Selamat Datang!

Samsiah: “Bukan Minta Perlakuan Khusus, Tetapi Kemudahan Akses”

Kamis, 7 Juni 2012 pukul 10.00 WIB, penulis menemui Samsiah di rumahnya. Samsiah adalah anggota CU yang mengikuti Pendidikan Dasar CU di bulan Mei tahun 2012, saat penulis memfasilitasi Pendidikan Dasar (Pendas) di Aula Nazaret, Palangka Raya. Penulis tertarik memuat tulisannya karena semangat Samsiah yang luar biasa.

Samsiah, perempuan yang lahir tanggal 25 September 1970 ini adalah Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) atau himpunan wanita yang berkebutuhan khusus. Anggota himpunan ini, ada yang tuna  netra, tuna rungu dan lainnya. Namun hebatnya, mereka ini perempuan-perempuan mandiri. Ada yang ibu rumah tangga, pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), penjahit, terampil membuat kue dan keterampilan lainnya.

Samsiah yang bersuamikan Junia Rendy, juga disabilitas dan ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) Kalteng tahun 1994. Dari hasil pernikahan telah dikarunia 2 perempuan dan 1 laki-laki yang sempurna (non disabilitas).

Ketika memulai rumah tangga, Samsiah dan Junia Rendy tinggal di tempat orang tua suaminya. Namun dengan semangat kemandirian yang luar biasa, mereka bertekad tinggal sendiri walau di rumah kontrakan, karena menyadari bahwa mereka sudah berkeluarga. Menurut mereka tidak baik jika masih tinggal di rumah orangtua sehingga tahun 1998, saat anak kedua mereka telah lahir, mereka memutuskan pindah ke rumah kontrakan di jalan Anggrek.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, suami istri ini, bahu membahu membuat nasi bungkus lalu di jual dengan mengayuh sepeda dari rumah ke rumah, gang ke gang, jalan ke jalan. Namun mereka menghadapi masalah, nasi bungkusnya kurang laku, sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Keduanya bersama-sama mencari alternatif usaha dengan membuat camilan seperti kerupuk dan di titip di beberapa toko. Ternyata camilan yang di buat cukup laku dengan untung yang  tipis. Akhirnya mereka memutuskan untuk jualan sendiri dengan mendatangi kantor-kantor dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan sisanya bisa ditabung.

Tahun 2008, ada keluarga yang menyarankannya untuk masuk CU. Ketika mau mendaftar, Samsiah baru melahirkan anak ketiga. Sehingga uangnya terpakai dan tertunda untuk masuk CU. Di tahun 2012 niat masuk CU terwujud, apalagi dengan kebijakan CU untuk masuk anggota dengan cara pinjam Kapitalisasi. Niat untuk memasukkan suaminya menjadi anggota CU akan dilakukan ke depan.

Namun ada pesan yang Samsiah dan suaminya sampaikan kepada penulis, berkaitan dengan akses, ketika ingin konsultasi kredit atau mengikuti pendidikan dasar, harus ke lantai 2 dan 3. Ia berharap CU BESI membuat kebijakan khusus, untuk dapat melayani anggota yang berkebutuhan khusus seperti mereka. Karena keyakinan Samsiah dan suaminya, akan banyak mereka yang berkebutuhan khusus, masuk menjadi anggota CU BESI, hal ini terkait dengan ia dan suaminya ketua di masing masing Perkumpulan disabilitas.

Perempuan yang terampil membuat kue ini juga berharap, ketika konsultasi kredit, staff kredit dapat turun ke lantai satu. Atau saat pendidikan dasar untuk peserta berkemampuan khusus dapat dilaksanakan di tempat yang tidak naik turun tangga. “Bukan kami minta perlakuan khusus, tetapi kemudahan akses bagi kami yang memang keadaannya seperti ini,” ungkap Samsiah menutup perbincangan.

Keterangan Foto: Samsiah dan Junia Rendy

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat di CU Betang Asi.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, June 11, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved