Selamat Datang!

Seminar dan RAT Puskopdit BKCU Kalimantan di Jakarta

Setelah terjadi krisis moneter yang melanda beberapa Negara di kawasan Asia (Korea, Thailand, Indonesia, dan Malasia) pada tahun 1997 setidaknya tercatat sebagai sejarah dan sekaligus memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi pengambil kebijakan dan keputusan serta pengaturan regulasi.  Bahwa sesungguhnya pengembangan ekonomi bangsa yang berbasis konglomerasi itu rentan terhadap badai krisis moneter.  Sementara itu lembaga keuangan ekonomi mikro (diantaranya adalah koperasi), sangat berbeda jauh karakteristiknya dengan ekonomi konglomerasi, sehingga mampu menunjukkan daya tahanya terhadap gempuran badai krisis moneter yang melanda Indonesia.

Dari sekian banyak jenis koperasi di Indonesia, yang dominan berkembang dengan baik dan mandiri adalah jenis koperasi credit union (CU) yang dikenal dengan panggilan KOPDIT (Koperasi Kredit) di tingkat pemerintah, sedangkan di kalangan masyarakat lebih akrab dengan menyebut CU.  Bahkan dalam media pemberitaannya disebut bahwa (CU) sebagai lembaga keuangan mikro formal non bank, dapat melakukan kegiatan-kegiatan keuangan mikro (micro finance) yakni penyediaan jasa keuangan dan pengembangan kapasitas bagi anggotanya.

Karakteristik dasr CU adalah membanguan karekter anggota sebagai kunci keberhasilan melalui tiga pilar yaitu pendidikan, swadaya, dan solidaritas.  Melalui pendidikan terus menerus kepada anggota baru maupun penyegaran kepada anggota lama untuk meningkatkan kesadarab tetang makna swadaya dan solidaritas serta memahami tentang tata kelola koperasi CU dengan baik sehingga menjadi kekuatan mental yang terekpresi dalam kesetiaan menjadi “penabung dan peminjam yang baik”.  Koperasi CU di Indonesia secara nasional pada tingkat Koperasi Kredit (INKOPDIT) telah mencapai 32 puskopdit/pra puskopdit, dengan jumlah 974 CU Primer 1.330.581 orang anggota, dan asset Rp. 7,155 triliun per Desember 2010.

Puskopdit Badan Koordinasi Credit Union (BKCU) Kalimantan adalah anggota INKOPDIT memiliki 46 CU Primer tersebar di Kalimantan, Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi, NTT, dan Papua.  Terdiri dari 432.322 orang (anggota) dan asset Rp. 3.726 triliun per 31 Desember 2010.  Kondisi tersebut jelas mempunyai arti dan kontribusi dalam membangun “ekonomi kerakyatan” di negeri ini.  Kinerja tersebut memotivasi dan member inspirasi bagi Puskopdit BKCUK untuk melaksanakan seminar nasional tentang credit union.

Menurut Damianus Djampi, Wakil Ketua BKCUK, tujuan seminar tersebut ada tiga.  Pertama, memahami dan mencemari kembali paradigm eksistensi dan perkembangannya koperasi CU baik ditingkat primer, sekunder, dan induk sebagai pelayanan jasa keuangan dan pemberdayaan masyarakat/anggotanya di Indonesia.  Kedua, mengembangkan kerangka kerja untuk memahami lebih luas dan mendalam mengenai peran koperasi CU sebagai kebangkitan eknomi rakyat dalam tatanan ekonomi Indonesia dan pemberdayaan khususnya.  “Tujuan ketiga adalah memahami berbagai kendala penerapan perpajakan terhadap koperasi dan UKM pada era kebangkitan ekonomi rakyat agar diperoleh kerangka konsep yang sesuai dalam pengembangan dan penetapan regulasi terhadap lembaga keuangan mikro yang layak bagi masyarakat ekonomi lemah”, urai mantan ketua CU Katulistiwa Bakti ini.

Seminar dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2011 di Sheraton Media Hotel & Towers Jl. Gunung Sahari Raya, Jakarta.  Penyelenggara seminar yang dirangkai dengan RAT BKCUK tersebut adalah INKOPDIT Jakarta bekerjasama dengan PUSKOPDIT BKCU Kalimantan.  Panitia penyelenggara adalah pengurus dan manajemen CU. Barerot Gratia Jakarta yang juga tua rumah RAT PUSKOPDIT BKCU tahun buku 2010 bersama dengan pengurus dan manajemen PUSKOPDIT BKCUK.

Penasehat seminar dan RAT adalah Paul Sutopo, Ph.D.  penaggung jawab adalah Drs. A.R. Mecer (Ketua Puskopdit BKCUK), Abat Elias, SE. (GM INKOPDIT), Dr. Amu Lanu A. Lingu, SE., M.Si.  Antonius Sumarwan, SJ. Marselinus Sunardi, S.Pd. Damianus Djampi, P. Fredy Rante Taruk, Pr. dan Drs. Stefanus masiun.  Panitia pengarah adalah F.X. jarot Winarto, SE. Frans Laten, SE. Serapina Serafin, Agung, dan Sunarto.

Peserta seminar terdiri dari utusan CU primer, mitra, PUSKOPDIT BKCU Kalimantan, CU Primer tuan rumah sebagai penyelenggara RAT PUSKOPDIT BKCU Kalimantan, peninjau anggota CU Primer, peninjau luar dan mantra, Puskopdit Bekatigate Sumatera Utara, Puskopdit Caraka Utama Lampung, Puskopdit Bogor Banten, Puskopdit Swadaya Utama Maumere, Puskopdit Jatimtim Malang (Sawirin) seluruhnya berjumlah 252 orang.

Seminar dibuka oleh Wapres Boediono sekaligus sebagai keynote speaker.  Nara sumber adalah A.R. Mecer, Dr. Amu Lanu A. Lingu, Abat Elias, Dr. Nining I Soesilo (Ketua UKM Center UI), Dr. Novita (Universitas Guna Dharma), Ir. Toto Sugiarto, Ph.D. (Universitas Guna Dharma), T. Handoko Eko Prabowo, Ph.D. (Universitas Sanata Dharma), Dirjen Pajak, Avanti Fontana, Ph.D. (ketua Center for Innovative & Entrepneursip UI).

Setelah seminar dilanjutkan dengan lokakarya anggaran rumah tangga dan poljak Puskopdit BKCUK dan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Puskopdit BKCUK tahun buku 2010.

 

Sumber  : Majalah Kalimantan Review (KR)

Terbitan : Mei 2011


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, May 16, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved