Selamat Datang!

Perlengkapan Upacara Nahunan


Nahunan adalah salah satu upacara adat khas masyarakat Suku Dayak di Kalimantan Tengah berkaitan dengan daur hidup kelahiran. Tujuannya untuk memberikan nama bagi si bayi pada usia 1-2 tahun. Upacara Nahunan bisa dilaksanakan pada setiap kelahiran bayi di kalangan Suku Dayak Ngaju Kalteng.


Upacara Nahunan memiliki berbagai makna. Pertama upacara dilaksanakan dengan maksud sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada bidan kampung (dukun bayi) karena telah membantu proses kelahiran bayi agar ibu dan bayi lahir dengan selamat. Kedua, bermakna sebagai sanjungan atas kelahiran bayi yang sangat didambakan dalam kehidupan berumah tangga. Makna terakhir dan yang terpenting adalah pemberian nama untuk sang anak agar dikenal oleh masyarakat dalam pergaulan keseharian.

Untuk melaksanakan upacara Nahunan tersebut, disiapkanlah beberapa perlengkapan upacara Nahunan baik perlengkapan untuk sang bayi maupun perlengkapan bidan. Untuk sang bayi, disiapkan sebuah keranjang pakaian guna menyimpan pakaian sang bayi, Tuyang atau ayunan untuk menidurkannya ketika upacara Nahunan sedang dilangsungkan, tuyang ini terbuat dari kulit kayu nyamu dan terhiaskan dengan mainan sederhana terbuat dari botol bekas yang dirangkai sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang unik.

Kemudian untuk melengkapi perlengkapan Upacara Nahunan terdapat Sangku besar berbentuk seperti mangkuk besar yang digunakan untuk memandikan bayi dan tak lupa garantung untuk tempat pijakan bayi ketika keluar. Tidak hanya sang bayi yang mempunyai perlengkapan, sang bidan pun memiliki pelengkapan khusus dalam upacara Nahunan sebuah Tanggul Layah, sebuah topi yang digunakan sang bidan untuk menutup kepala ketika membawa dan memandikan sang bayi ke sungai.

Ditambah lagi dengan benda-benda yang memang sering digunakan seperti peludahan untuk menampung air ludah kinangan pada pasca upacara Nahunan, Lancing untuk menyimpan sirih pinang, Mangkok Petak untuk meletakkan tanah atau air, Apar untuk menyimpan sesajen. Mangkuk Tampung Tawar untuk menyimpan ramuan tampung tawar serta ceret untuk menyimpan air minuman tradisional (baram atau anding) dan terakhir adalah Sangku Penduduk untuk menaruh beras dan kelapa.

Terdapat juga benda-benda yang sarat dengan spiritual dan perlambang. Benda-benda inilah yang lebih diutamakan. Rabayang Kujuk Kalakai misalnya, merupakan sebuah perlambang kesuburan pada saat upacara tersebut berlangsung. Hampatung Kalekang Karuhei merupakan perlambang untuk mengundang rejeki setelah upacara Nahunan dilaksanakan, Tutup Rinjing (tutup wajan) untuk menutup segala hal buruk dan tidak baik, sebagai perlambang, sedangkan benda yang sarat dengan keyakinan yaitu Parapen atau Pendupaan yang berfungsi untuk membakar kemenyan guna mengusir roh halus pada upacara Nahunan tersebut, Pisau Lantik untuk pengeras hamburan (roh roh orang yang melaksanakan upacara atau dukun bayi).

Semua upacara dan perlengkapan ini tak lepas dari tujuan upacara Nahunan itu sendiri yakni menghargai daur kehidupan dari kelahiran hingga kematian. Masyarakat Dayak sangat memahami bahwa kehidupan mempunyai makna yang sangat dalam, semua tertuang dalam berbagai upacara yang diadakan, termasuk upacara Nahunan.



SUMBER : DAYAK POS ONLINE




Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Wednesday, June 22, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved