Headlines News :

Palangkaraya Dinilai Paling Pas Jadi Ibukota

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, July 28, 2010 | 12:21 AM

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terpilih dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, Desmond Mahesa, menilai kota paling cocok di Pulau Kalimantan untuk menjadi Ibukota adalah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ada beberapa alasan Desmond mendukung Palangkaraya.

"Ini sebetulnya bukan hal yang baru karena sebelumnya Soekarno pun pernah mendesain hal ini kan," kata Desmond kepada VIVAnews, Senin 26 Juli 2010. "Kalau memang mengikuti hitung-hitungannya Bung Karno dulu, ya memang di Kalimantan Tengah lebih cocok: Palangkaraya," kata politisi Partai Gerakan Indonesia Raya itu.

Desmond menilai, Palangkaraya secara geografis dan pertahanan, cocok sebagai Ibukota. Kemudian, bicara pengembangan Indonesia, Palangkaraya masih terbuka luas untuk dikembangkan.

"Bicara mengenai pengembangan Indonesia ke depan tentunya usulan ini saya dukung. Kita di Jakarta sekarang sudah terjebak dengan situasi macet dan macam-macam kan," ujarnya.

Desmond lebih mendukung Kalimantan Tengah daripada Kalimantan Timur yang menjadi dapilnya karena alasan pertahanan. "Kalau menurut saya, Kalimantan Timur terlalu dekat dengan negara lain. Dari segi pemikiran Bung Karno, hal itu tidak tepat. Itu kan dalam rangka persoalan pertahanan kan," katanya.

Dari segi infrastruktur pun, kawasan tengah lebih mudah dibangun daripada yang di timur. "Ditambah lagi kalau di tengah itu kan letaknya di tengah-tengah Kalimantan sehingga jadi untuk distribusi informasi dan macam-macamnya untuk jangka panjang kan lebih cocok," ujarnya.

Kemarin Wakil Ketua Komisi II Teguh Juwarno melempar isu pemindahan Ibukota ke Pulau Kalimantan. Menurut Teguh, kemacetan dan potensi bencana alam di Jakarta sudah cukup menjadi alasan memindahkan Ibukota seperti yang digagas Bung Karno dulu.

Sumber :Viva News

By Arfi Bambani Amri, Mohammad Adam - Selasa, 27 Juli 2010

BUPATI RAIH PENGHARGAAN BAKTI KOPERASI & UKM Sebagai Tokoh Penggerak Koperasi, Diterima dari Presiden di Surabaya

Written By Fidelis Harefa on Tuesday, July 20, 2010 | 3:23 AM

SENDAWAR – Bupati Kubar Ismael Thomas SH, M.Si menerima penghargaan Bakti Koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah) sebagai tokoh penggerak koperasi dari Kementerian Koperasi dan UKM RI. Penghargaan berupa piagam dan medali tersebut  diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Koperasi Nasional yang dipusatkan di Makodam V Brawijaya, Surabaya, Kamis kemarin (15/7).

Presiden menuturkan, koperasi merupakan cara yang paling efektif untuk menurunkan kemiskinan dan pengangguran. Indonesia merupakan negara berkembang, yang masih harus mengatasi segala persoalan penduduk yang besar. Dalam membangun ekonomi masyarakat tidak bisa mengikuti model atau sterategi negara lain yang penduduknya lebih sedikit.

Dilanjutkannya lagi, yang bisa mengangkat seluruh tarap hidup masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Marauke adalah ekonomi rakyat yang di dalamnya koperasi, usaha mikro dan usaha kecil. Sehingga jangan ragu-ragu lagi mengembangkan koperasi. “Saya akan bersama-sama saudara semua, para kepala daerah untuk menyukseskan pembangunan koperasi,” kata Presiden.

Presiden mengintruksikan dan mengajak  di tahun-tahun mendatang lebih serius lagi agar koperasi terus berkembang. Banyak yang harus kita kerjakan agar kesejahteraan rakyat semakin baik, kemiskinan dan pengangguran berkurang. “Saya mengajak untuk melakukan hal-hal sebagai berikut untuk meningkatkan koperasi semakin baik dan maju serta memberikan manfaat bagi anggota,” kata Presiden. Koperasi  di seluruh kabupaten dan kota harus ditambah untuk memperkuat ekonomi rakyat. “Koperasi dijadikan sebagai wahana untuk menolong diri  pribadi dan anggotanya,” terang Presiden.

Bupati Ismael Thomas mengatakan, niat membangun koperasi di Kubar untuk mendorong ekonomi masyarakat, supaya betul-betul tumbuh dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Koperasi juga bertujuan untuk mendidik para generasi muda supaya memiliki semangat membangun, jangan sampai generasi muda hanya berpikiran ingin menjadi pegawai atau menjadi karyawan,” kata Ismael.

Kata dia, koperasi juga sebagai langkah untuk memupuk semangat bergotong royong di masyarakat, di mana masyarakat Kubar sangat terkenal dengan sempekat (gotong royong), sehingga dengan adanya koperasi bisa menghidupkan kembali budaya sempekat.

“Saya sangat yakin melalui budaya sempekat yang merupakan warisan nenek moyang yang sangat bernilai, tentu bisa memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya. Di Kubar ada 735 koperasi yang ada terdiri dari koperasi simpan pinjam, serba usaha, keagamaan, kepemudaan, dan koperasi PKK. Pemerintah kabupaten selalu membantu pengadaan  modal koperasi.

Sumber berita: www.kaltimpost.co.id

Sumber foto: www.kubarkab.go.id

Drs. F.X Manesa, M.Pd : “Semua anggota berhak untuk mengingatkan pengurus, manajemen, maupun anggota yang menyimpang”

Written By Fidelis Harefa on Saturday, July 17, 2010 | 1:56 PM

Pengawas adalah bagian dari struktur Credit Union Betang Asi. Orang-orang yang duduk disini tentu saja dipercaya mengemban tugas yang berat. Ibarat permainan sepak bola agar bermain di dalam koridor, peran wasit sangat diperlukan. Kartu kuning akan diberikan kepada pemain yang tidak bermain fair play, terlebih-lebih kepada pemain yang tidak sportif akan diberikan kartu merah.

Di CU Betang Asi Drs. FX. Manesa, M.Pd, adalah ketua pengawas yang dibantu oleh Syamsi Mahar yang duduk di sekretaris dan Sewantapuja, S.Pd sebagai anggota. Saat ini Manesa sebagai kandidat doctor di Universitas Negeri Malang. Setengah jalan sudah dilaluinya agar bergelar doctor dengan disertasinya yang fokus pada teknologi pembelajaran.

Medio Juli lalu tim web cubetangasi.com, mewawancarai Manesa sebagai ketua pengawas di CU Betang Asi, berikut petikannya:

Selama 7 tahun CU Betang Asi berjalan, apa suka dan duka yang Bapak alami sebagai pengawas?

Aspek suka, kepengawasan dilihat dari kegiatan manajemen atau pengurus itu berjalan dengan lancar dalam arti kemajuan lembaga dari aspek pertumbuhan anggota, asset maupun persebaran wilayah, sesuai dengan harapan, berarti lembaga itu maju.

Jadi kegiatan lembaga CU adalah kegiatan tim, kalau semua elemen itu maju berkembang untuk memajukan masyarakat, itulah kebahagiaannya. Pengawas juga berfungsi untuk mensupport agar permainan itu berjalan dengan baik dan semua elemen atau system yang dikembangkan berjalan dengan baik, mencapai hasil yang diharapkan, kami sebagai pengawas memantau apakah dilaksanakan oleh pengurus, manajemen maupun anggota dengan baik.

Hal-hal yang tidak mengenakkan apabila sudah memberikan peringatan berkali-kali, masih saja keliru pada umumnya di sisi anggota. Pada sisi manajemen, ada staf yang belum menujukkan pemahaman maupun kemampuannya sehingga pelayanannya kepada anggota tidak seperti yang diharapkan. Kita melihat ada hal-hal yang keliru meskipun tidak disadari. Kekeliruan itu terjadi karena kesulitan yang mereka hadapi. Itulah duka yang kami alami. Wilayah yang dijangkaupun cukup luas, sementara tenaga kita hanya tiga orang. Ini menjadi kesulitan tersendiri untuk menjaga sebuah permainan tim di medan yang cukup luas, harus dijangkau sedemikian rupa.

Kendala dan tantangan apa yang dialami selama mengawas di CU ini?

Kendala yang dihadapi pertama, adalah pemahaman anggota masih sulit untuk kita benahi. Anggota lebih banyak melihat CU sebagai satu peluang, tapi lupa pada kemampuannya. Peluang ini bisa menjadi kesulitan bagi anggota. Artinya sebagai anggota CU yang  melakukan simpan pinjam, aspek pinjaman oleh anggota menghitung pada aspek maksimal, tapi tidak melihat kemampuan dalam mengembalikan pinjaman.

Tapi di tengah jalan mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya. Artinya pengembalian pinjaman menjadi sulit, kita melihat itu menjadi kendala serta dilematis, lembaga kita peringatkan, tapi unsur kekeliruan ada pada anggota, juga lemahnya lembaga.

Kami dari pengawas melihat hal-hal seperti itu mendorong dan menyelamatkan anggota agar tetap bertumbuh secara pelan-pelan dan tidak keluar dari lembaga, jangan karena kesulitannya malah keluar dari lembaga.

Kendala kedua, kita melihat bahwa luasnya wilayah untuk menjangkaunya memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang cukup tinggi. Misalnya kita harus ke Telok (Tumbang Samba, Katingan), harus ke Tumbang Malahoi (Rungan), kemudian di Kuala Kurun, kemudian harus ke Banjarmasin. Di kantor pusat (Palangka Raya), jadi luasnya ini memerlukan mobilisasi, tenaga dan kemampuan pengawas, ini merupakan kendala, karena ada di antara pengawas yang belum mampu dan mabuk di kondisi jalan demikian sehingga bekerja tidak maksimal.

Dengan kata lain Bapak mengatakan kurangnya tenaga kepengawasan itu sendiri di satu lembaga yang sudah besar?

Jika kita menggunakan bahasa kendala berarti aspek eksternal, bukan internal. Jadi pada aspek internal pengawas, menuntut begitu. Di sisi lain pekerjaan pengawas seperti pak Syamsi sebagai guru SMP di Sepang Kota, Pak Sewan sebagai kepala dinas cabang di Sepang dan saya sebagai pengajar di Palangka Raya sambil mengikuti kegiatan pendidikan, namun ini sisi dalam bukan kendala. Tapi satu kesulitan bagi kegiatan kepengawasan, sementara harus dituntut oleh lembaga.

Itu tuntutan ya?, jadi mau tidak mau ketiga pengawas ini benar-benar harus optimal!

Ya, harus berusaha begitu (optimal), sementara ada satu sisi kendala transport yang sulit untuk menjangkau itu dan kemampuan fisik belum mampu.

Kalau tantangannya bagaimana Pak?

Saya kira pertumbuhan anggota dan asset menjadi tantangan kita harus melihat dan mampu mengawasi anggota bagaimana dia melakukan aktifitasnya berCU supaya dapat berjalan dengan baik. Semakin melebar dan semakin banyak anggota bertumbuh, semakin besar asset.

Di satu sisi kita menjaga anggota, asset, lembaga bertumbuh dan memberikan pelayanan benar dan baik kepada masyarakat untuk memberikan ruang masyarakat sebagai individu maupun komunal masuk menjadi anggota CU.

Di satu sisi juga masyarakat dengan asetnya (uangnya) mampu bertumbuh untuk menjaga dan memelihara kekayaannya sebagai jaminan pada hari tuanya. Jadi tantangannya adalah menjaga agar pertumbuhan berjalan pada koridor yang benar dan baik.

Berbicara dampak, sejauh mana dampak dari kegiatan kepengawasan untuk pengurus, juga untuk manajemen?

Pengurus sudah memperhatikan laporan pengawas pada sisi yang pentingnya dan pengurus mengambil kebijakan-kebijakan penting untuk kemajuan lembaga sehingga sampai saat kami bisa melihat kemajuan lembaga sesuai dengan harapan. Meskipun setiap tahun tidak bisa 100% tercapai baik asset maupun pertumbuhan anggota, tetapi standar pertumbuhan sudah mencapai, meskipun target program belum 100% tercapai. Pengurus telah mengambil kebijakan-kebijakan berdasarkan hasil kepengawasan, untuk menjaga lembaga ini tetap eksis.

Pada aspek manajemen, kita melihat bahwa pelayanan kepada anggota sudah berjalan, meskipun dari standart yang diharapkan belum memuaskan, misalnya kredit macet di bawah 5% di setiap tempat pelayanan, tetapi masih saja di atas itu (5%). Ini juga bukan hanya dari sisi manajemen, ada juga anggota berkontribusi mengakibatkan kredit macet. Jadi kalau manajemen harus dengan harga mati berpatokan pada standart kredit macet di bawah 5%, maka akan sangat selektif memberikan pinjaman, itu mengurangi ruang untuk anggota bertumbuh.

Aspek manajemen juga memperhatikan saran-saran yang dilakukan oleh pengawas dalam mereka menjalankan kegiatan CU dan melayani anggota. Kami tetap menekankan pada pelayanan yang benar dan baik. Meskipun begitu, kita juga harus memberikan ruang kepada pihak manajemen untuk melakukan kebijakan-kebijakan selama bisa memajukan lembaga, tetapi tidak menyulitkan pada anggota yang bersangkutan dalam kemampuannya menjalankan aktivitas berCU.

Hasil kepengawasan terkesan lambat dilaksanakan dan tidak dieksekusi di lapangan pada tingkat pengurus maupun manajemen, ini menimbulkan bias bagaimana pandangan Bapak?

Ini sebenarnya di luar aspek kepengawasan, karena eksekusi bukan bagian kepengawasan, eksekusi bagian pengurus dan manajemen. Keterlambatan ini barangkali dari pengawas berharap meminimalkan bias ini. Tetapi memang sebuah kesulitan pada pengawas menjembatani antara manajemen yang menjalankan kebijakan yang dihasilkan oleh pengurus, kemudian anggota yang mempergunakan fasilitas, tetapi setelah berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Dari sisi kepengawasan sebaiknya dieksekusi, tetapi dari pertumbuhan asset dan anggota tetap dipelihara kekeliruan itu. Selama memang mungkin dikatakan sebagai musibah yang dihadapi oleh anggota kita harus membina anggota.

Dari sisi anggota yang menyebabkan bias itu, anggota salah persepsi, memang ini harus selalu ditekan sedemikian rupa untuk mengembalikan supaya target-target meminimalkan bias terjadi. Dalam kondisi bias itu menyebutnya kesalahan yang dilihat oleh suatu pihak sebagai satu peluang dengan kesulitan pengurus maupun manajemen melakukan eksekusi, sehingga memberikan ruang terjadinya itu.

Kita melihat pihak yang salah harus tetap bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan dalam rangka memajukan lembaga CU. Jangan sampai orang yang baik dan benar serta berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dan kesejahteraan di masa yang akan datang menjadi korban atas tindakan sebagian atau beberapa orang yang salah persepsi, jadi kondisi bias ini harus diperbaiki.

Saya melihat ada gejala beberapa kawan yang memiliki sejumlah dana kemudian menyimpannya di CU, kalau CU bisa menjualnya kepada anggota yang lain itu tidak jadi masalah. Tetapi manakala CU kesulitan untuk menjual kepada anggota yang lain, maka sebenarnya dari sisi anggota itu sudah bias.

Semestinya kalau mau memelihara CU, sesungguhnya dia menumbuhkan kemampuannya dengan meminjam dan menyimpan di CU, aktivitas ini menumbuhkan CU. Dia memperoleh imbalan yang cukup besar dari pelayanan CU, atas dasar CU mampu memasarkan uang itu kepada anggota CU yang lain. Ada anggota CU yang tidak meminjam di CU, tetapi meminjam di tempat lain karena bunganya lebih murah lalu menyimpan di CU karena bunganya lebih baik/ besar, maka sebenarnya bukan menumbuhkan CU, dia hanya mau cari keuntungan sendiri, bukan mau memajukan CU.

Jadi bukan karena orang yang terpaksa menumbuhkan CU dan ini tidak selalu bagus untuk perkembangan CU pada aspek anggota itu sangat mungkin terjadi, anggota yang diberi kesempatan dapat meminjam di tempat lain.

Dengan kata lain, berarti Bapak melihat salah satu sisi kelemahan  di lembaga CU, orang hanya memanfaatkan bunga simpanan yang tinggi, tetapi dalam hal dia meminjam agar lembaga ini semakin besar, dia tidak peduli!

Saya melihat ini peluang di tingkat pengurus, semestinya bunga simpanan itu bisa ditekan sehingga nanti balas jasa pinjamannya diperbesar. Nilai pinjaman menjadi lebih tinggi,  sehingga balancingnya antara orang meminjam di CU dan menyimpan di CU dapat diperoleh.

Tetapi memang pemikiran ini belum bisa difasilitasi oleh system CU yang ada sekarang. Sesungguhnya kalau pemahaman CU benar di anggota maka dia mestinya menumbuhkan CU dengan meminjam di CU, jadi bukan hanya mencari keuntungan sendiri, tetapi membawa kepentingan bersama dengan menyimpan maupun meminjam di CU, bukan meminjam tempat lain dan menyimpan di CU, ini pemikiran anggota yang bias.

Harapan Bapak ke depan untuk CU Betang Asi dalam konteks pengawasan bagaimana?

Harapan saya, kemajuan dari Betang Asi tergantung dari pengurus, manajemen dan anggota. Pada sisi pengawas dia hanya sebagai wasit, sebagai wasit sebenarnya tidak bisa bermain, tidak bisa menentukan kebijakan-kebijakan.

Saya juga mengharapkan satu, pengawasan ada dari kerelaan anggota atau elemen-elemen Betang Asi untuk menjaga Betang Asi bertumbuh dengan baik. Meski tidak berada pada struktur pengawas tetapi kita sebagai anggota kita ikut mengawasi hal-hal yang keliru baik pada anggota maupun pengawas. Semua anggota berhak untuk mengingatkan pengurus, manajemen, maupun anggota yang menyimpang, karena kerugiannya pada semua elemen CU.

Pada sisi regenarasi pengawas saya berharap terjadinya regenarasi yang membaik, artinya ada masuk elemen baru untuk berfungsi di dalam lembaga.

Dan ketiga kami berharap bahwa aspek manajemen maupun anggota tindakan berCUnya tidak menyulitkan para pengawas untuk melakukan pengawasan

Bisa dijelaskan lebih lanjut tindakan berCU itu?

Pada aspek mempergunakan fasilitas CU, misalnya meminjam di CU diharapkan memang berdasarkan kemampuan, jangan lebih dari kemampuan. Kita membayangkan kita mempunyai kemampuan tertentu, meskipun nanti ada kebijakan di bagian kredit untuk memutuskan bisa/ tidak, tetapi jauh lebih baik kalau kita sebagai anggota kita bisa mengukur kemampuan, tidak pada kemampuan maksimal, tetapi pada saat kita mengalami kesulitan sehingga tidak terjebak pada dilematis pengembalian pinjaman.

Jika kita punya pinjaman sementara tidak mampu mengembalikan pinjaman, sehingga barang-barang  kita harus kita korbankan. Nah kadang-kadang orang tidak mau barang-barangnya dikorbankan, artinya orang bisa mempergunakan CU dengan baik untuk menumbuhkan kesejahteraan maupun kemampuan keuangannya pada masa yang akan datang. Jika persentase 15% per tahun itu maka pada 5 tahun akan menjadi 2 kali lipat, pemahaman inilah yang harus dipahami oleh anggota, kalau dia mengalami kesulitan justru ini menjadi tidak tercapai.

MARKO MAHIN: “MENGGANTI BAHASA, MENGGANTI ETNIS”

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, July 14, 2010 | 3:38 AM

Kondisi sekarang kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah semakin terhimpit oleh budaya-budaya “modern”. Hal ini menyebabkan banyak anak muda Dayak yang tidak tahu bahkan tidak pernah melihat lagi kebudayaan leluhurnya. Budaya Huma Betang yang bernafaskan kebersamaanpun semakin luntur, di warnai oleh kepentingan-kepentingan non Dayak.

Awal Mei lalu KR berkesempatan bertemu dan mewawancarai Pdt. Dr. Marko Mahin, S.Th saat berada di Palangka Raya. Antropolog muda Dayak ini dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh KR, berikut petikannya:

Sikap anda terhadap nilai-nilai budaya Dayak yang semakin luntur?

Sebagai antropolog saya mau realistis melihat bahwa tidak ada budaya yang menetap dan selalu dalam keadaannya begitu-begitu saja dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun. Kebudayaan itu bergerak dinamis, cair, akan mengalami perubahan-perubahan. Bisa saja ada bagian yang hilang, berkembang, ada bagian yang beradaptasi dengan baik dan itu masih kita jumpai sekarang.
Ada juga yang tidak bisa beradaptasi dengan baik karena mengalami inovasi-inovasi dan perubahan-perubahan. Jadi masalah apakah dia semakin luntur atau tidak, itu tergantung cara kita melihat. Ada beberapa bagian budaya kita yang memang harus kita lunturkan dengan sengaja.
Misalnya budaya pinjam meminjam, kita meminjam, kalau ada pinjam, anda harus kembalikan. Anda bukan meminta dan barang itu bukan diberikan. Jadi memang ada budaya yang memang harus kita lunturkan dengan sengaja. Lalu kemudian budaya-budaya tertentu yang negatip ini harus dilunturkan dengan sengaja. Tapi yang positipnya harus dikembangkan. Nah ... perdebatan budaya yang luntur ini memang ada bagian yang harus kita angkat, ini semakin dipertegas.

Kondisi selama ini budaya Dayak Kalimantan Tengah, menurut anda lebih banyak diangkat atau dihilangkan?

Kita tidak bisa menghitung persentase kebudayaan itu ya, kalau kita berbicara kebudayaan itu kita berbicara gerak bukan berbicara kuantitatif yang persennya berapa. Jadi geraknya cukup dinamis.
Misalnya dulu orang Kalimantan tidak pernah terpikir territorial, mereka hanya berfikir berdasarkan alur sungai. Pembagian dunianya berdasarkan sungai, tapi ketika mereka bertemu dengan state, dengan Negara Indonesia mereka mulai berfikir, territorial kami ada di wilayah ini dan mulai berfikir provinsional. Itu berarti sungai tidak compatible dengan jaman, tetapi kita dengan cepat merubah itu. Makanya muncul Kalimantan Tengah, yang tidak mau berfikir menggunakan alur sungai lagi tetapi dengan cara territorial, saya pikir itu bagus.
Kalau dilihat yang luntur-lunturnya ada beberapa harus kita akui memprihatinkan. Bahasa misalnya, bahasa itu jelas indicator kelunturan, kalau kita tidak mau melihat tergerus. Ada banyak orang yang sudah malu berbahasa Dayak, tidak bisa berbahasa Dayak bahkan dengan terang-terangan mengajar anaknya di rumah bukan bahasa ibu. Saya senang kalau berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia, tapi jangan bahasa daerah juga, masa memiliki bahasa daerah sendiri lebih bangga memakai bahasa daerah yang lain, itu yang mungkin jelas terlihat.

Selain bahasa apa, misalnya kesenian Dayak yang lain?

Kalau kita melihat secara kuantitatif selain bahasa ya ... agama. Jelas orang-orang Dayak dulu pada mulanya adalah Kaharingan semua. Karena invasi dari agama besar akhirnya hanya tinggal sekitar 200.012 orang yang Kaharingan dan akibatnya karena Kaharingan sebagai pandangan hidup tersisihkan itu berakibat langsung ke lingkungan hidup.

Ya... karena ajaran agama-agama semic, kemudian kedatangan laju pembangunan yang tidak terkontrol, kemudian kedatangan investor yang merajalela alam kita hancur. Padahal dulu sebelum ada itu, orang sangat bersahabat dengan alam dan merupakan bagian dari alam. Jadi konsep penaklukan dunia itu jelas sekali impactnya ke lingkungan hidup, alam ditaklukan, dikeruk, dimanfaatkan sehabis-sehabisnya. Sampai sekarang kan sisanya lingkungan kita yang rusak.

Penilaian anda terhadap tokoh-tokoh tua Dayak sekarang , apakah mereka turut mewariskan atau malah melunturkan budaya-budaya Dayak itu sendiri?, misalnya tadi orang tua malah mengajarkan bahasa ibu yang lain kepada anaknya?

Kita harus perjelas dulu mengenai orang tua ini dan orang tua yang secara posisi sosial (para tua-tua adat) adat yang sebagai orang tua biologis adalah victim atau korban dari proses dedayaktisasi yang berpuluh-puluh tahun.
Jadi dia merasa menjadi Dayak itu rendah, primitive, ketinggalan jaman, kampungan, udik. Lalu dalam rangka adaptasi dan pertahanan diri dia mencoba memakai bahasa yang lain, itu terjadi semenjak abad ke-14 ketika orang-orang Dayak mulai konversi ke Islam mereka wajib mengganti bahasa ibunya memakai bahasa Melayu, karena sebenarnya bukan mengganti etnis tapi mengganti bahasa. Tapi ketika anda mengganti bahasa otomatis mengganti etnis.

Pesan dan harapan anda untuk mewariskan budaya-budaya Dayak?

Saya tidak berbicara mengenai pewarisan-pewarisan, tapi lebih bagus saya menggunakan kata pengelolaan. Kalau saya mewariskan berarti ada satu benda yang bisa berupa Mandau, Guci, sehingga saya tidak mau dengan konsep museumnisasi yang melihat kebudayaan hanya sebagai artefak-artefak.

Tapi saya mau melihat budaya itu sebagai nilai, secara universal, mulia, luhur dalam kebudayaan Dayak itu harus kita kembangkan, kapan perlu itu harus kita sebarkan ke orang-orang lain. Kebudayaan ramah terhadap alam melihat Tuhan itu ada di sekitar dirinya itu penting.

Budaya Huma Betang

Pandangan anda terhadap budaya Huma Betang bagaimana?

Secara jujur saya tidak pernah tinggal lama di rumah betang, tapi saya pernah berkunjung dan diam di rumah betang sewaktu saya mengadakan penelitian. Misalnya di daerah Tumbang Malahoi, Kalimantan Tengah, di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur juga di Kalimantan Barat.
Bagi saya budaya betang yang paling baik itu adalah sebenarnya budaya komunal dan kebersamaannya. Jadi komunal itu adalah sehati, sepikir, sejiwa, sepenanggung, seperasaan, saling memperhatikan walapun ada sisi negatifnya juga, kita harus akui tidak semua betang itu positif.
Misalnya karena menerapkan budaya komunalisme, ada orang yang bermental parasit dan malas bekerja sehingga menggerogoti system itu, karena dia pikir walaupun tidak bekerja saya pasti mendapat bagian dari komunitas saya. Dalam istilah antropologi itu Tragedy of Command, kebersamaan-kebersamaan itu justru dipakai oleh sekelompok orang untuk menggerogoti system. Kalau sistemnya bisa berjalan, orang yang bermental parasit itu akan dipelihara.
Budaya betang juga menghalangi orang yang bermental kompetisi, karena di dalam konsep komunalisme itu tidak boleh ada yang lebih menonjol dalam ekonomi maupun pemikiran. Semuanya harus bulat dan rata, dalam bahasa dayak ngaju dikenal “paras kajang”. Walaupun kita punya kelebihan itu harus ditahan, jangan ditonjolkan, itu membuat orang Dayak yang punya kemampuan tidak terlalu diekspos, karena template kita berfikir kita begitu. Kalaupun punya kemampuan dan kapasitas, tahan dulu. Itu sisi negative budaya betang, dan kita harus berani mengkritisi, walaupun sisi positipnya kita menjunjung tinggi.
Saya juga menyukai budaya betang secara konsep, kita membangun konsep Negara mikro. Di dalamnya kita melihat ada kesejahteraan bersama dan kepemimpinan jelas oleh orang lokal, bukan oleh orang luar. Jadi sangat jelas demos rakyat setempat itu dihargai, Demos yang memimpin di situ bukanlah dropan-dropan orang luar, itu konsep Negara dalam tataran mikro dan itu penting untuk pemberdayaan. Yang perlu kita pikirkan jangan sampai rumah betang ini tenggelam dalam konsep state, Negara yang besar ini yang menghancurkan kita.

Langkah-langkah apa yang bisa kita ambil untuk mewariskan hal-hal positip itu?

Bagi saya yang perlu diwariskan adalah komunal yang dikenal dengan kebersamaan. Dalam bahasa sosial ini kan disebut modal sosial dan ini harus kita kembangkan. Efek barat yang paling buruk yaitu individualisme. Jadi hak-hak pribadi mesti dihargai, tapi kita di sini adalah komunalisme itu penting bagi gerakan sosial kita.
Bagi saya sekarang rumah betang itu imaginer, itu adalah rumah imagi orang-orang Dayak kita tinggal di rumah betang bersama Kalimantan Tengah, tapi masalahnya adalah spiritnya apa, kan kebersamaan. Kita tetap tinggal di rumah masing-masing tapi kita merasa bersama dengan yang lain itu yang harus disosialisasikan bahwa kita tinggal dalam satu rumah, kita harus menjaga, membersihkan, mengatur dengan baik dan tentu saja yang mengaturnya bukan orang lain.
Tidak boleh ada orang lain yang mengatur rumah tangga kita sendiri termasuk dengan tata undang-undangnya, kepemilikannya, agamanya tidak boleh orang lain mengatur kita harus mengikuti agama ini, agama itu.

Dalam hubungannya mewariskan budaya rumah betang , menurut anda apakah suhu politik di Kalteng mendukung untuk hal itu?

Di sini ada dua gerakan, pertama gerakan debetangnisasi, ada orang yang mau rumah betang itu utuh, tak mau dipilah-pilah menjadi kotak ini dan itu.
Kedua yang menarik lagi betang itu mau dibuat kabur konsepnya lalu akhirnya orang yang tadinya cuma tamu di rumah betang itu, dan ada di pelataran tiba-tiba dia bisa ada diruang utama dan memimpin rapat. Bagi saya konsep begitu bukan genuine Dayak dan menghianati konsep rumah rumah betang.

Dengan kata lain kita harus menghormati orang-orang lokal?

Saya 100% harus seperti itu, orang lokal bukan orang bodoh mereka tahu dan punya cara untuk mengatur negeri, rumah tangga, lingkungannya. Orang luar belum tentu tahu walaupun mungkin bisa, tetapi lebih baik orang setempat.

Tulisan ini juga dimuat di majalah Kalimantan Review (KR)
Sumber foto: www.ui.ac.id

SYAER SUA, HIDUPKAN HUMA BETANG

Written By Fidelis Harefa on Thursday, July 8, 2010 | 6:55 AM



Syaer Sua U Rangka

Oleh M Syaifullah dan Defri Werdiono

”Cita-cita saya hanya satu. Jangan sampai adat budaya Dayak ditinggalkan. Saya lihat adat budaya kita makin tenggelam, lama-kelamaan nanti tinggal menjadi legenda.”

Kata-kata itu diucapkan Syaer Sua, seniman Dayak Ngaju, saat ditemui di tempat tinggalnya di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, pada Juni lalu. Impian melestarikan seni budaya itulah yang menggerakkan Syaer Sua membangun dua huma (rumah) betang tahun 2002-2008.

Untuk mewujudkannya, pria bernama lengkap Syaer Sua U Rangka ini mendirikan bangunan rumah panjang khas Dayak, Kalimantan Tengah, itu di Tumbang Manggu, kawasan hulu Sungai Katingan. Ia sengaja tak membangun huma di ibu kota provinsi itu, Palangkaraya, tempatnya menapaki masa remaja selepas lulus sekolah rakyat.

Tumbang Manggu adalah kampung asal orangtua Syaer. Dia sendiri lahir di Bukit Rawi, Kahayan Tengah, Kabupaten Katingan. Masa kecilnya dihabiskan di tempat itu sebelum pindah ke Palangkaraya.

Sebelum hidup dan bermukim di rumah-rumah tunggal, masyarakat Dayak Kalimantan mendiami huma betang. Rumah itu dihuni puluhan keluarga yang umumnya masih kerabat. Satu kampung biasanya memiliki satu huma betang.

Sampai kini hal itu masih dilakukan. Sebagian dari mereka tetap tinggal di rumah panjang. Namun, sebagian lainnya sudah meninggalkan huma betang. Mereka hanya berkumpul di rumah betang ketika ada upacara adat.

”Saya ingin mempertahankan budaya betang. Oleh karena itu, saya membangun ini (huma betang) meski biayanya tak terhitung,” katanya.

Syaer Sua tak goyah walau ada orang yang menilai pembangunan rumah betang itu pekerjaan ”pemimpi”, bahkan dianggap aneh. Ia tetap berusaha mewujudkannya.

Tahun 2002, ia mulai mencari pohon ulin atau belian (Eusideraoxylon zwageri) di hutan adat sebagai bahan baku utama. Rumah pertama itu kemudian diberi nama Betang Bintang Patendu.

Lantai Rumah yang selesai dibangun tahun 2003 itu memiliki ketinggian sekitar empat meter dengan fondasi sekitar 70 pohon ulin. Luas bangunan utama 171 meter persegi. Sedangkan bangunan kedua, yakni dapur dan ruang makan, luasnya 135 meter persegi.

Tahun 2005-2008 Syaer Sua membangun huma betang kedua bernama Balai Basara Bintang Semaya. Luas bangunan utama yang ditopang 80 pohon ulin sekitar 300 meter persegi dan bagian belakang 96 meter persegi.

”Pembuatannya lama. Selain menyesuaikan dana, bahan baku kayu ulin harus dicari ke dalam hutan selama dua-tiga bulan. Untung ada perusahaan perkayuan membantu pengangkutannya,” ujarnya.

Karungut dan RRI

Memiliki rumah betang, bagi Syaer Sua, tak sekadar wahana untuk menikmati hari tua. Tetapi, sebagai tempat pengembangan seni budaya Dayak di pedalaman Katingan. Oleh karena sebelumnya, tahun 1970-1980-an ia menekuni dan mengembangkan seni karungut di Palangkaraya.

Karungut merupakan seni bertutur, semacam pantun atau syair tentang nilai moral, adat, perjuangan, bahkan pesan semangat untuk membangun. Seni ini diiringi ketabung atau kecapi khas Dayak, kakanong, suling, dan gendang. Bersama seniman lain, Syaer Sua bermain karungut di Radio Republik Indonesia (RRI) Palangkaraya setiap Minggu malam.

Penghasilan Syaer Sua diperoleh, antara lain, dari pembuatan album musik karungut yang mencapai 20-an buah.

Dari RRI, Syaer Sua kemudian dikenal sebagai salah satu pangarungut (seniman karungut) produkif. Ia tak hanya pandai melantunkan, tetapi juga mencipta ratusan judul karungut yang sifatnya spontan maupun tertulis.

”Saya lupa berapa banyak yang saya cipta, semua master rekamannya ada di RRI Palangkaraya,” katanya.

Syaer Sua juga populer. Pengemarnya tak hanya dari Palangkaraya, tetapi juga masyarakat di beberapa daerah pedalaman di Kalteng yang terjangkau siaran radio.

”Kami tahu karena kerap mendapat kiriman pesan dari pendengar di pelosok,” katanya.

Berkat kepiawaiannya, tahun 1970 Syaer Sua dipercaya pemerintah daerah tampil memainkan karungut serta tarian dayak di RRI dan TVRI Jakarta, termasuk pada peresmian Taman Mini Indonesia Indah. Bersama grup kesenian asal Kalteng, tahun 1992, Syaer Sua pentas di Spanyol, dan 1994 ia tampil di Kuala Lumpur, Malaysia, dan Singapura.

Dalam empat kali lomba musik karungut tingkat Kalteng, Syaer Sua selalu juara, sampai-sampai ia tak boleh lagi ikut berlomba.

Dia juga menjadi andalan Kalteng dalam olahraga sumpit. Beberapa kali ia meraih medali emas. Dia juga pernah melatih atlet sumpit Kalteng untuk Pekan Olahraga Nasional. Tahun 2001, ia diminta Panglima Kostrad untuk melatih keterampilan menyumpit kepada pasukan khusus.

Enggan jadi pegawai

Syaer Sua bercerita, dia sempat beberapa kali mendapat tawaran dari gubernur Kalteng untuk menjadi pegawai negeri atau terjun dalam partai politik. Namun, semua tawaran itu dia tolak.

”Saya tidak mampu melakukannya. Saya tidak suka politik yang banyak bohong,” katanya.

Penghasilan Syaer Sua diperoleh, antara lain, dari pembuatan album musik karungut yang mencapai 20-an buah. Ratusan ribu keping VCD atau DVD album karungut Syaer Sua beredar di Kalteng. Selain penggemarnya, album Syaer Suar juga diminati para pakar musik etnik dari mancanegara.

Dia bukanlah satu-satunya seniman karungut di Kalteng. Sedikitnya ada 10 pangarungut yang masih bertahan. Banyak anak muda yang masih menekuninya, terbukti dari keikutsertaan mereka pada lomba seni tradisional Dayak.

Buah dari usaha Syaer Sua itu dirasakan warga Tumbang Manggu. Kampung yang ditempuh selama empat jam perjalanan darat dari Kota Palangkaraya ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya dan alam yang menarik. Setiap tahun seratusan wisatawan mengunjungi kampung ini.

Mereka, antara lain, bisa menikmati karungut, belajar menyumpit, mencicipi minuman dan makanan khas warga setempat. Mereka juga bisa menjelajah hutan melalui riam-riam pada beberapa anak Sungai Katingan. Semua itu menjadi pengalaman tersendiri buat wisatawan yang merasakan tinggal di huma betang.

Pada perkembangannya, rumah betang menjadi terbuka bagi siapa saja yang cinta dan peduli seni budaya Kalimantan. Moto rumah ini: berbeda suku agama bukan penghalang, sudah membudaya dari nenek moyang, hidup rukun damai selalu berkembang, itulah yang disebut budaya betang.

”Saya tidak akan menyerah untuk bisa mewujudkannya,” demikian tekad Syaer Sua.

Sumber : Kompas, Kamis 8 Juli 2010

KOPERASI PERLU DIREVITALISASI

Peran dan fungsi koperasi yang umumnya di Indonesia guna membantu meningkatkan perekonomian masyarakat masih lemah.  Hal itu menurut Deputi Kelembagaan Koperasi dan UKM RI, Untung Tri Basuki karena masih banyak koperasi yang belum menggunakan cara berkoperasi yang benar termasuk di Kalteng.

"Dari 170 ribu koperasi yang tercatat se Indonesia, sekitar 30 persen tidak aktif lagi.  Selain itu jika ditinjau dari segi kualitas hanya 22 ribu koperasi yang berkualitas," jelasnya dalam acara Bimbingan Tknis Revitalisasi Fungsi Kelembagaan Koperasi yang berlangsung di Hotel Luwansa, Senin (5/7) siang.

Apa penyebabnya, lanjut Untukng Tri Basuki yang kala itu juga hadir bersama asisten Deputi Kementerian Koperasi dan UKM RI, kebanyakan koperasi tidak menjalankan peran dan fungsi sebagai koperasi.  Faktanya kurang dari 50 persen yang mengagendakan rpat anggota secara rutin.  Padahal forum tersebut adalah forum tertinggi dalam pengambilan keputusan dimanajemen koperasi.  Selain sebagai dasar pengambilan keputusan, rapat anggota juga sangat penting untuk mengatur strategi tentang bagaimana cara mengembangkan koperasi.  Mengingat koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan menlandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berasaskan kekeluargaan. (Pasal 1 UU 25/1992).

PAda kesempatan itu, Untung menjelaskan jika koperasi yang benar adalah koperasi yang bisa memberdayakan nilai lokal dan berdampak positif bagi masyarakat.  Misalnya koperasi mempunyai berbagai program yang bisa membantu peningkatan perekonomian masyarakat sekitarnya.

"Ini adalah salah satu alasan kita mengadakan bintek yang diikuti oleh seluruh Pembina Koperasi dan instansi terkait se Kalimantan.  Karena selain perlu direvitalisasi, koperasi koperasi juga harus bersiap diri dalam menghadapi pasar bebas.  Makanya manajemen, format dan permodalan harus diperkuat, selain itu termasuk unsur terpenting  adalah pejabat pembina itu sendiri.  Intinya daerah daerah harus berperan dalam hal ini," harap pejabat pusat berkacamata itu.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng, H. Jaya Saputra Silam membenarkan hal itu.  Menurutnya masih banyak kendala untuk mengembangkan perkoperasian di Kalteng.  Faktanya dari 2.421 koperasi yang aktif.  Ada 621 koperasi se Kalteng ini yang tidak aktif.

Adapun kendala dasar pengelolaan koperasi ujar Jaya antara lain adalah SDM.  Mereka punya keinginan tapi tak punya kemampuan.  Kemudian factor utama yang sebenarnya adalah alasan klasih adalah modal.

Sumber : Kalteng Post, Kamis 8 Juli 2010

KEMENTRIAN KOPERASI GENJOT SARJANA WIRAUSAHA Oleh: Mulia Ginting Munthe

Written By Fidelis Harefa on Wednesday, July 7, 2010 | 2:06 AM

Kementerian Koperasi dan UKM menggandeng Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pemuda dan Olahraha serta lembaga pendidikan dan pembiayaan untuk sosialiasi Program 1.000 Sarjana Wirausaha.

Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldi Halim mengemukakan pihaknya juga menggandeng perguruan tinggi seperti Institut Teknologi 10 November Surabaya, serta pemerintah daerah.

”Kami meminta semua pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota agar aktif menggalakkan pelaksanaan program sosialiasi penciptaan wirausaha baru dari kalangan sarjana,"ujar kepada wartawan, hari ini.

Sehari sebelumnya, Neddy membuka secara resmi Rapat Konsultasi Penumbuhan dan Pengembangan Sarjana Wirausaha di Jakarta Selatan melibatkan setiap perwakilan instansi terkait maupun lembaga pembiayaan serta kalangan universitas.

Rapat tersebut berlangsung hingga besok 7 Juli. Rapat tersebut merupakan untuk menciptakan wirausaha baru dari kalangan sarjana yang baru lulus.

Kementerian Koperasi dan UKM melaksanakan program tersebut untuk mengubah pola pikir mahasiswa yang selama ini berorientasi mencari [pekerjaan.

Sebaliknya, pemerintah menginginkan mereka bisa menjadi pencipta lapangan kerja melalui Program 1.000 Wirausaha Sarjana. Program ini diundurkan Kementerian Koperasi dengan menyediakan akses permodalan maksimal Rp25 juta melalui LPDB-KUMKM.

Berkaitan dengan keterlibatan  instansi terkait serta kalangan perguruan tinggi, Neddy mengharapkan program yang digagas oleh instansinya bisa menciptakan 1.000 sarjana menjadi pelaku kewirausahaan.

Program ini sekaligus menanggulangi kecenderungan meningkatkanya alumnus perguruan tinggi berstatus pengangguran. Pengangguran kalangan terdidik dari strata S1 di Indonesia terus naik ke angka 626.621 orang hingga Desember 2009. Pada 2006 jumlahnya tercatat sebanyak 375.000 orang.

Jumlah pengangguran dari lulusan diploma/akademi saat ini tercatat 486.399. Jumlah ini bagian dari angka pengangguran 2009 yang mencapai 8,96 juta orang.(fh)

Sumber : Bisnis Indonesia Online

TARIF PAJAK ATAS PENGHASILAN DEVIDEN

Bagi para pemegang saham, deviden adalah pendapatan yang sangat dinanti-nantikan. Demikian juga bagi pemain yang memanfaatkan masa-masa sebelum perusahaan membagikan deviden dalam meraih keuntungan dalam bertransaksi saham.

Pada 14 Juni 2010 Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 111/PMK.03/2010 Tentang Tata cara pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan atas dividen yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri. Atas setiap dividen yang diterima oleh pemegang saham maka sebagai wajib pajak orang pribadi dalam negeri dikenakan pajak penghasilan sebesar 10% dari jumlah brutto dan bersifat final.

Bagi pemerintah yang dimaksud dengan dividen adalah dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. Yang melakukan pemotongan atas pajak penghasilan tersebut adalah pihak yang melakukan pembayaran atau pihak yang ditunjuk selaku pembayar dividen dan dilakukan pada saat dividen itu disediakan untuk di bayar.

Dengan demikian pihak yang melakukan pembayaran wajib memberikan tanda bukti pemotongan pajak penghasilan final pasal 4 ayat (2) kepada wajib pajak orang pribadi dalam negeri yang dipotong pajak penghasilan setiap melakukan pemotongan. Pembayar wajib menyetorkan pajak penghasilan tersebut ke kas Negara melalui kantor pos atau bank yang ditunjuk Menteri Keuangan, dengan tanggal jatuh tempo penyetoran paling lama tanggal 10 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.

Penyetoran dilakukan dengan memakai Surat Setoran Pajak. Bila tanggal jatuh tempo penyetoran bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, maka penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Setelah melakukan penyetoran ke kas Negara maka paling lama 20 hari setelah masa pajak berakhir maka si pembayar dividen wajib menyampaikan laporan tentang pemotongan dan penyetoran pajak penghasilan yang sudah dilakukan. Dan bila batas akhir penyampaian laporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional maka pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Pelaporan dilakukan dengan memakai Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan final pasal 4 ayat (2). Dengan demikian para pemegang saham maupun para trader saham harus memperhatikan perhitungan pendapatan dividen yang akan mereka terima, yaitu 90% dari nilai yang diumumkan oleh perusahaan. Yang akan mengeluarkan bukti potong adalah perusahaan sekuritas.

Sumber berita : Liputan6.com.

Anyu : "Modal Minat Saja Tidak Cukup"

Written By Fidelis Harefa on Friday, July 2, 2010 | 2:40 AM

Palangka Raya,

Sebagai wujud implementasi dari 3 pilar Credit Union yaitu PENDIDIKAN, CU Betang Asi melaksanakan kegiatan Training of Trainer (TOT) bagi para aktivis dan penggerak CU Betang Asi yang dilaksanakan pada Selasa-Kamis, 15 – 17 Juni 2010 di Wisma Unio, Palangka Raya.

Sebagai Fasilitator dalam pelatihan ini adalah Antonius Anyu dari Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih, Pontianak. Peserta pelatihan sebanyak 31 orang dari berbagai Tempat Pelayanan CU Betang Asi. Di sela-sela kegiatan pelatihan redaksi Website CU Besi melakukan wawancara dengan para peserta dan fasilitator pelatihan.

Dari wawancara tersebut tergambar bahwa Pelatihan ini memberi nilai positif dalam mengembangkan dan memperdalam ilmu CU bagi para aktivis.

Suranto Panut peserta dari desa Pantai, TP. Penyang Hinje Simpei, Pulang Pisau mengatakan bahwa dengan mengikuti pelatihan ini banyak ilmu yang bisa dipelajari dalam mempersiapkan langkah-langkah sebagai seorang fasilitator, dirasakan bahwa saya bisa lebih percaya diri dalam menghadapi para anggota dan calon anggota, selain itu juga pelatihan ini memberikan trik-trik dalam memfasilitasi yang sebelumnya tidak pernah diketahui.

Hal senada juga disampaikan oleh Murniati S.M, S.Th peserta dari TP. Batu Lampang, Telok. Dikatakan bahwa dengan TOT ini saya bisa mendapat ilmu CU lebih banyak dan mendalam, selain sebagai wadah menimba ilmu juga sebagai wadah untuk berbagai pengalaman. Ibu yang pekerjaannya sebagai Pendeta ini juga mengungkapkan bahwa CU adalah kabar baik dalam memperoleh jalan menuju kesejahteraan, membawa kemamkmuran dan merupakan alat pembebasan bagi kaum miskin melalui pengelolaan keuangan.

Ketika ditanyakan apa rencana tindak lanjut dari pelatihan ini Pak Suranto Panut yang sebelumnya telah aktif dalam pengembangan CU khususnya di wilayah desanya mengatakan bahwa perlu adanya pertemuan para fasilitator sebagai wadah berbagai pengalaman, ilmu dan media evaluasi sehingga bisa dilihat apakah ada perkembangan kemampuan dalam melakukan fasilitasi pendidikan. Sementara itu ibu Murniati berharap bahwa TOT ini akan terus berlanjut dengan peserta-peserta yang baru.

Sementara itu Antonius Anyu ketika ditemui dalam kesempatan yang berbeda mengatakan bahwa ada sekitar lima persen peserta yang siap menjadi fasilitator artinya mereka menguasai secara materi dan teknik dalam memfasilitasi, sementara yang lainnya ada yang menguasai materi tapi tidak memiliki kapasitas mefasilitasi atau sebaliknya tapi ada juga yang tidak menghasilkan apa-apa, ilmu yang didapat hanya untuk konsumsi pribadi.

Ada berbagai penyebab salah satunya adalah ketidaksiapan para peserta. “Kelak bila akan diadakan pelatihan yang serupa sebelumnya peserta sudah bisa dibagikan materi untuk mereka pelajari sehingga pada saat pelatihan tidak fokus hanya pada pendalaman materi saja. Kenyataan yang terjadi dalam pelatihan ini lebih banyak berbicara tentang materi pendidikan, dimana seharusnya harus lebih banyak bicara tentang teknik dalam memfasilitasi,” ungkap Anyu.

Anyu yang juga pernah sebagai pendamping CU Betang Asi pada awal pembentukannya menyampaikan bahwa untuk perbaikan kedepan mungkin bisa dibuat sebuah standart bagi para calon peserta pelatihan fasilitator misalnya sudah pernah menjadi asisten fasilitator selama minimal lima kali, dengan begitu akan kelihatan keseriusan dari peserta. Selama ini kan yang ikut hanya dengan modal minat saja, sekarang dengan modal minat saja tidak cukup.

Ditanya tentang tindak lanjut dari pelatihan ini Anyu mengatakan bahwa bagian pendidikan harus memberi alokasi waktu dan prioritas kepada para peserta untuk memfasilitasi pendidikan di lokasi terdekat mereka, Jadikan mereka co fasilitator dengan fasilitator utama yang dapat membimbing mereka.
 
Copyright © 2009. CU Betang Asi | berbasis masyarakat Dayak yang terpercaya dan abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved
Palangkaraya - Kalimantan Tengah
Proudly powered by Blogger
Re-designed by Fidelis Harefa