Selamat Datang!

CU Filosofi Petani Rambah Asia Pasifik



Keberhasilan Credit Union model Kalimantan dengan filosofi petani-nya tidak hanya menarik minat banyak komunitas masyarakat di Indonesia.  CU model Kalimantan yang sering disebut “Jalan Keselamatan Kalimantan” yang dengan tokohnya A.R. Mecer tersebut menarik perhatian dunia internasional, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

A.R. Mecer diundang sebagai narasumber dalam pertemuan tokoh-tokoh masyarakat adat dari Asia Pasifik di Bali tanggal 26-29 Maret 2011.  Dalam salah satu sesi sharing pengalaman tanggal 27 Maret, Mecer diminta membagi pengalamannya dalam memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat adat melalui Credit Union.  Sebanyak 65 orang tokoh masyarakat adat dari kawasan Asia dan Pasifik mengikuti pertemuan tersebut.  Antara lain dari Indonesia (Dayak, Bali, Banten, Jawa, Batak, Minang, NTT, Papua, dll), Filipina (Ibaloy, Igorot) Thailand (suku Thai), Vietnam, Burma, Srilangka, Australia (Aborigin), Samao, Papua Nugini, dan Selandia Baru (Maori).  Acara bertajuk “Pertemuan Masyarakat Adat dengan Sumber Daya Berkelanjutan di Asia Pasifik dan Lembaga Funding”, itu diorganisir International Funders for Indigenous Peoples (IFIP) bekerjasama dengan The Samdhana Institute dan Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN).  Lokasi pertemuan di Desa Adat Pengotan, Kabupaten Bangli, Bali.

 

CU Filosofi Petani



Mecer membuka paparannya dengan cerita tentang bagaimana menangkap ikan. “coba anda tangakap ikan di laut atau kolam dengan tangan kosong, paling banyak hanya bisa menangkap 1-2 ekor.  Bandingkan kalau anda menangkapnya dengan jala atau pukat, pasti jauh lebih banyak yang didapat”, pancing Mecer yang disambut tawa hadirin.

Itulah yang terjadi dengan CU sambung Mecer.  “bagi kami CU adalah alat, bukan lagi hitung-hitungan keuangan seperti perbankan.  Sebab bagi kami CU adalah alat untuk memiliki uang tadi.  Jika uang sudah dimiliki banyak hal bisa dilakukan karena dengan uang itu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, khususnya sandang, pangan, dan papan mudah dipenuhi”, urainya.  Nah kemudian kami terpikir pada kehidupan petani.  Saya merenung, mengapa sekarang banyak uang tapi orang masih kelaparan, padahal jaman bapak saya dulu waktu masih kecil tahun 1950-an, mereka tidak ada uang tapi makan cukup.  Tidak ada istilah lapar, walaupun sederhana kami punya rumah, kalau sakit bisa berobat karena biasanya berobat pakai tanaman yang ada di hutan, tiap tahun orang kampung pesta.

Setelah coba kami renungkan, apa sebenarnya yang mereka lakukan sehingga segala kebutuhan hidup jaman orang tua saya dulu bisa terpenuhi padahal mereka tidak punya uang.  Ternyata ada empat hal yang diperjuangkan para petani yang tidak boleh tidak harus dipenuhi, sebab jika tidak maka hidup, nyawa akan terancam.

Yang pertama adalah makan minum (konsumsi).  Jika tidak ada makan minum nyawa akan terancam.  Mereka berjuang mencari makan minum untuk bertahan hidup.  Makan minum ini sesuatu yang penting, terus menerus dan tidak ada alasan, harus ada makan minum.

Yang kedua yang penting itu adalah benih. Penyediaan benih itu mutlak harus dilakukan, tidak perduli apakah panen dalam tahun itu gagal atau berhasil, benih harus pertama-tama  disisihkan dan dipilih dari hasil panen yang terbaik untuk ditanam.  Jika diimplementasikan dalam bentuk uang artinya seberapa besar-kecil pun pendapatan, kita harus menabung atau berinvestasi.  Menabung jangan dari karena kelebihan uang, tapi perjuangan untuk masa depan.

Yang ketiga, supaya masyarakat di kampung tetap hidup senang dan damai adalah saling peduli, kerjasama, solidaritas.  Kami orang Dayak yang hidup di rumah panjang tidak ada cerita orang dibilik lain makan sedangkan dibilik lain tidak makan.  Tidak, kami solider, jika ada rejeki, dapat buruan dibagi, kita nikmati bersama.  Dulu sih, tapi nilainya masih bisa dipertahankan.  Setelah direnungkan, tenyata aspek social, kebersamaan itu merupakan kebutuhan, sama seperti makan minum dan benih itu.

Yang keempat, biasanya sebelum melakukan kegiatan atau ritual, petani/masyarakat di kampung selalu emngucapkan rasa syukur, selalu ada ritual-ritual kepada Yang Maha Kuasa.  Kalau panen baru, padi pertama yang diambil dipersembahkan kepada Yang Kuasa, bukan langsung dimakan.   Setelah melalui refleksi dan perenungan, ternyata keempat keempat hal itu tidak diperhatikan lagi.  Bersyukur itu sudah jarang dilakukan.  Kebetulan saya Katolik, dikampung saya umatnya sekitar dua ribuan, tapi kalau sembayang hari minggu ada puluhan orang saja.  Itulah sekelas gambaran tentang rendahnya syukur masyarakat kita.

Empat hal seharusnya selalu diperjuangkan dan dilakukan secara bersamaan.  Kalau sekarang yang dilakukan hanyalah satu hal saja, yakni makan minum(konsumtif).  Empat hal itu kemudian kami racik dan disederhananakan dijadikan uang.  Uang itu memerlukan pengelolaan, manajemen sendiri.

Kami membuat produk CU itu menjadi empat pokok, yakni produk konsumsi, produk sosial, produk benih, dan produk religious/ritual.  Benih itu harus menghasilkan maksimal.  Sebab jika padi satu biji ditanam, tumbuh dan berbuah hanya satu biji saja itu artinya benih itu tidak baik.  Artinya produk benih itu harus dirancang berkembang.  Ukuran uang, berkembang adalah lima belas persen.  Pengalaman, kami bisa mengembangan uang ini lima belas persen pertahun dengan asumsi inflasi dibawah 10 persen jadi uang berkembang.  Dengan 15% pertahun itu maka setiap lima tahun uang yang kita tabung menjadi dua kali lipat 100 persen.   Dengan Rp. 2.000,- perhari terus dikembangkan, maka 40 tahun akan menjadi Rp. 1 miliar.

CU Alat Mengembangkan Uang



Selain alat mengkap uang menurut Mecer, CU juga alat mengembangkan uang.  Keuntungannya di CU, uang yang seribu, lima ribu sehari itu terus berkembang.  Dengan meminjam uang di CU maka anda mengamankan uang anda sendiri.  Jadi tidak ada cerita orang mau melarikan uang pinjamannya.  Tentunya tidak semua orang akan meminjam karena yang menjadi anggota di CU dari yang baru lahir sampai yang sudah tua.  Tidak apa-apa karena 65 persen uang sudah diamankan.  Struktur keuangan CU harus standar seperti ini.

Neraca CU




















Aktiva



Pasiva



Likuiditas : 10% - 20%



Saham : 10% - 20%



Pinjaman beredar : 70% - 80%



Non Saham : 70% - 80%



Kelalaian : ≤ 5%


Aset yang tidak menghasilkan : ≤ 5%



Modal lembaga : ≥ 10%



Melalui CU petani, masyarakat adat bisa merencanakan pension.  Pasti bisa.  Contohnya, kita mau pension Rp. 1,5 juta sebulan, berarti kalau satu persen kan perlu Rp. 150 juta.  Jika dia mau pension 30 tahun lagi, maka5 tahun sebelumnya dia harus punya setengahnya, yaknin 7 juta, lima tahun sebelumnya punya Rp. 75 juta sehingga 0 tahun seharusnya dia punya Rp. 2,5 juta.  Artinya kalau saya mau pension Rp. 1,5 juta dalam 30 tahun lagi maka saya harus menyiapkan Rp. 2,5 juta.  Cicilan perbulanya hanya Rp. 72.500 dan dalam 5 tahun lunas.  Perhitungannya begini.




































Tahun ke



Jumlah uang (Rp)



30



150.000.000,-



25



75.000.000,-



20



37.500.000,-



15



18.750.000,-



10



9.375.000,-



5



4.687.000,-



0



2.343,50 – 2.500.000,-



 

Jadi mulai dengan 2,5 juta rupiah sekarang pinjam di credit union, pinjaman tersebut kemudian ditabungkan kembali di Credit Union yang disebut dengan Kapitalisasi.  Kemudia cicil Rp. 72.500/bulan selama 5 tahun.  Selanjutnya tinggal menunggu pension Rp. 1,5 juta/bulan setelah 30 tahun.  Bila kebiasaan mencicil Rp. 72.500 dilakukan lebih dari 5 tahun, maka untuk pension sebesar 1,5 juta rupiah/bulan tidak perlu menunggu hingga 30 tahun.  Pensiun janda/duda semakin besar.  Akan semakin besar dan semakin besar bila diterukan deri generasi ke generasi jika uang Rp. 150.000.000,- diberikan ke ahli waris.

Apakah petani, buruh bisa menabung sebesar itu?  Pasti bisa dengan asumsi semua bisa jadi uang : sampah, kayu, batu, bahkan kotoran.  Dan yang terutama, jangan menabung dari kelebihan karena uang pasti tidak pernah lebih.  Menabunglah karena kebutuhan, setara dengan kebutuhan makan minum sehari-hari.  Kita harus yakin bahwa menabung adalah ibarat benih yang harus selalu disediakan dan ditanam.  Ada pengalaman di Kalbar, ada beberapa desa yang hamper lima tahun selalu gagal panen karena diserang hama belalang.  Tetapi anehnya, setiap tahun petani selalu menanam benih terbaik.  Entah darimana mereka mendapatkan benih itu.

 

Tindak Lanjut



Usai presentasinya, banyak tanggapan dan ajakan membagi pengalaman lebih lanjut disampaikan peserta kepada A.R. Mecer.  Kiwi Tamasese, tokoh masyarakat adat dari Asmoa kepada KR usai presentasi A.R. Mecer mengaku sangat tertarik dengan model ekonomi kerakyatan yang dipaparkan Mecer.  “kami sangat tertarik dengan sistem pengelolaan keuangan seperti itu.  Credit Union dengan cirri khas local seperti yang dipaparkan tersebut baru saya dengar, saya ingin belajar lebih jauh karena model”, ujarnya.  Nang Gatot, kepada desa juga pengalaman pemberdayaan masyarakat melalui Credit Union dengan filosofi petani tersebut.  Di desa Pengotan, Nang Gatot adalah ketua Lembaga Pinjaman Desa (LPD).  LPD ini mirip lembaga arisan.  Awalnya mereka mengelola dana dari pemerintah sebesar lima belas juta rupiah, kemudian masyarakat desa menyimpan uangnya di LPD dan boleh meminjamnnya.  Hanya simpanan anggota tersebut tidak diberi balas jasa atau bunga.

“Jika kekompakan masyarakat Pengotan tersebut digabungkan dengan manajemen professional Credit Union ala Kalimantan, maka pasti akan berkembang lebih pesat dan tentunya melahirkan multiflier effect bagi masyarakat dan bisa membantu masyarakat lebih banyak, tidak terbatas di satu desa”. Tanggap Mecer.

 

Sumber : Majalah Kalimantan Review (KR)

Terbitan : Mei 2011


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, May 16, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved