Selamat Datang!

Djunedie: “CU Mengangkat Harkat dan Martabat Kita”


Saat pelaksanaan RAT TP PHS, Sabtu (12/1)  di Pulang Pisau, Djunedie yang dipercaya sebagai Ketua Panitia RAT TP PHS tahun ini ditemui oleh penulis. Ia menyampaikan kalau CU bisa mengangkat harkat dan martabat kita. Karena dengan ber-CU, kita di ajarkan untuk menabung dan menyiapkan dana untuk pendidikan anak-anak kita, terlebih saat tenaga kuat dan keuangan masih stabil. “Beda dengan kami dulu, orang tua tidak mengajarkan untuk menyiapkan dana sebagai biaya pendidikan anak-anaknya, sehingga ketika kami mau sekolah hanya oleh nekad saja,” ungkapnya.

Ayah dari 2 orang anak ini, bekerja di Satpol Perairan Polres Pulang Pisau. Ia mengenal CU tahun 2010, saat ada pelayanan rohani pada  kebaktian khusus untuk anggota Polres Pulang Pisau. Pada waktu kebaktian tersebut ia mendapatkan informasi dari seorang temannya yang sudah menjadi anggota CU.

“Saya tertarik karena menurut saya CU memberdayakan putra daerah. Saya pernah bertugas di kabupaten Kotawaringin Barat, melihat putra daerah dan orang lokal menjadi kuli di tanahnya sendiri. Mereka bekerja di perusahaan sawit dengan upah yang rendah dan areal kerjanya sampai ke dapur-dapur mereka,” jelas  pria kelahiran Mantaren, 28 Juli 1971.

Djunedie melanjutkan, mereka kehilangan tanah, rumah dan harga diri. Nah, di sinilah saya lihat CU mengingatkan kita agar bijaksana mengelola uang. Ketika memiliki uang harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat untuk masa depan bukan hal-hal yang negatif. Masyarakat kita masih banyak yang belum mengerti dan kurang informasi tentang CU.

“Banyak yang memahami CU hanya tempat kredit saja. Padahal CU tidak hanya mengurus kredit tetapi juga tempat anggota menyimpan dan merancang masa depannya agar lebih baik. Jika mereka ingin memiliki uang dalam jumlah tertentu di masa depan, mereka harus menabung dari sekarang,” terang suami dari Ratih Pamungkas Sari.

Pria yang memiliki motto hidup ‘selalu mencoba walau gagal, jika gagal belajarlah dari kegagalan itu’, berharap, CU dapat turun langsung ke lapangan, jika bisa ada semacam koordinator di tiap kampung agar anggota masyarakat yang tidak mengerti bisa bertanya dengan koordinator tersebut. Sebab, jika ingin mendapatkan informasi tentang CU, mereka harus pergi ke kantor dulu, berapa biaya dan waktu yang diperlukan untuk itu. Tidak semua orang memiliki dana, waktu dan juga keberanian untuk bertanya langsung ke kantor.

Mengakhiri perbincangan dengan penulis, Djunedie menekankan agar anggota CU bisa bersatu. “Kita yang sudah jadi anggota membawa keluarga kita, orang-orang di lingkungan kerja kita, di lingkungan masyarakat tempat kita tinggal,  sehingga dengan apa yang kita lakukan kita bisa merangkul masyarakat agar bisa bergabung menjadi anggota CU,” pungkasnya.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat di CU Betang Asi.



Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, January 19, 2013
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved