Selamat Datang!

Mampukah Credit Union Bertahan 100 Tahun Lagi ?

Bapak, Ibu, Sdr sekalian yang terhormat,

Adalah suatu kebahagian bagi saya menerima undangan Panitia untuk memberikan pendapat saya sebagai catatan pribadi yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam Seminar Inkopdit – BKCU-K hari ini.  Hal ini bukan pertama kali, karena sedikitnya saya telah pernah berbicara dua kali di depan BKCU-K yaitu di Singkawang dan Pontianak dan satu kali di depan RAT Inkopdit di Malang.

Pendapat saya berikut, saya tarik dari pengalaman saya yang lebih dari 30 tahun berada di Bank Sentral sebagai Regulator bank-bank dan LKBB (Lembaga Keuangan Bukan Bank) serta kelibatan saya selama beberapa tahun di kantor pusat International Monetary Fund (IMF) di Washington DC, Amerika Serikat.  Beberapa tahun terakhir ini saya dilibatkan oleh bapak AR Mecer, Ketua BKCU-K, untuk mendalami secara teoritis dan praktek-Credit Union.

Sehubungan dengan itu perkenankanlah saya memberikan catatan sesuai pemahaman saya selama ini sebagai berikut :

1.       Definisi CU.  Diantara pemerhati CU tentu saya pengertian atau definisi CU kurang lebih sama.  Tetapi bagi banyak orang pengertiannya menjadi kurang pas.  Ada yang mengatakan CU tidak beda dengan Koperasi pada umumnya atau menyamakan dengan koperasi simpan pinjam (KSP).  Bahkan dengan sebenarnya dengan beberapa “Credit Union” lainnya pun terdapat perbedaan.  Lebih keliru lagi kalau mengatakan bahwa CU adalah Lembaga Keuangan atau Perusahaan.  Yang benar adalah pendapat yang mengartikan CU sebagai ‘kumpulan orang’ lebih dari sekedar ‘kumpulan uang’.  Kita tidak bisa melihat ‘keberhasilan’ CU dilihat dari besarnya dana yang terkumpul atau berapa keuntungan diperoleh tetapi sampai seberapa sejauh prinsip-prinsip dan nilai-nilai CU berpengaruh pada anggota dan masyarakat sekitarnya.  Sebagai salah satu indicator tentu saja dapat diambil seperti rasio anggota terhadap jumlah penduduk untuk melihat “Penetrasi” nilai-nilai dalam masyarakat.  CU dalam masyarakat.  Saya turut bangga bahwa BKCU-K telah mencapai “penetrasi” sekitar 10% jauh di atas Negara-Negara Asian dan Asean !!

2.      Ekonomi kerakyatan (EK) Rekan saya Prof. Dr. Mubyarto memberikan definisi Ekonomi Kerakyatan adalah “system ekonomi nasional yang berasas kekeluargaan, kedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan Definisi itu merupakan penjabaran dari pandangan our founding fathers (Pendiri Republik Indonesia) seperti tercantum dalam UUD 45 dan Pembukaannya.  Elemen-elemen EK seperti yang disebut oleh Mubyarto tersebut ternyata tidak berbeda dengan elemen-elemen dari CU yang ditemukan oleh Freiderich Raiffeisen, yang kemudian diambil alih oleh gerakan WOCCU-ACCU “CU adalah kumpulan yang saling percaya, bersepakat menabung untuk dipinjamkan kepada sesama anggota dengan asas swadaya, solidaritas dan pendidikan untuk mencapai kesejahteraan bersama”. Bahkan Kofi Annan, sekretaris jendral PBB pernah mengatakan bahwa “Credit Union Founded on the principles of private initiative, entrepreneurship, and self employment, underpinned by the values of democracy, equality and solidarity. CU can help have the way to a more just and inclusive order”. CU telah berhasil mengembangkan konsep modal sosial (social capital) dengan baik yang merupakan factor penting dalam ekonomi kerakyatan.

3. CU dalam praktek.  Terus terang saya- sebagai orang yang telah berkutat di bidang perbankan berpuluh tahun – terkejut mengenai “kecangihan” CU dalam mensejahterakan orang miskin.  CU mempunyai kelebihan yang tidak dilihat orang lain.  Saya seperti melihat space ship’ atau ‘alien’ saat melakukan penelitian CU yang ternyata mempunyai kelebihan yang mencengangkan.  Selain prinsip – prinsip dan nilai-nilai utama CU yang dapat digali dari budaya local, CU sarat dengan ‘perangkat yang berkualitas’ dalam bentuk aturan-aturan baku, system yang lengkap, kebiasaan (habit) atau ‘best practices’ yang berisi nilai pengelolaan yang bagus, dan di dukung dengan berbagai buku pegangan dan petunjuk (manual and tools).  Pendidikan merupakan core function, bahkan CU mengklaim bahwa ‘CU dimulai dengan pendidikan, dikembangkan oleh pendidikan, dan diawasi dengan pendidikan’. CU yang tidak mempunyai fasilitasi pendidikan BELUM dapat mengklaim dirinya CU.  Berbagai analisa pengukuran performace dan indicator resiko yang bersifat kwantitatif seperti PEARL dan ACCESS yang diterapkan dengan disiplin, sekaligus digunakan untuk audit.



4. People helping People. Dari anggota kepada anggota.  Dari rakyat kembali ke rakyat. Saya acungin jempol kepada para pemikir CU di seluruh duia yang penuh imaginasi dalam menyusun perangkat system yang terstruktur secara rapi dari bawah ke atas (bottom up) sekaligus memperhatikan hubungan kasuslitas (cause and effect) dari tahap-tahap yang dipakai.  Mulai dari level terbawah yaitu ‘rakyat’ (people) terus ke ‘kegiatan’ (operation), kemudian ke ‘anggota’ (members), dan akhirnya ke paling atas yaitu ‘keuangan’ (financial).  Dinamika ini terus berjalan sehingga menimbulkan hubungan sebab-akibat ‘kausalitas’ (causes and effect) dari ‘financial-members-operation terus kembali ke people’.  Setiap tahap ternyata mempunyai sub-tahap yang telah tertata rapi.



5.      Network yang bagus. Hubungan organisatoris dan fungsional antar CU dengan BKCK-K sangat solid terutama dalam Pendidikan dan asuransi Jalinan dan kematian.  Transfer pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) terjadi dengan lancar.  On the job training telah disediakan oleh BKCU-K dengan penuh keramahan baik jangka pendek maupun jangka yang lebih panjang.  Keuletan dan disiplin staf di CU anggota BKCU-K di Kalimantan merupakan virus yang sehat bagi CU lainnya.   Network tersebut berlanjut kejajaran Inkopdit (CUCOINDO), terus ke ACCU Asian di Bangkok yang menyediakan fasilitas pendidikan dan penilaian (grading) CU berdasarkan ACCESS Branding kemudian ke WOCCU (CU Dunia). CU memperoleh banyak ‘alat’ seperti PEARLS dan kebiasaan ‘jitu’ yang terdapat pada ‘best practices’.  Saya bahagia melihat deretan ‘tools’ tersebut yang benar-benar dipergunakan dalam pengelolaan CU. SELAMAT !

6. Keberhasilan dan kegagalan. Ukuran keberhasilan CU tidak bisa diukur dengan jumlah dana yang terkumpul atau disalurkan (meskipun BKCU-K mempunyai dana sebesar hamper 4 triliun rupiah atau lebih dari separu dana CU seluruh Indonesia).  Ukuran yang sebenarnya adalah sampai sejauh mana prinsip-prinsip dan nilai-nilai CU yang menempatkan manusia sebagai subyek dengan segala aspirasinya (demokratis), yang mempunyai solidaritas dengan cirri ‘equality dan equity’ serta otonom/swadaya (self help) menjadi budaya dalam sosio-economy masyarakat.  Bukan ketergantungan dari ‘luar’ tetapi ‘people helping people’ gotong royong yang saling berbagi.  Indikasi kwantitatif salah satunya adalah tingkat ‘penetrasi’ CU dalam masyarakat berupa ratio jumlah anggota CU terhadap jumlah penduduk.  Seluruh Indonesia masih kurang dari 1%, Negara-Negara Asia dibawah 10%.  Kita bersyukur bahwa BKCK-K menempati urutan tertinggi di Asian atau Asean (pernah mencapai 11%).  Itu berarti BKCUK-K telah berhasil membentuk ‘modal Sosial’ yang cukup tinggi.



7.       Human risk mengkhwatirkan. Keberhasilan yang tinggi tetapi tidak diberengi dengan SDM yang memadai akan membahayakan kelangsungan CU.  Harus dilakukan tindakan segera.  Pendidikan CUDCC dan CUCCC harus digalakan.  Demikian juga pendidikan untuk anggota harus dilakukan terus-menerus, berkelanjutan dan terarah.  Disiplin harus ditingkatkan, rekrutmen manager dan staf yang berdasarkan risk-based harus dilakukan.  Karakter moral dan etika yang baik akan melanggengkan kestabilan CU.  KODE ETIK harus disusun secepat mungkin tidak perlu sempurna (karena itu milik Tuhan !).  Bisa step by step tetapi terarah, teratur dan terukur.  Dana yang semakin besar tanpa dibarengi kepatuhan pada aturan dan kode etika akan sangat berbahaya.  Kode etik dan kepatuhan akan bermuara pada ‘rewards and punishment’ yang harus dilakukan pula secara patuh.  Kendala yang terbesar adalah ‘balas jasa fropesi’ yang tidak kompentitif mengakibatkan tingkat profesionalitas yang juga rendah.  Apakah INKOPDIT atau BKCU-K telah siap dengan ‘Sekolah CU’ ??

8.      Legalitas CU dan RUU Koperasi. Pernah CU hidup tanpa legalitas, tanpa landasan hukum.  Kemudian bekerja dengan bonceng legalitas ‘orang lain’ yaitu ‘KSP’.  Akankah CU meneruskan hidup tanpa dasar hukum sendiri ? saat ini CU dalam persimpangan jalan: kembali ke keadaan semula, ‘dompleng’ atau diakui sebagai lembaga ’khusus’ ? Agaknya yang paling optimistis ‘disebut’ tetapi bukan jelas khusus tersendiri.  Seperti anak haram yang tidak jelas ayah-ibunya tetapi diakui oleh pengadilan.  Tetapi jelas punya hak hidup karen ‘aborsi’ dilarang.  Ada kemungkinan dan itu besar probabilitasnya-untuk hidup ‘berdampingan dengan damai’ atau ‘hilang kepribadiannya’.  Yang terakhir ini, yang paling jelek, adalah ‘penurunan derajad menjadi KSP’.  Kalau yang terakhir terjadi maka CU akan kehilangan jati dirinya dari ‘kumpulan orang’ menjadi ‘kumpulan uang’.  Bagi saya ini bukan ‘kesempatan’ tetapi PILIHAN. Kita harus memilih yang terbaik.  Itu berarti mengerahkan semua ‘funds and forces’ untuk memberikan landasan hukum yang secukupnya bagi CU untuk mengaktualisasikan ‘ekonomi kerakyatan’ !! kalau tidak dapat ‘first best’ ya ‘second best’

9. 4 tantangan masa depan. Ke depan situasi tidak lebih mudah dari sekarang.  Kita harus mulai ‘sedia payung sebelum hujan’.  Bukan lagi hujan gerimis, tetapi hujan deras yang disertai badai dan banjir.  Juga gempa bumi keuangan.  CU telah telah biasa melewati krisis moneter dan dampak negative dari globalisasi.  Testing akan semakin ketat.



-          Regulasi akan semakin keras dan persaigan akan semakin ketat.

-          Pergeseran segmentasi dan perubahan pasar

-          Hubungan dengan anggota baru dan lama akan semakin ‘demanding’.  Kemajuan teknologi akan semakin berperan.

-          Reputasi CU dan ‘Relationship’ rules akan semakin meningkat

10. 5 kunci pokok. Pilihan ke depan harus dicermati lebih konprehensip terutama terhadap 5 kunci pokok yaitu aliansi, regulasi, identitas, sinergi, e-commerce (ARISE).

-          “Aliansi” atau network merupakan tuntutan.  ‘Barsatu kita bisa’ bukanlah satu ‘kesempatan’ tetapi ‘pilihan’, sesuatu yang harus kita perjuangkan.  Ada ‘panggilan’.

-          “Regulasi” adalah kebutuhan vital, bukan lagi ‘main-main’.  Saat ini kita sedang berada dalam persimpangan jalan, kita tidak ingin dibawah orang lain kearah yang kita tidak suka.  Kita ingin menuju ‘kesejahteran bersama’ bukan sekedar transaksional pinjam-meminjam.

-          “Identitas” harus tetap tegak sebagai ‘kumpulan orang’ bukan kumpulan uang.  Manusia ‘miskin’ tidak mau dikontrol oleh uang tetapi harus ‘mengontrol’ uang.  Manusia Indonesia – terutama yang miskin – harus bisa mengendalikan masa depannya sendiri, harus bisa mengendalikan keuangan keluarga sendiri.  Ada otonomi, ada swadaya.

-          “Sinersi” merupakan kata kunci kedepan.  Segmentasi pasar berubah, target berubah.  Industri jasa keuangan tidak perlu ‘crash’ yang memberikan bencana tetapi sinersi untuk memberikan matual benefit atau win-win solution untuk kesejahteraan bersama.

-          “E-Commerce” atau E-Com adalah pintu ke depan.  Komunikasi dan Informasi merupakan kunci sukses.  Siapa yang tidak mengikuti perkembangan teknologi akan tertinggal atau ditinggal dilandasan.



11.   Akhirnya, pilihan itu tidak bisa ditunda, tidak bisa dilakukan secara salah dan harus murah.



“DO IT FAST, DO IT RIGHT, DO IT EFFICIENTLY”



12.   Selamat berdiskusi. Tuhan memberkati.

Jakarta, 5 Mei 2011.

Sumber : Hand out Paul Soetopo sewaktu menjadi KEYNOTE SPEECH SEMINAR NASIONAL, Eksistensi dan Partisipasi koperasi Credit Union dalam Membangun “Ekonomi Kerakyatan” di INDONESIA.

Penyelenggara, INKOPDIT – Jakarta I PUSKOPDIT BKCU Kalimantan. Hal: i

Sumber foto: http://www.seminarikwi.org


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Friday, May 20, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved