Selamat Datang!

CU yang Menpesona Dunia

Konferensi Internasional I Credit Union

Credit Union (CU) sebagai pelaku langsung penggerak ekonomi kerakyatan kembali mempesona dunia internasional lewat konferensi internasional pertama tentang pembangan keuangan mikro sosial dan kemasyarakatan, di Kapuas Palace, Pontianak, Kalimantan Barat (17-18/5).  Sekitar 200 peserta terdiri dari peneliti, pengamat, pengurus dan aktivis CU se Indonesia serta perwakilan dari Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan India yang memiliki kepedulian terhadap CU menghadiri acara ini.

Menurut Toto Sugiharto, PhD., konferensi ini terlaksana atas kerjasama antara : Credit Union Central of Indonesia (COCU), Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCUK), Universitas Gunadarma, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta The Assocoation of Asian Confederatio of Credit Union (ACCU).

"Ini diilhami oleh keberhasilan CU di Kalimantan yang berhasil dalam meningkatkan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya," ujar Toto Sugiharto.

Turut mendukung acara ini diantaranya: PT. Asuransi Jiwasraya,U Betang Asi, Bank Kalbar, PT. vaia Indonesia, CU Petemai Urip, Garuda Indonesia, CU khatulistiwa Bakti, Avira, CU Lantang Tipo, AAMAI, CU Canaga Antutn, CU Pancur Dangeri, CU Usaha Kita, CU Mantaeare, CU Sumber Kasih, CU Gemalaq kemisiq, CU Daya Lestari, CU Tilung Jaya, CU Sumber Rejeki, CU Femung Pebaya, CU Remaung Kecubung,  CU Bonaventura, CU Barerod Gratia, CU Bahtera Sejahtera, CU Gerbang Kasih, CU Sinar Saron, CU Kasih Sejahtera, CU Jembatan Kasih, CU Pangudi Luhur Kasih, CU Kusapa, CU Eka Pambelum Itah, CU Sepekat Bingkah Olo, dan Bank Mandiri KCP Ngurah Rai-Pontianak.

Menurut Toto Sugiharto tujuan utama dari konferensi ini adalah membangun forum komunikasi antar pemeliti, pengamat, pengurus, dan aktivis CU, tidak hanya dari Indonesia tapi dari seluruh dunia.  "Bahwa Indonesia memiliki CU, pusatnya ada di Kalbar.  Keberadaan CU dan perannya dalam memberdayakan sosial ekonomi anggotanya sungguh sangat signifikan," ujar Toto Sugiharto.

"Kami belajar dari CU, motto yang dikembangkan teman di sini adalah menolong diri sendiri dan bekerjasama.  Juga menerapkan dari, oleh, dan untuk anggota.  Ini sesuatu yang sangat menarik.  Kami karena mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi dan jajarannya.  Kami berharap, peserta bisa mencapai hasil, memberikan bekal pengalaman dan pengetahuan pada peserta yang lain," ujar Toto Sugiharto.

Dalam sambutannya A.R. Mecer mengatakan, konferensi internasional ini secara khusus dapat mempertajam dan memperjelas konsep filosofi petani sebagai kearifan lokal yang memberikan roh tersendiri dalam gerakan CU.  "Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa CU dan BKCU Kalimantan kembangkan merupakan transformasi nilai kearifan lokal yang kami sebut filosofi petani," ujar Mecer.

Sementara Prof. Dr. E.S. Margianti, SE., MM., Rektor Universitas Gunadharma mengatakan, konferensi ini merupakan kegiatan bersama dari berbagai pihak yang merasa tertarik dengan gerakan CU.  "Ini sangat menarik dan akan lagi berkembang kalau didukung oleh teknologi informasi.  Inilah yang menjadi titik temu kita.  Bagaimana filosofi sebagai warna lokal terbukti tahan jaman, bisa semakin dikembangkan secara bersama-sama.  Mari kita berbuat baik untuk keluarga, daerah, dan bangsa," ujar Margianti.

Menurut Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH., pemerintah yang mau ikut campur dalam penanggulangan kemiskina harus bergantung pada sasaran yani bersama-sama dengan rakyat seperti Credit Union (CU).

"Kalau pemerintah mau ikut camput dalam penanggulangan kemiskina, pemerintah harus bergantung pada sasaran yankni bersama-sama dengan rakyat.  Credit Union bersama dengan rakyat, bukan dengan pemilik modal,"mujar Cornelis di Istana Rakyat (Pendopo Gubernur) Kalbar, pada Senin, 16 Mei 2011 yang lalu, saat membuka Konferensi Internasional Pertama CU.

Cornelis mengharapkan, agar nanti di dalam konferensi ini ada kesimpulan untuk mempercepat dan menciptakan lapangan pekerjaan.  Sehingga apa yang ada dalam UUD 1945, menurutnya, bisa tertuang dengan jelas dan terwujud.  "Ini menjadi tugas kita bersama," kata Cornelis.

"Kesejahteraan rakyat/anggota adalah prioritas.  Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dimana CU telah memilih Kalbar menjadi tua rumah konferensi.  Memajukan CU untuk negara, tugas kita yang amat mulia.  Karena betul-betul melaksanakan pengabdian pada anggota," ujar Cornelis.

Hasilkan Pemikiran Para Pakar

Konferensi internasional pertama CU ini menampilkan para pakar ekonomi dan pendidikan, diantaranya Ranjith Hettiarachchi (CEO ACCU), Drs. Hendrisman Rahim, MA, FSAI, AAIJ, QIP, CPIE (AAMAI), Prof. Dr. Michael Seguin (Universitas Quebec, Montreal), dan Prof. Roderick J. Mac donald (Universitas Quebec Montreal, Kanada), Adi Sasono, A.R. Mecer, dan M. Saeed.

Menurut Ranjith, didalam CU sudah ada standar manajemen dan kinerja keuangan.  "Bahwa di dalam CU sudah ada standar manajemen, kinerja keuangan.  Dalam hal ini CU sudah mempraktekkan perusahaan modern.  CU Indonesia sekitar 50 persen ada di Kalimantan.  Ini prestasi yang luar biasa, "ujar Ranjit yang sydah malang melintang selama 25 tahun di CU ini.

Michael Seguin dari University of Quenbec Monetreal mengatakan, CU yang besar dapat dilihat dari peningkatan simpanan nasabahnya maupun kerjasama dalam memaksimalkan pinjaman, cukup penting dalam mengembangkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga memaparkan prinsip-prinsip koperasi yang diintegrasikan dalam CU.  "Ada dua kutub di dunia ini yakni kapitalis dan sosialis.  Ternyata koperasi terletak antara keduanya.  Ada perhatian pada humanisme," ujar Michael.

Prof. Roderick J. Mac donald dari university of Quebec, Montreal Kanada mengatakan, secara individu, misi dari keuangan mikro tak ada perbedaan.  Namun secara nyata dalam penerapannya terdapat kesulitan bagi usaha kecil dalam memperoleh pinjaman dari bank.  "Permasalahan baru yang sekarang muncul adalah jika seorang pemilik dan juga menjadi anggota dalam lembaga keuangan mikro seperti yang saat ini terjadi di CU, tapi hal ini jadi bagian dari upaya dan kekuatan dari suatu lembaga keuangan mikro memperoleh keyakinan oleh lembaga lain.  Seperi bank dalam membuka akses pinjaman kepada usaha kecil yang ada," ujar Roderick J. Mac donald.

Menurut Adi Sasono, usaha ekonomi rakyat merupakan kekuatan gerakan koperasi, yang didalamnya ada modal sosial; kebersamaan, prakarsa, kearifan lokal dan kemandirian.  "Orang miskin tidak punya apa-apa kecuali kehormatan.  Kita bisa asal membangun kesadaran kolektif," ujar mantan Menteri Koperasi era Habibie ini.

Adi Sasono juga mengatakan, kini teknologi informasi dan komunikasi telah hadir sebagai sarana dasar untuk penguatan kelembagaan kolektif ekonomi rakyat dan penyatuan sumber daya ekonomi rakyat.

"Tidak ada perubahan sosial tanpa tindakan sosial tanpa tindakan sosial dan tidak ada tindakan sosial tanpa penyadaran sosial dalam semangat gerakan kerakyatan.  Rakyat jelata harus bersatu dan dibantu untuk pembangunan kekuatan kolektif menghadapi era persaingan babas.   Tugas kita : mengembangkan masyarakat yang siap bertarung, mandiri, dan bermartabat," ujar Asi Sasono, Rabu (18/5).

Sementara itu A.R. Mecer mengatakan, nilai-nilai yang ada dalam kehidupan petani kemudian ditransformasikan dalam CU.  "Hal inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari layanan yang disediakan BKCU Kalimantan seperti tabungan dan pinjaman," ujar Mecer.

Don Johston (Andara Bank) mengatakan, ada banyak potensi CU untuk terus berkembang.  "CU sangat efektif melayani masyarakat yang belum punya akses pada lembaga keuangan lainnya," ujar Don Johnston.

Selama dua hari konferensi itu, peserta juga mengikuti sesi secara paralel dan workshop.  Ada materi bisnis, keuangan, teknologi informasi dan implementasinya.  Setiap ruangan diisi sekitar 40-50 peserta.

Negara Harusnya Melindungi Masyarakat CU

Di Indonesia, pesona gerakan pemberdayaan ala CU sayangnya belum didukung oleh pemerintah.  Pemerintah mestinya memperhatikan keadaan yang menindas bukan malah mengebiri orang-orang yang berkumpul dalam wadah ekonomi kerakyatan, menurut Dr. francis Wahono, pada rangkaian Konferensi Internasional CU di Forum Ruai TV, Selasa (17/5).

"Sekarang ini justru yang menjajah adalah bansa sendiri,  Mereka melupakan perlindungan pada rakyatnya.  Persoalannya bagaimana membuat CU relevan dengan orang-orang yang mencari alternatif terhadap yang menindas ini.  Ini yang mestinya diperhatikan oleh elit pemerintah.  Jangan sampa mereka justru membuat UU yang sebetulnya menghalangi masyarakat CU untuk maju," ujar Francis Wahono.

Semangat untuk ber CU, menurutnya, akan percuma saja kalau sumber-sumber untuk berdiri (hutan, tanah, air) tidak ada lagi.  "Pelemahan-pelemahan justru muncul dari negara.  Dengan kebijakan yang ada dari UU tentang rancangan Koperasi.  Dalam rancangan tersebut, justru pajak koperasi lebih dominan.  Belum bisa mengakomodir keinginan rakyat," ujar Francis.

CU memfasilitasi orang bersama-sama untuk memiliki modal dalam berusaha.  "Kita tidak mengerti, kog peremintah kemudian membebankan melalui UU Koperasi yang tidak perlu.  Mau dikasi UU karena pada dasarnya bangsa ini dibawa pemimpinya dalam perangkap hutang bagi IMF, World Bank dan perusahaan-perusahaan asing," ujar Francis.

Menurut Francis, pajak yang akan dikenakan pada CU beberapa diantaranya berupa pajak bunga, pajak menjadi anggota, pph, PBB, PPn, distribusi/pajak daerah.  "Jadi mau bagaimana bangsa ini.  Ini melebihi jaman kolonial.  Yang membuat rumus bukan orang Indonesia tapi orang yang meminjamkan pada bangsa ini.  Karena pemimpinan kita bermula dari hutang.  Kenapa tidak membuat pandai masyarakatnya biar bisa mengelola SDA.  Salah manajemen di Republik ini," tegas Francis Wahono.

Sementara Vincentius Vermy, Pengurus CU Manteare RTM mengatakan, CU kumpulan orang-orang miskin, sama-sama tidak berdaya.  "Dari segi aturan sangat tidak memungkinkan bagi orang kampung.  Banyak kepentingan dari lahirnya UU ini.  UU Koperasi tidak dibuat untuk CU," ujar Vermy.

Sebelumnya (16/5) Gubernur  Kalbar, Cornelis mengungkapkan perasaan anehnya berkenaan dengan rencana pemerintah yang akan mengenakan pajak pada CU.  "Ini aneh.  Saya juga tidak mengerti.  Pada bapak Menteri Koperasi dan UKM saya sudah sampaikan persoalan itu.  Karena di koperasi ini (CU) bukan kumpulan modal.  Tapi kumpulan orang-orang yang terutama untuk mensejahterakan anggotanya," tegas Cornelis disambut tepuk tangan meriah dari peserta konferensi.

"Pada 5 Agustus 2010 yung lalu, persoalan ini saya angkat habis-habisan.  Dan saya menentang keras konsep yang dikemukakan oleh Menkoekuin.  Mari kita perkuat CU ini untuk membangun ekonomi kerakyatan.  Ini perwujudan dari UUD 1945.  Kalau bisa, deviden dan PPH tidak dikenakan pada CU," kata Cornelis.

Menurut A.R. Mecer, RUU Koperasi yang saat ini digodok di DPR RI harus dikembalikan lagi, sesuai dengan definisi koperasi yang terdapat di dalam UU No. 12 tahun 1967.  "Karena disana sudah jelas apa itu koperasi dan tujuan berdirinya koperasi," ujar Mecer.

Pada CU Semua Berharap

Melalui CU mestinya kelompok-kelompok radikal/teroris yang bisa menciptakan konflik horizontal bisa di rem secara bersama-sama, menurut Gubernur Kalbar Cornelis, saat membuka Konferensi Internasional CU (16/5).

"Mari kita atasi bersama.  Apabila CU berjalan sesua dengan ideologi dan UUD 1945, saya yakin masalah kemiskina, lapangan kerja bisa diatasi dalam waktu yang tidak terlalu lama," katanya.

"Saya mohon, mari kita bersama-sama dengan pemerintah konsen terhadap kesejahteraan rakyat.  Saya sudah bicara dengan Kanwil Pajak, tolong dech, jangan dulu," ujar Cornelis.  "Karena ini menyangkut masalah orang banyak," katanya menambahkan.

Cornelis berbesan, agar para pengurus dan aktivis CU bisa bekerja sungguh-sungguh dan bertanggungjawab, kalau ada konflik diselesaikan secara ke dalam.  Menurutnya, melalui CU, anggota tidak hanya sekedar menjadi anggota. "Melalui CU kita bisa belajar, bisa dilatih tentang bagaimana menabung dan mengelola sehingga uang itu tidak sia-sia.  Kita tidak dibodohkan oleh uang," ujar Cornelis.

Francis Wahono mengatakan, kunci keberhasilan anggota CU ada pada anggota itu sendiri.  "Untuk pemimpin, rakyat sudah banyak.  Jangan dihalangi kalau tidak bisa membantu.  Penggerak CU, CU tetap dipertahankan.  Kalau ada konflik, carilah solusi yang paling baik," ujar Francis.

Menurut A.R. Mecer, kekuatan roh CU dititikberatkan dalam pelayanan dengan kearifan lokal melalui filosofi petani.  "Kehadiran CU diterima dengan baik dikalangan masyarakat dan berdampak positif pada rakyat.  CU memiliki karakteristik berbasis pada orang.  Secara hakiki posisi anggota CU bersifat sukarela dan bersifat demokratis," ujar Mecer.

Dalam CU anggota menjadi pusat perhatian.  Fungsi utama pada aspek pemberdayaan.  Namun masih terdapat pemberdayaan persepsi terkait pengertian CU.  "Pertemuan ini sangat bermanfaat untuk menjembatani perbedaan terkait kebijakan tersebut di atas," ujar Mecer.

Menurut Mecer, memberlakukan pajak menambah beban dan berpotensi manghambat pengembangan CU. "Pada para pembuat kebijakan agar dapat menempatkan CU sesuai dengan karakter, visi-misi sehingga CU bisa mengoptimalkan pelayanan tidak pada keuntungan tapi lebih pada aspek pemberdayaan masyarakat.  CU mampu menjalankan tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal.  CU mampu menyesuaikan diri dengan nilai-nilai lokal dalam rangka bersinergi," ujar Mecer.

Romanus Woga, Ketua Inkopdit, dalam sambutannya sebelum menutup konferensi mengharapkan, pertemuan ini berdampak pada masyarakat kecil.  "Semoga pertemuan ini membawa dampak bagi masyarakat kecil.  Tentang sejarah CU, bagaimana pun sejarah seharusnya sesuatu yang penting.  sehingga generasi mendatang bisa mengetahuinya.  Pergilah kepada masyarakat, tinggallah pada mereka, layani mereka dan belajarlah pada mereka.  Ini sebagai pedoman dalam pemberdayaan masyarakat, "ujar Romanus Woga.

Oleh : Andika Pasti

Sumber : Kalimantan Review

Edisi : Juni 2011


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Friday, June 17, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved