Selamat Datang!

Leani, ST: “Perempuan Bisa Menjadi Senjata Mewujudkan Kesejahteraan”

Di ruang kerjanya di kantor pusat Credit Union Betang Asi Palangka Raya, Leani, Perempuan kelahiran Tamiang Layang, 15 Desember 1976 ini menuturkan kepada penulis bahwa mengenal CU saat Strategic Planning  (SP) CU Besi bulan Februari tahun 2003. Saat itu, ia di ajak temannya Natalius Umar untuk ikut SP di Aula Nazaret.

”Saat  SP itulah saya di ditunjuk bersama Ethos H.Lidin untuk menjadi staff awal CU Besi, mewakili perempuan dan diminta untuk membuat pernyataan sikap. Saya pikir ini tidak main-main, sebuah keputusan yang menuntut tanggung jawab yang total. Selain itu saat SP, kita mendapat pembelajaran secara andragogi (cara belajar orang dewasa)  dan sebagai orang Dayak kita di tantang untuk berjuang  dan membuktikan bahwa kita bisa mencapai tanah terjanji seperti yang ada di Alkitab tentu bersama CU,” ujarnya memulai perbincangan dengan penulis.

Leani menuturkan kisahnya menjadi staff awal yang langsung diminta untuk magang selama 3 bulan di Kalbar. “Saya melihat perempuan di CU tidak dibeda-bedakan dan sangat setara, terbukti saya di pilih untuk mewakili perempuan sebagai staff awal  bersama Ethos H. Lidin  magang di Kalbar”.

Terkait tempat magang, saya magangnya di BKCUK dan di bimbing secara teknis, setelah itu ke CU Khatulistiwa Bakti dan ke CU Muara Kopa. Banyak hal yang saya dapatkan, misalnya produk simpanan dan pinjaman di CU di buat untuk menjawab kebutuhan anggota, komitmen, rasa kebersamaan, melakukan pendidikan dasar dengan cara yang sederhana seperti menggunakan bahasa daerah agar bisa lebih mudah dipahami oleh anggota,” ujarnya.

Leani menambahkan, ia semakin bersemangat ketika melihat perempuan di Kalbar, loyalitas mengembangkan CU, baik mereka yang aktivis, pengurus, staff dan anggota, dan betul-betul menganggap bahwa CU ini ayungku (milikku), kami bisa berdaya  dan bisa membuktikan bahwa kami bisa mengangkat utus (suku) kami. Sehingga ilmu yang saya dapat ketika kuliah di teknik industri yang banyak mempelajari hal-hal teknis dan ekonomi dapat di integrasikan dengan CU yang memberdayakan manusia tetapi tetap melihat keuntungan secara ekonomi.

Untuk keterlibatan perempuan di CU, Leani melihat bahwa perempuan itu unik. Mereka bisa menghemat uang, sebagai pengelola dan juga pengontrol keuangan keluarga. Oleh karena itu penting, saat mengajukan pinjaman, istri harus tahu jika suaminya yang meminjam, agar di gunakan sesuai tujuan.

Perempuan bisa menjadi senjata untuk mewujudkan kesejahteraan, tetapi juga bisa jadi bumerang. Kalau perempuan bisa mengendalikan keinginan dan memprioritaskan kebutuhan maka keuangan keluarga akan terkendali. Namun jika lepas kontrol, ini yang mengacaukan keuangan keluarga.

Menurut Leani, yang masih menjadi kelemahan perempuan sekarang ini adalah masih kuat budaya patriarki (mengutamakan laki-laki). Seringkali mereka mendorong laki-laki atau suaminya dulu yang menjadi anggota dan pinjam di CU. Kalau terjadi sesuatu dengan suaminya, misalnya meninggal dunia, maka karena istrinya belum jadi anggota CU banyak hal yang jadinya terhambat.

Padahal kalau perempuan mengerti apa itu CU, sudah ikut pendidikan dasar, selain bijaksana mengelola keuangan keluarga, mereka ini bisa menjadi alat promosi gratis bagi lembaga, karena di mana dia ada pasti bercerita tentang CU baik keuntungan dan manfaatnya.

Kalau secara kelembagaan CU, proses pinjaman di CU terbuka bagi siapa saja, baik dia laki-laki maupun perempuan. Semua anggota memiliki hak yang sama di CU, baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi pengurus, pengawas, staff dan aktivis.

Namun kendalanya ada pada perempuan itu sendiri, karena tidak jarang mereka ini kerja ganda, mereka bekerja di luar untuk mencari nafkah, ketika pulang ke rumah, mereka juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalau karir di luar sukses, tetapi keluarga berantakan, juga menjadi bumerang bagi perempuan tersebut. Hal ini di sebabkan budaya kita yang masih kuat melekat, kalau laki-laki bekerja di luar, urusan rumah tangga di serahkan penuh pada istri.

Padahal istrinya juga bekerja, sehingga beban yang di pikul istri menjadi ganda. Di kantor dia harus bekerja secara profesional, pulang kerumah harus mengurus rumah tangga. Ini tantangan bagi pengawas, pengurus, staff dan aktivis perempuan di CU Besi. Mereka bukan tidak mampu, tetapi memang harus berjuang agar bisa keluar dari tantangan itu.

Disinggung pada staff perempuan di CU Besi, Leani mengungkapkan masih harus dibenahi mentalnya, karena bermental pekerja. Kalau tidak diminta, tidak di suruh tidak dilakukan. Bekerja menunggu instruksi. Fokus pada gaji, apa yang bisa lembaga beri, bukan pada apa yang kita bisa beri pada lembaga, sehingga ketika lembaganya besar, kuat, bagus maka berdampak juga buat kita yang bekerja di situ. Bagaimana kita berpikir global, bertindak lokal itu yang belum maksimal.

Mengenai manfaat CU secara pribadi, Leani mengatakan berkat CU jadi memiliki  simpanan, selalu menyisihkan minimal 10% untuk simpanan, ada modal, kemudian bisa pinjam untuk menikah, melahirkan, punya rumah, untuk anak sekolah dan bisa punya aset sendiri dan tidak mengandalkan warisan orang tua, kalaupun ada warisan itu bonus.

Untuk tugasnya sebagai Deputy Manger di CU Besi, Leani menyampaikan, tugasnya mem-backup tugas GM. Kalau secara pembagian tugas, GM untuk hal-hal keluar (eksternal), sedangkan Deputy Manager menangani hal-hal di dalam (internal). Selain itu bertanggungjawab untuk Kantor Pusat dan TPK yang di bawah kantor Pusat kecuali TPK Sangai karena jaraknya cukup jauh, TPK ini langsung di bawah GM.

Ibu dari Zelda Ewanggelion dan Zuriel Palanungkai ini berharap agar anggota CU menjadi anggota yang berkualitas dan loyal kepada lembaga. Menjadi penabung yang aktif dan peminjam yang baik. Tidak hanya mengambi keuntungan semata dari CU. Tetapi menyadari bahwa CU ini milik bersama, yang harus di jaga bersama.

Menutup perbincangan, perempuan yang punya Motto hidup Ora Et Labora, (bekerja dan berdoa) ini menyampaikan rahasia sukses CU bisa seperti sekarang, karena  saat membangun pondasinya adalah sikap loyalitas dan kejujuran. Pengurus, pengawas, kolektor, kelompok inti, aktivis dan staff solid, tetap mau berjuang dan berkorban untuk kepentingan lembaga.

Sumber berita dan foto: Sepmiwawalma


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, August 22, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved