Selamat Datang!

Jumrit K. Abes: “Menyesal Menunda Masuk CU”

“Saya menyesal 2 tahun menunda jadi anggota CU setelah ikut pendidikan dasar di Pujon, karena menunggu uang cukup,” ungkap Jumrit K. Abes (32) kolektor desa Marapit membuka perbincangan kepada penulis.

Lebih jauh Jumrit menerangkan, saya menunda bukan karena tidak mengerti tentang CU, karena waktu ikut pendididikan dasar saya mendapatkan informasi tentang CU sangat jelas. Saya menunda karena tidak mau pinjam kapitalisasi untuk jadi anggota, maunya dengan uang tunai.

Ditambahkannya, tahun 2007 ia mengikuti pendidikan dasar, baru tahun 2009 menjadi anggota CU dengan cara pinjam kapitalisasi. Selama 2 tahun menunda, selalu tidak cukup uang tunai yang ia dapatkan untuk bisa menjadi anggota CU. Jumrit akhirnya menyesal karena tidak memulainya di tahun 2007 dengan pinjam kapitalisasi untuk jadi anggota. Toh, ketika ia masuk CU di tahun 2009 secara kapitalisasi 5 juta dengan jangka waktu 6 bulan pinjaman sudah dilunasi.

Dilatar belakangi pengalamannya, sekarang ia selalu memotivasi calon anggota kalau tidak punya uang tunai, masuk saja dengan cara pinjaman kapitalisasi. Ketika kita sudah pinjam, justru menyemangati kita untuk giat bekerja, karena kita merasa ada kewajiban yang harus di bayar kata ayah 2 orang anak ini.

Sejak diresmikan menjadi TPK Pujon ia dipercaya sebagai pengumpul (baca kolektor) di desa Marapit yang melayani 60 orang anggota. Ia berpendapat CU tidak hanya tempat menabung, tapi juga meminjam.

Terkait pengalaman meminjam dan menabung Jumrit menceritakan pada pertama kali meminjam untuk modal usaha sebesar 25 juta tunai, dari usaha yang telah dilakukan sekarang hanya tersisa 3 juta dari pinjamannya, tabungannyapun terus bertambah. “Bahkan insentif saya sebagi kolektor tidak pernah saya pakai, semuanya di tampung di Manda Mandau, nanti kalau ada kebaktian atau Natal baru saya ambil,” jelasnya.

Berbicara kemungkinan orang lambat menjadi anggota CU menurut Jumrit, karena tidak semuanya cepat memahami CU. Ada ketakutan uangnya hilang, ada juga yang langsung mau minjam cair (baca bawa uangnya pulang) atau karena tidak punya waktu ikut pendidikan dasar.

Jumrit menegaskan kalau soal uang belum cukup untuk menjadi anggota pinjam kapitalisasi saja, sedangkan untuk orang tua yang mau anaknya jadi anggota, karena anak dibawah umur tidak boleh pinjam, simpan saja dulu uangnya di Tabungan Anak Sekolah (TAS) tiap bulan dapat bunga yang cukup, kalau sudah cukup ditarik, lalu dipindahkan ke buku anggota. “Selalu ada jalan keluarnya kalau bersama CU,” kata Jumrit.

Jumrit menyadari mungkin kekurang-mampuannya untuk menjelaskan pada anggota, sehingga sebagian dari mereka belum mengerti juga. Namun ia tetap yakin ada waktunya para calon-calon anggota akan mengerti.

Jumrit berharap anggota dapat menggunakan produk yang ada di CU sehingga bisa mengubah pola hidup yang boros. “Ke depan ada usaha yang tetap tidak hanya bergantung pada alam, tunjukkan perbedaan bahwa kita anggota CU. Sebagai anggota CU kita punya rumah, punya usaha, anak bisa sekolah, karena bagi saya hanya CU harapan baik tempat pinjam untuk keperluan apapun agar kesejahteraan tercipta,” kata Jumrit.

Menyinggung pensiun saat tua, Jumrit mengatakan, sebagai orang swasta tidak ada tempat bergantung selain CU, kalau mau pensiun saya siapkan tabungan agar kelak saya nikmati pensiun dari bunga tabungan saya di CU, pungkasnya kepada penulis.

Sumber berita dan foto: Sepmiwawalma, penggiat CU Betang Asi.

Keterangan Foto: Jumrit K. Abes (32) kolektor desa Marapit


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Friday, April 6, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved