Selamat Datang!

Lokakarya & Pelatihan Instrument HAM dalam Mendorong Keadilan Iklim

Sedikitnya 17 orang terlibat aktif dalam pelatihan dan lokakarya dan pelatihan “instrument HAM dalam mendorong keadilan iklim”. Pelatihan ini selenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah (Walhi Kalteng) dan didukung oleh HuMa dan Rain Forest Foundation.

Selama 4 hari (10-13/12) kegiatan dibuat menjadi satu paket. Hari pertama untuk Lokakarya dilaksanakan di ruang keruing hotel Luwansa Palangka Raya pada Sabtu, 10 Desember 2011. Sedangkan hari kedua, ketiga dan keempat kegiatan pelatihan dilaksanakan di ruang pertemuan Batu Banama hotel Batu Suli Palangka Raya.

Peserta yang mengikuti lokakarya pada hari pertama dari dinas kehutanan, NGO-NGO yang ada di Palangka Raya, mahasiswa, perwakilan masyarakat dari wilayah Kotawaringin Timur, Kapuas dan Katingan. Lokakarya di bagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama sebagai moderator di lakukan oleh Arie Rompas dengan pembicaranya adalah Lilik Siregar dari komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban membawakan materi “Peran Strategis LPSK dalam Pemberian Lingkungan dan Bantuan Bagi Saksi dan Korban”.

Pembicara kedua adalah Teguh Surya dari eksekutif nasional Walhi sebagai kepala departemen hubungan internasional dan keadilan iklim yang mengupas “konsepsi keadilan iklim dalam menjamin keberlangsungan antar generasi” lebih jauh Teguh juga mempertegas perjuangan Walhi dalam keadilan iklim yang di prioritaskan pada  HELP kependekan dari Human Security, Ecology Charge, Land Rights dan Production dan Consumption.

Sedangkan sesi kedua dipandu oleh Mariati ‘Iyut’ Niun dengan pembicara pertama dari Emil Ola Kleden dari yayasan Pusaka dan pembicara kedua dari Sentot Setyasiswanto dari Pontianak Institut. Emil mengungkapkan bahwa dominan masyarakat Indonesia adalah petani namun ironisnya petani kita tidak mempunyai tanah sebagai lahan produksi, jika pun ada itu tidak lebih dari 1,5ha saja.

Terkait perlindungan HAM, Sentot memaparkan materi “Perlindungan Iklim dan Perlindungan Hak Asasi Manusia” dengan sub judul catatan penting penggunaan berbasis hak dalam proyek-proyek penanggulangan dampak perubahan iklim.

Catatan lainnya Sentot menjelaskan, beberapa bentuk pelaksaanaan dalam perlindungan HAM adalah memastikan keseteraan gender, mengundang dan melibatkan badan-badan HAM untuk membantu mengintegrasikan hak asasi ke dalam program penanggulangan dampak perubahan iklim misalnya komnas HAM, komnas perempuan, Komnas Anak dan lainnya. Kegiatan lainnya adalah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan HAM bagi pejabat dan pegawai pemerintah di tingkat nasional dan local secara berkala.

Sementara itu, di tempat yang berbeda output dari pelatihan yang dilaksanakan Arie Rompas selaku direktur eksekutif Walhi Kalteng akan menghasilkan kriteria dan indikator local tentang keadilan iklim, adanya mekanisme laporan dan meningkatkan pengorganisasian kelompok kerja pemantauan.

Fasilitator yang memandu kegiatan pelatihan selama 3 hari adalah Sentot. Secara aktif pria berambut gondrong ini membawa peserta diskusi dan memberikan pendapat-pendapat dan pengetahuan yang dimiliki secara bergantian. Sentot dibantu Iyut untuk menuliskan dan membawa peserta terlibat secara penuh.

Di akhir kegiatan menghasilkan POKJA yang orangnya dipilih dari peserta selama 3 hari dan bertugas untuk merapikan dokumen sebagai bahan advokasi keadilan iklim di tahun 2012. Komposisi orang di POKJA adalah dari Lembaga Dayak Panarung (LDP), PD-AMAN Kota, Yayasan Cakrawala Indonesia (YCI), POKKER-SHK, BEM-UNPAR, MAPALA Comodo-UNPAR.

Keterangan Foto: Sentot Setyasiswanto sebagai fasilitator pelatihan

Sumber Foto: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Thursday, December 15, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved