Selamat Datang!

Pelayanan Firman pada HUT CUBESI ke-8

Pada minggu lalu kita membaca puisi yang disampaikan oleh Sepmiwawalma pada tanggal 26 Maret 2011 di aula Soverdi yang terletak di kilometer 5,5 jalan Cilik Riwut Palangka Raya. Pada tahap kedua ini kami sampaikan khotbah dari Pendeta Rugas Binti dalam rangka HUT CU BESI ke-8.

Pelayanan firman diambil dari 2 Korintus 8:1-15 dan salah satu kalimat yang berkesan dari Pendeta Rugas adalah “Negara memelihara orang-orang miskin, kita adalah warga negara, mungkin kita miskin, tetapi kita bisa membantu lewat Credit Union". Berikut salinannya:

Gereja Kristen Protestan Bali punya satu motto yang bagus mereka katakan “Kita harus menjadi kaya, supaya bisa menolong orang miskin”. Ini menarik dan tidak hanya diucapkan tetapi dilakukan dengan bersungguh-sungguh.

Demikianlah kita kenal GKPB atau Gereja Kristen Protestan Bali, sebagai salah satu gereja di Indonesia yang sangat giat dalam upaya-upaya pembangunan ekonomi mensejahterakan warganya dan masyarakat di sekitarnya, melalui usaha-usaha perhotelan, Bank Perkreditan Rakyat, sentra-sentra kerajinan rakyat yang ditampung dan dijual bersama. Bahkan tidak aneh bagi mereka, ada dari pengurus sinode yang punya usaha sendiri disamping usaha-usaha dari gereja.

Kita bisa bertanya saudara-saudara benarkan begitu, kita hanya bisa menolong orang miskin kalau kita sudah kaya?. Jawabannya bisa iya, bisa tidak, tergantung kita. Iya dalam arti hitungan matematisnya begitu. Kalau ada bencana alam kita banyak sumber-sumber untuk membantu pasti betul kita menolong orang yang tertindas dengan kelebihan kita, tetapi pertanyaan kita lebih jauh benarkah sebagai orang Kristen hanya itu yang kita tahu?, adakah yang lebih baik dari ini?

Saudara-saudara paling tidak ada dua hal yang mau saya tanyakan, yang pertama bahwa kalau kita ingin menjadi kaya, persoalan kita adalah, kita tidak tahu batasnya. Suatu ketika kekayaan yang kita anggap kaya mungkin menjadi tidak cukup lagi, kita menjadi lebih kaya lagi, ingin lebih, ingin menambah tidak ada batasnya.

Karl Max mengatakan, “Gereja Mendoakan Jiwa Orang Masuk Surga Tetapi Kakinya Berpijak Di Bumi Dengan Perut Kelaparan”. Gereja melupakan misi utamanya melayani, mengasihi orang-orang yang memerlukan pertolongan.

Yang kedua, saya mengkritisi juga dari segi timingnya. Artinya, kita tidak bisa menunggu-nunggu kapan kita bisa membantu orang. Nanti kalau saya sudah cukup sumber daya yang sudah saya miliki, baru saya membantu.

Alkitab yang baru kita baca tadi saudara-saudara dengan tegas mengatakan meskipun kamu miskin, tapi kamu kaya dalam kemurahan. Sumbernya tidak lain, dalam ayat Alkitab dikatakan, “Ini Semua Semata-Mata Karena Kasih Karunia Allah Dianugrahkan Kepada Kamu”.

Jadi, sebenarnya saya ingin memperkenalkan suatu pemahaman yang baru kepada kita secara Alkitab ini, bukan karangan saya. Sebenarnya tidak ada orang Kristen itu yang miskin, tidak ada orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus itu miskin.

Mengapa?, karena Allah itu kaya dengan kasih karunia, dengan berkat, dengan pengasihan. DIA yang kaya begitu mau mengosongkan dirinya menjadi miskin, sama seperti kita untuk memperkaya kita saudara-saudara. Jadi dalam satu buku yang pernah saya baca katanya, definisi miskin adalah orang itu tidak punya apa-apa untuk dibagikan. Miskin berarti orang itu tidak punya apa-apa untuk dibagikan.

Jangan hanya kita pikir ekonomi saudara-saudara ini hanya salah satu saja dan Alkitab juga tidak mengatakan ini yang terpenting. Yesus katakan manusia bukan hidup dari roti saja tapi, dari tiap firman dari mulut Allah.

Kebahagiaan yang sejati, rasa aman, tentram damai, menikmati kehidupan dengan rasa syukur itu kekayaan yang luar biasa semata-mata karena anugrah Allah kepada kita yang telah diperkenalkannya melalui pelayanan, melalui kasih yang diperlihatkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus di dunia ini.

Jadi, Ibu/ Bapak sekalian, saudara yang berbahagia sore ini. Jemaat yang dibacakan dalam nast tadi (di Makedonia) adalah jemaat yang biasa-biasa saja. Di bawahnya ada jemaat-jemaat kaya, seperti Korintus, di atasnya ada Filipi, Efesus, kebanyakan mereka adalah orang-orang bawahan, kelas buruh, pekerja kasar. Sangat sedikit mereka berpangkat, seorang yang kaya kebanyakan sekali mereka adalah orang-orang kelas bawah.

Tetapi, dalam nast kita, dilanjutkan pada pasal 9, mereka tergerak hatinya melalui pelayanan Paulus untuk berbagi dengan saudara-saudaranya yang seiman pada waktu itu yang menderita kelaparan. Mereka menjadi miskin karena satu hal, saya menjelaskannya secara singkat.

Miskin bukan karena tidak punya modal, tetapi mereka pada waktu itu berharap Tuhan Yesus akan datang tidak lama lagi. Mereka mengharapkan Tuhan datang pada waktu sebagian mereka masih hidup, Tuhan akan segera datang kembali. Karena itulah dalam Kisah Para Rasul dalam kehidupan jemaat mula-mula dikatakan mereka menjual apa yang mereka miliki, lalu membaginya bersama, menikmatinya bersama tugas mereka bukan hanya mencari kekayaan tetapi yang terutama adalah menyiapkan diri. Mereka juga bersekutu, beribadah, berdoa, mengadakan perjamuan kasih. Mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan.

Nah, lama-lamakan jual terus harta benda tidak ada modal lagi habis, lalu mereka menjadi miskin. Ketika memang ada bahaya kelaparan mereka tidak punya apa-apa mereka perlu bantuan dan Paulus berkeliling mencari bantuan untuk menolong saudara-saudaranya yang miskin. Mereka orang-orang biasa, tetapi mau berbagi ini satu hal yang luar biasa.

Jadi, dipatahkanlah motto yang tadi “Kita Harus Menjadi Kaya Untuk Menolong Orang Miskin”. Sesama orang miskin bisa membantu, sebab apa?. Sumber daya terbataspun bisa dibagikan. Hanya orang yang tidak punya keyakinan tidak tahu dan bersyukur sebab Tuhan sudah memberikan segala-segalanya dan tidak mau berbagi kepada sesamanya. Jadi, mereka berbagi dalam kekurangannya untuk memperkaya saudara-saudara yang lain yang menderita kelaparan.

Dalam nast kita ada satu kata yang bagus dalam rangka kita merayakan ulang tahun yang kedelapan. Kalau kita mengingat angka 8 ini. Ini bukan sekedar angka hoki. Angka keberuntungan, saya harap kita tidak percaya akan hal-hal mistik seperti itu tidak otomatis kalau sudah angka 8 pasti beruntung, tetapi dari nalar yang sederhana saja.

Coba kita masing-masing menggambarkan angka 8 mulainya dari sini, mutar ke bawah, kembali lagi dia. Bolak balik seperti lingkaran tidak ada ujung tidak tahu awalnya. Itu namanya infinite number, angka yang tidak terbatas, karena dia tidak putus, nyambung terus kemana saja kita mulai angka delapan pasti ketemu bolak balik.

Ketika saya berkunjung ke India baru-baru ini, saya beruntung dan bersyukur bisa melihat bangunan yang megah keajaiban dunia Tāj Mahal, ada kubahnya yang megah di bawahnya ada Makam Mughal Shāh Jahāndengan istrinya Tāj Mahal.

Itu hanya replikanya, tapi yang aslinya ada di bawah. Yang menarik di atasnya dekat kubah, ada jendela atau pintu yang jumlahnya delapan. Saya iseng tanya dengan guide kami, mengapa ada delapan? Dijawabnya itu adalah pintu surga, dengan 8 bagian. Benar juga saya pikir-pikir dengan angka 8 infinite number, jumlah tak terbatas. Dalam alkitab itu alpha dan omega menyatu di angka 8, awal dan akhir ada di sana, surga, yang ilahi, angka 8.

Jadi, sore ini saya mengajak kita mengingat angka 8 sebagai momentum untuk maju ke depan saya bersemangat untuk dalam acara ini meskipun masih cape tapi saya mau, karena saya melihat Credit Union tidak sekedar koperasi biasa tapi koperasi yang punya misi yang besar dan tidak terbatas yang saya kira bisa melampaui ruang dan waktu karena rohnya adalah yang tadi saya bacakan.

Kita menjungkirbalikkan pemikiran-pemikiran yang logis secara ekonomis yang masih banyak orang percaya, tapi justru itu menyengsarakan kita. Kita mau bangun, kita punya modal, kita berutang dengan luar negeri. Negara ini tambah banyak hutangnya. Di jaman ini utangnya berlipat-lipat.

Orang masih percaya bahwa untuk membangun itu perlu modal. Tetapi kita lupa bahwa kita bisa sesama orang miskin menolong orang miskin. Kalau kita punya tekad, punya kemauan, punya visi ke depan, kalau Tuhan memberkati, Tuhan akan menolong kita dan kita berhasil.

Tokoh pendiri CU ini saya yakin orang Kristen juga, Raiffesen melakukan itu dalam masyarakat Jerman yang habis kalah perang saat ia membangun. Banyak kesulitan-kesulitan mereka tapi mereka bisa, semangat dan jiwa ini ditularkan untuk kita hidupkan di sini.

Kalau kita banding ke India tadi, saya belajar dari sisi ekonomi. India tidak banyak punya hutang tapi banyak memberi utang kepada orang, mereka tidak meminjam, tapi mereka menjual. Ketika saya datang pesimis saya, konotasinya India negara miskin dengan penduduk yang banyak 1,2 milyar. Tapi, ketika sampai di sana kesan itu terhapus memang ada kumuh-kumuhnya masih banyak tapi jalan dan infrastukturnya bagus luar biasa.

Di jalan tol tidak ada hak eksklusif orang-orang kaya di jalan semuanya ada di jalan tol, yang namanya gerobak yang ditarik sapi membawa hasil ladang bahkan muatannya melewati lebar dan panjang gerobak. Ada yang ditarik unta, ada traktor yang menarik gerobak ditariknya bareng-bareng, menarik bahan-bahan bangunan. Ada yang naik sepeda, naik bajaj. Orang India sangat efisien memanfaatkan segala-segalanya.

Bajaj di tempat kita mugkin hanya diisi 3-4 paling banyak, di sana (India) bisa sampai 8. Jadi di dekat supirnya itu ada 3 orang bergantung, dan itu bisa di jalan tol. Ini menarik, negara maju di India dengan tingkat pertumbuhan ekonomi 12% per tahun pada tahun 2010, dan 5 tahun ke depan mereka akan targetkan sampai 20%.

Mereka mengekspor banyak hal, obat-obatan, peralatan-peralatan kedokteran yang canggih. Negara-negara Barat membeli obat, alat-alat dari mereka kedokteran yang maju mereka bisa memproduksi dan mengirimnya. Mereka beli pesawatpesawat modern dari Rusia, tetapi dengan perjanjian setelah 5 tahun mereka bisa bangun pabriknya di India, mula-mula suku cadang lalu mereka bisa bangun sendiri. Saudara-saudara inilah negara yang percaya pada kekuatan sendiri.

Kemudian, orang miskin diperhatikan. Ini menarik. Saya ingin baca di UUD kita secara harafiah hukumnya betul, pada pasal 34, “Fakir Miskin Dan Anak-Anak Terlantar Dipelihara Oleh Negara”. Ini secara hukum dan dasar konstitusi benar. Tapi, prakteknya bagaimana? Ini jauh sekali dan masih berjuang, kita akan sampai pada tugas atau tantangan pada CU.

Karena jangan hanya kita pikir, kita hanya menyalahkan negara. Kalau di Kalimantan Selatan, orang Amuntai/ Alabio senang karena memelihara orang miskin orang negara saja. kita boleh tertawa, tapi kita semua menjadi bagian dari UUD ini karena kita adalah warga negara.

Kita punya tanggung jawab juga membantu negara sebagai warga negara membantu memelihara orang-orang miskin. Memelihara dalam artian apa?, tergantung terjemahan dan tafsiran kita. Di India memperhatikan orang-orang miskin ini satu hal yang bagus dan mulia.

Rumah sakit mereka, fasilitasnya modern sekali, orang-orang miskin di tempat kita (Indonesia) dapat JAMKESMAS/ JAMKESDA tidak ada bedanya dengan orang-orang yang penghasilannya milyaran rupiah, boleh memanfaatkan fasilitas kalau diperlukan dan harus dilayani oleh rumah sakit. Jadi di kelas VIP itu, orang miskin juga masuk kalau diperlukan perawatannya dan alat-alatnya tidak ada bedanya dengan orang-orang kaya, boleh, dijamin oleh negara, tanpa membayar. Kalau ada rumah sakit yang menolak pejabatnya akan dicatat dan dipidanakan bila tidak melayani orang miskin, padahal dia memerlukan perawatan yang alatnya yang ada hanya di situ.

Kemudian, dalam perdagangan, kita harus belajar juga. Barangkali ada teman-teman yang juga menjadi bupati, walikota ini pengalaman dari India. Mereka di sana membangun mall atau supermarket itu tidak di dalam kota tapi di pinggir kota jaraknya 30-40 km di luar kota.

Saya sangat senang, ini luar biasa, saya memuji kebijakan ini karena apa?, kota New Delhi yang luas itu kotanya itu banyak sekali pasar-pasar kumuh, bebas perdagangannya. Ekonomi rakyatnya hidup menggeliat setiap hari. Mereka tidak mengeluh karena ada tempat usahanya.

Negara industri maju seperti India pertaniannya masih hidup. Pertaniannya maju dipertahankan oleh negara ekonomi tradisional di pasar-pasar di pertahankan tidak diusir mereka. Mall-mall boleh bagi orang kaya, yang jumlah orang kaya juga tidak sedikit. Dari 1,2M penduduk India, 300 jutanya itu orang menengah ke atas, 25%.

Saudara-saudara saya tidak ingin kita mengkhayal tentang India, tetapi menarik untuk kita kaji. Seperti yang dikatakan oleh Alkitab tadi, kita harus punya visi, punya kemauan. Meskipun kita miskin tapi kita bisa dengan kemurahan menolong orang lain. Kita bisa berdikari.

Saya melihat perkembangan CU selama ini sudah melakukan hal-hal seperti ini, kita adalah kalau disebut koperasi orang miskin dari uang kita sendiri, modal kita sendiri untuk menolong saudara-saudara kita yang miskin.

Ketika saya membahas UU perguruan tinggi rektor Trisakti mengakui dan menyinggung CU di Kalimantan berkembang dengan bagus dan dia memuji dan mempelajarinya. Dia ingin memperkenalkan dan mendukung dalam perguruan tinggi jangan sampai orang hanya melihat perguruan tinggi hanya tempat untuk mengejar ilmu pengetahuan tetapi tidak tahu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam praktek kehidupannya, tidak bisa berwiraswasta.

Kelompok Ciputra memperkenalkan kewirausahaan ini sejak dini. Kita latih anak-anak kita meskipun tidak pendidikan tinggi tetapi dia pintar cari uang, berkarya, memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Bukan mencari pekerjaan tapi menciptakan lapangan kerja. Ini yang mau kita kembangkan dan saya berharap Credit Union menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan upaya-upaya semacam ini.

Siapa yang nonton Kick Andy tadi malam?, ada cerita seorang kepala desa di Jawa Barat, dengan penduduk desa sekitar 2.900. Dia melihat kemiskinan di desanya, banyak rumah kumuh sebagai orang miskin. Dia memulainya dengan satu komitmen mengajak warga desanya melaksanakan program mengumpulkan 100o rupiah per hari entah melalui celengan di rumah atau di tempat celengan umum sambil mendata dan mencatat.

Setiap bulan terkumpul 4-8 juta dan setiap bulan ada rumah-rumah orang miskin yang dibangun dengan kumpulan uang 1000 rupiah. Selama 2 tahun lebih mereka sudah membangun 70 buah lebih rumah-rumah dan dia (kepala desa) bertekad sampai akhir periodenya 2014 masih ada seratusan lebih rumah dan ini sudah ada daftar tunggunya, diseleksi serta studi kelayakan. B enar-benar dilihat layak tidak dibangun ini benar-benar miskin tidak?.

Saudara-saudara ini tontonan yang bagus dan tidak kebetulan Andy F. Noya mendapat award sebagai presenter terfavorit yang disukai banyak orang yang ditunggu-tunggu kalau dia hadir. Karena ia memberi inspirasi kepada kita untuk menghadapi kesulitan dengan segala kelemahan dan kekurangan. Di dalam nast kita tadi sudah kita bacakan“Meskipun Kamu Sangat Miskin Tetapi Kamu Kaya Dalam Kemurahan” terbuka untuk menolong orang lain mempercaya orang lain.

Saya harap melalui perayaan HUT CU ke-8, malam ini kita semakin dekat dengan Tuhan yang kaya dengan anugerah, dengan kemurahan dan jiwa kita semakin maju ke depan agar CU ini semakin besar. Saya bisa bayangkan CU ini semakin besar, jangan sampai CU ini menjadi lahan perebutan bagi berbagai kepentingan, ingat sejarahnya credit union.

Baru-baru ini kami di DPD ikut menyelesaikan 1 sengketa perguruan tinggi di Sulawesi, yang juga menjadi besar dan terjadi kelahi antar pemiliknya orang-orang di yayasan ada saudara yang sepupu, saudara kandung karena rebutan kekuasaan. Ketika sudah menjadi besar akan muncul godaan untuk memperebutkan kekuasaan karena di sana ada uang yang banyak.

Saya berharap ini tidak terjadi dengan Credit Union tetapi kita wanta-wanti dulu. Credit Union ini besar bisa jadi, ada pertikaian, sengketa merebut kekuasaan. Kalau ini terjadi, kita lupakan itu, kita mulai dari orang miskin bisa menolong orang miskin jangan sampai kita lupa diri lalu kita ingin kaya sekaya-kayanya dan menindas orang miskin.

Saya berharap ke depan saya akan datang ke kota ini untuk melakukan riset, saya mencari waktu agar ada talk show di TVRI untuk memperkenalkan visi dan misi dari CU ini. Tantangan ke depan yang saya tahu salah satunya yang pernah Pak Amu ungkapkan kepada saya, Undang-Undang koperasi yang sedang digodok DPRRI, jangan-jangan kita nanti akan dikenakan pajak yang cukup besar.

Tapi, intinya saya sangat senang dengan ulang tahun ini. Ingat angka 8 tadi ini angka ilahi, angka yang tidak terbatas, angka surga. Mari kita dekatkan diri dengan Tuhan, kita jaga komitmen kita, kita teruskan perjuangan kita, kita menolong orang banyak yang memerlukan pertolongan kita.

Walaupun kita banyak modal, banyak anggota, jangan kita kita lihat itu. Kekayaan itu dibuktikan dengan kesediaan kita berbagi menolong orang. Jadi jangan mengukur kekayaan dengan berapa yang kita peroleh, namun berapa yang kita bagikan untuk menolong orang dalam substansial bukan sekedar basa-basi.

Majulah Credit Union, tambah usia, tambah komitmen, tambah banyak yang kita kerjakan. Seperti dalam UUD kita menjadi bagian dari amanat UUD. Negara memelihara orang-orang miskin, kita adalah warga negara, mungkin kita miskin, tetapi kita bisa membantu lewat Credit Union, Amin.

Sumber berita: transkrip pelayanan firman Pendeta Rugas Binti.

Sumber foto: Rokhmond Onasis


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Monday, April 18, 2011
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved