Selamat Datang!

Credit Union: Sarana Pembebasan Rakyat Jelata?

Dalam paradigma lama CU dimengerti sebagai “sekadar alat simpan pinjam uang”. Sedangkan dalam paradigma baru, CU dihayati sebagai “sarana pembebasan rakyat jelata dari segala bentuk pemiskinan dan pembodohan”.

Bagi penulis, memahami CU dalam paradigma baru, baru menjadi keyakinan penuh pada awal tahun 2000, setelah penulis berjumpa dan menyaksikan kembali dan akhirnya menjadi anggota CU yang dirintis dan dikembangkan oleh A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat. Sebelumnya, pada awal tahun 1980-an ketika menjadi teman sejawat dalam karya sosial tokoh-tokoh sosial gereja seperti Pater Corulus Albrecht Karim Arbie, SJ dan Pater A. Kuylaars Kadarman, SJ serta Pater John dijkstra, SJ, CU masih dianggap oleh penulis hanya seperti koperasi simpan pinjam, tak lebih dari usaha bersama (UB). Tidak ada yang salah dengan system credit union yang pada awal tahun 1970-an disemai oleh CUCO, tetapi butuh direvitalisasi, butuh direformasi dan dikontekstualkan pada situasi sosial ekonomi budaya rakyat jelata, khususnya suku-suku Dayak dan masyarakat adat.

Bila mempelajari sejarah CU dari sejak kelahirannya pada tahun 1850-an di Jerman sampai perkembangan kedewasaannya di Kanada, maka kita melihat bahwa CU menjadi alat pembebasan sosial ekonomi budaya rakyat jelata. Bahwa CU mengikuti prinsip koperasi ala Rochdale, Inggris, satu orang satu suara tanpa melihat besar kecilnya saham, itu sendiri adalah gerakan pembebasan dari struktur kapitalisme yang beralaskan hak kepemilka pribadi yang menghalalkan jiwa serakah. Bahwa cu didesain untuk mengangkat harkat kelas masyarakat miskin, baik di perkotaan dengan usaha kerajinan dan dagang kecil (Hermann Schulze-Delitzsch dan Luigi Luzzati) maupun di pedesaan dengan pertanian sedang sampai gurem (Friedrich Wilhelm Raiffeisen dan Leone Wollemborg), itu jelas untuk usaha gerakan pembebasan dari pemiskinan. Bahwa CU di Kanada di tekankan sebagai kumpulan orang daripada sekadar kumpulan uang oleh Alphonse Derjardins dan pengikutnya, itu pertanda CU adalah solusi sosial populis.

Oleh A.R. Mecer dan kawan-kawannya, pada tahun 2006 CU dengan paradigma pembebasan rakyat jelata itu dibakukan sebagai “CU filosofi petani”.

Tiga bulan, dua belas tahun lalu, sebelum pastor Albrecht ditembak mati di Timor Timur oleh kaum milisi, saya masih berkomunikasi intens dengan beliau. Sambil lalu beliau pernah bertanya, mengapa saya kurang tertarik pada CU, kurang progresif sebagai gerakan sosialkah? Dengan amat sopan saya bila, “bukan kurang tertarik, tetapi belum cukup mempelajarinya, saya belum tahu apa yang masih dapat saya sumbangkan”.

Dari A.R. Mecer dan kawan-kawan di Kalimantan Barat, saya telah dibuat tahu apa yang sudah dapat mereka sumbangkan kepada CU. Sayang pada puncak pencapaian kesadaran CU filosofi petani, justru sang tokoh pembaru dengan Badan Koordinasi CU Kalimantan (BKCU-K) yang memanyungi 40 cu di nusantara di tinggalkan oleh sebagian kecil CU kawan-kawan di Kalimantan Barat.

Sebuah kemunduran terjadi: oleh sejumput elit gerakan CU, CU berparadigma “gerakan pembebasan rakyat jelata Dayak” telah ditetapkan pada ancaman menjadi “CU anthek perusahaan asuransi”. Syukur BKCU-K tetap teguh mengemban kepercayaan nusantara, hingga CU sebagai gerakan pembebasan rakyat jelata tetap berlangsung. Semoga kawan-kawan yang meninggalkan kandang lekas sadar akan semboyan “right or wrong is my credit union- sarana pembebasan rakyat jelata”. Koreksi harus dilakukan kedua belah pihak. Kita semua salah, untuk berani mawas diri dan koreksi maju bersama. CU bukan urusan sentiment pribadi, demokrasi membutuhkan kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak. Kata-kata mendiang Albercht mengiang kembali di telinga penulis “tolong Wahono, sukalah meluangkan waktu kapan-kapan longgar memperhatikan CU. Jangan lupa itu gerakan pembebasan rakyat juga (maksudnya tidak hanya bukumu saja).

Sumber: Jejak, 14 Agustus 2011. Halaman 16


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, September 5, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved