Headlines News :

Manajer TP BM Serahkan Hadiah ‘TAS’

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, August 29, 2012 | 2:34 AM

TAS merupakan kependekan dari Tabungan Anak Sekolah. Produk ini adalah simpanan khusus untuk anak sekolah dari TK sampai SLTA di CU Betang Asi. Pada kebijakan pengurus CU Betang Asi tahun buku 2012, pada setiap akhir tahun ajaran dilakukan  pengundian berhadiah TAS, syaratnya saldo simpanan minimal Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).

Pengundian telah dilakukan (23/8) lalu di Yayasan Siswarta Katolik Palangka Raya. Diikuti seluruh penabung TAS yang layak ikut undian dari TK, SD, SLTP dan SLTA. Hadiah utama 1 (satu) buah Laptop didapatkan oleh Maman Prianto dengan nomor Rekening TAS. 00071. Maman, seorang murid SD dari SDN Bahu Palawa yang beralamat di Desa Bahu Palawa.

Penyerahan Laptop diserahkan langsung Andika Harianto, Manager TP Batuah Marajaki, Senin (27/8). Maman yang didampingi ibunya, sangat bangga dan merasa sangat beruntung mendapatkan hadiah tersebut.

Saat sekarang Maman sudah kelas 6 SD, tahun depan sudah mulai masuk SMP. Milla, kepala sekolah SDN Bahu Palawa berpesan supaya Maman semakin giat belajar dan semakin giat menabung. Harapan senada juga disampaikan oleh Manager TP Batuah Marajaki semoga hadiah yang diterima berguna dalam kegiatan belajar.

Penyerahan hadiah tersebut dilakukan pada saat jam istirahat dengan alasan murid-murid SD yang lain  bersama para guru-guru ikut menyaksikan dan mengucapkan selamat pada Maman. Sekedar diketahui, selain penabung TAS, Maman juga anggota CU aktif serta kedua orang tuanya juga anggota CU Betang Asi di Tempat Pelayanan Batuah Marajaki Petuk Liti, Pulang Pisau. (ndk)

Sumber foto dan berita: Andika Harianto, kontributor di TP BM

Keterangan Foto: Maman (memegang laptop) berfoto bersama guru dan manajemen CU Besi TP BM.

Leani, ST: “Perempuan Bisa Menjadi Senjata Mewujudkan Kesejahteraan”

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, August 22, 2012 | 2:57 AM

Di ruang kerjanya di kantor pusat Credit Union Betang Asi Palangka Raya, Leani, Perempuan kelahiran Tamiang Layang, 15 Desember 1976 ini menuturkan kepada penulis bahwa mengenal CU saat Strategic Planning  (SP) CU Besi bulan Februari tahun 2003. Saat itu, ia di ajak temannya Natalius Umar untuk ikut SP di Aula Nazaret.

”Saat  SP itulah saya di ditunjuk bersama Ethos H.Lidin untuk menjadi staff awal CU Besi, mewakili perempuan dan diminta untuk membuat pernyataan sikap. Saya pikir ini tidak main-main, sebuah keputusan yang menuntut tanggung jawab yang total. Selain itu saat SP, kita mendapat pembelajaran secara andragogi (cara belajar orang dewasa)  dan sebagai orang Dayak kita di tantang untuk berjuang  dan membuktikan bahwa kita bisa mencapai tanah terjanji seperti yang ada di Alkitab tentu bersama CU,” ujarnya memulai perbincangan dengan penulis.

Leani menuturkan kisahnya menjadi staff awal yang langsung diminta untuk magang selama 3 bulan di Kalbar. “Saya melihat perempuan di CU tidak dibeda-bedakan dan sangat setara, terbukti saya di pilih untuk mewakili perempuan sebagai staff awal  bersama Ethos H. Lidin  magang di Kalbar”.

Terkait tempat magang, saya magangnya di BKCUK dan di bimbing secara teknis, setelah itu ke CU Khatulistiwa Bakti dan ke CU Muara Kopa. Banyak hal yang saya dapatkan, misalnya produk simpanan dan pinjaman di CU di buat untuk menjawab kebutuhan anggota, komitmen, rasa kebersamaan, melakukan pendidikan dasar dengan cara yang sederhana seperti menggunakan bahasa daerah agar bisa lebih mudah dipahami oleh anggota,” ujarnya.

Leani menambahkan, ia semakin bersemangat ketika melihat perempuan di Kalbar, loyalitas mengembangkan CU, baik mereka yang aktivis, pengurus, staff dan anggota, dan betul-betul menganggap bahwa CU ini ayungku (milikku), kami bisa berdaya  dan bisa membuktikan bahwa kami bisa mengangkat utus (suku) kami. Sehingga ilmu yang saya dapat ketika kuliah di teknik industri yang banyak mempelajari hal-hal teknis dan ekonomi dapat di integrasikan dengan CU yang memberdayakan manusia tetapi tetap melihat keuntungan secara ekonomi.

Untuk keterlibatan perempuan di CU, Leani melihat bahwa perempuan itu unik. Mereka bisa menghemat uang, sebagai pengelola dan juga pengontrol keuangan keluarga. Oleh karena itu penting, saat mengajukan pinjaman, istri harus tahu jika suaminya yang meminjam, agar di gunakan sesuai tujuan.

Perempuan bisa menjadi senjata untuk mewujudkan kesejahteraan, tetapi juga bisa jadi bumerang. Kalau perempuan bisa mengendalikan keinginan dan memprioritaskan kebutuhan maka keuangan keluarga akan terkendali. Namun jika lepas kontrol, ini yang mengacaukan keuangan keluarga.

Menurut Leani, yang masih menjadi kelemahan perempuan sekarang ini adalah masih kuat budaya patriarki (mengutamakan laki-laki). Seringkali mereka mendorong laki-laki atau suaminya dulu yang menjadi anggota dan pinjam di CU. Kalau terjadi sesuatu dengan suaminya, misalnya meninggal dunia, maka karena istrinya belum jadi anggota CU banyak hal yang jadinya terhambat.

Padahal kalau perempuan mengerti apa itu CU, sudah ikut pendidikan dasar, selain bijaksana mengelola keuangan keluarga, mereka ini bisa menjadi alat promosi gratis bagi lembaga, karena di mana dia ada pasti bercerita tentang CU baik keuntungan dan manfaatnya.

Kalau secara kelembagaan CU, proses pinjaman di CU terbuka bagi siapa saja, baik dia laki-laki maupun perempuan. Semua anggota memiliki hak yang sama di CU, baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi pengurus, pengawas, staff dan aktivis.

Namun kendalanya ada pada perempuan itu sendiri, karena tidak jarang mereka ini kerja ganda, mereka bekerja di luar untuk mencari nafkah, ketika pulang ke rumah, mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalau karir di luar sukses, tetapi keluarga berantakan, juga menjadi bumerang bagi perempuan tersebut. Hal ini di sebabkan budaya kita yang masih kuat melekat, kalau laki-laki bekerja di luar, urusan rumah tangga di serahkan penuh pada istri.

Padahal istrinya juga bekerja, sehingga beban yang di pikul istri menjadi ganda. Di kantor dia harus bekerja secara profesional, pulang kerumah harus mengurus rumah tangga. Ini tantangan bagi pengawas, pengurus, staff dan aktivis perempuan di CU Besi. Mereka bukan tidak mampu, tetapi memang harus berjuang agar bisa keluar dari tantangan itu.

Disinggung pada staff perempuan di CU Besi, Leani mengungkapkan masih harus dibenahi mentalnya, karena bermental pekerja. Kalau tidak diminta, tidak di suruh tidak dilakukan. Bekerja menunggu instruksi. Fokus pada gaji, apa yang bisa lembaga beri, bukan pada apa yang kita bisa beri pada lembaga, sehingga ketika lembaganya besar, kuat, bagus maka berdampak juga buat kita yang bekerja di situ. Bagaimana kita berpikir global, bertindak lokal itu yang belum maksimal.

Mengenai manfaat CU secara pribadi, Leani mengatakan berkat CU jadi memiliki  simpanan, selalu menyisihkan minimal 10% untuk simpanan, ada modal, kemudian bisa pinjam untuk menikah, melahirkan, punya rumah, untuk anak sekolah dan bisa punya aset sendiri dan tidak mengandalkan warisan orang tua, kalaupun ada warisan itu bonus.

Untuk tugasnya sebagai Deputy Manger di CU Besi, Leani menyampaikan, tugasnya mem-backup tugas GM. Kalau secara pembagian tugas, GM untuk hal-hal keluar (eksternal), sedangkan Deputy Manager menangani hal-hal di dalam (internal). Selain itu bertanggungjawab untuk Kantor Pusat dan TPK yang di bawah kantor Pusat kecuali TPK Sangai karena jaraknya cukup jauh, TPK ini langsung di bawah GM.

Ibu dari Zelda Ewanggelion dan Zuriel Palanungkai ini berharap agar anggota CU menjadi anggota yang berkualitas dan loyal kepada lembaga. Menjadi penabung yang aktif dan peminjam yang baik. Tidak hanya mengambi keuntungan semata dari CU. Tetapi menyadari bahwa CU ini milik bersama, yang harus di jaga bersama.

Menutup perbincangan, perempuan yang punya Motto hidup Ora Et Labora, (bekerja dan berdoa) ini menyampaikan rahasia sukses CU bisa seperti sekarang, karena  saat membangun pondasinya adalah sikap loyalitas dan kejujuran. Pengurus, pengawas, kolektor, kelompok inti, aktivis dan staff solid, tetap mau berjuang dan berkorban untuk kepentingan lembaga.

Sumber berita dan foto: Sepmiwawalma

Yohanes Changking, SE : “Hidup Adalah Perjuangan”

Written By Fidelis Harefa on Monday, August 20, 2012 | 7:17 PM


Salah satu bagian yang sering dikunjungi oleh anggota di CU Besi adalah bagian kredit dan pemasaran. Untuk mengenal lebih dekat siapa manager kredit dan pemasaran, tugas dan tantangan di bagian ini, penulis berkesempatan mewawancarai Yohanes Changking, SE, manajer kredit dan pemasaran CU Besi di ruang kerjanya.

Suami dari Sri Rosnita dan ayah dari 2 putra, Aloysius Philiano dan Jastin Chandra Winata menerima penulis pada 14 Agustus 2012 lalu. Dengan ramah pria Dayak kelahiran Riam Tinggi, 30 Mei tahun 1977 menjawab pertanyaan yang diajukan penulis, berikut petikannya:

Sejak kapan mengenal CU dan apa yang membuat anda tertarik pada CU?

Saya mengenal CU sejak saya kuliah tahun 2003. Dikenalkan oleh teman yaitu Ethos H. Lidin. Saat itu Ethos sudah bekerja di CU Besi. Awalnya saya tidak tahu, apa itu CU. Saya bersama teman saya Jat, di paksa oleh Ethos untuk mendaftar jadi anggota. Mendaftar jadi anggota itupun melalui kredit kapitalisasi sebesar Rp.160.000,-, dengan angsuran Rp.16.000,- perbulan selama 60 bulan.

T.T. Suan: “CU Melayani Anggota Sampai ke Pedalaman”

Usia tidak menghalangi seseorang produktif dalam menulis. Ini dibuktikan oleh ayah dari 4 anak sekaligus bue dari 6 cucu ini, masih sering tulisannya kita baca di koran-koran lokal di Kalteng. Terkait CU, saat ditemui penulis ia mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat kepada CU kelihatannya semakin meningkat dan saya mau orang Dayak membangun CU agar tidak hanya besar tetapi kokoh.

Timotheus Tenggel Suan atau lebih dikenal dengan nama T.T. Suan  merupakan salah satu tokoh masyarakat Kalteng yang masih hidup. Beliau ini di tetapkan oleh PWI Pusat sebagai wartawan nomor 1 artinya wartawan seumur hidup.

Di saat umurnya yang sudah memasuki usia 80 tahun, beliau masih aktif mengikuti seminar, lokakarya dan kegiatan kegiatan yang dilakukan di kota Palangka Raya. Di tahun 2008 beliau mendaftar  menjadi anggota CU Betang Asi dengan nomor buku anggota KP. 108.412

Menurut ayah 4 orang anak ini “CU menolong orang Dayak, terutama yang tinggal di pedalaman, yang tidak  punya akses ke lembaga keuangan, mereka bisa mengakses dana ke CU Betang Asi. Sehingga perekonomian mereka meningkat, asal kalau mereka meminjam pemanfaatannya tepat guna. CU ketika mencairkan pinjaman juga harus tepat sasaran," jelas T.T Suan.

Manfaat CU secara pribadi bagi T.T. Suan, tabungan bisa di tarik kapan saja dan bisa pinjam setara simpanan, sementara simpanan masih di beri bunga. Selain itu, CU memiliki keunggulan lain, kalau anggota memiliki simpanan di Duit Turus, anggota bisa klaim untuk biaya berobat dan kalau opname bisa di bantu yang jumlahnya di sesuaikan dengan besarnya simpanan. Tabungan juga banyak jenisnya ada yang untuk harian, untuk wisata, untuk hari raya dan untuk lansia dengan bunga yang sangat layak.

Kakek 6 orang cucu ini berharap, agar masyarakat bisa menjadi anggota CU dan memanfaatkan CU untuk hal-hal yang baik, agar hidup mereka semakin baik dan bisa mewujudkan cita-cita dan harapan mereka. “Ela sampai tempun petak manana sare, tempun kajang bisa puat, tempun uyah batawah belai  yang artinya punya tanah tetapi berladang di pinggiran, punya atap tetapi barang muatan kehujanan, punya garam tetapi hambar rasa," pungkasnya.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma.

Yohanes Changking, SE : “Hidup Adalah Perjuangan”

Salah satu bagian yang sering dikunjungi oleh anggota di CU Besi adalah bagian kredit dan pemasaran. Untuk mengenal lebih dekat siapa manager kredit dan pemasaran, tugas dan tantangan di bagian ini, penulis berkesempatan mewawancarai Yohanes Changking, SE, manajer kredit dan pemasaran CU Besi di ruang kerjanya.

Suami dari Sri Rosnita dan ayah dari 2 putra, Aloysius Philiano dan Jastin Chandra Winata menerima penulis pada 14 Agustus 2012 lalu. Dengan ramah pria Dayak kelahiran Riam Tinggi, 30 Mei tahun 1977 menjawab pertanyaan yang diajukan penulis, berikut petikannya:

Sejak kapan mengenal CU dan apa yang membuat anda tertarik pada CU?

Saya mengenal CU sejak saya kuliah tahun 2003. Dikenalkan oleh teman yaitu Ethos H. Lidin. Saat itu Ethos sudah bekerja di CU Besi. Awalnya saya tidak tahu, apa itu CU. Saya bersama teman saya Jat, di paksa oleh Ethos untuk mendaftar jadi anggota. Mendaftar jadi anggota itupun melalui kredit kapitalisasi sebesar Rp.160.000,-, dengan angsuran Rp.16.000,- perbulan selama 60 bulan.

Membayarnya dengan membagi uang kiriman orang tua, karena status masih mahasiswa. Setelah menjadi anggota di minta mengikuti pendidikan dasar di aula Nazaret dan saya banyak mendapat pelajaran berharga mengenai CU dan keuangan.

Pemahaman awal saya tentang CU saat itu, CU sebagai alternatif pilihan untuk menabung, aksesnya tidak sulit. Selain itu saya tertarik dengan prospek tabungan yang di ajarkan CU. Konsep Cashflow Quadrant Robert Kiyosaki, bagaimana uang bekerja untuk kita. Saya sering membuat hitungan ratusan juta bahkan sampai milyaran di komputer, sampai sering di olok teman.

Apa manfaat yang anda rasakan saat ber-CU?

Manfaat yang saya dan keluarga rasakan, selain saya mendapat pekerjaan di CU, banyak masalah keuangan yang di bantu oleh CU, mulai dari saya menikah dan adik-adik saya menikah, bisa mengembangkan aset, bisa membeli mobil dan membeli rumah.

Manfaat CU bagi anggota?

CU ini bagi anggota merupakan alat atau tempat untuk berinvestasi. Apalagi CU ada sampai ke daerah atau desa. Selain itu kehadiran CU dapat menunjang usaha dan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Banyak anggota yang sudah terbantu dan sukses berkat kehadiran CU.

Untuk masyarakat menengah ke bawah, tidak banyak pilihan lembaga keuangan tempat mereka bisa berinvestasi. Sedangkan kalau masyarakat menengah ke atas, mereka punya banyak pilihan. Namun ada juga masyarakat menengah ke atas yang memilih bergabung dengan CU.

Dari pengamatan anda, apa penyebab orang tidak mau bergabung menjadi anggota CU?

Ada beberapa faktor penyebabnya. Ada yang karena pemahamannya sepotong, ada juga karena mendapatkan informasi dari barisan yang kecewa pada CU, karena pinjamannya tidak di cairkan sesuai keinginannya.

Sebetulnya apa tugas dan juga tantangan di Kredit dan Pemasaran?

Kalau tugas antara lain melakukan koordinasi dengan tim kredit serta dengan pimpinan yang lebih tinggi. Kemudian menjaga stabilitas rasio kredit, baik piutang anggota maupun mengendalikan kredit lalai atau macet. Selain itu memutuskan permohonan kredit anggota.

Untuk tantangannya, bila terjadi kredit macet sehingga harus di cari segala upaya untuk dapat menyelesaikannya. Ketika memutuskan kredit anggota yang nilainya cukup besar serta menjaga rasio kredit, karena merupakan sumber pendapatan CU.

Untuk mengatasi kredit lalai atau macet sesuai Poljak untuk 1-2 bulan, di buat surat pemberitahuan, 3 bulan surat panggilan, 4 bulan peringatan pertama, 5 -6 bulan peringatan penyitaan. Namun pendekatan yang kita lakukan tetap secara persuasif atau kekeluargaan karena yang kita urus ini anggota bukan nasabah atau pelanggan. Jika semua prosedur sudah kita lewati, pilihan terakhirnya sita jaminan dengan cara penjualan untuk mengurangi atau menutupi sisa kredit. Jika kurang itu menjadi resiko lembaga.

Kalau untuk pemasaran, kita masih mengacu pada rambu-rambu di Poljak yaitu melalui Pendidikan Dasar dan juga sosialisasi produk baru. Kita belum melakukan pemasaran dengan door to door untuk sosialisasi produk karena belum di atur dalam Poljak.

Kita juga  mendata anggota potensial. Anggota potensial ini kategorinya sudah pinjam berkali-kali dan tidak pernah lalai, sudah di kenal oleh lembaga, ada usaha yang berkelanjutan, ada sumber pembayaran dan ada simpanan yang besar.

Kita juga pernah mengundang anggota potensial dalam temu anggota untuk melihat peluang usaha bersama CU. Mereka ini punya simpanan yang besar, tetapi pinjamannya tidak ada. Mungkin masih bingung mencari usaha. CU memamparkan peluang usaha kepada mereka, siapa tahu mereka tertarik. Dari pertemuan itu sudah ada anggota potensial ini yang meminjam untuk usaha.

Pasca pencairan kredit, CU melakukan monitoring untuk melakukan evaluasi berapa persen anggota yang telah berhasil dan juga yang bermasalah atau gagal. Untuk pendampingan CU belum bisa melaksanakannya karena ini sudah menyangkut hal yang sangat teknis. Idealnya pendampingan itu dilakukan oleh pihak ketiga misalnya universitas yang memang ahli di bidangnya dan biayanya di tanggung oleh peminjam.

Kalau untuk persentase tujuan kredit 40-50% untuk usaha, 20% konsumtif, 10–15% perumahan, menyusul kendaraan, proyek, ganda dan pendidikan. Kalau untuk kredit yang sering bermasalah, ya kredit usaha dan konsumtif.  Penyebabnya ada yang menyalahgunakan tujuan kredit, tujuannya untuk usaha ternyata tidak di jalankan, banyak pinjaman di tempat lain dan juga kegagalan usaha.

Kalau untuk anggota yang usahanya gagal bahkan yang mengalami musibah seperti kebakaran, CU tetap memberikan pinjaman kepada mereka dengan melihat jenis usaha yang  akan dijalankan, apakah ada kemungkinan gagal lagi atau tidak, ini untuk mengurangi resiko, kesungguhannya, ada agunannya dan anggota seharusnya lebih terbuka. Jadilah anggota yang aktif dan peminjam yang baik, jalankan komitmen, jika di ajak menyelesaikan masalah, melaksanakan seperti komitmen yang dijanjikan.

Apa tantangan CU Betang Asi ke depan?

Secara pribadi saya melihat, karena CU Betang Asi merupakan CU terbesar dalam gerakan CU Kalimantan Tengah dan dalam keanggotaan BKCUK, sehingga dinamika pasti menjadi perhatian banyak kalangan. Persaingan di dunia industri keuangan dewasa ini juga sangat pesat sehingga berpengaruh pada CU Betang Asi. Semakin besar CU masalah eksternal dan internal juga makin kompleks. Untuk internal, jumlah staff CU makin banyak. Kebijakan kebijakan CU harus relevan dengan kondisi kekinian, harus melakukan inovasi-inovasi.

Untuk tantangan eksternal berkaitan dengan pajak dengan masalah hukum perjanjian seperti adanya kasus wan prestasi (ingkar janji) dan jaminan kredit. Pajak juga menjadi tantangan buat CU. Karena kita ini negara hukum, pajak tidak bisa di hindari. Bagaimana CU mensosialisasikan kepada anggota.

Saya secara pribadi melihatnya pajak ini berkeadilan saja. Pajak yang dikenakan itu untuk bunga tabungan di atas 25 juta atau yang mendapat bunga minimal Rp.250.000 perbulan dikenakan pajak 10%. Yang dikenakan pajak bukan organisasi tetapi anggota. Karena untuk mereka yang punya tabungan di atas 25 juta itu dianggap mampu.

Harapan kepada anggota CU?

Jadilah anggota CU yang baik. Artinya menjadi penabung yang aktif dan peminjam yang baik. Kelola keuangan dengan sebaik-baiknya, hindari belanja-belanja yang konsumtif.

Rahasia sukses CU Besi?

Menurut saya CU Besi bisa seperti sekarang karena soliditas tingkat pengurus dengan manajemen. Ada masalah segera di selesaikan. Selain itu selalu melakukan perubahan dan inovasi baik atas produk layanan maupun kebijakan selalu disesuaikan dengan kebutuhan anggota. Selalu meningkatkan kapasitas pengurus, pengawas dan staff dan aktivis melalui pendidikan dan pelatihan. Sehingga dengan kapasitas yang meningkat mampu mengimplementasikan kebijakan yang di buat.

Apa motto hidup anda?

Motto hidup saya dari kuliah dulu tidak pernah berubah “Hidup Adalah Perjuangan”. Bagi saya kalau mau mempertahankan hidup kita harus berjuang. Saya berangkat dari nol, bahkan pernah ikut orang, tetapi saya tidak pernah berhenti berjuang, Sehingga saya bisa seperti sekarang. Bahkan saya memotivasi staff untuk disiplin, menjaga kepercayaan, berkomunikasi dengan baik, ikuti aturan yang ada, jalankan tugas dan fungsi masing masing, fungsi saya hanya sebagai kontrol saja.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma.

LDP Ikuti Pelatihan dari SEKBER REDD+

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, August 15, 2012 | 4:48 AM

Bertempat di Training Center REDD+ Palangka Raya, Pelatihan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Proyek Khusus Eks PLG dilakukan selama 2 hari dari tanggal 8-9 Agustus 2012 lalu.

Pusat pelatihan yang terletak di jalan Yos Sudarso Palangka Raya ini memang sering dijadikan tempat pelatihan yang bertema REDD+. Kegiatan ini inisiasi oleh Sekretariat Bersama (Sekber) REDD+ bekerja sama dengan pemerintah propinsi Kalimantan Tengah.

Lebih dari 20 orang peserta mengikut pelatihan ini, kesemuanya berasal dari penerima dana yang bekerja di lapangan dan bersinggungan langsung dengan desa-desa yang terletak di eks Proyek Lahan Gambut (PLG).

Adapun instansi/ lembaga yang diundang adalah Team Leader dan 4 orang staf lapangan Lembaga Dayak Panarung (LDP), Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kahayan Hilir, Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Jabiren Raya, Fasilitator Desa PNPM desa Henda, Fasilitator Desa PNPM desa Mantaren II, Team Leader dan 5 orang community organizer Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia (JARI) Kalimantan Tengah dan Team Leader serta 1 orang staf lapangan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah.

Masing-masing lembaga yang terlibat mengusung kegiatan yang berciri khas, dari LDP mengajak untuk masyarakat di kawasan eks PLG dapat meningkatkan keterampilan berwirausaha di pemasaran karet. Dari JARI mengajak masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat berternak ikan karamba. Dari PNPM di desa Jabiren dan Henda mengajak masyarakat untuk meningkatkan keterampilan menganyam rotan dan budidaya jamur. Sedangkan dari BPTP Kalteng memadukan teknologi tepat guna bagi petani di daerah binaan mereka sehingga dapat lebih sejahtera.

Dalam pelatihan yang dilakukan selama 2 hari penuh ini pihak SEKBER juga membawa narasumber yang berkompeten di bidangnya. Di hari pertama Agung Pramono Priyo Wibowo dari lembaga BDS Management Studio & Clinic mengajak peserta pelatihan untuk melihat konsep dari transparansi dan akuntabilitas dan penguatan kelembagaan masyarakat.

Masih di hari pertama, Erni Lambung sebagai sekretaris BLH Propinsi Kalimantan Tengah menyampaikan paparan inisiatif lokal pengembangan REDD+ di Kalimantan Tengah sebagai propinsi percontohan REDD+.

Paparan Erni Lambung cukup menarik karena menjelaskan konsep REDD+ secara sederhana. Di jelaskannya bahwa awalnya REDD hanya berbicara pada penurunan deforestasi  dan penurunan degradasi, proses perdebatan yang panjang akhirnya berubah menjadi REDD+. Perubahan untuk ‘plus’ ini mencakup pada konservasi, pengelolaan hutan secara lestari, peningkatan cadangan karbon dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menceritakan proses terpilihnya Kalimantan Tengah sebagai propinsi percontohan.

Di hari kedua, Bernandus Steni membawa peserta untuk mendalami pentingnya safeguard dalam implementasi REDD+. Pria berkacamata yang awalnya aktif di salah satu NGO Nasional dan akhir-akhir ini aktif di working group instrumen pendanaan SATGAS REDD+.

Dalam paparannya Steni memberikan pengertian mengenai pentingnya safeguard dalam implementasi REDD+ dan bentuk safeguard yang diperlukan mencakup social environmental safeguard juga FPIC.

Menjelang akhir pelatihan Bambang dan Mayang dari Sekber REDD+ mengajak peserta untuk membuat rencana aksi secara rinci dan membangun kesepakatan bersama dari hasil pelatihan yang sudah dibuat.

Harapan, semoga aksi-aksi untuk memberdayakan masyarakat lokal (baca Dayak) dapat lebih terintegrasi dan saling bersinergi dengan lembaga yang ada.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis

Keterangan foto: Mastuati dari LDP sedang menjelaskan rencana aksi.

Pendeta Barnabas: “Anggota Bisa Merancang Pensiun, Apapun Pekerjaannya”

Written By Fidelis Harefa on Tuesday, August 14, 2012 | 5:17 AM

“Dengan adanya CU, anggota bisa menyimpan dan juga meminjam.  Walaupun  anggota pinjam, namun simpanannya tetap mendapat bunga yang besar. Kita bisa pinjam untuk modal usaha, namun simpanan tidak hilang”, itulah ungkapan bangga dari Pdt. Barnabas pada penulis saat menabung dan membayar pinjaman di Kantor TP Penyang Hinje Simpei, Pulang Pisau.

Kepada penulis, lebih jauh ia bercerita telah 25 tahun  melayani  dan sekarang ditugaskan di Resort GKE Pulang Pisau. Ia mengungkapkan dengan adanya pinjaman kapitalisasi, di mana anggota meminjam untuk di simpan, maka sebetulnya anggota bisa merancang pensiun, apapun pekerjaannya.

Barnabas menegaskan, bahwa CU ini karunia Tuhan, alat Tuhan agar anggota bisa mengelola keuangannya dan memberdayakan ekonominya. “Dari dulu, saya mencari cara menabung dan jawabannya saya temukan  dengan cara kapitalisasi yang ada di CU ini”, jelasnya.

Terkait harapan, Barnabas mengatakan CU tetap menjaga kepercayaan anggota, ketika di percaya oleh anggota maka CU akan makin besar. “Kalau CU ingin memberdayakan jemaat dalam bidang ekonomi, maka sebetulnya CU bisa bekerjasama dengan majelis jemaat, misalnya menyelipkan informasi di warta jemaat tiap minggu, sehingga informasi tentang CU makin banyak diketahui oleh jemaat”, usulnya.

Pria berusia 53 tahun ini menyampaikan kenapa masyarakat belum  tertarik dengan CU, karena banyak yang salah pengertian, kurang informasi dan salah memahami informasi. “Bahkan walau sudah ikut Pendidikan Dasar (PENDAS) masih ada anggota yang salah memahami CU. Oleh karena itu, CU harus mencari cara yang efektif agar pemahaman anggota tentang CU tidak lagi keliru. Karena anggota ini berbagai macam karakter, kebiasaan dan pendidikan. Jadi harus pandai mencari cara yang jitu untuk menjelaskan CU kepada mereka”, jelasnya mengakhiri perbincangan dengan penulis.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa