Selamat Datang!

LDP Ikuti Pelatihan dari SEKBER REDD+

Bertempat di Training Center REDD+ Palangka Raya, Pelatihan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Proyek Khusus Eks PLG dilakukan selama 2 hari dari tanggal 8-9 Agustus 2012 lalu.

Pusat pelatihan yang terletak di jalan Yos Sudarso Palangka Raya ini memang sering dijadikan tempat pelatihan yang bertema REDD+. Kegiatan ini inisiasi oleh Sekretariat Bersama (Sekber) REDD+ bekerja sama dengan pemerintah propinsi Kalimantan Tengah.

Lebih dari 20 orang peserta mengikut pelatihan ini, kesemuanya berasal dari penerima dana yang bekerja di lapangan dan bersinggungan langsung dengan desa-desa yang terletak di eks Proyek Lahan Gambut (PLG).

Adapun instansi/ lembaga yang diundang adalah Team Leader dan 4 orang staf lapangan Lembaga Dayak Panarung (LDP), Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Kahayan Hilir, Ketua Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Jabiren Raya, Fasilitator Desa PNPM desa Henda, Fasilitator Desa PNPM desa Mantaren II, Team Leader dan 5 orang community organizer Jaringan Advokasi Rakyat Indonesia (JARI) Kalimantan Tengah dan Team Leader serta 1 orang staf lapangan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Tengah.

Masing-masing lembaga yang terlibat mengusung kegiatan yang berciri khas, dari LDP mengajak untuk masyarakat di kawasan eks PLG dapat meningkatkan keterampilan berwirausaha di pemasaran karet. Dari JARI mengajak masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat berternak ikan karamba. Dari PNPM di desa Jabiren dan Henda mengajak masyarakat untuk meningkatkan keterampilan menganyam rotan dan budidaya jamur. Sedangkan dari BPTP Kalteng memadukan teknologi tepat guna bagi petani di daerah binaan mereka sehingga dapat lebih sejahtera.

Dalam pelatihan yang dilakukan selama 2 hari penuh ini pihak SEKBER juga membawa narasumber yang berkompeten di bidangnya. Di hari pertama Agung Pramono Priyo Wibowo dari lembaga BDS Management Studio & Clinic mengajak peserta pelatihan untuk melihat konsep dari transparansi dan akuntabilitas dan penguatan kelembagaan masyarakat.

Masih di hari pertama, Erni Lambung sebagai sekretaris BLH Propinsi Kalimantan Tengah menyampaikan paparan inisiatif lokal pengembangan REDD+ di Kalimantan Tengah sebagai propinsi percontohan REDD+.

Paparan Erni Lambung cukup menarik karena menjelaskan konsep REDD+ secara sederhana. Di jelaskannya bahwa awalnya REDD hanya berbicara pada penurunan deforestasi  dan penurunan degradasi, proses perdebatan yang panjang akhirnya berubah menjadi REDD+. Perubahan untuk ‘plus’ ini mencakup pada konservasi, pengelolaan hutan secara lestari, peningkatan cadangan karbon dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga menceritakan proses terpilihnya Kalimantan Tengah sebagai propinsi percontohan.

Di hari kedua, Bernandus Steni membawa peserta untuk mendalami pentingnya safeguard dalam implementasi REDD+. Pria berkacamata yang awalnya aktif di salah satu NGO Nasional dan akhir-akhir ini aktif di working group instrumen pendanaan SATGAS REDD+.

Dalam paparannya Steni memberikan pengertian mengenai pentingnya safeguard dalam implementasi REDD+ dan bentuk safeguard yang diperlukan mencakup social environmental safeguard juga FPIC.

Menjelang akhir pelatihan Bambang dan Mayang dari Sekber REDD+ mengajak peserta untuk membuat rencana aksi secara rinci dan membangun kesepakatan bersama dari hasil pelatihan yang sudah dibuat.

Harapan, semoga aksi-aksi untuk memberdayakan masyarakat lokal (baca Dayak) dapat lebih terintegrasi dan saling bersinergi dengan lembaga yang ada.

Sumber tulisan dan foto: Rokhmond Onasis

Keterangan foto: Mastuati dari LDP sedang menjelaskan rencana aksi.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, August 15, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved