Selamat Datang!

Manyanggar, Cara Warga Dayak Jaga Hutan



Utusan-utusan dari masyarakat adat Dayak Kanayatn menari sambil membawa persembahan dalam panompo pada upacara adat naik dango ke-25 tingkat Kalimantan Barat di Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Selasa (27/4). Naik dango adalah perayaan adat untuk mengucap syukur setelah masa panen.




Nenek moyang masyarakat Dayak percaya bahwa setiap hutan pastilah punya penunggu. Penghuni kawasan berpohon rimbun itu begitu dihormati sehingga masyarakat zaman dulu amat segan mengganggu hutan. Karena itulah, mereka nyaris tak pernah menebang secara membabi-buta.

Ekspresi untuk menghargai hutan itu dilakukan dengan manyanggar, sebuah upacara yang digelar sebelum menebang pohon-pohon di hutan. Ritual dilakukan dengan memotong babi atau sapi untuk dimakan bersama-sama. Dalam manyanggar, dilakukan balian atau menabuh ketampung, yakni semacam gendang khas Dayak .

Kepala Subbagian Penyusunan Program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Syahmin mengatakan, manyanggar misalnya dilakukan warga yang hendak berladang. Kalau sistem zaman dulu dilakukan dengan ladang berpindah dan butuh lahan cukup luas, katanya.

Manyanggar dilakukan untuk meminta restu kepada penunggu lahan. Dalam upacara itu, disampaikan kisah-kisah mengenai alam dan penunggunya yang harus dihormati. "Mereka yang akan menebang pohon menyampaikan maksudnya kepada penunggu dan memberi tahu bahwa syarat berupa hewan kurban sudah dipenuhi," ucapnya, Senin (13/6/2011).

Menurut Syahmin, menebang pohon di hutan merupakan kebiasaan masyarakat Dayak sejak dulu dan sampai sekarang masih dilakukan. Kayu yang diambil antara lain berasal dari pohon karet, angkang, dan katiau. Akan tetapi, saat ini manyanggar sudah kian jarang digelar.

Padahal, laju deforestasi di Kalteng kian sulit untuk dibendung. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalteng, laju deforestasi Kalteng setiap tahun mencapai lebih dari 150.000 hektar. Perilaku itu sungguh berbeda dengan budaya leluhur masyarakat Dayak yang memanfaatkan alam secara bijak.

Hidup masyarakat Dayak amat bergantung dari hutan yang menghasilkan berbagai macam pangan. Dalam proses pengolahan pangan itu tentu dibutuhkan kayu bakar. Akan tetapi, masyarakat Dayak zaman dulu tak mengambil kayu secara berlebihan, kata Syahmin.

SUMBER : KOMPAS, SENIN 13 JUNI 2011

FOTO : A. HANDOKO


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, June 13, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved