Selamat Datang!

Theodor: “Saya Kolektor Paling Tua”

Ditemui di rumahnya Theodor (64) yang sering di panggil  Bapa Bambut, menerima penulis dengan hangat. “Awalnya saya mengetahui CU pada tahun 2006 dari  saudara ipar saya, Kristian Kalo yang sudah almarhum,” ungkap Theodor di kampung Kayu Bulan.

Berikutnya Theodor bercerita, Desember 2006 lalu, ada dilaksanakan Pendas di Pujon, di rumah Kristian Kalo, karena tertarik dengan CU saya mengajak F. Ali Suling, Hardiwel, Unan dan Rusdiana untuk ikut Pendas di Pujon dengan biaya sendiri. “Kami berangkat ke Pujon menggunakan taksi motor. Waktu itu tarif taksi motor 40 ribu per-orang. Namun itu tidak jadi masalah buat kami. Peserta Pendas waktu itu, sekitar 35 orang, yang terdiri dari masyarakat Kayu Bulan, Pujon, Marapit dan Tapen,” jelas pria yang mengaku sebagai kolektor paling tua di CU BESI.

“Saat pendas itulah saya menanyakan ke Gregorius Doni Senun sebagai fasilitator apakah dapat melaksanakan Pendas di Kayu Bulan?,” kata Theodore. Dijawab kalau bisa mengumpulkan minimal 25 orang di Kayu Bulan, maka akan dilaksanakan Pendas di Kayu Bulan.

Selanjutnya, pulang pendas, saya bawa buku materinya dan Poljak. Buku Materi dan Poljak itu saya beri ke Gerfrit Sihen sehari-hari disapa Bapa Tuja.  Dengan rasa percaya Gerfrit ke Palangka Raya, lalu menabung 50 juta di CU.

Pulang dari Palangka Raya, Gerfrit menemui saya dan menyampaikan sudah jadi anggota CU Palangka Raya dan mau ikut Pendas di Kayu Bulan. Dari target minimal 25 orangpun sudah terkumpul dan jadwal Pendas sudah dibuat, saya sampaikan ada Pendas di Kayu Bulan, pada bulan April 2007. “Nah, saat Pendas bulan April inilah saya ditunjuk untuk  jadi Kolektor di Kayu Bulan,” ungkap Theodor.

Menurut suami dari Lida dan ayah 9 anak ini, menjadi kolektor saat itu, banyak suka dukanya. Untuk tahap awal antar tabungan maupun setoran anggota masih ke Timpah. Jalan yang belum baik kadangkala menjadi penghalang perjalanan. Ada perasaan was-was, karena kita bawa uang orang. Namun semuanya sudah terlewati dan menjadi kenangan yang indah.

“Sekarang anggota semakin bertambah, pertumbuhan anggota makin meningkat, menyusul salah satu anggota pinjam di CU dan dicairkan 200 juta juga ada lagi anggota pinjam 250 juta juga di cairkan,” kata pria dengan nomor buku anggota 106.766.

Kemudian, ada anggota di Kayu Bulan yang stroke dan pinjaman sebesar 75 juta dihapus. Semua ini menambah keyakinan masyarakat pada CU. Dibalik itu semua, ada yang saya sesali, mungkin karena tidak mengerti, walau sudah dijelaskan berulang ulang, ada juga anggota yang keluar. Belum sampai sebulan setelah keluar jadi anggota CU, dia meninggal dunia. Sehingga CU tidak bisa berbuat apa apa.

Bapak yang lahir di Kayu Bulan, 28 Agustus 1948 ini, sudah meminjam di CU bulan Agustus 2009 lalu, sebesdar 40 juta, untuk beli kebun karet. Hasil tiap hari rata-rata 25 kg. Sisanya untuk modal saya jual sembako di rumah. Dari pengamatan penulis, sembako yang dijual,  jadi langganan para penambang emas (baca tukang sedot emas).

Kakek 17 orang cucu ini berharap, masyarakat jangan menunda jadi anggota CU. “Jangan menunggu uang banyak, apalagi sekarang menjadi anggota baru, semua dengan Pinjaman Kapitalisasi. Tidak ada alasan tidak ada uang untuk jadi anggota. Semua tergantung pada kita, kita yang mengatur keuangan,” pungkasnya kepada penulis.

Sumber tulisan dan foto: Sepmiwawalma, penggiat CU Betang Asi

Keterangan foto: Theodor, Kolektor CU di Kayu Bulan.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, April 11, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved