Selamat Datang!

Sallie J.Dugung, Pengayuh Becak, Miliki Simpanan 100 Juta

Disaat matahari hampir terbenam disertai gerimis yang mulai turun membasahi bumi, Kamis, 16 Februari 2012 saya berkunjung ke rumah salah satu anggota CU TP TAHASAK BATU SEPAN, PUJON.

Kunjungan ini dilandasi rasa penasaran karena mendengar kabar bahwa ada seorang bapak pengayuh becak yang punya simpanan di CU TP TAHASAK BATU SEPAN sampai 100 juta rupiah.

Di antar oleh salah satu staff di TP TAHASAK BATU SEPAN, tiba di depan rumah pengayuh becak ini, staff yang mengantar saya membuka komunikasi dengan menanyakan dengan bahasa Dayak Ngaju tege buekah (ada kakek kah)?, lalu dijawab oleh anak-anak yang sedang bermain didepan rumah sambil menunjuk ke arah jalan, kanih bue handak buli ndai ampi (itu kakek sudah dalam perjalanan pulang).

Saya mengarahkan pandangan ke jalan yang ditunjuk, benar saja ada seorang bapak yang wajahnya mulai menua, sedang mengayuh bejak menuju ke arah tempat kami menunggu. Begitu tiba saya menyapa dengan mengucap salam salamat halemei ma (selamat sore om), yang dijawab dengan salamat halemei kea (selamat sore juga). Beliau  turun dari becak, menyalami kami, lalu mengajak kami masuk rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan mulai berbincang dengan beliau.

Nama saya Sallie J. Dugung, umur sekitar 55 tahun, keseharian mengayuh becak. Saya orang Dayak asli, beragama Kristen Protestan. Istri saya namanya  Dayah, kami memiliki 6 orang anak. Saya tidak ingat persis tahun berapa saya mulai narik becak, yang saya ingat waktu itu Bapak Basirun Sulang baru jadi camat di Pujon, kata kakek menjawab pertanyaan penulis ketika membuka perbincangan.

Sebelum menarik becak, kakek dari 3 orang cucu ini bekerja emas, nyadap karet dan berladang padi. Melihat perkembangan di Pujon, pasar sudah mulai ada, jalan sudah di aspal, “Saya ingin juga mencoba usaha yang lain, maka mulailah saya narik becak saat itu dengan tarif 3 sampai 5 ribu rupiah disesuaikan dengan jaraknya. Kalau sekarang uang 3 ribu itu sama dengan 10 ribu. Semakin lama banyak yang berlangganan dengan saya, untuk mengangkut barang mereka dari rumah ke pasar, pindah rumah atau mengantar anak sekolah atau ke puskesmas. Kalau sekarang penghasilan saya paling sedikit 50 ribu sehari, tapi yang normal itu 100 sampai 300 ribu per hari dan mereka bisa memanggil saya hanya dengan SMS karena mereka pegang nomor HP saya,” terangnya.

Saya narik becak, istri saya buka warung sembako kecil-kecilan. Suatu hari istri saya ikut pendidikan dasar CU dan langsung pinjam kapitalisasi 20 juta. Dari hasil jualannya istri saya membayar dan lancar tidak pernah menunggak. Melihat istri saya ikut CU, saya juga mau ikut dan langsung ikut pendidikan dasar. Setelah ikut pendidikan dasar, saya langsung pinjam kapitalisasi 50 juta.

Sewaktu mau pinjam saya ragu ragu, apa saya bisa disiplin membayarnya, karena kalau uang ada saja tiap hari dapat dan kelihatannya staff CU yang melayani saya juga ragu-ragu, mungkin karena pekerjaan saya tukang becak.  Namun saya bertekad saya bisa bayar, karena saya punya penghasilan, walaupun selama ini tidak pernah nabung.

Selain membayar pinjaman, tiap bulan saya juga menambah tabungan 200 ribu. Uang yang saya antar selalu tebal, karena uang yang saya antar uang receh, paling besar huruf 20 ribu, cuma sudah saya susun rapi ketika di rumah biar mereka di CU bisa diterima.

Saya senang dengan mereka di CU, karena walau saya tukang becak dan selalu membayar pinjaman dan nabung dengan uang receh mereka selalu ramah melayani saya dan memanggil saya bue kalau di kantor, sehingga saya merasa dihargai.

Saya sangat percaya pada CU, karena saat saya sakit saya diberi pinjaman. Di CU pertama saya pinjam kapitalisasi 50 juta, kemudian pinjaman kedua  70 juta, yang ketiga 103 juta. Pinjaman 103 juta itu  diberikan sesuai dengan tabungan saya yang ada di CU.

Karena saya sudah merasakan manfaat dari CU, saya sudah memberi pemahaman kepada anak anak saya, agar menjadi anggota CU dan 2 dari 6 anak saya sudah menjadi anggota CU. Anak  saya yang lain mungkin karena belum mengerti belum menjadi anggota.

Saya ingatkan anak anak saya, seperti apa yang saya dapatkan ketika saya ikut pendidikan dasar, kalau dapat duit, duitnya harus dikelola. Dibagi sebagian untuk makan, sebagian ditabung, nanti kalau kita sakit, tabungan yang akan menolong kita. Kalau uang simpan dirumah bisa hilang, kalau di CU dapat bunga. Nanti kalau saya sudah tidak mampu bekerja, saya mau terima pensiun lewat CU dari bunga uang yang saya tabung selama ini, kata pemilik tabungan lebih dari 100 juta ini.

Keterangan Foto: Sallie J.Dugung, bersama beca menabung di CU
Sumber foto dan tulisan: Sepmiwawalma.


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, February 23, 2012
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved