Selamat Datang!

T.T Suling: “CU Besi Menjadi Abadi, Terbesar dan Terpercaya”

Di temui di rumahnya jalan Langsat Palangka Raya, Jumat, (24/8) pukul 10.30 WIB, T.T.Suling dan istrinya sedang sibuk memberi obat cacing untuk 9 ekor anak anjing peliharaannya yang baru lahir. Beliau meminta penulis menunggu sebentar, karena ada beberapa anak anjing yang belum selesai di beri obat.

Selesai memberi makan obat cacing, T.T.Suling menemui penulis dan mengawali perbincangan dengan menyampaikan bahwa ia tidak hanya sebagai salah satu  pendiri CU Besi tetapi benar-benar sudah menikmati dan juga mewariskan karena semua anggota keluarganya bahkan sampai ke cucu-cucunya adalah anggota CU Besi.

“Saya mengenal CU dari tahun 1967, saat itu saya kepala sekolah di PGAK Barimba. Ada buku yang membahas masalah CU, saya simpan begitu saja, karena saya tidak tertarik dan saya pikir CU itu seperti koperasi biasa. Saat Strategic Planning (SP) CU Besi di Aula Nazaret, Pebruari 2003, saya baru ingat bahwa memiliki buku tentang CU yang tidak pernah saya baca. Saya cari lagi buku itu dan saya pinjamkan untuk almarhum Amu Lanu, supaya dia baca,” ungkap kakek dari 8 orang cucu ini.

Pria kelahiran 29 Oktober 1941  ini menyampaikan saat SP pendirian  CU Besi ada sedikit keraguan, namun tetap optimis. Keraguan muncul karena koperasi yang sukses, berangkat dari pengurus yang jujur. “Saya 10 tahun menjadi pengurus koperasi, ketika saya menjadi ketua, koperasinya berjalan baik, setelah saya tidak lagi menjadi ketua pengurus, koperasinya bubar. Jadi koperasi bisa berjalan dengan  baik, berangkat dari pengurus yang baik dan memiliki visi yang jelas.  Saya juga optimis karena banyak cerita sukses di tempat lain tentang CU, terutama di Kalbar,” jelas pria yang bernama lengkap Toyo Teras Suling.

Terkait CU di Kalteng, sudah ada CU Sumber Rejeki di Ampah yang ketuanya di tahun 2003 Dominikus D. Fernandez. “Ketika saya di Dinas P & K Provinsi, saya yang menempatkan Fernandez di Ampah sebagai guru agama dan CU mereka sudah berkembang baik saat itu,” terang pria yang dipercaya sebagai penasehat ini.

Lebih jauh ia bercerita, untuk CU di Palangka Raya, sumber daya manusianya memadai. Kemudian penasehat, pengurus dan pengawas yang terpilih saat itu adalah mereka yang sudah berkecimpung di dunia koperasi, istilahnya bukan new comer (orang baru). Sehingga ketika almarhum Amu Lanu yang di pilih sebagai ketua badan pengurus saat itu berkata tidak tahu apa-apa tentang CU, saya menguatkan beliau (Amu Lanu, Red) dengan mengatakan “kamu orang ekonomi, tidak sulit mempelajarinya”.

Mengingat awal pendiriannya, T.T Suling mengungkapkan memulai CU Besi kita tidak punya uang. Namun karena belajar untuk saling percaya seperti kutipan syair hymne CU “bila kita saling percaya dan bekerjasama, dengan semangat dan ketekunan dan kita bersatu. Dengan Credit Union kita maju bersama, untuk membangun manusia, bahagia, sejahtera,” maka semua kesulitan bisa kita atasi bersama, jelasnya

Dari sisi pelayanan awal, saat Ethos dan Leani magang di Kalbar, para pengurus bergantian untuk melakukan pelayanan. Ada Sepmi dan Elisabeth yang pada shift pagi. Saat siang hari Longgor, Goris atau Ambu saat itu. Semuanya tidak di bayar dan bisa dilewati karena kekuatan kerjasama.

Di usia CU Besi yang hampir 10 tahun, T.T Suling memimpikan di CU ada beasiswa untuk anak sekolah. “Karena saya secara pribadi merasakan betul manfaat beasiswa. Saya anak orang tidak mampu, kuliah di UGM Yogyakarta karena ada beasiswa. Nah CU Besi sudah punya dana untuk kesehatan melalui Solkes, untuk kematian melalui Solduka. Untuk pendidikan selain BAS, saya pikir CU bisa merancang beasiswa untuk ke depannya. Sehingga anak-anak tidak kesulitan biaya pendidikan ketika mereka memerlukan biaya,” terangnya dengan raut muka serius.

Mengungkapkan harapannya T.T Suling mengatakan, CU Besi, tidak hanya menjadi yang terbesar tetapi abadi dan terpercaya seperti visinya. Sementara dari sisi tantangan CU ke depan adalah persaingan global. Bersaing memperlihatkan keunggulan dan menjawab kebutuhan orang, maka akan bertahan. “Jika CU Besi melakukan inovasi, menunjukkan kelebihannya dan menjawab kebutuhan anggota maka akan besar dan abadi dengan menjaga kejujuran dan tetap solid,” tegas pria yang rambutnya sudah memutih.

Di akhir perbincangan T.T.Suling mengungkapkan motto hidupnya “kebahagiaan di peroleh dengan menolong orang lain”, sambil menunggu panggilan yang Maha Kuasa saya  mengisi kehidupan dengan ibadah, melayani, mengunjungi orang sakit dan meninggal.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat CU Betang Asi.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, September 10, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved