Selamat Datang!

Raya Nalita: “Merancang Masa Depan Bersama CU”

Salah satu ujung tombak agar pelayanan kepada anggota bisa  maksimal terutama bagi anggota yang tinggal di kampung adalah keberadaan kolektor. Para kolektor inilah yang melayani anggota saat akan membayar setoran dan menambah simpanan di wilayah pelayanan yang ditunjuk.

Ditemui saat pelaksanaan RAT TP PHS, Sabtu (12/1) di Pulang Pisau, penulis berkesempatan mewawancarai salah seorang kolektor desa Buntoi, Raya Nalita. Perempuan Dayak kelahiran Buntoi, 22 Desember 1968 memiliki nomor BA.500.114.  Dengan ramah guru SMPN Kahayan Hilir ini  menjawab pertanyaan yang diajukan penulis. Berikut petikannya:

Sejak kapan mengenal CU Betang Asi?

Sejak bulan Februari tahun 2006. Waktu itu saya ke Mintin. Di sana ada pelaksanaan Pendas di rumah Sabaru S. Anum. Saya tanya ada acara apa ramai-ramai di situ. Mereka bilang acara Pendas CU Betang Asi. Waktu itu Pdt. Elisa yang memfasilitasi. Saya penasaran dan bertanya kalau mau ada kegiatan seperti ini di tempat kami bagaimana caranya. Pdt. Elisa bilang, ibu Raya kumpulkan peserta minimal 25 orang, nanti kami yang akan datang ke kampung ibu untuk menyelenggarakan kegiatan.

Saya pulang ke Buntoi dan mengumpulkan peserta. Awalnya saya siapkan tempat yang menurut saya layak. Karena pikiran saya ini dari bank jadi harus disiapkan tempat yang bagus. Karena tidak ada tempat pertemuan di kampung,  kami meminjam gereja untuk tempat pelaksanaan Pendas.

Bulan Maret kami melaksanakan Pendas. Yang membuat saya tersentuh, mereka yang memfasilitasi waktu itu Anto dan Sieng datang dengan segala kesederhanaannya. Sehingga kami merasa tidak ada jarak di antara kami. Saya menilai lembaga seperti inilah yang diperlukan masyarakat, mau membaur dan tidak membuat jarak. Sehingga orang kecil merasa dirangkul oleh CU.

Bagaimana respon masyarakat dengan CU waktu itu?

Responnya macam-macam. Ada yang tidak percaya. Karena baru ramai-ramai ikut Amalilah yang janjinya tidak terbukti itu, mereka menyamakan CU dengan Amalilah. Ada sebagian yang menyampaikan CU itu punya orang Kristen. Nanti dulu kami bergabung, kami mau lihat kalian yang masuk duluan apa bisa berhasil.

Kami yang pertama kali ikut pendas pada bulan Maret tahun 2006 itu, 7 orang langsung jadi angota CU. Setelah 3 bulan, ada dari antara kami yang telah jadi anggota meminjam, di situlah saya ditunjuk menjadi kolektor.

Ketika ada yang meminjam, respon masyarakat mulai baik. Walau harus pelan-pelan memberi  pemahaman. Kalau sekarang kita tidak perlu banyak bicara soal CU, mereka yang ingin jadi anggota yang malah bertanya bagaimana cara jadi anggota.  Apalagi kalau terdesak. Anaknya mau sekolah, buru-buru mau jadi anggota.

Apa suka dukanya jadi kolektor?

Sekarang anggota yang saya layani ada sekitar 200-an orang. Selain dari Buntoi, ada juga yang dari Kanamit dan Sungai Baru. Sukanya, saya senang bisa melayani mereka dan punya banyak kenalan dan teman baru.

Dukanya di awal-awal ada yang sangsi dengan kolektor, takut uang mereka di pakai dulu  sebelum di setor ke kantor. Ada praduga seperti itu, yang lainnya kalau ada anggota yang bermasalah. Kalau bermasalah tetapi bisa baik-baik dengan kita tidak masalah, namun ada juga yang sulit ditagih. Bagi yang sulit ini, biasanya saya meminta staf dari kantor saja yang menagih.

Harapan Ibu kepada CU?

Walaupun saya PNS dan ada pensiun, saya ingin pensiun bersama CU. Jadi nanti bisa dapat double pensiun. Anak-anak saya 4 orang sudah jadi anggota. Saya ingin mereka juga merancang masa depan mereka bersama CU.

Karena perkembangan CU sangat bagus dan banyak orang yang menaruh harapan yang besar pada CU, mari kita jaga bersama-sama.

Tantangan CU ke depan?

Bermunculan koperasi berjalan, maksud saya mereka datang dari rumah ke rumah menawarkan pinjaman cepat dan mudah, tanpa agunan dan dengan suku bunga pinjaman yang rendah. Ini membuat masyarakat terpikat. Ketika kita menjelaskan aturan main di CU harus jadi anggota, 3 bulan baru bisa pinjam, ikur pendidikan dasar dan beberapa aturan lain ada dari mereka yang keberatan.

Mereka tidak banyak yang mengerti kalau simpanan dan pinjaman mereka di CU ada perlindungannya. Kalau meninggal dunia saat pinjaman belum lunas ahli waris tidak akan membayar sisa pinjaman yang ditinggalkan. Agunan pinjaman dikembalikan pada ahli waris. Ini tantangan bagi kita semua agar bisa menjelaskan kepada masyarakat sehingga bisa memahami kelebihan CU dari lembaga lain yang kelihatannya mudah tetapi bisa menjerat dikemudian hari.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat di CU Betang Asi.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, January 19, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved