Selamat Datang!

POPULASI WARGA MISKIN TERLAPARKAN

Oleh Awaluddin Abdussalam

APA yang diramalkan ahli ekonomi klasik, Thomas Robert Malthus (1766-1834), terjadi sudah. Kekurangan pangan bakal terjadi karena ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan penduduk yang berdasarkan deret ukur dan laju produksi pangan yang hanya berkembang mengikuti deret hitung.

Peringatan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober nanti tidak terlepas dari isu kemiskinan dan kelaparan. Sementara, salah satu target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDGs) adalah pengurangan kemiskinan ekstrem dan kelaparan. Tujuan tersebut antara lain mengurangi jumlah orang miskin, mendapatkan pekerja produktif dan pekerjaan yang layak bagi wanita dan kaum muda, serta mengurangi setengah jumlah penduduk yang menderita kelaparan.

Data BPS dari hasil Sensus Penduduk 2010, menunjukkan bahwa angka kemiskinan penduduk Indonesia 13,3% atau berkisar 31,02 juta jiwa. Di sisi lain, menurut Wilson TP Siahaan, United Nation MDGs Campaign and Advocacy Analyst, pengurangan kemiskinan sudah pada jalur yang tepat, namun kinerja dalam pengentasan (masyarakat dari) kemiskinan tetap menjadi masalah. Periode 1990-2010, angka kemiskinan hanya turun 1%. Berdasarkan garis kemiskinan nasional, tahun 1990 angka kemiskinan 15,1% atau berkisar 27,2 juta jiwa dan tahun 2009 angka kemiskinan 14,15% atau berkisar 32,5 juta jiwa (Kompas, 20/09/10). Artinya populasi miskin sedang menjalani apa yang disebut sebagai kekurangan pangan atau kelaparan.

Gambaran kekurangan pangan dapat dilihat dari masih ditemukannya kasus rawan gizi pada anak-anak. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa, walaupun sebenarnya prevalensi anak-anak balita dengan berat badan di bawah normal telah berkurang hampir setengahnya dari 31% pada tahun 1989 menjadi 18,4% tahun 2007, kita harus lebih bekerja keras lagi karena target pada tahun 2010 ini yang mesti dicapai  sebesar 15,5%.

Sulitnya akses masyarakat miskin terhadap pangan karena daya beli, diperparah dengan makin menipisnya persediaan pangan karena adanya perubahan iklim ekstrem. Menurut Rizaldi Boer (Prisma, Vol 29, April 2010), terjadinya perubahan iklim yang ekstrem pun turut menyumbang terjadinya kekurangan pangan. Pemanasan global akan menurunkan produktivitas tanaman pangan. Kenaikan suhu sampai 3 derajat Celcius dapat menurunkan hasil tanaman jagung 20% dan 10% pada tanaman padi.
Turunkan Konsumsi Serangan hama dan penyakit baru diperkirakan meningkat akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Frekuensi banjir yang terus meningkat dapat menimbulkan masalah hama padi keong emas. Di samping itu, terdapat indikasi bahwa lahan sawah yang terkena banjir pada musim sebelumnya berpeluang lebih besar mengalami ledakan hama wereng cokelat.

Kenaikan muka air laut akibat pemanasan global juga dapat meningkatkan salinitas wilayah pertanian di kawasan pesisir. Akibatnya, produktivitas tanaman turun drastis. Tingkat salinitas memungkinkan produktivitas tanaman padi berkisar antara 20% dan 80% dibanding hasil rata-rata tanaman padi yang ditanam pada lokasi yang tidak memiliki masalah salinitas.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar petani di wilayah seperti itu sudah mengonversi lahan sawah masing-masing menjadi penambangan garam dan tambak udang karena sulit mendapatkan hasil padi yang tinggi.

Sulitnya akses masyarakat miskin terhadap pangan karena daya beli yang menurun, pada akhirnya akan menurunkan konsumsi makanan keluarga, yang pada gilirannya akan bermuara pada kondisi status gizi anak-anak keluarga miskin. Penanganan yang mendesak sangat perlu dilakukan, terutama yang berhubungan dengan gizi masyarakat.

Di Indonesia pada tahun ini diperkirakan 1.399.440 penduduk usia balita menderita gizi buruk. Penanganan terhadap gizi buruk pada bayi dan balita menjadi sangat penting, mengingat kontribusi status gizi buruk memungkinkan terjadinya kematian pada bayi dan balita. Di samping pemanfaatan jamkesmas terhadap pelayanan kesehatan gratis untuk masyarakat miskin, diperlukan pengembangan program puskesmas yang lebih inovatif lagi, seperti menggagas berdirinya klinik gizi buruk.

Tidak kalah penting mendorong peran pemkab/ pemkot dan DPRD untuk mendukung program-program pengentasan (masyarakat dari) kemiskinan ataupun penanganan akibat kelaparan, terutama pengadaan anggaran yang berpihak pada masyarakat miskin. (10)

— Awaluddin Abdussalam, Tim Advokasi District Team Problem Solving (DTPS) Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak Kabupaten Brebes, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes

Sumber: suaramerdeka.com

Sumber foto: blogspot.com


Dipublikasikan oleh CU Betang Asi pada hari Saturday, October 16, 2010
Share this post :

Post a Comment

 
Copyright © 2009 - CU Betang Asi | Berbasis Masyarakat Dayak Yang Terpercaya dan Abadi di Kalimantan Tengah - All Rights Reserved