuai oleh Drs. Amu Lanu A. Lingu, M.Si; Wakil Ketua I, Gregorius Doni Senun; Wakil Ketua II, Ambu Naptamis; Sekretaris, Longgor;  Bendahara, Karna Sopia Simbolon; Anggota, Sepmiwawalma dan Elizabet.

Manajemen awal yang menjalankan operasional CU Betang Asi adalah Ethos H.L dan Leani (Sekarang Deputy GM). Untuk memahami sistem kerja CU, Ethos dan Leani terlebih dulu di magangkan ke beberapa CU di Kalimantan Barat. Sehingga pelayanan harian CU Betang Asi ditangani langsung oleh pengurus secara bergantian. Operasional awal ini didampingi oleh Antonius Anyu.

Antonius Anyu adalah staf Pemberdayaan Otonomi Rakyat Pancur Kasih yang ditugaskan oleh Segerak untuk mendorong gerakan CU di Kalimantan Tengah.

Lebih Dekat Lagi Dengan CU Besi Palangka Raya

Salah satu alasan CU Betang Asi (CU Besi) berdiri, adalah sebagai sarana pendidikan dan pengembangan keuangan  anggotanya.  CU Besi memberikan pilihan dan ingin mengantar anggotanya mewujutkan impian menjadi sukses, cerdas, kaya dan bahagia. CU Besi menanamkan sikap agar kita jangan ambil “ikan” tetapi “pancing” nya. Jangan hanya menjadi “ember” saja tetapi jadilah “pipa air.”

CU Besi ingin anggotanya dapat  mengelola keuangan dengan cerdas dan bijaksana. CU Besi menyadari banyaknya tantangan dalam pengelolaan keuangan pribadi, keluarga maupun usaha (bisnis). Salah satunya meningkatnya kebutuhan. Sehingga diharapkan anggota mau belajar meningggalkan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam mengelola uang,  yang telah mendarah daging dalam hidup kita.

Impian CU BESI

CU Besi  memiliki impian besar yaitu menjadi “Credit Union berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya, abadi dan terbesar di Kalimantan tengah.” Impian besar  ini dijabarkan melalui misinya “Mewujudkan kesejahteraan sosial anggota melalui pelayanan keuangan yang profesional” dengan Slogan “HANDEP HAPAKAT SEWUT BATARUNG” yang artinya  “bekerjasama untuk membangun kehidupan yang lebih baik.”

Dalam pelayanannya, CU Besi memiliki Motto pelayanan yaitu “setia melayani sepenuh hati.” Sehingga dalam  interaksi kepada anggota, selalu melakukan 3 S (Senyum, Salam, Sapa).
Senyum merupakan sebuah tindakan yang sederhana, namun memberi banyak arti. Karena semua orang senang, jika melihat seseorang tersenyum. Bagi CU Besi “tanpa anda, tak akan ada senyum (can’t smile without you).” Sementara salam dan sapa sebagai bentuk penghargaan atas kehadiran orang lain.
Selain itu CU Besi juga memperkuat makna logo. Dalam logonya, ada gambar rumah Betang sebagai perlambangan bahwa CU Besi adalah milik masyarakat Kalteng yang bisa hidup rukun dan damai dengan sesama di satu rumah “CU Besi Rumah Impian Anggota”, apapun latar belakang suku dan agamanya.
CU Besi membangun, memberdayakan, mencerdaskan, membebaskan manusianya. Istilah pemberdayaannya ‘memanusiakan manusia’. Dampak adalah pikiran, sikap, perkataan, tindakan dan hasilnya (buah) yang bersifat positif.

CU Besi bukan melindungi keluarga, tetapi anggota keluarga yang telah terdaftar menjadi anggota CU Besi. Satu keluarga baru terlindungi semua, jika seluruh anggota keluarga tersebut telah terdaftar menjadi anggota CU Besi. Produk simpanan, pinjaman, solidaritas dan perindungan hanya diberikan kepada anggota. Jadi siapa saja yang belum jadi anggota CU Besi, jika ingin mendapatkan pelayanan dari CU Besi, segeralah mendaftarkan diri menjadi anggota.

Ibaratkan nonton pertandingan tinju, yang paling kencang teriakannya biasanya penonton. Namun penonton tetaplah penonton, ketika pertandingan berakhir, tidak ada penghargaan yang akan diterima. Sementara pemain, untuk menjadi juara, harus berlatih dengan disiplin dan konsisten. Seusai pertandingan, pemain berhak menerima hadiah (thropy dan pujian) serta gaji (uang). Penonton sama dengan mereka yang belum jadi anggota CU Besi. Pemain adalah mereka yang telah menjadi anggota CU Besi.
CU Besi Pilihan Kita dan Menjadi Milik Kita

Saat kita menjadi anggota CU Besi, kitalah pemilik CU Besi. Karena kita adalah pemilik CU Besi maka seharusnya kita menyimpan uang kita  di lembaga milik kita dan meminjam uang di situ untuk berbagai macam keperluan dan rencana dalam hidup kita. Bunga dari pinjaman kita, dikembalikan lagi ke kita dalam bentuk bunga simpanan atau tabungan.

Sehingga sebagai pemilik, keuntungan yang kita peroleh adalah investasi kita mendapat deviden, tabungan mendapat bunga, kita bisa meminjam untuk mewujudkan rencana keuangan kita, mendapat pendidikan yang memberdayakan, terlibat dalam perencanaan pengembangan minimal 1 tahun sekali melalui RAT, fasilitas yang kita pakai seperti gedung adalah milik kita semua.

Bunga yang kita bayar saat kita pinjam, akan kembali ke kita melalui deviden investasi dan bunga tabungan. Selain itu tabungan maupun pinjaman dilindungi melalui Tunas dan Lintang Perlindungan Kalimantan.

Pendidikan Yang Memberdayakan

Anggota CU Besi ibarat pemain dalam sebuah pertandingan. Entah itu pemain sepak bola ataupun pemain basket. Karena mereka adalah pemain, maka mereka berhak mendapatkan hadiah dan fasilitas. Jika mereka hanya sebagai penonton (bukan angota) yang didapat hanya sukacitanya semata.
Agar “pemain” anggota CU cerdas memainkan peran dalam pertandingan kehidupan, mampu dan dimampukan mengelola keuangan dengan cerdas dan bijaksana, dibekali pengetahuannya melalui Pendidikan Dasar (Pendas).
Pendas merupakan proses pembelajaran bersama agar anggota mengerti hak dan kewajibannya sebagai keluarga besar CU Besi. Saat Pendas inilah calon anggota maupun anggota  mengenal secara utuh seluruh organ tubuh CU Besi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dan Pendas ini adalah titik awal agar anggota mulai membuka diri untuk belajar. Termasuk belajar pengetahuan keuangan.

CU Besi menyebutnya Pendas yang memberdayakan.  Dalam Pendas ini, ada delapan anak tangga yang harus dilewati oleh calon anggota maupun anggota. Delapan anak tangga itu adalah :1. Analisis Sosial (Ansos); 2.Sejarah, Struktur Organisasi, Badan Hukum (BH), Jaringan dan Mitra; 3. Prospek Tabungan; 4 Rencana Keuangan Keluarga (RKK); 5.Simpanan Anggota dan Tabungan untuk Umum; 6. Pinjaman (Alur Proses dan Jenis); 7. Perlindungan Simpanan dan Pinjaman; 8. Solidaritas Rawat Inap dan Dukacita.

Simpanan adalah Asset

Asset adalah sesuatu yang bernilai dan menghasilkan uang. Simpanan di Credit Union, khusus simpanan saham dan setara saham adalah asset. Ada tiga alasan sehingga simpanan anggota disebut asset.
Pertama simpanan menghasilkan uang.  Balas jasa simpanan di Credit Union umumnya di atas inflasi nasional, jika hasilnya dibawah inflasi nasional, maka simpanan ini bisa dikategorikan sebagai beban (leabilitas).
Kedua simpanan sebagai bukti kepemilikan. Jika seseorang berinvestasi di sebuah perusahaan, umumnya dihitung dari berapa lembar saham yang dia beli, sehingga pribadi ini disebut investor atau pemilik modal. Di Credit Union, bukti kepemilikan seseorang atas lembaga itu adalah sahamnya. Sama seperti di perusahaan, balas jasa atas investasi di Credit Union disebut deviden.

Ketiga, simpanan bisa menjadi agunan. Dalam konsep keuangan, sesuatu yang disebut jaminan adalah kemampuan atau sumber penghasilan kita, sehingga kita dianggap layak diberi pinjaman. Sedangkan agunan adalah asset bernilai yang bisa diuangkan jika jaminan kita bermasalah.  Agunan yang lazim dalam industri keuangan adalah properti (rumah dan tanah), barang berharga (emas batangan) dan surat berharga (sertipikat saham).

Di Credit Union, simpanan anggota adalah kategori asset yang bisa menjadi agunan ketika mengajukan pinjaman. Bukti kepemilikan atas asset (surat saham) adalah buku anggota dan simpanan setara saham (Duit Turus).

Sedangkan tabungan, misalnya tabungan Manda-Mandau bukan asset. Fungsi Manda-Mandau sama seperti tabungan di bank pada umumnya. Sehingga tidak bisa dijadikan agunan dan bukan bukti kepemilikan anggota atas organisasi Credit Union.

Sama seperti di bank, buku tabungan bukanlah tanda bukti kepemilikan kita atas bank tersebut. Namun bukti kepemilikan saham kita adalah sertipikat saham yang diterbitkan oleh bank tersebut.
Setiap akhir tahun, bank tempat kita berinvestasi akan mengundang kita dalam Rapat Pemegang Saham (RPS). Di Credit Union, setiap awal tahun kita diundang untuk menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Baik RPS maupun RAT memiliki esensi yang sama. Jika RPS adalah forum direksi untuk menyampaikan laporan dan rancangan program baru kepada investor, RAT adalah forum pengurus untuk menyampaikan laporan dan rancangan kerja kepada anggota (investor).

Anggota dan investor hanyalah soal terminology (istilah) namun memiliki pengertian yang sama. Yaitu sama-sama memiliki lembaga tempat mereka menanamkan uang. Inilah yang menjadikan alasan, sehingga CU di Kalimantan Timur seringkali dikenal dengan istilah “Bank Dayak.”
Bedanya, kalau bank dimiliki oleh kelompok yang sudah jadi konglomerat, sedangkan Credit Union dimiliki oleh orang-orang yang akan menjadi konglomerat.

Daftar  Nama  Pendiri Credit Union Betang Asi (Peserta Strategic Planning CU Betang Asi), ada 53 orang:
Wihelmus Y. Ndoa – Jalan Bondang Palangka Raya; Petrus Rahail – Jalan Kelut Palangka Raya; Domingos Neves – Jalan Sapan I A No.132 P. Raya; Yusuf Wahyu Purwanto, SE – Jalan Agung No.02 Palangka Raya; Gunadi – Jalan Kinibalu No.019 P. Raya; Karna Sophia S. – Jalan Rinjani No.25 Palangka Raya;
Bambang Wigono – Jalan Tjilik Riwut Gg Ponco Wati I/No.3 Palangka  Raya; Veronica Pudji Lestari – Jalan Rajawali II/ N0.20 A Palangka  Raya; Adhi Wijaya – Jalan Bangka No.08 Palangka  Raya; Leani – Jalan Ranying Suring  No.26  P. Raya; Empas Basen – Jalan Bangka No.08 P. Raya; Abdon W. – Jalan P.Samudra  No.01 Banjarmasin; Agustinus M. Kurniawan – Jalan Keramaian No.07 Banjarmasin; Drs. T.T Suling – Jalan Langsat No.24  P.Raya; Drs. Nicolas Uda, Bsc, MM – Jalan Seth Adji No. 115 P.Raya; Justin Patianum, BA – Jalan Karakatau No. 15 P.Raya; Rumsue Sanggah – Jalan Sanggabuana No.110 P. Raya; Dra. Riassy Christa Usop – Jalan Punai No.15 P. Raya; Sepmiwawalma – Jalan Sanggabuana II Gang Batu Hurun No. 22  Palangka Raya; Matheus Pilin – Jalan Budi Utomo Blok  A No.05 Pontianak; Antonius Anyu – CU Sumber Rejeki Ampah; Ethos H.L. – Jalan Sanggabuana II Gang Batu Hurun No. 22 Palangka Raya; Diren R.L. – Jalan Sisingamangaraja I. No.116 Palangka Raya; Robby Julianto S. – Jalan Kinibalu No.116 Palangka Raya; Marlina – Jalan Ranying Suring Palangka  Raya; Tara Lisa – Jalan Lawu No.059 Bukit Hindu P. Raya; Efreim Antang – Jalan Lawu Bukit Hindu Palangka Raya; Tomy Harjo – Jalan Arut No.11 Palangka Raya; Yanthi M. Djinu – Jalan Sulawesi  Gg. Nusantara P. Raya; Rosana Amalia – Jalan Kini Balu No. 303 Palangka Raya; Betsy Akop – Jalan Kerinci No. 489 C Palangka Raya; Katiman – Jalan Menteng VI/No.01  P. Raya; Sterman Nyahu – Jalan Nusa Indah No.28 Kuala Kapuas; Pedryn – Talangkah Katingan Kasongan –Kab. Katingan; Amu Lanu A. Lingu – Jalan Aries No.018, Amaco Palangka Raya; A. R. Mecer – Jalan Sintang Komp. UNTAN P.6 Pontianak; Stefanus Dh. Mangu – Jalan Betet No.20 Palangka Raya; Anton Sunaryo – Jalan Garuda XI No.12 Palangka Raya; Petrus Budi Yanto, Jalan Bukit Kaminting Gang Bukit Mentari P.Raya; Ir. Abel Gawei, Jl. Tjilik Riwut No. 20 Palangka Raya; Andreas H. Saputra – Jalan Anggrek I/ No. 123 P. Raya; Margaretha – Jalan Rinjani No.8A Palangka Raya; Rm. A. Dodik. R -  Jalan Lambung Mangkurat No.40  Banjarmasin; Gregorius Doni, SPd – Jalan Tamangung Tilung XII No.34 Palangka Raya; Drs. Munaldus, MA – Jalan Pernama Komp. Purnama Permai F.05 Pontianak; Longgor, SE – Jln. Gajah Mada No. 17 A Palangka Raya; Drs. F.X. Manesa, MPd – Jalan Bukit Raya XII No.01 Palangka Raya’ Natalius – Jalan Pangeran Samudera III/ No.19 P. Raya; Elisabeth S. – Jalan Belibis No.16  Palangka Raya; Novita Angeline Dj. – Jalan Kinibalu 116 Bukit Hindu Palangka Raya; Ambu Naptamis Hanyi, SH – Jalan Sepakat V No. 7G Kompleks Bangas Permai– Palangka Raya; Marchony – Jalan Sanggabuana II Gang Batu Hurun No.22 Palangka Raya; Mastuati, SH – Jalan Sepakat V No.97 G Kompleks Bangas Permai– Palangka Raya.

 Sumber tulisan: Sepmiwawalma


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Sunday, March 31, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved