Selamat Datang!

NATAL ADALAH CERITA NAKAL

Pengutusan seorang bayi mungil yang ringkih untuk menyelamatkan dunia merupakan cerita utama Natal. Narasi ini senantiasa berdenyut hidup pada bulan terakhir tahun Masehi. Ia bertutur dan mengalirkan semangat bahwa dunia ini tidak boleh tumpas musnah oleh kekumuhan dosa.

Tetapi, kenapa seorang bayi lemah tanpa daya? Kenapa bukan seorang panglima perang yang kuat dan gagah perkasa? Kenapa bukan seorang politisi yang pandai bicara? Kenapa bukan akademisi atau cendekiawan yang bijaksana? Paling tidak, seorang aktivis yang penuh dengan daya dan dinamika?

Natal adalah cerita nakal. Sejak awal dituturkan, ia menggugat kemapanan berpikir kita. Maria perawan desa mengandung oleh Roh El Kudus. Kemudian melahirkan Yesus Kristus yang konon akan menjadi Penebus.

Ia dilahirkan bukan di tempat praktik bidan atau rumah sakit bersalin, tetapi di kandang domba. Kemudian ia menjadi tukang kayu. Apakah dia mau menyelamatkan dunia dengan gergaji, palu, dan paku?

Tak dapat disanggah, terlalu banyak manusia jelata di sekitar kita yang tidak berdaya saat berhadapan dengan penguasa, pemodal, pengusaha, polisi, hakim, atau jaksa. Mereka terpental saat mencoba berlomba dengan ekonomi yang melaju gila.

Harga barang yang membumbung tinggi memaksa mereka tinggal dalam ceruk kehidupan yang hina-dina. Berteman dengan penderitaan, kesakitan, dan kekalahan. Dosa-dosa sosial, politik, ekonomi, dan budaya membuat kehidupan mereka dekil, suram, dan kelam.

Dalam keperihan hidup yang nista, cerita Natal menjadi cerita nakal. Cerita tentang Tuhan Yang Maha Mulia, yang berkenosis atau mengosongkan diri menjadi serupa dengan hamba sahaya.

Ia berpihak pada kaum jelata, budak belian yang hina-dina. Dalam sosok seorang bayi, Ia mengkritik para pemegang kuasa yang dengan rakus melipatgandakan nafsu pemangsanya. Kandang, palungan, jerami kering, kain lampin, gembala, tukang nujum dari Timur adalah simbol-simbol rakyat yang dipakai-Nya.

Ia hadir bersama dengan kekurangan dan keterbatasan rakyat jelata. Sedangkan istana dan tentara adalah simbol Herodes, kaisar kejam yang pemarah dan jauh dari rakyat jelata.

Pada masa kini, simbol-simbol perlawanan itu muncul dalam warna hijau (green) yang beroposisi dengan warna kelabu atau kelam. Bukan perlawanan cengeng, tetapi perlawanan berdarah.

Gergaji gemeretak ketika dipakai memotong kayu salib-Nya, palu berdentam saat dipakai memukul paku untuk menghunjam daging kaki dan tangan- Nya. Darah segar berwarna merah pun mengalir. Inilah merah (red) simbol pengorbanan sekaligus perlawanan.

Jadi, sejatinya hijau dan merah Natal bukanlah warna-warna cantik nan romantis, tetapi warna subversif, warna perlawanan atas kekumuhan dan kedekilan dosa.

Hijau dan merah Natal adalah warna harapan bagi kaum yang lemah, tak berdaya dan tertindas, kesepian, dan merasa dirinya hampa. Warna kehidupan bagi mereka berbeban berat. Semangat yang dilambangkan dengan lilin menyala, yang rela hancur luluh untuk menghadirkan terang dan kehangatan.

MARKO MAHIN Antropolog dan Teolog

Sumber: cetak.kompas.com

Sumber gambar: 2.bp.blogspot.com


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Tuesday, December 21, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved